
Malam hari di adakan acara syukuran atas pernikahan Dilla dan Jerry yang akan di selenggarakan esok hari, sedangkan Jerry sudah kembali ke penginapan bersama keluarga.
"Assalamualaikum"
Dilla berada di ambang pintu rumahnya ya sedang ramai, hingga seluruh tamu mengalihkan pandangan padanya. Bu Lastri dan Mikha langsung menghampiri Dilla, mereka memeluk gadis itu satu per satu.
"Bu, mana calonku?" pertanyaan itu langsung melesat dari bibir mungil gadis manis itu, Bu Lastri hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya.
"Kita ke kamar dulu aja ya, Nduk ! kamu mandi dulu."
Seusai mandi, Mikha membawakan secangkir teh hangat untuk sahabatnya yang kini berada di kamar bersama ibunya.
"Nduk, calonmu besok datang pas akad. Tadi dia baru aja pulang, tenang dia pria baik kok.
ya sudah, ibu kedepan dulu ya. Gak enak masih banyak tamu." Ucap Bu Lastri mengelus kepala putri semata wayangnya.
Mikha menghampiri sahabatnya, tersirat kegelisahan di mata Dilla.
"Minum dulu Tehnya, Dil." Ucap Mikha meletakkan secangkir teh di atas nakas samping ranjang Dilla.
"Makasih ya Kha, Kha lu berarti sudah lihat calon gue? gimana orangnya?"
"Ganteng kok, baik pula. Lu gak akan nyesel."
Dilla menunduk, buliran air mata lolos begitu saja dari matanya. Bibir gadis itu bergetar tidak bisa menahan lagi segala rasa yang berkecamuk di hatinya.
"Loh, kok nangis? lu kenapa? bukankah ini semua keinginan lu?" Mikha mengusap air mata uang mengalir di pipi chubby Dilla, gadis itu tampak terisak seolah ada sesuatu yang mengganggunya.
"Gu-Gue rasa, gue udah suka sama Jerry. Dia bilang cinta sama gue, tapi kemana dia saat gue butuh, bahkan gak respon sama sekali saat gue bilang kalau gue akan segera di nikahkan dengan pilihan orang tua gue."
Mikha tersentak mendengar ucapan tulus Dilla, ia tersenyum karena telah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Sabar ya Dil, gue yakin pernikahan ini yang terbaik buat lu." Mikha memeluk sahabatnya, ia berusaha sebisa mungkin menenangkan hati Dilla.
Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam, Max dan para bapak-bapak masih berkumpul dan asik bercengkerama, tak lama sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka.
"Assalamualaikum" Ucap Indah yang baru sampai bersama Jhon.
"Waalaikumsalam, ayo masuk!" Jawab Pak Ali ramah.
Kini Jhon bergabung dengan para bapak-bapak sedangkan Indah menghampiri Dilla dan Mikha yang berasa di kamar.
3 sekawan ini kira telah berkumpul, mereka saling menguatkan dan meyakinkan Dilla. Setidaknya membuat hari gadis itu terhibur dan melupakan kesedihannya.
......................
Keesokan harinya Jerry dan keluarganya telah berada di rumah mempelai wanita, sedangkan Dilla berada di kamar bersama kedua orang sahabatnya, ia di larang keluar sampai proses akad nikah selesai diucapkan.
Dilla nampak termenung menatap jendela kamarnya yang menyajikan suasana pegunungan, dengan kebaya putih yang melekat pada tubuhnya.
"Jer, lu kemana sih? kenapa pesan gue cuma lu baca? ditelepon juga gak bisa." Ucap Dilla lirih, ia terus menggenggam ponselnya.
"Sabar ya Dil." Mikha mengelus punggung sahabatnya yang tampak murung.
"Kenapa gue terlambat menyadarinya Kha"
"Ikhlas ya Dil, calon suamimu sudah datang."
Sementara itu, Jerry tampak memasuki perkarangan rumah Dilla di dampingi kakaknya sedangkan kedua orangtuanya menyusul di belakangnya.
Pria itu tampak tersenyum dengan jantung yang berdebar-debar. Ia mengenakan pakaian yang cukup kasual untuk sebuah pernikahan, sangat cocok dengan image-nya selama ini sebagai pria periang dan tidak monoton.
"Sudah siap." suara seorang penghulu, memulai prosesi khidmat dan sakral.
Mereka memang sengaja menggelar akad nikah tanpa mempelai wanita di hadapan sang penghulu.
Pak Hasan dan Jerry mulai berjabat tangan, Jerry tampak menenangkan diri dari kegugupannya. Pria itu berkali-kali menghela nafas perlahan dengan telapak tangan yang mulai basah oleh keringat.
"Saya nikahkan dan kawinkan kau Jerry Fawke dengan putri saya Ardilla Maharani binti Hasan Zaylani dengan emas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 50 gram di bayar tunai!"
"Saya Terima nikah dan kawinnya Ardilla binti Maharani...."
"Salah woiiiiii! Minum bodr*x dulu sana biar gak pusing!"
Pekik Maxim yang mengundang gelak tawa semua orang.
Akhirnya prosesi pembacaan Ijab Kabul diulang kembali, Jerry berusaha keras agar tidak melakukan kesalahan dalam pengucapan janji suci dalam satu tarikan nafas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ardilla Maharani binti Hasan Zaylani dengan emas kawin tersebut di bayar tunai!!!"
SAH !!!
Dilla tampak lemas kala mendengar gema suara semua orang mengucapkan kata SAH, kini ia telah menjadi istri seorang pria yang bahkan ia tidak ketahui siapa.
"Selamat tinggal Jerry." Gumam hadis itu dalam hati, matanya tampak berkaca-kaca menahan tangis.
Mikha dan Indah mendampingi Dilla menemui mempelai pria yang masih duduk di hadapan sang penghulu, gadis itu terus menunduk seakan enggan menatap mempelai pria yang kini di hadapannya.
Jerry tersenyum dan menyematkan sebuah cincin emas di jari gadis yang kini resmi menjadi istrinya, lalu di lanjutkan dengan Dilla yang mencium tangan suaminya.
"Kalau kau terus menunduk bagaimana aku bisa mencium keningmu, istriku!"
Deg!!!
Jantung gadis itu berdetak kencang, kala mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Dilla mengangkat wajahnya perlahan, tubuhnya mematung kala melihat pria yang telah menjadi suaminya.
Jerry berlutut dihadapan istrinya, ia menggenggam tangan Dilla dan mengecupnya dengan lembut.
"Ardilla Maharani aku sangat mencintaimu, semoga kau sudi menerimaku yang penuh kekurangan ini sebagai suamimu."
Dilla tersadar dari lamunannya, ia langsung memeluk erat pria yang kini menjadi suaminya. Ia sama sekali tak menyangka jika Jerry adalah pria yang melamarnya dan menikahinya.
"A-Aku juga cinta padamu, dasar bodoh! kau membuatku kesal setengah mati mencarimu!"
Dilla mencubit perut Jerry hingga pria itu meringis kesakitan.
"Udah kali mesra-mesraannya nanti malam aja sambil boboan!" Pekik Indah, membuat semua orang bersorak Sorai dan kedua pengantin baru itu bersemu malu.
......................