Oh My Mister

Oh My Mister
Firasat




Mikha berjalan dengan begitu cepat hingga dia melihat Jerry dan David tampak mengerubungi suaminya.


"Max, maaf aku baru datang" Ucap Mikha memeluk yang langsung suaminya


"Ini masih jam 5 loh Mikha?"tanya David keheranan terlebih melihat Max yang tiba-tiba saja tidak mual-mual lagi setelah memeluk dan tampak menghirup aroma tubuh dari Istrinya.


"Iya masih pagi banget, tapi baby koala ini biasa buat kegaduhan kalau aku gak segera datang."


David dan Jerry tampak beradu pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.


"hahaha Maxim kau semakin terlihat bucin dengan kehamilan simpatik mu! " goda Jerry yang terus tertawa.


Max melepaskan pelukannya sejenak lalu melempar Jerry dengan sendal yang ia kenakan, namun sayangnya pria itu berhasil menghindar hingga membuat Maxim berdengus kesal.


"Sialan, aku sumpahin kau nanti akan merasakan yang lebih parah dariku!"


"Sumpahmu gak mempan!" kilah Jerry yang menjulurkan lidahnya menggoda Maxim.


"Oh ya aku lupa, bagaimana mau mempan kalau kau saja belum bisa menabur benih!"


"Bocah Setan!" Gerutu Jerry yang merasa kalah telak dengan ucapan Maxim, David tak kuasa menahan tawanya. Kedua sudut matanya tampak mengeluarkan cairan bening karena asik menertawakan kedua anak didiknya.


......................


Mentari kian meninggi, sinarnya yang begitu menusuk berhasil menyadarkan Indah.


"Emmmm dimana aku?awww!" Pekik Indah yang merasa sedikit tidak nyaman pada perut bagian bawahnya.


Ia tampak mengingat-ingat, semalam ia di larikan ke rumah sakit dan dokter mengabarkan bahwa janinnya tidak dapat di pertahanan akibat kehamilan ektopik dan pendarahan hebat yang ia alami.


Wajahnya terlihat begitu muram, walaupun pada awalnya ia tidak menginginkan kehamilan tersebut namun seiring berjalannya waktu, ia mulai menerima dan menyayangi janin yang baru beberapa Minggu ini berada di dalam rahimnya.


"Honey kau sudah bangun, bagaimana? ada yang sakit atau tidak?" tanya Jhon yang baru tersadar dari tidurnya, semalaman pria itu tampak terduduk di samping ranjang tempat istrinya berada hingga tanpa sadar ia terlelap.


Indah memalingkan wajahnya, ia masih merasa kecewa dengan sikap suaminya. Hatinya begitu perih mengingat Jhon yang membela Rhine mati-matian di hadapan keluarganya, di tambah masa lalu Jhon dan wanita itu yang semakin membuatnya merasa sakit hati.


"Honey..."


"Keluar! aku gak mau melihat wajahmu! Keluar!!!" Pekik Indah menunjuk pada pintu dengan jari telunjuknya.


"Indah maaf, maafkan aku..."


"Keluar Jhon! apa kau tuli ! kau benar-benar menjadi bodoh karena wanita itu!"


"Maaf, aku mohon maafkan aku." Jhon menggenggam erat tangan istrinya yang tengah terbaring di ranjang walaupun Indah mencoba melepaskan, pria itu semakin mengetatkan genggamannya.


"Keluar! aku gak mau di ganggu olehmu, aku benci kau!" Pekik Indah, buliran air mata begitu saja jatuh dari kedua netranya. Entah mengapa ia merasa jika hubungan rumah tangganya tidak akan berjalan mulus.


"Huhuhu Jhon kamu jahat! kamu anggap aku apa? aku telah memberikan semua yang berharga pada diriku untukmu tapi aku bahkan tidak tau siapa dirimu!" Pekik Indah memukul-mukul tangan suaminya.


"Sayang aku mohon maafkan aku, aku janji gak akan berbelas kasih padanya lagi."


"Jhon apa kau tau aku sangat risih saat dia dekat denganmu, di tambah sekarang aku mengetahui kau pernah melakukan itu dengannya, hati aku sakit! aku ini istrimu, aku bisa merasakan ia mempunyai maksud lain kepadamu!"


Indah menangis sejadi-jadinya walaupun kondisinya masih begitu lemah, hatinya begitu pilu dan terpukul.


Bagaimana tidak Jhon telah menutup-nutupi kenyataan tentang dirinya lalu ia hrus menerima kenyataan pahit atas kehilangan janinnya.


"Mikha, ini kah yang kau rasakan dulu? Oh tidak, mungkin lebih sakit dari ini, maaf aku yang selalu berkata seenakku tanpa memikirkan perasaanmu."


Tiba-tiba terbersit penyesalan atas dosa-dosa dan sikap buruknya pada Mikha, Sahabatnya yang begitu baik dan bahkan tidak pernah sekalipun menyakiti dan menyinggung perasaannya.


......................


Drap... Drap... Drap...


