
Rika nampak membereskan barang-barang miliknya, gadis itu telah selesai menjalani masa koas-nya dan akan menjalani masa magang di sebuah rumah sakit di London. Tentunya semua tidak lepas dari bantuan David dan Ryan yang mengatur semuanya. Rika dan Indah memang langsung kembali keesokan harinya setelah kejadiannya di rumah sakit tersebut, bukan tanpa alasan namun karena mereka punya tanggung jawab atas pekerjaan masing-masing.
"Bi Konah, Mas Senja, Mas Kenam, maafin Rika dan keluarga jika selama ini sudah membuat kalian repot," ucap Rika sendu, berpamitan pada pekerja di rumah Indah.
Bi Konah seketika memeluk gadis berparas manis di hadapannya dengan mata yang telah berkaca-kaca.
"No problem miss, I very very sad because rumah ini akan sepi lagi. Please, Dont forget me, main-main kesini okay! Salam for all, semoga Mister Maxim cepat sembuh," ucap Bi Konah yang mulai menitikan air mata.
"Pasti Bi, lagi pula aku juga harus bantu mantau toko mba, jadi aku pasti akan kesini lagi. Baik-baik ya Bi, jaga kesehatan." Rika melepaskan pelukan bi Konah dan mulai melangkah masuk menuju sebuah mobil.
Hari itu Indah akan menemani Rika untuk berangkat kembali ke negeri Ratu Elizabeth, tentunya karena Indah ingin memastikan kondisi sahabatnya dan juga karena sedikit rasa rindu pada Jhon.
Di sisi lain, seorang pria tengah termenung menatap pemandangan di hadapannya. Sudah dua minggu lebih, si gadis blonde pengganggu tidak pernah muncul kembali. Dimas menatap sepucuk surat yang berada di tangannya, merasa bersalah atas sikapnya kepada Marrie.
"Apa dia memutuskan pulang? Dia benar-benar tidak menunjukkan batang hidungnya sedikit pun dihadapanku," gumamnya yang merasa ada sesuatu yang hilang di hari-harinya.
Dimas mengambil ponsel miliknya dan taampak asik memainkannya, hingga akhirnya ia menemukan sebuah berita yang tengah tranding di Y*uTube tentang kabar Max yang mengalami kecelakaan dua minggu lalu.
"Ya Allah, jadi ini yang membuatnya tidak mucul lagi. Lalu bagaimana kabar Mikha dan anaknya," gumamnya nampak khawatir, jika saja ia bisa berangkat ke London saat itu juga mungkin dia akan melakukannya.
Dimas memang sudah sangat menyayangi kedua anak Mikha, di luar perasaannya terhadap Mikha.
......................
Nyonya Anna dan Bu Yani nampak menghampiri Mikha yang tengah terduduk lemas setelah puas mengeluarkan isi perutnya. Kedua wanita tua itu nampak khawatir terlebih wajah Mikha nampak pucat dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Mommy panggilkan dokter ya sayang," ucap Nyonya Anna yang disetujui oleh Bu Yani.
"Tidak usah Mom, Bu. Mikha cuma butuh istirahat sebentar aja kok," kilahnya menolak secara halus saran dari mertua dan ibunya. Namun bukan Nyonya Anna namanya jika tidak berhasil membujuk menantunya.
"Sayang, kalau kau tidak mau berobat lebih baik kamu di rumah dulu saja, jangan jaga Max dulu sebelum kamu sembuh!" ancamnya hingga membuat Mikha menyerah dan menuruti kemauannya
Kini Mikha perlahan masuk kedalam kamar, ditemani oleh kedua wanita yang sangat menyayanginya.
"Ibu buatkan air jahe hangat ya, Nduk," ujar Bu Yani lalu melangkahkan kakimya keluar, sedangkan Nyonya Anna menelpon seorang dokter kepercayaan keluarganya.
Beberapa saat kemudian dokter tersebut datang dan segeralah memeriksa keadaan Mikha.
"Nyonya kapan terakhir Anda datang bulan?" tanya dokter tersebut. Mikha nampak mengingat-ingat, karena terlalu banyak pikiran maka ia melupakan hal-hal seperti itu.
"Emmm kira-kira awal bulan kemarin," jawab Mikha menerka-nerka. Karena seingatnya ia terakhir haid tepat seminggu sebelum pertemuannya dengan Maxim kembali.
Dokter tersebut tampak mengulas senyuman dan memberikan sebuah wadah kecil kepada Mikha. "Kita ambil urinenya dulu ya, Nyonya," ucapnya kembali.
