Oh My Mister

Oh My Mister
One more chance



Indah yang mendengar suara yang begitu familiar nampak mematung, kepalanya sungguh terasa berat untuk digerakkan.


"Sayang, ayo kenalkan ini Mister Jhon Marcello Larry. Pria yang akan papih jodohkan padamu," ucap Tuan Arjun lembut.


Kedua mata Indah membulat sempurna, pandangannya seketika melihat sosok pria blonde bertubuh tinggi besar yang kini tengah tersenyum di hadapannya.


"A-apa! Takdir macam apa ini ya Tuhan?" jerit Indah dalam hati.


Sepanjang makan malam, Indah lebih memilih diam. Wanita itu pula lebih memilih untuk pura-pura baru mengenal Jhon yang membuat kedua orangtuanya terkekeh geli.


"Jadi kapan ya bisa meminang anak Anda Tuan Arjun? Saya rasa, alangkah lebih baiknya kami langsung menikah daripada membuang-buang waktu untuk bertunangan terlebih dahulu," ucap Jhon dengan lantangnya.


Seketika Indah menyemburkan minuman yang berada di mulutnya karena mendengar ucapan konyol dari Jhon.


"Menikah? Hei, Anda bahkan belum menanyakan pendapat saya, saya saja tidak mau kok di jodohkan dengan Anda!" Indah memekik ketus seraya memandang tajam kepada Jhon.


"Indah, jaga sopan santunmu. Kamu sendiri yang memutuskan untuk menerima perjodohan ini," ucap Pak Arjun yang tidak menyukai ucapan putrinya.


Sedangkan Indah hanya berdengus kesal dengan perkataan sang ayah yang memang benar adanya.


"Cih, Jika aku tau akan dijodohkan dengannya, aku juga tidak akan mau," cebik Indah bermonolog sendiri dalam hati.


Indah kembali terdiam bahkan selalu memalingkan wajahnya dari Jhon, hingga membuat pria itu tersenyum melihat wajah kesal dari wanita yang pernah menjadi istrinya.


"Tuan, Nyonya, bolehkah setelah ini saya mengajak Indah keluar sebentar?" tanya Jhon dengan sopan hingga membuat Indah menatap tajam padanya.


"Enggak, a-aku..." kilah Indah, namun seketika di sanggah oleh ayahnya. "Boleh kok," ucap Pak Arjun tanpa meminta persetujuan putrinya.


Indah nampak mengerucutkan bibirnya melihat ayahnya dan Juga Jhon yang begitu seenaknya.


Setelah acara makan malam selesai, Pak Arjun dan Bu Vera segera pamit, dan meninggalkan Indah yang kini bersama dengan Jhon.


Greppp!


Jhon seketika menggendong tubuh mungil Indah kala melihat mobil kedua orang tua Indah sudah pergi meninggalkan hotel itu.


"Turunkan aku!" pekik Indah yang terus berusaha meronta-ronta, namun Jhon tidak peduli dan segera memasuknya ke dalam mobilnya.


"Sial, kenapa sih kamu itu selalu seenaknya? Aku benci kamu Jhon! Aku tidak mau menikah lagi denganmu!" Indah terus saja berteriak dan memukuli tubuh Jhon yang kini tengah mengendarai mobil disebelahnya.


Jhon menepikan kendaraannya, ia menatap lekat wajah Indah.


"Indah, aku mohon maafkan aku. Empat tahun lamanya aku hidup di bawah bayang-bayang penyesalan, aku begitu mencintaimu Indah. Aku sadar aku bodoh dan egois namun semua itu karena aku begitu cinta padamu, Aku mohon berikan aku sekali saja kesempatan," ucapnya lembut dengan tatapan penuh rasa menyesal.


Indah memalingkan wajahnya, lalu memasang senyuman pias.


"Kau pikir luka di hatiku ini mudah sembuh hanya karena kau memohon seperti itu? Hei, Tuan Larry yang terhormat, rasanya sakit harga diriku kau injak-injak begitu saja. Kau telah membuangku seperti sampah tanpa kau mau mendengarkan penjelasanku! Kamu ini manusia macam apa? Hatiku sakit Jhon, aku benci padamu!" teriak Indah histeris dan kembali memukul-mukul Jhon.


"Pukul saja sampai kau puas, jika itu membuatmu lega. Tapi tolong jujur padaku, apakah kau masih mencintaiku, Indah?" lirih pria blonde itu dengan wajah yang sudah memerah, Indah terdiam dan mengalihkan pandangannya


"Tidak," jawabnya singkat.