Hentakan langkah kaki yang begitu keras, terdengar begitu nyaring menyusuri sebuah gedung perusahaan yang bernama Larry Paradise, Perusahaan besar yang bergerak di bidang pariwisata, yang tersebar di beberapa belahan dunia tak terkecuali di Indonesia.


"Selamat pagi Tuan besar!" Ucap Gabriel, seorang General Manager menyapa kedatangan Tuan Andrew Larry yang didampingi putrinya, Marrie dan juga asisten kepercayaanya, Frans.


"Pagi, tolong panggilkan sekretaris itu!" Ucap Tuan Andrew dengan mimik wajah yang begitu dingin dan datar, membuat seluruh karyawannya begidik ngeri.


"Ada masalah apa sampai Tuan besar turun tangan?" Bisik seorang karyawati wanita pada rekan kerja di sampingnya.


Rhine tampak tertunduk menatap sosok laki-laki tua di hadapannya, tangannya saling meremas menahan emosi yang meluap-luap di batinnya.


"Berani-beraninya kau menunjukkan Batang hidungmu lagi di hadapan kami, dasar wanita tak tau malu!"


Ucap tuan Andrew dengan wajah yang datar.


"Maaf sa-saya..."


"Mulai sekarang pergilah jika kau masih sayang nyawamu, kau pikir saya bodoh! anakku saja yang terlalu naif menghadapi wanita ular seperti kau!"


"Ba-baik Tuan." Ucap Rhine yang mulai beranjak meninggalkan ruangan kerja Jhon.


" Jangan pernah kau ganggu kakakku! j*lang!" Bisik Marrie pada Rhine.


Wajah wanita itu tampak merah padam, merasa di permalukan oleh keluarga Larry.


"Lihat saja pak tua, setelah aku mendapatkan hati putra kesayanganmu , maka nasibmu ada di genggaman tanganku! begitu pula kau gadis manja si tukang ngadu! aku tak terima di perlakukan seperti sampah begini! " Gumam Rhine yang tampak mengepalkan tangannya


Rhine mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya, ia tampak menghubungi seseorang.


"Hei, aku minta kau selidiki tentang Istri dari Jhon Larry yang benama Indah! cari tau segala kelemahan yang ia punya!"


......................


Di sisi lain Max dan Mikha telah kembali ke apartemen miliknya, pria itu tampak begitu manja dan terus menerus menempel pada istrinya melebihi dari biasanya.


"Max, aku mau buat sarapan dulu." Ucap Mikha mencoba keluar dari pelukan suaminya.


"Tidak, kau gak boleh kemana-mana! Delivery aja!" jawabanya yang membuat Mikha sedikit kesal.


"Aduhhh sesak, perutku udan membesar Max! engap" keluh Mikha menepuk-nepuk tangan suaminya yang melingkar sempurna di perutnya.


Max tersenyum melihat istrinya yang sudah tampak begitu kesal, ia merangkum seluruh wajahnya istrinya dan menciumnya bertubi-tubi.


"Jangan pernah meninggalkan aku, apa kau bisa berjanji?"


Mikha mengeryitkan dahinya mendengar perkataan suaminya yang begitu aneh, karena mana mungkin ia meninggalkan Maxim. Ia sangat mencintai pria bermata biru yang merupakan suaminya tersebut


"Iya aku berjanji baby koala!" Ucap Mikha sambil mencubit hidung mancung suaminya dan mengadunya dengan hidung miliknya.


Maxim tersenyum dan mengecup bibir istrinya, ia kembali tidur di pangkuan Mikha dan mengelus perut istrinya, pikiran pria itu mengawang kemana-mana, ia masih ingat betul mimpi buruknya, saat semalam tertidur selagi menemani Jhon yang tengah menjaga Indah.


"ya Tuhan semoga semua hanya sebatas bunga tidur saja." Gumam Pria manis berlesung pipi itu.


Flasback ON


Di alam bawa sadar, Maxim tengah berada di suatu ruangan di rumah sakit.


Wajahnya begitu senang, dan bahagia kala seorang perawat membawakannya sepasang bayi.


Ya.. sepasang bayi kembar, yang langsung di serahkan pada Mikha dan juga pada dirinya.


"Hei anak papa, jagoan papa! kau begitu tampan sekali." Ucap Max yang sibuk menciumi bayi laki-laki yang berada di gendongannya.



Sedangkan Mikha tersenyum menggendong bayi lainnya yang tidak di Ketahui genre-nya.


"Lihat anak-anak kita, mereka begitu menggemaskan!" Ucap Max yang begitu antusias.


Mikha perlahan mendekati suaminya dan mengambil bayi yang berada di gendongannya suaminya.


"Maaf..." ucapnya lirih lalu berlalu meninggalkan Max begitu saja dengan membawa kedua anaknya.


"Mikha kamu mau kemana sayang? Mikha!!!"


ia berteriak sejadi-jadinya namun apa daya kakinya terasa kaku dan tertahan, hingga istri dan kedua anaknya menghilang dari pandangan matanya.


Flasback Off


......................