Oh My Mister

Oh My Mister
I miss you



Max melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah empat tahun lamanya ia tinggalkan.


Ya, pria itu memilih tinggal di rumah besar milik keluarganya pasca kepergian Mikha.


PIP


Max membuka pintu unit Apartemen miliknya, ruangan yang masih sangat bersih karena selalu ada salah satu pelayanan yang selalu rutin membersihkannya, hanya saja terasa sangat dingin dan hampa.


Ia berjalan menuju arah dapur, dimana biasanya ia selalu menemukan sang istri tengah memasak dan tersenyum padanya. Kini kakinya membawanya ke kamar miliknya, pria itu menyentuh perlahan benda-benda yang masih tertata sama seperti terakhir kali Mikha meninggalkannya.



Ia mengambil sebuah mantel milik istrinya yang tergantung rapih, dan memeluknya erat-erat. Hatinya terasa begitu sesak menahan segala kerinduan yang sudah lama terpendam.


Max beranjak dan membuka pintu kamar yang terhubung dengan kamarnya. Seketika air mata mengalir, melihat kamar untuk bayi kembarnya.


"Why did you leave me alone? I'm heartless without you.


Did you know that I miss you so bad and our little twin too.


I really wanna hug all of you. Please come back, I beg you." Ucap Max lirih, dan bersimpuh menumpahkan segala kesedihan dan sesak di hatinya.


*Mengapa kau meninggalkanku sendiri? Aku hampa tanpamu.


Andai kau tau betapa aku sangat merindukanmu dan anak kembar kita.


Aku sungguh ingin memeluk kalian. Tolong kembalilah, Aku mohon padamu.


Cukup lama ia bersimpuh, perlahan pria blonde itu bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Max menempatkan foto bayi kembarnya di sebuah bingkai yang berukuran besar dan memajangnya di ruangan itu.



Ia mengamati satu persatu foto-foto yang terpampang di dinding dan menyentuhnya dengan perlahan.


"Mulai sekarang papa akan tinggal disini kembali, agar kalian tidak kesepian." Ucapnya lirih dengan kedua netra yang nampak berkaca-kaca.


......................


POV Mikha ON


Empat tahun sudah aku lewati tanpa dirimu, sejujurnya ini semua terasa begitu berat bagiku. Terkadang aku harus kewalahan menjawab pertanyaan anak-anak kita yang cukup kritis di usianya yang baru 4 tahun.


Mereka selalu saja menanyakan tentang dirimu, dan sejujurnya aku selalu bingung untuk menjawab apa.


Setiap ku merindukanmu, aku selalu melihat dirimu lewat layar kaca setidaknya sedikit mengobati rasa rinduku yang begitu memenuhi hatiku.


Namun tiap saat itu pula aku selalu merasa sesak, kala kau selalu menyampaikan pesan untukku sebelum ataupun sesudah kau perform.


"Ya Tuhan, salahkah keputusanku ini?" Aku selalu bertanya dalam hati akan tindakanku yang memilih meninggalkannya, namun seketika kenangan buruk itu kembali muncul yang cukup membuat kepalaku terasa berdenyut bahkan mampu membuatku menjadi mual.


Sejujurnya, sudah 2 kali seorang pria menyatakan perasaannya padaku. Pria yang berawal dari pelanggan di tokoku dan akhirnya menjalin pertemanan denganku, Dimas.


Namun selama 2 kali pula aku menolaknya, karena tidak ada lagi ruang celah di hatiku. Hatiku sudah tertutup rapat oleh 1 nama, Maxim Andreas Larry.


"Mama, sebenarnya papa itu seperti apa? Apa ia tidak mencintai kami? Mengapa papa tidak pernah datang?"


Pertanyaan dari bibir mungil sepasang anak kembar itu berhasil memecah lamunanku, yang sibuk menatap nanar ke arah layar kaca.


"Shine, Sunny? Sudah pulang sekolah kok gak ngucapin salam?" Ucapku mencoba mengalihkan perhatian mereka.


"Ma, aku di ejek oleh teman-temankuku. Kata mereka aku gak punya papa."


Sunny menangis dan memelukku erat, sedangkan Shine yang cenderung pendiam hanya berdiri di samping kakak kembarnya.


Aku terdiam, sejujurnya hatiku sakit tiap kali mereka menangis seperti ini. Aku merasa bersalah telah memisahkan mereka dengan papanya.


