
Pagi hari di kediaman Mikha sudah sangat sibuk, beberapa tetangga sudah secara sukarela membantu Bu Yani mempersiapkan beberapa hidangan dan kue-kue tradisional untuk menyambut kedatangan calon besannya.
Kedua orang tua Dilla yang baru datang pun menambah ramai suasana.
Semua kegiatan itu di kerjakan di dapur rumah milik keluarga Dilla yang letaknya sebelah rumah Mikha, alasannya tak lain karena dapur milik keluarga Dilla jauh lebih besar dan luas.
Sedangkan Mikha tidak boleh membantu mengerjakan apapun oleh Maxim, pria itu semakin hari semakin protektif dan memanjakan calon istrinya.
"Bu, nanti setelah acara disini selesai kita langsung ke Resort aja ya, biar gak bulak balik lagi." Ucap Max kepada Bu Yani.
"Oh iya, gak apa-apa Le, ajak sekalian orang tua Dilla keana gak apa-apa kan? mereka sudah seperti saudara kami sendiri."
"Iya Bu, ya sudah aku mau jemput orang tua ku dulu, sebentar lagi pesawatnya sampai." Maxim mencium tangan Bu Yani dan Pak Ali, lalu mengunjungi sebentar calon istrinya yang sedang merapikan beberapa barang bersama Dilla di kamarnya, yang pintunya sengaja di biarkan terbuka.
Cup
Sebuah kecupan tiba-tiba saja mendarat di pipi kanan gadis itu yang membuat pipinya bersemu merona dan membuatnya spontan memegang pipi kanannya.
"Maxim!"
"Selamat pagi sayangku, mumpung gak ada orang, gak apa-apa kali peluk sebentar."
Ucap Max yang segera memeluk Mikha dari belakang dan kembali mengecup pipi gadis itu.
"Yee... terus lu anggap gw apa? nyamuk!" Pekik Dilla yang langsung melempar Max dengan sebuah boneka.
Melihat Dilla yang merajuk dan terus menerus merancau, membuat Maxim tertawa geli dan terus menggoda Dilla agar gadis itu semakin kesal.
"Jomblo, iri saja kau!" Ledek Max menjulurkan lidahnya.
Mikha hanya menggelengkan kepalanya melihat dua manusia dewasa yang bertingkah seperti anak kecil itu.
"Aduhhh kamarku bisa jadi kapal pecah kalau kalian berdua disini, sana keluar!" Mikha mendorong Max dan Dilla keluar dari kamarnya.
"Sana, lanjutin berantemnya di luar!"
Blam
Pintu kamar Mikha di tutup, kini Dilla yang gantian tertawa geli melihat wajah memelas Maxim karena di usir paksa oleh Mikha dari kamarnya.
"Sayang buka dong, aku masih mau peluk." Ucap Max memelas di depan pintu kamar Mikha.
"Belom Muhrim!" pekik Mikha dari dalam kamarnya.
"ayolah sayang, nanti siang sampai besok pagi kita kan gak bisa ketemu, Apa kamu tega? aku bisa mati karena rindu." Ucap Max yang membuat Dilla begidik mendengarnya.
"Bodo amat! lebay banget!" jawab Mikha yang masih tak membukakan pintunya.
"hahahahaha biar rasa lu! dasar bucin alay" *(Bucin\= Budak cinta, alay\= berlebihan)
Goda Dilla, gadis itu sangat puas menertawakan Maxim yang berada di hadapannya.
...****************...
Sedangkan di ruang tamu, lagi-lagi Indah yang belum menyerah, mencoba mendekati
Jhon yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hai, Jhon aku membuatkan kopi untukmu." Ucap Indah sambil meletakan secangkir kopi di sebuah meja.
"Terima kasih" , Jawab Jhon singkat.
"Iya sama-sama, emm... Jhon boleh gak ...kalau aku mau lebih dekat denganmu?" tanya Indah gugup, ia sama sekali belum berpengalaman dalam hal pendekatan dengan seorang pria.
Jhon yang terkejut mendengar penuturan Indah, menghentikan sementara aktivitas-nya dan menoleh ke arah gadis yang duduk tepat di sampingnya.
