Oh My Mister

Oh My Mister
Super Rich Man



Hai semua, sudah lama kita tak bersua 😌 Apa kabar kalian? Semoga senantiasa sehat dan bahagia.


Seperti biasa aku ke sini buat numpang promosi dua karya terbaruku, ya kali aja ada yang tertarik hehehe namanya juga usaha yaaa.


Jadi, aku terbit karya eksklusif baru di aplikasi


l I . N . N .O . V . E . L atau D . R .E . A .M . E


Yang mau baca mulai 1 Desember 2021, Insya Allah aku akan up teratur setiap hariand spoiler dikit (Masih gratis!)


Judul : Super Rich Man karya Mustika RahmaDika





Barangkali ada yang berkenan mau mampir dan support aku di sana.


Oke, aku akan kasih dua bab awal yaa ...


Semoga kalian suka 🥰


...****************...


...Bab 1 Anak rantau...


Suara deru mesin kereta malam kelas ekonomi, tampaknya tidak mengusik dua orang gadis dari tidur lelapnya. Dua gadis cantik itu adalah Violet Anindya dan Kirana Swastamita. Mereka nekat merantau jauh dari keluarganya untuk mengadu nasib di kota Yogyakarta.


Jam telah menunjukkan pukul enam tepat, Violet dan Kirana bersiap mengambil koper-koper miliknya yang tersimpan rapi di bagasi kereta.


Tut ... Tut ... Tut …


Kereta berhenti di Stasiun Lempuyangan Jogja, dengan langkah percaya diri mereka menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Yogyakarta dengan berbekal uang yang serba pas-pasan.


"Vio, dari sini kita kemana lagi?" tanya Kirana bingung seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Naik Taksi aja ya, patungan! Aku juga gak tau daerah sini," jawab Violet sambil menatap sebuah alamat yang berada di ponselnya.


Grep!


"Woi Handphone gue! Jambret! Belum lunas itu hp, woi!" Violet berteriak, lalu berlari mengejar seorang jambret yang telah merampas ponsel miliknya.


Terlihat beberapa warga lokal membantu gadis itu mengejar jambret tersebut hingga akhirnya, Violet melompat dan menendang punggung pria pencuri itu hingga jatuh terjungkal.


"Eh Mas, nyari duit gak gini-gini amat kali!" umpatnya kesal sambil merampas ponsel miliknya dari tangan pejambret.


"Mbak, kita bawa ke kantor polisi aja ya?" tanya seorang pria paruh baya sambil mengangkat tubuh pria penjambret yang terkulai lemas di aspal.


Violet menatap pria paruh baya itu dan mengacungkan kedua ibu jarinya, "Oke Pak!"


Mentari semakin bersinar cerah menerangi hamparan cakrawala khatulistiwa. Tampak dua orang gadis turun dari sebuah mobil patroli.


"Matur nuwun, pak!" ucap kedua gadis tersebut serentak kepada seorang polisi yang mengantar.


Setelah mobil patroli tersebut kembali berjalan, mereka pun segera kembali melanjutkan perjalanan menuju alamat yang dituju.


"Gara-gara itu jambret kita jadi dapat tumpangan gratis hehehe," tutur Violet terkekeh mengingat kejadian penjambretan ponsel miliknya tadi pagi.


Kirana menggelengkan kepalanya, tingkah sahabatnya ini memang sering membuatnya sakit kepala. Belum lagi jika sudah kepepet, menjadi pengamen dadakan pun pernah gadis itu jalani karena kehabisan uang.


"Edan kowe! Syukur Alhamdulillah itu jambret gak bawa senjata tajam, kamu itu bikin aku jantungan mulu!" celetuk Kirana kesal yang hanya di tanggapi oleh tawa renyah sahabatnya.


Tak lama sampailah mereka tepat di depan pintu gerbang sebuah Villa megah. Villa yang sangat indah dengan panorama hamparan sawah luas dan pegunungan yang membuatnya begitu asri.


"Nyuwun sewu, Mbak Violet dan Mbak Kirana ya?" Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri Violet dan Kirana, pria tersebut tersenyum dan menyapa dengan sopan.


"Oh iya, pak! Saya Violet dan ini teman saya Kirana," ucap Violet memperkenalkan diri seraya menjabat tangan pria paruh baya tersebut.


"Saya Dodo, yang mengurus Villa ini. Monggo masuk, saya akan jelaskan pekerjaannya sambil berkeliling."


Mereka pun berkeliling villa sambil mendengarkan penjelasan Pak Dodo dengan seksama atas apa-apa yang harus dikerjakan.


Pekerjaan yang cukup ringan, membersihkan Vila yang sudah terlihat bersih hanya dari pukul enam pagi hingga pukul lima sore. Gaji yang ditawarkan pun menggiurkan, lima juta per bulan yang bahkan jauh melebihi upah minimum rata-rata Yogyakarta.


