Oh My Mister

Oh My Mister
Cemburu?



Waktu berlalu, hari berganti hari tak terasa 3 minggu Mikha lalui tanpa masalahan yang berarti.


pekerjaannya cukup berjalan mulus, kemampuannya dalam berbahasa Inggris meningkat pesat membuat atasannya senang dengan usaha dan kinerjanya beberapa pekan ini.


Ini semua berkat Max, si pria aneh yang selalu membuntutinya, tidak pernah absen mengajari Mikha bahkan membuatkannya bekal makan siang dan mengantarkan ke kantornya dan menjemput gadis itu pulang kerja.


Semakin lama kehadiran Max sama sekali tidak membuatnya merasa terganggu, hanya satu keganjalan di hatinya yaitu Ardilla sahabatnya, gadis itu sering sekali berkunjung ke Rumah kost mereka setiap Mikha pulang kerja dengan alasan bosan di rumah namun lagi-lagi dia menempel pada Max dan membuat Mikha agak risih dan kesal.


Bahkan tiap akhir pekan Dilla selalu rajin datang pagi-pagi mengajak mereka sarapan bersama.


Melihat mereka berdua bercanda tawa dan seperti mengasingkan dirinya sungguh selalu berhasil memperburuk suasana hatinya.


Minggu pagi, pagi-pagi sekali Mikha sudah bersiap pergi, yaa ... sebenarnya dia mau menghindari Dilla, kedatangan Dilla kerap kali berhasil membuat nya jengkel namun ia tidak bisa marah karena bagaimanapun Dilla adalah sahabatnya.


Namun sayang sepertinya dia kalah Start, lagi-lagi Dilla sudah datang bersama Max! ya... bersama Max!


"Mau kemana lu? gw baru datang." Tanya Dilla, namun Mikha tidak hanya diam.


"ya elah gw dah beli in sarapan nih, sekalian makan bareng sama Max." ujar Dilla lagi.


"kamu sarapan dulu nanti aku antar gimana?" Ujar Max.


"Gak usah, gw bosen jadi nyamuk lu berdua."


Mikha langsung pergi meninggalkan Dilla dan Max yang kini sedang bertatap-tatapan seakan saling bertanya, ada apa dengan Mikha?


Max dan Dilla segera mengejar Mikha namun gadis itu terlanjur menghilang entah kemana.


"Max B*go!!!" Pekik Mikha dalam hati, entah mengapa rasa kesal menguasai dirinya.


"Neng ...neng mau kemana nih?" suara supir Bajaj memecah lamunannya.


"eh ... ke ...ke halte Busway aja bang tapi yang di sana ya biar rada jauhan jangan yang di depan situ!"


***


Flashback ON


Malam itu mereka bertiga sedang bercengkrama di kamar Mikha, sesekali Max memainkan gitar dan Dilla bernyanyi, suasana di kostan itu memang sedang sepi bahkan di lantai itu hanya Max dan Mikha yang menempati karena sebagian besar penghuninya yang berstatus mahasiswa sedang pulang ke kampung halaman menikmati liburan akhir semesternya.


Keadaan rumah kost yang seperti itu membuat mereka bebas bernyanyi dan tertawa karena tidak akan mengganggu siapapun.


"Dilla gw mau ke minimarket nih sekalian beli kuota, mau nitip gak?" Tanya Mikha kepada Dilla.


"Gak usah deh bentar lagi juga gw mau pulang, lu juga udah waktu nya belajar sama Max kan?"


"Aku antar ya?" ujar Max bersiap-siap berdiri dari duduknya.


"gak usah, si Dilla penakut lu temenin dia dulu aja, cuma sebentar kok! oh ya lu mau nitip gak?" Ujar ku bertanya kepada Max sambil mengambil jaket untuk bersiap keluar.


"cola aja sayang" jawab Max.


Max terbiasa memanggil Mikha dengan sebutan-sebutan tersebut dan selalu berhasil membuat Mikha merona karenanya.


Namun walaupun demikian Max tidak pernah bersikap tidak sopan kepada gadis itu, kontak fisik sewajarnya dan tidak melebihi batas kewajaran seolah-olah Max menjadikan Mikha wanita yang amat berharga dan patut di jaga.


15 menit berselang, Mikha pun kembali dengan sekantong makanan ringan dan juga minuman pesanan Max, segera ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Deg...


Sekujur tubuhnya terasa kaku, lidahnya Kelu, matanya tidak dapat menatap ke arah lain.


ia melihat Max dan sahabatnya merangkul, memeluk sambil membidikkan kamera handphone milik Dilla, adegan itu terasa sangat mesra di mata Mikha.


