Oh My Mister

Oh My Mister
Menerima kembali




#"The Prince" Ryan, Maxim, Jerry


Sesampainya di London, Indah dan Rika kini telah sampai di ambang pintu kediaman keluarga Larry. Sesungguhnya Indah sangat malu kembali kesana, karena seluruh pelayan dan pekerjaan di sana hampir seluruhnya melihat kejadian ketika ia di usir oleh Jhon dulu.


"R-Rika kakak ke hotel saja ya," ucapan Indah gugup.


Sedangkan Rika yang mengerti hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, Indah segera berbalik namun tiba-tiba seorang anak perempuan berlari dan memeluknya dari belakang dengan erat.


"Mommy! Mommy kembali," Anak perempuan itu memekik dan semakin merekatkan pelukannya. Indah menoleh dan melihat seorang anak semakin tubuh cantik dari terakhir kali ia melihat.


"Bella," ucapnya lirih dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Ia sangat terkejut, Bella masih mengenali dirinya padahal ia pergi saat anak itu masih balita.


"Mommy, Bella kangen. Mommy gak akan pergi lagi kan?" tanyanya kembali, membuat hati siapapun tersentuh kala melihatnya.


Seluruh keluarga yang melihat itu semua hanya terdiam haru, terutama Jhon. Pria itu segera berjalan mendekat ke arah Indah dan Bella.


"Indah, aku sadar akan kesalahanku yang begitu besar padamu. Aku mohon kembalilah padaku, aku dan Bella sangat merindukanmu dan berharap kita akan bersatu kembali," Jhon menyentuh tangan Indah dengan lembut, kedua netranya tampak menyiratkan penyesalan yang begitu mendalam.


Penyesalan akan kebodohannya di masa lalu, yang mengakibatkan hancurnya rumah tangganya dan Indah pergi tanpa jejak membawa rasa sakit hati yang begitu mendalam.


Indah nampak termenung, menatap wajah gadis kecil yang sangat ia sayangi. Perlahan ia berjongkok dan menyentuh lembut wajah gadis kecil berambut kuning kecoklatan itu.


"Bella, iya Mommy gak akan ninggalin Bella lagi," ucapnya tersenyum dan melirik ke arah Jhon.


Seketika sebuah senyuman merekah di wajah pria itu dan memeluk kedua kesayangannya secara bersamaan.


"Terima kasih Indah, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu," ucapnya dengan bahagia seraya mencium secara bergantian kening Bella dan Indah.



......................


Hari itu Bella nampak selalu menempel pada Indah, gadis kecil yang nampak bawel itu selalu saja menceritakan apapun mulai dari kehidupan di sekolahnya hingga kesehariannya. Gadis kecil itu nampak antusias dan gembira hingga akhirnya ia terlelap karena terlalu letih bercerita.


Indah membaringkan tubuh Bella di atas ranjangnya dan tak lupa mengecup keningnya.


"Good night babe," ucapnya seraya menutupi tubuh kecil itu dengan sebuah selimut.


Ia segera beranjak dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Tok Tok Tok


Indsh segera bangkit kala pintu kamarnya di ketuk seseorang. Perlahan ia berjalan dan membukakan pintu tersebut.


"Jhon!" pekiknya kala melihat Jhon relah berada di hadapannya. Jhon memberikan sebuket mawar merah dan memberikannya pada wanita kesayangannya.


"Untukmu sayang," ucapnya lembut dengan sebuah senyuman yang seolah tak luntur dari bibirnya.


Seketika pria itu melingkarkan kedua tangannya dengan posesif dan mendekatkan wajahnya pada Indah.


"Jhon, malu! Kalau ada yang lihat bagaimana?" lirih Indah dengan pandangan yang menelisik keseluruh ruangan. Sedangkan Jhon tersenyum dan terus melangkahkan maju hingga memaksa Indah berjalan mundur.


Cklek


Pintu tertutup, Jhon menatap lekat kedua netra mata wanitanya dan perlahan pria itu mencium bibir Indah dengan lembut.


"Aku mencintaimu, terima kasih telah memberikanku kesempatan sekali lagi," bisiknya pada telinga Indah.


Ia kembali mencium bibir merah itu dan menyesapnya dengan penuh hasrat.


"Akhh, Jhon!" pekik Indah yang secara refleks mendorong tubuh Jhon, kala pria itu mulai nakal menyusuri seluruh lehernya dengan tangan yang mulai bergerilya kemana-mana.


Indah menatap tajam Jhon yang nampak menatapnya dengan bingung.


Jhon kembali tersenyum dan meraih tangan wanitanya, "Besok kita akan ke rumah sakit bersama dengan Mommy dan daddy, kita akan bicarakan sama-sama prihal pernikahan kau dan aku, aku ingin secepatnya melamarmu dan meminangmu di hadapan kedua orang tua kita," tutur Jhon meyakinkan.