Mikha segera mengambil wadah tersebut dan beranjak menuju kamar mandi. Tidak membutuhkan lama, Mikha segera mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan dan segera membukanya.
"Bagaimana dok?" tanya Mikha lirih, karena masih merasa pusing di kepalanya.
"Selamat ya, Nyonya. Anda positif hamil, untuk lebih pastinya saya sarankan untuk mengecek langsung ke dokter spesialis kandungan," tutur dokter Jane dan langsung pamit undur diri.
Mikha terpaku seraya mengusap perutnya dengan lembut, lolos begitu saja kristal bening dari kedua netranya.
"Semoga kehadiranmu dapat membangunkan papamu dari tidur panjangnya, Sayang," ucapnya lirih mengingat Max yang kini masih tidak sadarkan diri dari komanya.,
Sedangkan di luar kamar sudah nampak Nyonya Anna dan Ibu Yani yang setia menunggu. Ketika melihat dokter Jane keluar, sontak mereka langsung menghujam nya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Dokter Jane tersenyum dan menjawab pertanyaan yang tak jauh dari seputar kondisi Mikha.
"Nyonya muda tidak apa-apa, hanya saja ia tengah mengandung calon anggota baru keluarga Larry. Saya sarankan untuk membawanya melakukan pemeriksaan di dokter spesialis kandungan." Dokter Jane tersenyum kembali dan berpamitan untuk pulang.
Sedangkan kedua orang nenek itu, terus-menerus mengucapkan syukur dan saling berpelukan.
"Kita akan sama-sama kerumah sakit mengantar Mikha," ucap Nyonya Anna lalu segera mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Frans.
"Hallo Frans, tolong hubungi pihak rumah sakit untuk mengubah ruang rawat Maxim menjadi tempat senyaman mungkin dan tolong tambahkan satu ranjang lagi!" titahnya melalui panggilan telepon kepada orang kepercayaan keluarganya, karena ia yakin kalau kondisi Mikha yang kini tengah berbadan dua, tidak akan menghalanginya untuk terus-menerus menjaga Maxim. Sehingga ia ingin Mikha merasa nyaman saat tengah menjaga sang suami.
......................
Sesuai melakukan pemeriksaan lanjutan di spesialis kandungan, Mikha kembali menuju ruang ICU dimana suaminya berbaring lemah. Ia cukup terkejut karena tata ruangan kini lebih terlihat nyaman dengan berbagai fasilitas penunjang.
"Biar kamu nyaman, sayang," Ucap Nyonya Anna kala mengerti kebingungan yang di pikirkan menantunya.
Mikha tersenyum dan segera menghampiri sang suami yang masih setia dalam tidur panjangnya.
"Assalamualaikum, sayang. Maaf aku baru kembali," bisiknya pada telinga Maxim lalu mengecup punggung tangan suaminya yang masih tak bergerak.
Ia percaya, walaupun Max nampak tak sadarkan diri namun ia masih bisa mendengar suara orang-orang disekitarnya. Mikha duduk di sebuah kursi di samping ranjang suaminya, ia tersenyum seraya membelai lembut rambut coklat nan halus milik Maxim.
"Sayang, aku punya kabar bahagia. Sebentar lagi Sunny dan Shine akan memiliki adik, kita akan memiliki anak lagi sayang," ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Kini kedua tangannya menggenggam erat tangan Maxim yang masih tersisa dingin dan terus merancau menceritakan apapun yang ada di hatinya, "Max, apa kau tidak lelah tidur terus? Ayo bangunlah! Apa kau tega membiarkanku menjalani masa kehamilan sendiri lagi, kenapa kau tak kunjung membuka matamu?"
"Max, bangun!" Pekik Mikha yang mulai histeris dan frustasi, karena lebih dari dua minggu Max sama sekali tidak menunjukkan perkembangan, bahkan beberapa kali kondisinya menurun drastis sehingga membuatnya kembali berperang di ambang kematian.
Nyonya Anna yang sedari tadi melihatnya, kini seketika langsung memeluk menantunya. Mencoba menyalurkan kekuatan agar Mikha kuat dan sabar menghadapi cobaan yang seakan datang terus silih berganti.
Hingga di rasa jemari tangan Max bergerak dengan halus, sontak membuatnya terkejut dan menatap erat suaminya.
"M-mom, Max Bergerak," pekik Mikha dengan wajah yang sudah tampak sembab.
......................