"Maksudnya?"
"e... emmm aku mau berteman sama kamu."
"Gak masalah, lagi pula kau sudah ku anggap adikku."
Jhon tersenyum kepada Indah, namun mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Jhon hanya membuat hati Indah terasa sesak.
Bagaimana pun ia tidak mau di anggap sebagai adik oleh pria itu.
"Ta...tapi aku tak mau kau anggap adik, aku menyukaimu!"
"Hahhh ...kau itu masih terlalu muda, apa yang di harapkan dari pria tua beranak satu sepertiku ini."
Jhon menghela nafas panjang, ia sebenarnya mengerti apa maksud gadis itu dan mendengar seluruh ucapannya.
Namun baginya, lebih baik berpura-pura acuh agar gadis itu tak semakin berharap dan membuat hatinya terluka lebih dalam.
...****************...
Maxim dan kedua saudaranya pun pergi menjemput orang tuanya di bandara.
Sedangkan Mikha sibuk merias diri, memantaskan diri untuk menjamu calon mertuanya.
Satu jam lebih berlalu, tamu yang di nantikan pun tiba.
Pak Ali dan Bu Yani dengan sigap menyambut kedatangan calon besannya yang baru saja keluar dari dalam mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
"Silahkan masuk Tuan."
Pak Ali mempersilahkan keduanya masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang sederhana.
"Silahkan di minum dulu Tuan, Maaf rumah kami seperti ini keadaannya." Ucap Bu Yani yang di sambut senyuman oleh Nyonya Anna dan Tuan Andrew.
Setelah perkenalan diri yang tentu saja di bantu oleh Maxim dan Rika sebagai penerjemah gratisan itu, kini kedua keluarga tampak sudah mulai terbiasa membaur satu sama lain.
Kemudian 3 orang suruhan keluarga Larry membawa beberapa bingkisan seserahan yang di berikan kepada pihak wanita.
"Maaf saya kurang tau proses sebelum menikah di adat Indonesia ini seperti apa, mohon maaf jika kami ada banyak kekurangan." Ucap Tuan Andrew
"Oh ya, dimana calon menantu kami?" tanya Nyonya Anna, yang sudah penasaran dengan wujud satu-satunya wanita yang sudah berhasil menarik hati anaknya.
Mikha berjalan perlahan menemui calon mertuanya, di temani kedua Sahabatnya yang setia berada disampingnya.
Indah dan Dilla menggenggam erat tangan sahabatnya yang sudah berkeringat dingin menahan rasa gugupnya.
"Kau sangat cantik sayangku!".
Ucap Nyonya Anna yang tiba-tiba saja memeluk Mikha dan menatap wajah gadis itu erat-erat.
"Jangan menunduk sayang, kau tak perlu gugup dan malu."
"Baik Nyonya." Ucap Mika lirih.
"Tidak...Tidak...! jangan berkata seperti itu, panggil aku Mommy, karena sebentar lagi kamu akan menjadi anak kami juga."
Sorot mata kebahagiaan terpancar dari mata Nyonya Anna, ia sangat amat bersyukur bahwa putra keduanya akhirnya mau menikah dan menjalani rumah tangga dengan normal.
Melihat kedua orang tua Maxim menyambut baik anak mereka, Pak Ali dan Bu Yani tak kalah bahagia.
Air mata kebahagiaan tampak menetes di sudut mata Bu Yani, setelah kejadian buruk yang terjadi pada Putri sulungnya, kini Mikha menemukan kebahagiaannya.
Ia beruntung mendapatkan Calon suami yang begitu mencintainya dan menerima segala kekurangannya serta mendapatkan Mertua yang juga sangat menyambut baik kehadirannya.
...****************...
Hai teman-teman pembaca semua!
Gak bosan-bosan nih author mau sampaikan:
Dukung Author terus, dengan
Favorit ❤
Like👍
Koment💬
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
Vote juga boleh kalau punya poin lebih atau koin hehehe😁
Mau promo? silahkan aku tidak melarang.
Terima kasih semuanya ❤❤❤