Oh My Mister

Oh My Mister
Alasan lagi (21+)



Hai teman-teman gak bosan-bosan Author mau bilang


jangan lupa Like dan komentar ya.


kalau boleh Ku minta Rate bintang 5 dan votenya untuk Author yang miss queen ini hehehe


PART INI MENGANDUNG ADEGAN DEWASA,


Mohon bijaksana dalam menyikapinya semua hanyalah demi kebutuhan alur cerita, semoga ya bisa lolos review wkwkwwk


Terima kasih


...🌸🌸🌸...


Makan malam di keluarga Larry terasa sangat hangat, Max yang biasanya selalu absen kini kembali dan membawa seorang anggota keluarga baru.


"Nak, jadi gimana tentang resepsi pernikahan kalian disini?" tanya Tuan Andrew memulai pembicaraan


"Untuk tempat aku dan Mikha menyerahkan sepenuhnya kepada Marrie lagi, untuk waktu mungkin pertengahan bulan saja sebelum tahun baru karena aku ada jadwal konser di Paris saat malam tahun baru," jawab Maxim tanpa beralih dari makanan yang berada hadapannya.


Setelah makan malam Max menghampiri Jhon yang sedang bersantai menikmati secangkir coklat panas di depan perapian.


"Jhon bagaimana?" tanya Max.


"Oh iya, ini...,"jawab Jhon santai seraya membuka dompetnya dan memberikan selembar kartu nama kepada Maxim. Sejenak Jhon menghela napasnya dan kembali berucap pada adiknya, m"Max ingat ya, ahli seprofesional apapun takkan bisa menyembuhkanmu. Kau bisa sembuh dengan tekad kuat pada dirimu sendiri, aku sarankan segeralah beritahu istrimu."


"Tapi ka...," kilah Max nampak begitu ragu, semburat kekhawatiran jelas terpancar di wajah tampannya, hingga membuat Jhon menatap tajam ke arahnya.


"Tidak ada tapi-tapian, Max! Mungkin istrimu akan terguncang mendengar kenyataan itu, tapi jauh lebih baik daripada ia tau dari orang lain, ia akan merasa lebih sakit hati seakan kau menipunya. Jika ia sudah menerimamu dengan lapang dada maka akan mempermudah proses penyembuhanmu, karena cuma dia obat dan alasan kuat kau ingin pulih."


tutur Jhon menasehati Maxim.


"Aku tau ini berat, tapi kau harus melakukannya! Pikirkanlah baik-baik!" sambung Jhon, ia beranjak dan menepuk punggung Maxim yang sedang sibuk tenggelam dalam pikirannya.


......................


Max kembali ke kamarnya untuk menenangkan pikirannya, nasehat Jhon dan Ryan yang sama, membuat ia pusing memikirkannya.


Posisinya bagai buah simalakama, semua keputusan yang ia ambil ada resiko buruknya.


"Sayang kamu dimana?"


Max mencari istrinya yang tidak terlihat di kamarnya, matanya menelisik keseluruh penjuru ruangan.


"Aku lagi mandi!" pekik Mikha tiba-tiba dari dalam kamar mandi.


"Dingin-dingin begini kau mandi?" tanya Max yang terheran-heran dengan sikap istrinya, mengingat suhu yang begitu dingin karena salju turun begitu lebat.


"Iya, aku gak terbiasa jika gak mandi 2 kali sehari," jawab Mikha seenaknya.


Max segera mengganti pakaian dan memakai pakaian kesukaannya saat tidur, ia lebih suka memakai kaos dan celana pendek dari pada harus memakai piyama.


Sementara Mikha tampak bingung karena pakaian yang di sediakan hanya Lingerie dengan berbagai model dan warna, serta sebuah catatan kecil yang bertuliskan,


"Berikan aku keponakannya lucu yaaa muachhh ❤".


"What? Semuanya Lingerie! Aku kan minta tolong Marrie sediakan piyama bukan Lingerie. Aduh ini anak kelakuannya sama aja kaya si Rika."


Gerutu Mikha sambil memilih Lingerie yang terlihat lebih tertutup dari pada yang lainnya.


Ia terpaksa harus memakainya karena tidak membawa baju ganti.


Pilihannya jatuh pada kimono lingerie berwarna hitam, karena setidaknya tidak terlalu terbuka dan menerawang.


Setelah selesai ia segera keluar dengan perasaan malu, tapi apa boleh buat dia juga tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Mikha keluar dari kamar mandi dengan wajah tebal membuang semua rasa malunya.


"Elah, di liat suami sendiri ngapain malu!" tuturnya, meyakinkan diri sendiri dalam hati guna mengubur semua rasa malu.


Mikha melihat suaminya sedang berdiri menghadap jendela dan asik berbincang di telepon membicarakan pekerjaannya dengan David.


"Kamu kenapa? Kedinginan? Kan aku sudah bilang jangan mandi," ucap Max menghampiri sang istri yang telah berbaring di ranjangnya. Mikha pura-pura menguap dan segera menutup matanya.


"Tidak, yuk tidur bisa aku sudah mengantuk," kilahnya.


