
Peringatan! ada sedikit adegan 21+, hanya boleh di baca oleh yang sudah cukup umur, kalau belum mohon skip dan tunggu update bab selanjutnya.
Mohon kesadarannya ya, terima kasih
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.10 WIB, Para orang tua sudah lebih dahulu beristirahat.
Tinggallah Maxim, Mikha, para sahabat dan saudaranya yang masih berada di taman itu. Mereka tapak asik melihat keseruan permainan kartu antara Jhon dan David.
"Dari pada cuma berdua, lebih baik kita semua ikutan yuk! Yang kalah coret pakai bedak!" ujar Indah menambah keseruan malam itu.
Hingga pada akhirnya semua ikut serta dan larut dalam permainan tersebut.
"Sudah ah aku nyerah, aku mau balik ke kamar," ucap Max dengan wajah yang sudah penuh dengan coretan bedak bayi.
"Huh curang, sudah kalah kabur! Payah!" cebik Dilla, dengan pandangan yang masih fokus menatap kartu di tangannya.
"Bodo amat! Lagian ini kan malam pengantinku, bukan begitu sayang." Max tersenyum dan melirik sang istri yang berada di sebelahnya, tanpa aba-aba ia langsung menggendong istrinya ala bridal style dan pergi menuju kamar pengantin mereka.
Suara siulan dan sorak sorai yang terlontar dari para sahabat mereka membuat Mikha merasa malu, terlebih kini ia berada dalam gendongan suaminya.
"Max, turunin aku malu," titah Mikha seraya menutupi wajahnya yang tampak merona dengan kedua telapak tangannya. Namun pria blonde itu tidak peduli dan tetap menggendong sang istri.
"No ! sudah, kamu menurut saja sayang."
Perlahan Max membuka pintu kamarnya yang sudah di hias cantik nan romantis, hanya saja tidak ada hiasan apapun yang terbuat dari bunga seperti kamar pengantin pada umumnya.
Max merebahkan tubuh Mikha perlahan di sebuah ranjang king size yang berada di kamar tersebut, membuat jantung Mikha berdetak semakin tak beraturan.
"Kamu mau mandi terlebih dahulu atau aku duluan?" tanya Maxim dengan sebuah handuk di tangannya.
"A-Aku duluan saja," jawab Mikha cepat, ia segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Mikha terduduk lemas di dalam kamar mandi, kedua tangannya memegangi dadanya yang berdetak cepat seakan mau meledak saat itu juga.
"A-Apa dia menginginkan haknya sekarang? Aku malu, aku harus apa?" ucapnya lirih, Mikha tampak terus meremas tangannya guna menghilangkan sedikit kegugupan.
Setelah berendam air hangat beberapa saat pikirannya mulai membaik, ia segera bergegas membasuh tubuhnya dan mengenakan piyama tidurnya.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, Mikha melangkahkan kakinya menuju kamar itu.
Terlihat Maxim yang sedang bersantai dan asik menonton siaran TV sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Sayang, kau sudah selesai?" tanya Max tersenyum manis memperlihatkan lesung di pipinya.
"Iya, sana mandi! Kau sudah bau," titah Mikha pura-pura acuh, padahal jantungnya sudah seperti jam rusak yang berdetak sangat kencang, terlebih kala ia melihat rupa suaminya yang begitu tampan dan manis terutama saat tersenyum.
Mikha menunggu Maxim dengan perasaan yang bercampur aduk, rasanya ingin berpura-pura tidur namun tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak karena rasa gugup yang berlebihan.
Ia terus menerus berguling ke kiri dan ke kanan dengan sebagian tubuhnya yang telah di tutupi selimut tebal.
Max yang baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan celana pendek dan kaos oblong tipis, tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang baginya begitu menggemaskan.
Perlahan ia menghampiri sang istri dan duduk tempat di samping Mikha, tangannya membelai-belai lembut rambut istrinya, memberikan kesan bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi Mikha.