Indah terperangah, hatinya nampak begitu berbunga-bunga membayangkan pernikahan yang selama ini ia impikan. Sebuah pernikahan dengan restu dari orang tua kedua belah pihak.


Seketika Indah memeluk Jhon dengan erat, menumpahkan segala perasaan haru dan bahagia di dalam hatinya.


"Sayang, tapi sebelum itu aku akan berkata jujur dengan kedua orang tuamu. Aku ingin tidak ada rahasia yang kelak menjadi bumerang dan bom waktu yang akan merusak rumah tangga kita," ucap Jhon seraya menangkup wajah Indah.


Indah tampak mengeryitkan keningnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Aku akan menceritakan semuanya, termasuk mengakui kesalahanku padamu. Namun kamu jangan khawatir, aku yakin selama kita bersama maka kita akan mampu menghadapi semua itu walapun mungkin papimu akan murka padaku." Jhon terus menjelaskan hingga tak terasa buliran kristal bening meluncur begitu saja dari kedua netranya sepasang anak manusia itu.


......................


Pagi hari di rumah sakit, Mikha sudah tampak sibuk membersihkan tubuh suaminya dengan telaten. Walaupun kemarin Max menunjukan pergerakan namun ternyata semua tidak berarti apa-apa, pria itu masih nyaman dengan tidur panjangnya. Yang entah sampai kapan semua berakhir.


"Nah, sekarang kamu udah segar dan tampan seperti biasa," ucapnya tersenyum getir. Hatinya selalu sedih kala melihat suaminya yang nampak tak berdaya dengan wajah pucat pasi.


Mikha nampak memaksakan kehendak untuk memakan semangkuk bubur di hadapannya, karena ia sadar jika ia sakit maka ia tidak dapat merawat suaminya. Hingga sebisa dan sekuat mungkin ia melawan morning sickness yang tengah ia rasakan walaupun semua terasa menyiksa.


Cklek


Pintu ruangan terbuka, nampak Nyonya Anna menghampiri menantunya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan lembut dan membelai pucuk kepala Mikha.


Mikha mencoba mengulas senyum tipis untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Mom," ucapnya lembut.


"Sayang kita keluar sebentar yuk, Indah dan Jhon ingin membicarakan sesuatu," tutur Nyonya Anna dan di jawab anggukan oleh Mikha.


Di ruang tunggu sudah berada Indah, John, serta Tuan Andrew. Nampak Indah yang menundukkan kepalanya, sejujurnya ia sangat tidak enak hati harus menikah di saat sahabatnya tengah di landa duka.


"Duduk, Nak!" titah Tuan Andrew. Mikha kemudian duduk tepat di samping Indah dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Mikha, begini. Jadi Jhon merencanakan untuk menikahi Indah secepatnya, bagaimana menurutmu? Mengingat kondisi Max yang belum stabil," ucap Tuan Andrew memulai pembicaraan. Sedangkan Mikha hanya mengulas senyuman, mereka mengerti jika Jhon dan Indah tengah segan kepadanya.


"Daddy, niat baik itu harus di segerakan. Aku gak masalah tapi maaf, jika aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan Indah dan Kak Jhon, aku hanya bisa mendoakan agar pernikahan kalian selalu di beri keberkahan," ucapnya dengan lembut dan sontak membuat Indah menangis seraya memeluk Mikha.


"Mikha, terima kasih. Maafin gue yang menikah sedangkan keadaan lu dan Max masih seperti ini," lirihnya di sela-sela tangisannya.


"Iya, Gak apa-apa. Lo berhak bahagia, Ndah!" tutur Mikha yang sama sekali tidak mempermasalahkannya.


Kini pandangannya beralih kepada mereka dan kakak iparnya.


"Daddy, jadi kapan pernikahan Kak Jhon di selenggarakan?" tanyanya pada Tuan Andrew.


"Nanti sore kami akan ke Indonesia, agar segera bisa melamar Indah. Kamu baik-baik disini ya, jaga kesehatanmu," jawab Tuan Andrew.


Sedangkan Mikha lagi-lagi hanya mengulas senyuman tipis dan mendoakan agar semuanya berjalan lancar. Pikirannya masih tidak bisa fokus karena terus menerus memikirkan suaminya.


......................



#Jhon dan Maxim


Ayo mau pilih mana? Jhon yang grasak grusuk atau Maxim yang terlampau lembut? ๐Ÿ˜ kalau Potato sih pengennya karungin dua-duanya๐Ÿ˜…


Mampir yuk ke Karyaku yang lain, Terima kasih,๐Ÿ˜