"Sayang, lihat Mama. Papa lagi kerja dan kerjanya jauh sekali. Nanti papa pasti pulang, tapi Sunny dan Shine harus sabar." Ucapku dengan berat, aku merasa sesak telah mengelabui mereka, hatiku terasa begitu sakit bagai tertusuk ribuan pisau tak kasat mata.


"Oh ya, mama punya sesuatu untuk kalian." Ucapku yang segera beranjak ke kamar, mengambil sebuah benda yang sudah begitu lama ku simpan.


"Ini hadiah dari papa untuk kalian berdua, tanda cinta dari papa. Jadi kalian tidak perlu bersedih." Ucapku membuka kotak beludru merah yang berisi kalung dan jam tangan pemberian Max saat aku tengah mengandung mereka.


"Mikha dan Max, jadi nama papa itu Max? Jadi benar kalau Daddy Dimas itu bukan papa kami?" Ucap Sunny dengan polosnya sambil mengeja tulisan yang terukir pada leontin kalung tersebut.


Aku mengernyitkan keningku, entah mengapa Sunny selalu menganggap Dimas sebagai ayahnya walau berkali-kali aku telah menjelaskan, mungkin karena sedari kecil ia begitu dekat dengan pria itu. Berbeda dengan Shine yang nampak tidak menyukai Dimas.


"Sunny, listen to me! Uncle Dimas is not your father, got it? So, please don't call him Daddy." Ucapku memberi pengertian untuk Sunny agar berhenti menganggap Dimas sebagai papanya.


*Sunny, dengarkan aku! Paman Dimas bukan papamu, mengerti? Tolong jangan memanggilnya Daddy.


Sunny tampak menunduk dan berkata lirih,"Yes ma, maafkan aku."


Aku segera memeluk dua malaikat kecilku, mataku terasa memanas, aku sudah tidak dapat menahan air mataku yang semakin memaksa untuk mengalir.


Tiba-tiba Shine melepaskan pelukanku dan mengusap air mata yang mengalir di pipiku, "Mama jangan menangis, kami berjanji tidak akan nakal lagi."


Runtuh sudah pertahananku, "Mama yang minta maaf sayang." Ucapku kembali memeluk mereka.


PoV Mikha Off


......................


Hoek...Hoek...


Dilla nampak berkali-kali memuntahkan isi perutnya, Wajahnya begitu pucat dengan keringat dingin yang mengucur di keningnya


"Kamu kenapa sayang? Kita ke dokter yuk!" Tanya Jerry yang nampak khawatir dengan istrinya, pria itu perlahan mendekati istrinya.


"Stop! Jangan dekat-dekat, bau ketiakmu itu membuatku mual!" Cebik Dilla yang terlihat lemas.


Jerry nampak bingung dan mengendus-endus aroma ketiaknya sendiri, "Wangi kok yank!" Ucapnya bingung.


Ting Tong


Suara bel berbunyi, Jerry segera membuakan pintu.


"Eh Ryan, yuk masuk." Ucap Jerry, mempersilahkan Ryan masuk.


Tak berselang lama, Dilla yang suah merasa lebih baik segera menghampiri Ryan dan suaminya dengan membawa dua gelas orange juice dan cemilan.


"Di minum dulu, Ryan." Ucap Dilla dan duduk di samping Ryan.


Jerry tampak menatap istrinya yang enggan duduk di samping dirinya.


"Hei, suamimu itu aku atau Ryan?" tanya Jerry kesal.


"Huh, kau itu bau ketiak! aku gak mau dekat-dekat denganmu sebelum kau wangi kembali." Protes Dilla tak mau kalah.


Ryan hanya terkekeh melihat kelakuan pasangan suami istri yang sudah seperti tokoh film animasi Tom and Jerry tersebut.


"Jadi begini, aku sebenarnya mau nanya ke Dilla. Dil, kau serius tidak tau keberadaan Mikha ataupun Indah? Aku mohon kau jujur, aku gak tega melihat keadaan Max. Dia mungkin terlihat baik-baik saja namun tidak dengan hatinya." Ucap Ryan menatap Dilla dengan intens.


Untuk beberapa saat Dilla nampak terdiam, perlahan ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jujur, aku gak tau kabar Mikha ataupun Indah. Tapi..."


"Apa?" Tanya Ryan penasaran.


"Sebelum Mikha pergi, Indah pernah sekali menghubungi kami dan ia bilang pulang ke kampung halamannya di Kalimantan namun setelah itu ia gak ada kabar lagi bahkan nomornya pun tidak aktif." Ucap Dilla lirih.


Ryan nampak berpikir sejenak dan seketika menatap


Jerry dan Dilla.


"Aku ada ide!"


......................