"Mengapa mereka sedekat itu bahkan Max tidak pernah bersikap seperti itu kepadaku, selain ini apalagi yang sudah mereka lakukan di belakang ku, sebenarnya hubungan macam apa yang terjadi di antara mereka, kenapa hatiku sesakit ini."


kalimat itu terus-menerus berputar di kepalanya.


Bahkan Max bukan siapa-siapanya namun mengapa dadanya terasa sesak melihat adegan itu.


"Mungkin saja mereka hanya ber-selfie ria tapi kenapa harus sedekat itu, kenpa? oh Mikha kenapa begini! kamu dan Max hanya beteman, hanya BER-TE-MAN, gak ada hak untuk ikut campur urusan pribadinya, gak ada hak untuk marah!Akhhhhh...B*doh!!! hei hei ingat kamu itu baru kenal Max beberapa Minggu!"


Mika terus merancau dalam hatinya, seakan hati dan pikirannya tidak sejalan.


Beberapa kali dia mencuci wajahnya, berharap wajah sembabnya tidak terlihat, dia mencoba mengatur nafasnya, mengontrol semua emosinya, dan diapun memberanikan diri kembali ke kamarnya, menemui dua sosok makhluk yang telah menyakiti hatinya.


"lama banget, ya sudah gw balik dulu ya udah malam" Ujar Dilla saat melihat sosok Mikha.


"hati-hati." jawab Mika seperlunya.


Sesaat setelah Dilla pulang tanpa dia sadari Max menatap tajam ke arahnya.


"Sayang kamu kenapa? kenapa matamu merah? kamu habis menangis?apa ada yang menyakitimu?"


Max merangkum Wajah Mikha dengan kedua telapak tangannya, dia terus menatap Mikha dengan intens.


"Tidak ada." jawab Mikha ketus.


"Bohong, aku tau kamu bohong tolong katakan padaku siapa yang membuatmu begini?"


Max terus memaksa, hingga akhirnya Mikha menepis kedua tangan Max dari wajahnya.


"Sudahlah Max, aku capek aku mau istirahat! kamu kembali saja ke kamarmu." ujar Mikha kesal.


"Tidak sebelum kamu mengatakan semuanya".


"Max sudahlah, kamu paham tidak sih ucapanku? aku capek tolong mengerti!" Mikha mulai meninggi, emosinya kembali memuncak.


Diapun mendorong Max keluar dan segera mengunci pintu kamarnya sementara Max masih berkata-kata di balik pintu itu.


"Mikha aku akan tunggu penjelasan mu, aku sungguh khawatir kepadamu, aku akan menunggumu."


Max terduduk di balik pintu kamar Mikha, rasa khawatir terlukis di wajahnya.


Sementara Mikha menangis sejadi-jadinya, ia melemparkan bantal dan guling nya ke segala arah.


"Max kamu jahat, kamu meninggi-ninggikan perasaanku, mengajaknya terbang namun kau pula yang menghempaskannya begitu saja, sakit Max! hahaha sejak awal memang kita hanya teman, bukan kamu yang jahat Max tapi memang aku yang terlalu naif mengartikan sikapmu, bahkan kita baru mengenal tak seharusnya aku terlalu mudah jatuh hati padamu." Ucap Mikha lirih, akhirnya ia terlelap karena terlalu lelah menangis, sementara Max tertidur di depan pintu kamar Mikha dengan posisi duduk.


Flasback off


***


Handphone Mikha terus-menerus bergetar, terlihat banyak pesan dari Max dan juga panggilan tidak terjawab pria itu.


Akhirnya Mikha memutuskan untuk mematikan Handphone miliknya.


Di sisi lain Max dan Dilla di buat bingung dengan sikap Mikha, Mereka memutuskan duduk di tepi jalan setelah lelah mencari Mikha.


"Akhhhhh!!! Handphone-nya tidak aktif!" Max tampak gusar, beberapa kali dia terlihat memukuli kepalanya, mengutuk kebodohannya.


"Sabar Max, sebenarnya sejak kapan Mikha seperti ini? dia terlihat marah saat lihat gw, lu gak aneh-aneh kan sama dia?." Selidik Dilla menduga-duga.


"Aku tidak pernah macam-macam kepada nya, sikapnya mulai aneh sejak malam itu, terlebih lagi dia selalu diam dan mengasingkan diri saat kita bertiga berkumpul."


"Malam itu?" tanya Dilla mulai penasaran.


"ya ...malam saat kita berdua berfoto dan video call Jerry, saat dia izin ke minimarket."


Jawab Max.


"Ohhh oke gw paham!!!" tiba-tiba Dilla berdiri dari duduknya.


***