Oh My Mister

Oh My Mister
Berjumpa denganmu



Jhon nampak terus menatap Indah, bahkan ia tampak tidak fokus pada pembahasan saat itu.


Pria itu tidak menyangka bahwa selama ini, wanita yang terus ingin di jodohkan dengannya adalah wanita yang selama ini ia cari keberadaan. Jhon merutuki kebodohanya sendiri yang lalai bahkan tidak menyadari latar belakang dari wanita yang pernah menjadi istrinya.


Meeting tahap pertama berakhir dan akan di lanjutkan esok hari, Indah nampak menyalami satu persatu koleganya dan beberapa pemegang saham yang mulai keluar dari ruang tersebut.


Hingga kini menyisakan dirinya, Novi, Jhon, serta Frans.


Wanita itu segera bergegas mengambil tas miliknya dan berjalan menuju pintu keluar, hingga tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang.


"Indah," sapa Jhon lirih. Namun Indah hanya menoleh dengan tatapan sinis.


"Mohon lepaskan tangan saya Mr.Larry!" Indah berucap dengan wajah tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Namun Jhon tampak tidak menghiraukannya, pria itu tidak ingin kehilangan jejak Indah untuk yang kedua kalinya.


Jhon menarik tangan Indah hingga kini tubuh wanita itu berada di pelukannya, ia memeluk Indah dengan erat walau wanita itu nampak memberontak.


"Lepaskan saya!" pekik Indah.


"Forgive me, please. Give me chance to fix anything about us. I'm crazy without you," ucap Jhon dengan kedua netra yang mulai terasa memanas.


*Aku mohon maafkan aku, berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku benar-benar hampir gila karena kehilangamu.


Novi yang melihat semua itu tidak dapat berbuat banyak karena dirinya sudah terlebih dahulu di hadang oleh Frans. Sedangkan Indah terus meronta di dalam dekapan Jhon.


"Aku sungguh-sungguh masih sangat mencintaimu Indah, aku mohon buka hatimu kembali untukku," ucap pria itu kembali.


Indah nampak terdiam dan tidak lagi memberontak, ia lalu mendongakkan kepalanya hingga pandangan mereka saling bertemu satu sama lainnya.


"Jhon, i'm heartless long long ago, and it graved by my pride away!" ucap Indah penuh penekanan.


*Jhon, hatiku sudah lama mati, dan terkubur bersama harga diriku yang telah kau injak-injak!


Seketika hati Jhon terasa tertusuk, sesak dan begitu menyakitkan. Pria itu mengendurkan pelukannya dan memberikan kesempatan untuk Indah lepas dan segera pergi dari hadapan Jhon.


"Indah, namun aku sungguh mencintaimu. Aku ingin kita rujuk kembali," ucap Jhon lirih. Tangannya nampak dengan cepat kembali menggenggam tangan Indah.


Namun dengan sigap Indah menangkisnya dan kembali menatap tajam mata Jhon.


"Don't touch me! Don't you think that you can get me back as easy as you wish," ucapnya lalu segera pergi dari hadapan Jhon.


*Jangan sentuh aku! Jangan berpikir kau akan mendapatkan ku kembali semudah yang kau inginkan.


Pria blonde berusia 40 tahun itu nampak termenung dan menatap nanar kepergian Indah hingga menghilang dari pandangannya.


"Indah kau tidak bisa berbohong padaku, aku masih melihat sirat cinta dimatamu. Aku pastikan akan membawamu kembali ke pelukanku," ucapnya bermonolog sendiri dalam hati.


......................


Di negara dan zona waktu berbeda, nampak Marrie berlari menghampiri kedua orang tuanya yang tengah menikmati sarapan. Gadis itu berteriak-teriak dengan raut wajah bahagia.


"Mom, Daddy!" pekik Marrie dan seketika memeluk ibunya.


"Ada apa sayang? Sepertinya putri mommy sedang bahagia," ucap nyonya Anna membelai rambut putrinya.


Marrie mengambil ponsel miliknya lalu membuka sebuah pesan singkat yang berisikan sebuah foto Max dan seorang anak laki-laki.


Nyonya Anna nampak mengernyitkan keningnya dan menatap Marrie seolah meminta penjelasan.


"Ini anak kak Max, namanya Shine," ucap Marrie menatap kedua orang tuanya yang terlihat mematung.


