Oh My Mister

Oh My Mister
Kedatangan Tuan Arjun



Di sebuah tempat tampak Max dan kedua orang sahabatnya sedang shooting untuk pembuatan musik video lagu terbaru mereka. Kali ini mereka shooting di outdoor, hingga membuat beberapa fans yang tidak sengaja berada di lokasi shooting ikut menonton.


"Cut!"


Pekik seorang sutradara mengakhiri kegiatan tersebut.


Kyaa!!!


Beberapa orang wanita tampak berlari ke arah Max dan Jerry sedangkan Ryan sudah pergi dan menyembunyikan diri terlebih dahulu karena sesungguhnya ia sangat tidak nyaman jika di peluk wanita yang tidak dikenal.


"Hei, kau tidak cemburu suamimu di peluk-peluk begitu?" ucap Ryan yang tiba-tiba muncul di belakang Mikha.


"Kaget gue!!!" Mikha memukul pundak Ryan, hingga membuat pria itu terkekeh.


"Lihat si Jerry, Hahaha dia gak biasanya kikuk saat ada fans wanita cantik seperti itu."Ucap Ryan menunjuk ke arah Jerry yang tampak menjaga jarak dengan fansnya.



"Hooh liat satpamnya galak! hahaha" Ucap Mikha tertawa, ia menunjuk ke arah Dilla yang tengah menatap tajam suaminya.


Entah mengapa, setelah mereka bulan madu sikap Dilla menjadi lebih posesif dan cenderung galak pada suaminya.


"hahaha kamu gak cemburu? Lihat sekarang Max malah meluk si Jessy."


Ryan dan Mikha menatap Maxim yang tampak sedang menenangkan MUA-nya(Make up Artist) yang sedang merajuk. Mikha hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Tidak, mungkin kalau dia memeluk atau di peluk laki-laki baru aku cemburu." ucap Mikha yang membuat Ryan tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha jadi kalau aku dan Jerry memeluk Max, jangan-jangan kau cemburu? hahaha"


Mikha membulatkan matanya dan mencubit tangan Ryan yang tidak henti-hentinya menertawakannya.


"Kalau Max mau sama kalian, kenapa gak dari dulu saja! huh!" cebik Mikha sambil mengembungkan pipinya.


"Hai hei, perutmu sudah gendut! jangan kau gembung-gembungkan pipimu kalau kau gak mau terlihat seperti ikan buntal!" goda Ryan yang terus-menerus menggoda Mikha.



Di sudut lain terlihat Maxim yang terlihat resah karena melihat istrinya bersama Ryan, entah mengapa walau yang ia tahu kalau Ryan mempunyai hubungan dengan adik iparnya namun ia tetap merasa tidak nyaman jika Mikha terlalu dekat dengan Ryan.


"Itu Ryan disana!!!" Pekik Maxim menunjuk ke arah Ryan, hingga seluruh fansnya berlarian ke arah Ryan.


"Maxim!!! asem lu!"Ucap Ryan yang langsung melarikan diri dari tempatnya berada.


......................


Di sisi lain Indah tampak berjalan tertatih-tatih memasuki kamarnya, luka pasca operasinya terasa sakit kembali setelah ia ditarik dan di paksa berjalan cepat oleh Jhon.


"Awww"


Indah meringis kala mencoba menganti perban di perutnya yang sedikit terdapat bercak darah.


Sejenak ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, hingga tiba-tiba pintu kamarnya terasa di buka seseorang.


"J-jhon, kau mau kemana?"


Tanya Indah kala melihat kedatangan suaminya yang terlihat tergesa-gesa mengambil beberapa pakaiannya.


"Jhon, please jangan begini. Kamu salah paham!" Ucap Indah menggenggam tangan suaminya.


"Cukup! mulai sekarang aku akan tidur di kamar tamu!"


Jhon menepis tangan Indah dan langsung pergi meninggalkan istrinya sendirian.


Indah menangis tersedu-sedu, terlebih menatap kepergian suaminya yang sudah berganti pakaian dengan pakaian formal yang biasa ia gunakan saat bekerja walaupun saat itu adalah akhir pekan.


Kring...Kring...


Suara ponsel Indah berbunyi, Indah segera menjawab panggilan yang tidak lain adalah dari ibunya.


"Hallo Mih?"