"Apa kau ingat waktu pertama kita bertemu? Kau sungguh galak padaku, bagai singa kelaparan,"
"Apa? Enak saja aku di samakan dengan singa kelaparan. Kamu tuh yang aneh main tarik-tarik tanganku, kau gak tau betapa takutnya aku,"
Mikha beranjak dan menatap tajam suaminya, kini mereka sama-sama dengan posisi duduk di atas ranjang, memulai perbincangan ringan mengenang masa-masa awal pertemuan mereka.
"Apa kau tau bahwa aku sengaja membuntutimu? Aku bahkan membayar sewa kepada Bu Titin seharga 5 kali lipat harga sewa normal, demi mendapatkan kamar tepat di depan kamarmu," tutur Max lembut, pria blonde itu nampak terkekeh mengingat perbuatan konyolnya saat itu
"Jadi, kau berbohong padaku tentang masalah tasmu di curi?" Mikha menatap tajam Max namun pria bermata biru itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membuat Mikha kesal dan mencubit lengan suaminya.
"Awww sakit sayang, hei ...siapa suruh kau itu sudah mencuri hatiku sejak awal bertemu, bayang-bayangmu itu gak bisa lepas dari kepalaku. Yaa... walau kamu judesnya minta ampun," goda Max kembali.
Max masih terus aja menggoda istrinya yang kini tengah merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
"Dasar bule aneh!" cebik Mikha seraya melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Max masih saja terus tertawa melihat mimik wajah sang istri.
"Tapi sayang kan?" goda Max dan mengedipkan mata kanannya.
"Udah dong ah jangan manyun gitu, itu semua kan karena aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Apa kau tau, sekarang aku sangat bahagia sekali karena kau telah menjadi istriku. Nyonya Muda Larry, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, menerima semua kelebihan dan kekuranganmu, aku berjanji akan selalu menjagamu sekuat tenagaku.
Aku sangat beruntung dapat mengenal wanita sederhana dan memiliki hati tulus sepertimu. I Love you," tutur Max lembut.
Max menangkup wajah Mikha dengan kedua telapak tangannya, perlahan ia mendekati wajahnya hingga bibir mereka saling bertemu.
Kecupan-kecupan manis dan lembut perlahan berubah menjadi lebih menuntut.
Max mencoba membuka bibir istrinya agar ia mampu menjelajahi setiap inci bibir merah dan lembut milik kekasih halalnya.
Jantung Mikha kian berdetak kencang kala tangan sang suami mulai bertindak lebih, Max membuka perlahan tiap kancing piyama yang ia kenakan,
serta menyentuh halus sepasang bukit kenyal yang berada di baliknya dan memainkan puncaknya.
Kini kecupan itu terus turun dan berpindah ke tengkuk miliknya, menciptakan sensasi luar biasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kini bibirnya beralih pada dua gundukan kenyal yang telah menantang, ia perlahan menciuminya, menyesapnya dan memainkannya dengan penuh kelembutan.
"Akhhhhh Max," Suara lenguhan begitu saja lepas dari bibir Mikha.
Ia sangat menikmati setiap sentuhan lembut yang di berikan oleh suaminya. Max benar-benar memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan cinta.
"Ah sial, aku tidak bisa!" pekik Max dalam hati, ia terus merutuki dirinya atas ketidak berdayannya.
"Sayang maaf, perutku mulas" ucap Max.
Pria itu tiba-tiba saja menghentikan aksinya dan bergegas menuju kamar mandi.
Meninggalkan Istrinya yang langsung merapihkan pakaiannya yang sudah terlihat berantakan.
"Akhhhhh!!! dasar laki-laki gak berguna! Mengapa aku harus seperti ini, apa salah dan dosaku?"
Max terus-menerus menyalahkan dirinya, Pria itu berdiam diri dan merutuki ketidakberdayaannya di bawah guyuran air pada shower yang ia nyalakan.
Hampir setengah jam berlalu, Max yang sudah berganti pakaian kembali menemui sang istri yang ternyata sudah tertidur pulas di atas ranjang.
Ia kemudian berbaring tepat di samping sang istri dan mendaratkan beberapa kecupan pada kening kekasih halalnya itu.
"Maaf kan aku sayang, mohon bersabarlah karena aku akan terus berusaha menjadi suami yang baik dan sempurna untukmu, aku sangat mencintaimu istriku."
......................