
Mentari mulai bersinar terang, cahayanya mulai menelusup masuk lewat jendela-jendela bergorden putih di kamar itu, namun semua itu tampak tidak berpengaruh pada seorang ibu hamil yang memang suka sekali tidur selama kehamilannya.
Selepas Subuh Mikha memang selalu terbiasa tidur kembali selama ia mengandung, entah mengapa namun rasa kantuk selalu menyertai sehingga aktivitas makan dan tidur kini menjadi part favorit untuknya
"Sayang bangun, sudah jam 6", Ucap Max yang sudah terlihat rapih dengan setelan Jas yang telah melekat pada tubuhnya.
"Emmmm" Desah Mikha yang nampak enggan membuka matanya.
"Mau bangun sekarang atau aku gendong terus aku ceburin di bathtub?" ancam Max menggoda istrinya.
Mikha membuka paksa matanya, pandangannya langsung tertuju pada sang suami yang berada si sampingnya.
"Ayo anak papa, bangunin mama katanya mau ikut papa!"
Maxim tampak mengusap-usap perut sang istri yang tertutup selimut, lalu mengecup kening Mikha dan perutnya secara bergantian.
"emm pasti mau ikut dong, selama masih ada waktu yang tersisa aku dan baby twin akan selalu ikut dan mendampingi kamu." Ucap Mikha yang berhasil membuat Max mengernyitkan dahinya dengan ucapan ambigu dari mulut istrinya.
"Kok ngomong begitu sih! selalu ada waktu untuk kita sayang."
"Iya, cuma kalau dedek sudah lahir aku kan gak bisa ikut-ikut kamu lagi sampai mereka cukup besar, ya sudah aku mandi dulu."
Ucap Mikha beranjak dan langsung menuju kamar mandi sedangkan Max masih memikirkan perkataan sang istri.
Entah mengapa perasaannya begitu tidak nyaman dengan ucapan Mikha, namun ia mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruknya karena memang jika si kembar sudah lahir maka Istrinya tidak akan bisa terus-menerus mendampinginya saat bekerja sampai anak mereka cukup besar untuk di bawa berpergian jauh.
Seusai bersiap dan sarapan pagi, tak lama David datang dengan mobil jemputan yang sudah menunggu. Mereka memulai hari dengan jadwal ke sebuah stasiun televisi di London untuk menjadi bintang tamu acara talk show disana.
Acara di mulai Dengan bertemakan cinta, masing-masing dari mereka membawa setangkai bunga mawar sebagai kejutan untuk para fans yang beruntung.
NB : Anggap aja Shine(kiri) dan Nicky (tengah) itu Ryan dan Jerry yaa😂
Suasana berubah meriah, Dilla dan Mikha hanya tersenyum melihat suami-suami mereka di peluk dan bahkan di cium oleh para fans wanita.
Ya... bagi mereka itu lah risiko mempunyai suami seorang superstar yang tengah naik daun, karena akan ada masanya kelak suami mereka menjadi milik mereka seutuhnya.
Seusai acara mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Dublin menggunakan pesawat jet pribadi milik The Prince, pesawat yang selalu setia membawa mereka kemampuan untuk melakukan perjalanan tour konser ke berbagai negara.
Hanya membutuhkan waktu 1.5 jam akhirnya pesawat mereka mendarat sempurna di negara dan kota tujuan.
Mikha dan Dilla memutuskan untuk beristirahat di hotel sedangkan Max mulai meninjau tempat untuk performnya dan mulai latihan bersama kedua Sahabatnya.
......................
Di kediaman Larry, Jhon tampak sibuk di ruang kerjanya. Nampaknya pria itu tengah serius mengecek email yang baru masuk untuknya, ia segera mengambil ponselnya dan tampak menelpon seseorang.
📱"Yakin ini benar-benar Rhine?"
📱"Iya Tuan, sesuai penyelidikan saya nona Rhine tinggal di pemukiman kumuh di pinggir kota London."
📱"Baiklah, terima kasih."