"Indah, kamu dimana? mami ada di restoran Hello cow sendirian, segeralah kesini!" Ucap Bu Vera.


"Harusnya kesempatan ini kita pergunakan untuk memberitahukan hubungan ini dengan orang tuaku, Jhon." Ucap Indah lirih sambil memandangi cincin kawin yang melingkar sempurna di jari manis tangan kanannya.



Indah segera bangkit dan langsung pergi sendrian menggunakan Taksi untuk menemui orang tuanya yang baru saja tiba di London.


......................


Sementara itu, Jhon memasuki sebuah ruangan meeting untuk bertemu dengan rekan bisnis barunya yang berasal dari Indonesia. Ia ingin melebarkan sayapnya untuk mencoba berkecimpung dalam usaha pertambangan batubara.


"Selamat siang Tuan." Ucap seorang karyawan yang membukakan pintu untuk Jhon.


Di ruangan itu terdapat seorang pria berusia 50 tahunan dengan seorang pria muda yang merupakan asisten pribadinya.


"Selamat siang Tuan." Sapa Jhon pada pria berwajah Melayu tersebut.


"Perkenalkan saya Jhon Marcello Larry." Ucap Jhon menjulurkan tangannya pada pria tersebut.


"Saya Arjun Widandi Kusumo ! senang bisa berkenalan dengan anda."


Deg!!!


Sebuah nama yang nampak familiar bagi Jhon, walaupun ia baru pertama kali berjumpa dengan pria yang berada di hadapannya.


......................


"Mamih"


Indah yang baru saja sampai restoran yang di tuju segera menghampiri seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya.


Ia mencium tangan ibunya dan memeluknya erat-erat.


"Kesayangan mamih, mamih kangen banget sama kamu." Ucap Bu Vera mencium kedua pipi putri semata wayangnya.


"Kok kamu terlihat kurusan? wajahmu juga pucat!" sambung wanita paruh baya itu yang tengah menatap intens wajah Indah.


"I-iya Mih, a-aku lagi gak enak badan dan suka telat makan." Ucap Indah beralibi.


"Oh iya mih kok kesini mendadak?Papih mana?"


Ucap Indah mencoba mengalihkan perhatian ibunya.


Pandangannya menatap sekeliling namun tidak menemukan sosok ayahnya.


"Ayahmu sedang meeting dengan Klien barunya." Jawab Bu Vera.


"Tapi ini hari libur, mih?" tanya Indah.


Sementara Bu Vera mengulas senyum dan membelai rambut putrinya kesayangannya yang berada di pelukannya.


"Karena Mami dan Papi gak bisa lama-lama disini, dan besok kita harus pergi ke Jepang. Oh ya nak, kamu tau gak siapa yang menjadi klien bisnis papimu disini?" Ucap Bu Vera.


Indah mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ibundanya, "Siapa mih?"


"Perusahaan milik keluarga Larry, bukankah kamu menyukai pimpinan dari perusahaan itu hingga rela bekerja disini?"


Kedua manik mata Indah membulat sempurna, ia sungguh tidak tahu bagaimana untuk menyikapinya. Di sisi lain ia masih merahasiakan pernikahannya dengan Jhon, di sisi lain Jhon belum tahu identitas ia yang sebenarnya.


"Mih..." Ucap Indah lirih.


"Tenang aja mamih masih merahasiakannya dari papimu, mamih juga kaget saat mengetahui papi akan membangun kerjasama dengan perusahaan Larry. Oh ya Sayang, bagaimana hubunganmu dengan Jhon Larry itu? apa ada perkembangan."


Ucap Bu Vera tersenyum saat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis putrinya.


"Emmm doakan saja mih." Jawab Indah sendu, seketika ia kembali memeluk erat ibunya hingga tanpa sadar air mata menetes dari kedua matanya.


"Mih, Indah kangen sama mamih dan Papi. Indah mau pulang mih! Indah mau pulang! Indah minta maaf mih!", Indah menangis tersedu-sedu di pelukan Ibundanya sedangkan Bu Vera yang paham putrinya sedang di rundung masalah hanya mengulas senyum dan membalas pelukan putrinya, ia tidak ingin bertanya lebih dalam jika Indah belum siap menceritakannya


"Pulang lah nak jika kau ingin pulang, jangan memaksakan sesuatu yang sudah di batas kemampuanmu. Pintu rumah selalu terbuka untukmu, sayang."


......................