"Yang punya vila ini siapa ya?" tanya Violet penasaran.


"Katanya orang Prancis,  namanya Tuan Kenneth."


"Hah, katanya?" tanya Violet dan Kirana berbarengan dengan mimik wajah bingung.


Pak Dodo tertawa renyah, bahkan dia sendiri tidak pernah melihat pemilik villa tersebut secara langsung.


"Pemilik tidak pernah datang, bahkan sejak awal vila ini dibangun, hanya Tuan Caesar yang selama ini mengecek keadaan villa," jawabnya jujur.


Violet memandang Kirana lalu mengangkat bahunya singkat, dia tidak mau ambil pusing dengan asal usul pemilik villa tersebut. Yang terpenting baginya sekarang adalah kerja dan dibayar dengan upah yang besar.


***


Di sebuah mansion mewah di belahan dunia lainnya, tengah terjadi huru hara. Pria tampan bermata coklat tampak murka dan menendang apapun yang berada di hadapannya.


"Kalian semua gila!" pekiknya gusar dan membanting sebuah vas bunga yang berada di atas meja.


Seorang wanita cantik bak boneka barbie hidup terlihat menunduk di sebelah seorang pria yang asik merangkulnya dan tersenyum seringai.


"Kau, teganya kau Veronica! Kurang apa aku padamu!"


"Kurang apa? Ya tentu saja karena kau sekarang miskin! Jadi, tidak ada gunanya aku denganmu! Kau bawa saja anak itu jauh-jauh dari pandanganku," ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya erat.


Brak!


Dua buah koper dilempar seseorang di hadapan pria bernetra biru itu. Tidak lama terlihat gadis kecil berlari menghampirinya dan memeluknya dengan mata yang sembab.


Pria tersebut menggendong anak perempuan yang merupakan putri kecilnya, lalu mengambil koper yang tergeletak di hadapannya.


"Aku akan membalas perbuatan kalian semua!" ancamnya dengan mata yang memerah, pandangannya pun beralih kembali pada sosok wanita cantik itu kembali.


"Kau yang menginginkannya, Lyla sekarang hanya milikku dan kau tidak punya hak atas dirinya!" tandasnya dengan sorot penuh kebencian.


Hatinya begitu sakit, harga dirinya benar-benar telah diinjak-injak. Hanya putri kecilnya sajalah harta yang ia miliki disaat seluruh dunia terasa mengkhianatinya.


Pria bermanik coklat itu berjalan gontai keluar dari mansion milik keluarganya, dalam sekejap hidupnya sudah berbalik 180 derajat. Pria tersebut terus berjalan termenung, ia benar-benar bingung harus kemana.


Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, dengan cepat ia segera mengangkat panggung tersebut. "Hallo."


***


Violet menetap pemandangan dari balkon lantai dua, dihirupnya napas dalam-dalam. Semilir angin begitu saja menyapa, mengibaskan rambut panjang hitam legam miliknya.


Dari kejauhan ia melihat seorang petani yang tengah bergotong royong mengangkut padi bersama anak dan istrinya. Mereka tampak rukun dan bahagia walaupun hidup di dalam keterbatasan.


Tanpa terasa setetes air mata berseluncur indah dari netra cantiknya. Hatinya berdenyut perih, seakan ada pisau tak kasat mata mengoyak sanubarinya.


Tak ingin terlalu larut, Violet segera mengusap air matanya. Baginya, meratapi nasib tidak akan membuat perut ibu dan adiknya kenyang. Hidup akan terus berjalan, lebih baik mencari uang daripada harus tenggelam dalam kisah kelam.


Violet mengusap air mata dengan kedua punggung tangannya. Lalu segera masuk ke salah satu kamar dengan membawa beberapa alat-alat kebersihan.


Cklek!


Pintu terbuka, seketika sepasang netra gadis berparas cantik itu membuat sempurna. Kamar yang begitu indah dengan sebuah lukisan wanita cantik, dengan ukuran super besar terpanjang dengan rapi.


Lukisan yang begitu indah, bahkan semuanya bagiannya begitu mendetail bak sebuah foto nyata. Violet melangkah mendekati lukisan tersebut, dibacanya tulisan yang tergores pada bagian bawah lukisan itu.


'Special for you. I love you more, Veronica.'


...****************...


...Bab 2 Pria Cengeng...


Tak terasa sudah seminggu lamanya Violet dan Kirana bekerja di Villa tersebut, semuanya berjalan lancar. Mereka merasa cocok dan betah dengan pekerjaan baru yang tengah digelutinya.


Kedua gadis itu pun tinggal di sebuah kamar indekos murah yang hanya berukuran mini, tetapi Violet dan Kirana tidak mengeluh sedikitpun. Mereka merasa bahagia selama kebutuhan keluarga mereka tercukupi.