"Honey..." Sapa Indah yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya dengan membawa secangkir kopi, Secepat kilat Jhon menutup laptopnya yang memperlihatkan foto-foto Rhine.
"Iya Sayang" Ucap Jhon menutupi kegugupannya.
"Sedang apa? Ini kan akhir pekan, gimana kalau kita ajak Bella ke taman."
"Baiklah, Oh ya Sayang ada yang mau aku sampaikan kepadamu, sini mendekat padaku." Ucap Jhon menepuk-nepuk kedua pahanya, mengisyaratkan agar Indah duduk di pangkuannya.
Indah menurut dan duduk di pangkuan sang suami, Jhon merapihkan rambut istrinya dan di selipkan ke belakang telinga, pria itu tersenyum dan berkata lembut pada istrinya, "Sayang gimana kalau kau tidak usah kerja lagi, apalagi sedang hamil muda."
Indah mengerti dahinya menatap tajam suaminya.
"Sayang tenang aja, kalau ada pekerjaan jauh aku pasti ajak kamu. Untuk sekretaris aku bisa mencarinya lagi yang penting sekarang kesehatan kamu dan calon anak kita." bujuk Jhon meyakinkan istrinya.
"Baiklah, besok aku terakhir kerja ya, ku mau merapihkan seluruh kerjaanku."
"Oh ya Honey, aku sudah berfikir baik-baik ternyata perkataan Mikha memang benar. Kapan kita ke rumah orang tuaku? aku siap apapun yang terjadi kita pasti bisa menghadapi bersama." sambung Indah lirih.
Jhon tersenyum dan membelai lembut rambut istrinya, "Baiklah, bulan depan kita ke Indonesia. Aku akan membereskan pekerjaanku secepatnya."
Ucap Jhon mengecup kening istrinya, tangannya tampak mengusap perut Indah yang masih rata.
Sementara itu di sebuah rumah kumuh Rhine tampak tersenyum smirk, wanita licik itu memang sudah memperhitungkan baik-baik sebelum memunculkan wajahnya dihadapan Jhon.
"Hahahaha ada gunanya juga aku harus rela tidur ditempat menjijikkan ini dan berbaur dengan para orang miskin itu! aku sudah memperhitungkan kau pasti menyelidikiku, dasar bodoh!" ucap Rhine dalam hati, Beberapa saat yang lalu ia memang merasa di awasi bahkan tak sengaja melihat seseorang memfotonya.
"Perlahan Jhon Marcello, kau pasti akan menjadi milikku!"
......................
Mikha nampak terusik dari tidurnya karena deringan ponselnya, segera ia mengangkat panggilan telepon dari Dilla dengan mata yang tampak terpejam.
📱"Bumil, Bangun!!! emang gak mau liat bapaknya anak-anak perform!" Pekik Dilla 8 oktaf hingga membuat Mikha menjauhkan ponsel dari telinganya.
📱"Kaga usah pake toa! lagian baru jam berapa sih!"
📱"Ya Allah, ini udah jam 4 neng! Lu tidur udah kaya beruang hibernasi! cepetan jam 5 acaranya mulai."
📱"Astagfirullah , ya iya bentar gue mandi dulu! bareng kesannya ya!"
Mikha terperanjat dan langsung melakah menuju kamar mandi, setelah tampak rapih ia segera menemui Dilla yang telah menunggu di depan. kamarnya.
Jalan yang ditempuh dari hotel menuju stadion Croke Park memanglah tidak jauh, Mikha dan Dilla memutuskan untuk berjalan kaki.
Di pertengahan jalan langkah mereka terhenti, Mikha tampak mematung melihat seseorang yang kini berada di hadapannya, seseorang yang tak sengaja berpapasan dengannya.
Sedangkan Dilla menatap tajam orang tersebut, seseorang yang telah melukai hati dan perasaan sahabatnya. Orang itu hanya tertunduk diam dan segera melangkahkan kakinya cepat untuk segera melewati Mikha dan Dilla tanpa sepatah katapun.
^^^Bersambung...^^^
......................