"M-maksud kamu, Max sudah menemukan keberadaan Mikha dan anaknya?" tanya Tuan Andrew, Marrie menjawab pertanyaan sang ayah dengan sebuah anggukan. Seketika suasana berubah menjadi haru, hingga tiba-tiba terdengar suara seorang anak perempuan yang memecah romansa haru biru yang tercipta.


"Aunty, apakah Bella juga akan bertemu Mommy Indah?" ucap Bella yang kini telah menginjak usia 7 tahun.


Walaupun Indah meninggalkannya cukup lama saat masih berusia 3 tahun, namun entah mengapa Bella tidak pernah melupakan sosok ibu sambungnya. Ia selalu saja bertanya kepada Marrie ataupun nyonya Anna tentang sosok Indah dan selalu menyimpan foto Indah bahkan mengenakan kalung pemberian terakhir dari ibu sambungnya.



......................


Tanpa ingin menunggu lebih lama, pada akhirnya Shine pulang terlebih dahulu bersama Maxim. Anak itu terlihat selalu saja menempel pada sang ayah.


Ryan, David, Dilla dan Jerry nampak tersenyum melihat raut wajah bahagia Max yang akhirnya kembali, pria itu begitu antusias mendengarkan celotehan putranya tentang kehidupan sehari-harinya di Kalimantan.


Shine terlihat lebih ekspresif dan ceria pasca pertemuannya dengan Maxim.


"Aku dan Sunny selalu mememani mama di toko kue setelah pulang sekolah," ucapnya dengan mata berbinar-binar.


Maxim terkekeh mendengar penuturan buah hatinya, "Sungguh? Rajin sekali anak papa," ucap Max menanggapi celotehan Shine.


"Hu'um, Mama berjanji akan mengajak jalan-jalan jika Shine menang. Papa harus ikut ya! Tapi jangan ajak paman Dimas, aku tidak suka!" Shine terus saja berbicara tanpa henti walaupun kini ia tengah memakan sebuah Roti, hingga membuat pipinya semakin mengembung.


Max nampak mengernyitkan keningnya kala mendengar nama pria asing yang terlontar dari bibir kecil buah hatinya.


"Paman Dimas? Dia siapa?" tanya Max, mengangkat sebelah alisnya.


"Teman mama, aku tidak suka karena paman Dimas selalu dekat-dekat sama mama!" ucap Shine dengan polosnya .


Seketika terbersit perasaan resah pada hati Max, ia takut jika hati Mikha telah berpaling darinya.


Jika memang benar itu yang terjadi, akankah ia menyerah dan mengikhlaskan semuanya atau akankah ia tetap berjuang.


"Aku akan tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku! Bagaimana pun secara hukum, Mikha tetap masih sah menjadi istriku," gumam Max dalam hati.


Akhirnya kini mereka kembali mendarat di tanah Borneo, setelah menepuh perjalanan lewat udara dan darat kini Max dan Shine telah sampai di depan toko kue milik Mikha.


Sedangkan yang lainnya memilih menuju penginapan untuk memberikan waktu pada Max agar menyelesaikan masalahnya yang sudah berlarut-larut.


"Mama Shine pulang!" pekik Shine yang tengah berada dalam gendongan sang ayah.


Mikha yang sedang sibuk menata kue segera berbalik untuk menoleh pada sumber suara, terlebih kepulangan Shine yang tiba-tiba dan lebih dahulu dari jadwal seharusnya.


Deg!


Mikha terpaku kala bertemu pandang pada sosok pria yang begitu ia rindukan, jantungnya berdetak lebih cepat seakan tak dapat terkendali lagi.



"Sayang, aku merindukanmu," ucap Max lirih.


Pria blonde bermata biru itu perlahan berjalan mendekati Mikha yang masih nampak bergeming dan menyentuh lembut wajah istrinya.


"Mama, lihat Sunny di beliin coklat sama paman!" Suara seorang anak perempuan tiba-tiba saja terdengar begitu nyaring.


Ya, Sunny baru saja datang dan terlihat dalam gendongan Dimas.


......................


Hai semuanya terima kasih sudah membaca


jangan lupa untuk selalu Like, komen, dan kalau boleh Author minta tiket vote mingguannya dong hehehe


Untuk sesama Author, maaf ya aku telat baca balik


karena aku lagi revisi bab awal.


Jadi mohon sabar ya...


Terima kasih 😘