"Vi, aku izin dulu ya. Perut aku sakit banget," keluh Kirana yang terus-menerus memegang perutnya.


Violet yang tengah asik menyisir rambut hitamnya menoleh ke arah Kirana,"Kamu kenapa? Mau ke dokter?"


"Enggak usah, biasa bulanan hari pertama," lirih Kirana.


"Serius?"


"Iya beneran," jawab gadis berperawakan mungil itu lagi guna meyakinkan Violet.


Violet membersihkan Villa itu seorang diri, mulai dari memotong rumput di halaman belakang hingga membersihkan debu-debu yang menempel.


Waktu terus berputar, gadis itu melihat sebuah jam yang menempel pada dinding lalu beralih melihat keluar jendela.


JEDER!


Kilat tiba-tiba menyambar, dengan panik Violet segera menutup seluruh gorden dan naik di atas sebuah sofa,  dengan menekuk lutut dan menutup kedua telinganya. Ingatannya kembali ke masa lalu, di mana titik terendah hidupnya. Violet benci hujan dan kilat, semua itu selalu membuat ingatannya tertarik pada masa lalu.


Sudah lewat dari pukul lima sore, tetapi hujan tidak kunjung berhenti dan semakin deras. Sudah satu jam lamanya gadis itu bergeming di tempat yang sama.


Hujan angin dan kilat membuatnya enggan untuk beranjak dari posisi ternyamannya.


Klap!


Listrik tiba-tiba padam, membuat pandangannya menjadi gelap gulita. Hanya cahaya terdapat cahaya-cahaya kilat yang menambah atmosfer mencekam.


Violet mengambil ponsel yang berada di kantong celananya, tapi lagi-lagi ia harus mengumpat karena ponsel miliknya kehabisan daya.


Brak!


Pintu tiba-tiba terbuka, siluet seseorang tampak jelas di balik cahaya petir. Violet yang tersentak kaget, tak sengaja menjatuhkan ponselnya hingga berbunyi cukup keras.


"Eh, siapa kamu?" tanya Violet dengan suara membentak.


Namun, sosok itu hanya diam lalu tiba-tiba berlari dan menerjang tubuhnya. Violet mencoba memberontak sekuat tenaga, tidak bisa dipungkiri jika ia mengalami ketakutan berlipat ganda dari biasanya.


"Lepas! jangan sampai gue hajar lo!" pekiknya, mencoba memberanikan diri. Violet terus bergeliat bersikeras membebaskan diri dekapan sosok yang diduga seorang pria beraroma maskulin itu.


Sosok itu mengunci tubuh Violet, lalu membenamkan wajahnya pada dada gadis itu.


"Woi, kurang ajar!"


Hening, pria itu tidak melakukan apapun lagi. Tubuhnya tampak bergetar dan Violet merasakan sesuatu membasahi baju yang ia kenakan.


"Why ...  Why did you leave me alone? I'm heartless without you."


Violet bergeming, mendengarkan racauan yang keluar dari bibir pria itu.


"Kenapa Veronica? Apa kurangku padamu? Hanya karena aku jatuh miskin kau tega meninggalkan diriku dan putri kita."


Gadis itu berpikir keras, Veronica nama yang tidak asing baginya. Lama Violet berpikir mengobrak-abrik semua ingatan di kepalanya, hingga akhirnya ia tersentak kala mengingat sebuah lukisan wanita yang terpajang di salah satu kamar di villa tersebut.


"Tuan ... Ke-kenneth," ucapnya mencoba menerka-nerka sosok pria yang mendekapnya itu.


Pria tersebut mendongakkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Hidung mancung dan manik mata coklat, begitu jelas terlihat dengan bantuan cahaya kilat. Tampan, kalimat itulah yang pertama kali terlintas di dalam hati gadis itu. Manik coklat pria itu menyiratkan sebuah kesedihan dan kekecewaan mendalam.


"Kenapa kalian semua mengkhianatiku? Kenapa! Aku sangat mencintaimu Veronica," lirihnya kembali. Aroma alkohol begitu menyeruak dari mulutnya, menusuk indera penciumannya Violet hingga membuat gadis itu menahan napasnya.


"Tuan, sadar Tuan. Saya bukan Veronica!"


"Setelah seluruh hartaku jatuh ke tangan Jamie, kau meninggalkanku dan memilih bersamanya. Kau pikir aku ini apa? Sampah! Apa kau tidak memikirkan putri kita? Kamu tega Vero!" pekik Kenneth seraya menarik kerah baju Violet.


PLAK!


Sebuah tamparan melesat di wajah pria itu. Violet sangat yakin jika pria di hadapannya tengah berada dalam pengaruh alkohol, hingga membuatnya mengira jika Violet adalah Veronica.


