
...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...
...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....
...Ingat Promo boleh spam jangan😉...
...Terima kasih...
......................
Mikha mengerjapkan matanya, perutnya nampak berperang minta untuk segera di isi. Entah mengapa semenjak hamil nafsu makannya semakin menjadi-jadi bahkan tak kenal waktu.
"Max... bangun..." Mikha mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang masih terlelap.
"Emmm...iya sayang, kenapa?" tanya Max dengan suara yang masih terdengar serak dan berat.
"Aku lapar."
"Ah, ini masih jam 3. Kamu telepon restoran di bawah aja Sayang." Ucap Max yang tampak masih memejamkan matanya.
"Aku maunya kamu yang jalan sendiri buat beli!"
"Apa bedanya? aku masih mengantuk."
"Ah, Terserah!"
Mikha meninggikan nada bicaranya, ia kemudian berbaring membelakangi suaminya. Maxim yang mengerti akhirnya mengalah walau tubuhnya masih mengantuk dan lelah akibat pertempuran di ranjang semalam.
"Aku beliin dulu, kamu mau apa?", Ucap Max setelah mencuci muka dan memakai kembali pakaiannya.
"Apa aja, yang banyak!"
"Tunggu ya, jangan ngambek lagi sayangku."
Max mengecup kening istrinya yang tampak merajuk, dengan sabar ia menuruti semua kemauan Mikha yang semakin hari semakin aneh.
setengah jam berlalu, akhirnya ia kembali ke kamar dengan berbagai makanan di tangannya.
"Yank, kamu dimana?" Ucap Maxim yang tidak menemukan istrinya dalam kamar.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, Mikha keluar menggunakan handuk dan dengan rambut yang tergerai dan masih tampak basah. Max menekan salivanya berat, entah mengapa semenjak menjadi normal ia selalu mudah bernafsu saat melihat istrinya.
"Kamu mau menggodaku lagi?" Ucapnya memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Huh, mandi sana! kita makan sama-sama, terus sholat subuh jamaah!" Ucap Mikha mendorong suaminya ke arah kamar mandi.
......................
Mentari semakin bersinar terang, jam dinding kini telah menunjukkan pukul 8 pagi.
Max dan Mikha nampak keluar dari kamar mandi bersama, setelah mereka kembali membersihkan dirinya akibat perbuatan Max yang memaksa melakukan olahraga ranjang kembali.
Kini mereka telah bersiap untuk menuju kota kelahiran Mikha. Satu setengah jam waktu yang di butuhkan untuk menuju kampung halaman Mikha dari kota Surabaya, dengan menggunakan Pesawat pribadi milik keluarga Larry dan dilanjutkan dengan menggunakan sebuah mobil yang telah di sewa.
Mikha tampak terkejut karena rumahnya tampak berbeda, Max yang seolah mengerti pikiran istrinya hanya tersenyum.
"Max kenapa rumahku bisa berubah dan seluas itu?" Tanya Mikha saat mereka perlahan turun dari mobil.
Max hanya terkekeh, semua karena ulahnya untuk membeli tanah milik tetangga di belakang rumah orang tua Mikha dan merenovasi habis-habisan saat semua keluarga Mikha berada di London.
"Tidak ada salahnya sayang membahagiakan orang tua, lagi pula kamu juga menolak Penthouse yang mau aku berikan padamu, jadi aku belikan saja tanah, kebun dan sawah saja untuk bapak dan ibu." Ucap Max menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
"Assalamualaikum, ibu..." Ucap Mikha di ambang pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam, ya Allah Nduk...! kok gak ngabarin ibu dulu kalau mau pulang."
Ucap Bu Yani senang, menyambut anak dan menantunya yang bergantian mencium tangannya.
"Iya kejutan dong Bu, sekalian kemarin ada undangan nikahan di Surabaya." Ucap Mikha memeluk ibunya.
"Walah, kok gemukan kamu, Nduk!"
Bu Yani tampak memperhatikan tubuh Putri sulungnya yang tampak lebih berisi, Mikha dan Maxim hanya terkekeh melihat tingkah Bu Yani yang bahkan mencubit-cubit pipi Mikha.
"Kan di sini ada 2 nyawa lagi Bu." Ucap Max menunjuk perut istrinya.
Bu Yani terperangah dan menatap lekat mata anaknya seolah meminta sebuah penjelasan lebih.
Mikha tersenyum dan memberikan penjelasan lebih yang membuat ibunya sangat senang, "Aku hamil bayi kembar Bu, udh masuk Minggu ke 9."
"Alhamdulillah, yuk istirahat dulu Nduk! nanti ibu buatkan bubur kacang hijau kesukaanmu."
Bu Yani begitu antusias, kebahagiaan wanita paruh baya itu seakan sempurna karena kabar kehamilan Mikha.
"Sini mba aku bantu bawain." Ucap Rika membawakan sebuah tas yang berada di tangan Mikha.
......................
Suasana di desa itu begitu damai, di tambah keberadaan keluarga Wijaya yang kini menghilang bak di telan bumi semakin menambah kedamaian desa yang berada di sudut kota Yogyakarta itu.
"Bu, bapak mana?" tanya Mikha yang mencari keberadaan Pak Ali.
"Lagi antar Pakde Hasan sama calon mantunya ke mantri Sunat."
Mikha tampak mengerutkan dahinya, ia sangat tidak paham perkataan ibunya. Bagaimana mungkin pakde Hasan punya calon mantu, sedangkan Dilla yang notabene adalah anak satu-satunya saja tidak memiliki kekasih.
Pikiran tersebut terus berputar di kepala Mikha.
"Itu loh mba, mba Dilla ada yang ngelamar makanya bude sama pakde langsung pulang kampung sekalian bawa mantu dan besannya." Jelas Rika yang mengerti kebingungan kakaknya.
"Dilla di jodohin?"
"Bukankah maunya kak Dilla begitu?"
Mikha berhambur menghampiri suaminya, ia ingin memberitahukan perihal perjodohan Dilla. Entah mengapa yang pertama di pikirannya adalah Jerry, bagaimana perasaan pria itu jika tahu kalau Dilla segera akan di nikahkan.
"Max!" Ucap Mikha menghampiri sang suami yang berada di teras rumahnya.
"Loh kok ada Jerry?"
......................
Di tempat lain, Dilla sedang termenung. Baru saja ia mendapat telepon dari dari ibunya dan memberi kabar bahwa ada seseorang yang telah melamarnya dan akan segera menikahinya dalam beberapa hari kedepan.
Entah mengapa pikirannya terus memikirkan Jerry, harusnya ia senang karena ada pria yang bersungguh-sungguh ingin meminangnya.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi Jerry namun laki-laki itu tidak dapat di hubungi.
"Jer, gue mau di jodohin. Lu kemana sih! serius gak sih lu bilang cinta sama gue?" Pekik Dilla kesal.
Gadis itu nampaknya pasrah, ia segera meminta izin cuti bersama kepada Marrie dan segera memesan tiket pesawat secara online untuk kembali ke tanah air.
"hah... mungkin kita memang gak berjodoh Jer."
Dilla menghela nafas panjang, hatinya begitu getir namun ia harus menepati apa yang telah di ucapnya.
......................