Merasa aneh dengan sikap istrinya yang menggenggam selimut erat-erat, Max seketika menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya hingga Mikha terkejut.


"Kau ingin menggodaku, sayang?" ucap Max tersenyum seringai dengan sebelah alis yang terangkat.


"Ih sini, kembalikan selimutnya, dingin!" pekik Mikha dengan wajah yang telah merona menahan malu, namun Max tetap bergeming dan menikmati wajah malu istrinya yang begitu menggemaskan


"Tidak, kalau dingin kenapa kau mengenakan itu?" tutur Max kembali.


"Uhhh ini semua ulah Marrie, semua pakaian di ruang ganti isinya Lingerie semua," jawab Mikha merajuk seraya mengerucutkan bibirnya.


"Tidak buruk, sepertinya aku akan membelikanmu Lingerie lebih banyak, agar aku bisa terus-menerus melihatmu memakainya."


Max memejamkan mata sejenak seperti sedang meyakinkan sesuatu, lalu tersenyum dan langsung memeluk istrinya yang berbaring membelakanginya.


"Kalau dingin tinggal berpelukan seperti ini saja,"


ucapnya berbisik di telinga sang istri. Nafasnya yang begitu hangat membuat bulu kuduk Mikha meremang di buatnya.


Mikha mematung dan mencoba memejamkan matanya untuk tidur, namun Max terus-menerus mengusiknya dan mencumbunya


Ia mengecup lembut tengkuk leher sang istri, menggigit-gigit kecil serta menjilat telinga Mikha yang sensitif, sedangkan tangannya sibuk membelai lembut paha milik istrinya.


"M-Max tidur sudah malam." ucap Mikha lirih namun Max tidak menggubrisnya.


"emmhhh..." erangan begitu saja terdengar dari bibir pria blonde itu. Max memejamkan matanya saat tangannya membelai bagian kewanitaan milik istrinya yang masih terbungkus underwear.


Jantung wanita itu kini tengah berdegup tak beraturan kala mendengar erangan yang di keluarkan dari mulut suaminya, hingga membuatnya tersulut hasrat jua.


"Sa... Sayang...," ucap Max bergetar, ia membalikan tubuh istrinya hingga kini mereka saling berhadapan. Mikha menatap manik biru dan sendu milik suaminya yang tersirat seribu harapan terpendam.


Max mencium bibir sang istri, m*lumatnya dengan penuh gairah. Perlahan pria berkulit putih itu melucuti kaos yang ia gunakan, hingga terpampang tubuh yang tidak terlalu atletis miliknya, pria itu juga melucuti seluruh pakaian yang di kenakan sang istri dan hanya meninggalkan sebuah kain yang menutupi bagian kewanitaan milik istrinya.


Max kembali mengecup bibir istrinya, menyesapnya lalu tanpa melepaskannya, bibirnya terus menjalar hingga berada di kedua buah dada sang istri.


"Max, emphhh," desah Mikha, merasakan gelenyar aneh nan memabukan saat sang suami menyesap p*yudar*nya sedangkan tangan Max bergerilya nakal, dan memainkan kew*nitaannya.


Tak lama tubuh Mikha bergelinjang nan mengeluarkan suara desahan nan sensual, ia telah sampai di puncaknya.


Mikha yang berinisiatif bergantian mendominasi untuk melayani suaminya, ia m*lum*t telinga Max yang memerah dan mencium bibir merah milik suaminya.


Tangannya tampak ragu dan perlahan menyentuh 'k*jantanan' milik suaminya.


"T-tunggu, Max? Kenapa?" Mikha menghentikan aksinya, ia menatap wajah Max erat-erat dengan pertanyaan yang tersirat di matanya.


Max terlihat salah tingkah, dan langsung mengeram kesakitan.


"Awww...masih sakit sayang, be-bekas Sunat kemarin." kilah Max mencoba tenang dan berpura-pura menahan rasa sakit.


"Ya ampun Maxim, kenapa banyak tingkah sih kalau masih sakit! besok kita ke dokter yuk aku takut kenapa-kenapa," pekik Mikha mulai khawatir.


"T-tidak perlu, memang katanya agak lama pulih untuk bisa berhubungan, kau tenang saja. Ya sudah sekarang kita tidur saja ya, besok kita jalan-jalan ke studioku." ucap Max kemudian memeluk dan mengecup kening istrinya.


Tak lama setelah ia memastikan Mikha tertidur lelap, Max segera bangkit dan berjalan menuju balkon di kamarnya.


Pria itu tidak peduli dengan udara yang sangat dingin, Maxim terlihat putus asa, matanya terlihat memerah.


Sesekali ia memukul-mukul kepalanya menangisi kondisinya.


"Aku harus segera ke psikolog itu, aku tak ingin terus menerus begini. Aku ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang normal! *****, ini semua karena pengaruh Jess! andai aku tidak bertemu dengan manusia itu." umpat Max lirih dengan raut wajah begitu frustasi


"Maaf sayang kali ini aku membohongimu lagi," lirihnya kembali masih larut dalam kegundahan.


...****************...