Klap!


Listrik kembali menyala, kini Violet dapat melihat dengan jelas raut wajah putus asa pria di hadapannya.


Sejujurnya, Violet mengakui jika pria berwajah khas western yang berada di hadapannya sangatlah tampan. Namun sorot mata coklat pria itu begitu sendu, menyiratkan kesedihan yang mendalam. Wajahnya sembab dan basah karena air mata yang terus mengalir.


"Veronica, bagaimana aku harus menjaga Lyla? Aku mohon kembalilah," desisnya kembali.


Violet yang turut merasakan luka pria tersebut, hanya mampu memutar otaknya lebih keras. Sebenci apapun ia pada sosok pria, tetapi melihat air muka putus asa pria tersebut benar-benar membuatnya mengingat kala dikhianati seseorang yang paling dicintainya. Seseorang yang menjadi sandaran hatinya, yang begitu tega mencampakkannya tanpa perasaan bersalah.


PLAK!


"Hei sadar, aku bukan Veronica!" tandasnya kembali, setelah menampar wajah pria itu untuk kedua kalinya.


Tiba-tiba, pria itu kembali mendekat dan mengecup bibir Violet. Kedua mata gadis itu membulat sempurna, ini adalah kedua kalinya ia mendapatkan ciuman dari seorang pria setelah sang mantan pacar terdahulu.


Tubuh gadis itu terasa kaku, kala pria tersebut semakin memperdalam ciumannya.


"Aku mohon, kembalilah! Aku berjanji akan bekerja lebih keras agar mampu membahagiakanmu," bisiknya sesaat setelah melepaskan ciumannya.


Brak!


Violet yang tersadar, spontan menendang pria itu hingga jatuh terjungkal lalu menarik kerah baju pria blonde tersebut sekuat tenaga.


"Ikut aku!" titahnya. Violet menarik tangan pria tersebut lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


Dengan cepat, Violet menyalakan shower hingga membasahi tubuh pria yang berada di hadapannya. "Sadar kamu, aku bukan Veronica!"


"Jadi pria itu jangan cengeng, dunia kamu gak akan runtuh hanya karena kehilangan satu pengkhianat!" pekik Violet terus-menerus. Suara gadis itu terdengar nyaring dan menggema memenuhi kamar mandi tersebut.


Hampir satu jam lamanya, ia menyadarkan pria itu. Hingga kini pria yang diduga Kenneth, terlihat terduduk lemas di bawah pancuran air shower.


Dengan sigap Violet segera mematikan dan membawakan sebuah bathrobe. "Lepaskan pakaianmu dan pakailah ini agar kau tidak sakit," tuturnya.


Namun, bak orang bodoh. Pria itu hanya bergeming di posisi yang sama, tanpa mengacuhkan perintah dari Violet sama sekali.


Gadis berparas cantik itu memutar bola matanya malas dan berdecak kesal. Dengan terpaksa ia harus membantu pria tersebut melepas semua pakaiannya, daripada nanti sakit dan ujung-ujungnya ia yang akan direpotkan. Terlebih ia yakin betul jika pria tersebut adalah pemilik villa itu.


Violet membuka satu persatu kancing kemeja pria itu. Wajahnya bersemu merona, untuk pertama kalinya ia melihat tubuh seorang pria bak model majalah fitness.


Tanpa ia sadari, jika kesadaran pria di hadapannya berangsur pulih dan melihat seluruh milik wajah dan gerakannya.


"Cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan," rancunya, terus-menerus mengulang perkataan yang sama. Wajahnya terlihat begitu kikuk terlebih saat harus melepaskan gesper dan membuka resleting celana pria itu. Gadis itu melakukannya dengan mata tertutup, namun sedikit mengintip agar pergerakannya tidak salah


"Cepat dan selesaikan, cepat dan selesaikan, aduh si bodoh bikin perkara sendiri, ngerepotin diri sendiri!" Violet terus meracau dan mengumpat, sesekali memukul-mukul kepalanya.


Tangan gadis itu gemetar, kala harus melepas pakaian terakhir yang menutupi bagian pribadi pria itu. Violet memalingkan wajahnya dan dengan cepat meraih sebuah bathrobe dan memakaikannya kepada pria tersebut.


"Ah ... selesai juga, ampun! Gak lagi-lagi deh! Hei, Tuan! Harusnya kamu menggajiku dua kali lipat! Tapi karena aku tau kamu bangkrut, ya sudah gak apa-apa. Asal aku tetap digaji sudah syukur, awas saja kalau sampai mangkrak!" ucapnya seraya mengikat tali bathrobe dengan kencang.


Namun, sepertinya penderitaan gadis itu tidak sampai di situ. Pria itu seketika menutup mulutnya dengan wajah yang memucat.


Hoek! Hoek!


"Astaga, jackpot!"