Seketika Jhon merangkum wajah Indah, "Tatap mataku saat kau menjawab! Indah, apakah kau sungguh sudah tidak mencintaiku?" tanyanya kembali dengan suara yang sudah parau dan mata yang telah berkaca-kaca.


"A-Aku, Aku...," jawabnya gugup, Jhon langsung memeluk tubuh mungil mantan istrinya. Indah dapat merasakan tubuh Jhon bergetar dan bahunya mulai basah dengan air mata yang berasal dari mata biru pria itu.


"Aku mohon kembalilah, aku hancur tanpamu. Aku dan Bella sangat merindukanmu, bahkan tidak ada sehari pun yang terlewat untuk gadis kecil itu bertanya akan keberadaanmu. Aku hampir putus asa karena tak kunjung menemukanmu, sayang. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk menjadi suami yang baik untukmu, aku mohon," lirih pria arrogant itu, yang kini terlihat mengenaskan karena mengemis cinta dan maaf dari seorang wanita yang pernah ia sakti.


Indah nampak bergeming, hati dan pikirannya kini tengah berperang di dalam dirinya. Satu sisi ia masih mengingat rasa sakit hatinya, namun di sisi lain ia tidak dapat berbohong bahwa ia juga masih sangat mencintai Jhon dan begitu merindukannya.


"J-jhon a-aku..," ucapnya dengan lembut, namun seketika Jhon melepaskan pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Indah hingga membuat wanita itu terdiam.


"Tanpa kamu jawab, semua sudah jelas tersirat di matamu, sayang. Maafkan segala kebodohanku, Indah," lirih Jhon lalu perlahan mendekati hingga bibir mereka saling bersentuhan.


Jhon memgecup bibir Indah perlahan, meluapkan segala kerinduannya yang telah lama terpendam.


"Jhon, a-aku akan pikirkan semuanya terlebih dahuli. Se-sekarang aku mau pulang dulu," pinta Indah lirih, dengan wajah yang sudah merona karena tindakan yang dilakukan oleh Jhon.


Jhon tersenyum simpul, lalu mengusap pucuk kepala Indah. "Baiklah, kalau kau mau ke Tabalong segera kabari aku, biar nanti aku antar," ucap Jhon tersenyum dan bertekad akan lebih menghargai dan menyayangi wanita yang sangat berarti di hidupnya.


......................


Keesokan harinya nampak Mikha yang baru saja menyelesaikan ritual paginya untuk mengurus anak-anak. Sementara Max tengah menelpon seseorang dan sesekali memijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Ada apa, Max?" sapa Mikha, kala Max menyudahi panggilan teleponnya.


Max berbalik dan memeluk tubuh istrinya,


"Lima hari lagi, aku harus kembali dulu ke London, ada investor yang ingin berpartisipasi di sekolah musik milik kita, jadi mau tidak mau aku harus menemuinya," ucap Max lirih, sesekali mengecup ceruk leher Istrinya.


"Entah mengapa rasanya berat sekali meninggalkan kalian. Mikha, kamu dan anak-anak ikut saja ya. Kita tinggal di sana lagi, jadi aku gak perlu khawatir saat sedang ada pekerjaan seperti ini karena kalian selalu berada di dekatku," ujarnya kembali dan kini menatap mata Mikha penuh harapan.


Mikha nampak menghela napas kasar lalu menyunggingkan senyum simpul.


"Baiklah, kemarin aku sudah berbicara sama ibu dan bapak katanya mereka ingin kembali ke Jogja, biarlah Rika di sini dulu karena masa koas-nya tinggal dua Minggu lagi.


Max, bisakah kita membatu ibu dan bapak pindah dulu? Aku juga sudah sangat rindu kampung halamanku," pinta Mikha menatap sendu pada wajah suaminya.


Max mengulas senyum dan mengecup kening sang istri, "Baiklah. Oh ya Sayang, Kayanya anak-anak di antar sama Rika dulu aja deh, soalnya aku harus segera menemui David, gak akan lama kok. Nanti kita langsung menyusul anak-anak," ucap Max yang segera di jawab anggukan oleh Mikha.



......................


Hai Readers minta Like dan komentarnya juga dong


biar aku makin semangat


Dan untuk sesama Author, sabar ya


aku mampirnya bertahap karena hutang bacaanku numpuk😂 gara-gara kemarin drop.


maaf yaa...


TERIMA KASIH😘