
...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...
...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......
...Agar Author Kentang ini bahagia...
...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini😁...
Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya.
JIKA ADA KEMIRIPAN itu hanya TERINSPIRASI namun ide dan alur tetap buah pemikiran Author sendiri !!!
...Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita**....
...Terima kasih❤❤❤...
...🌷🌷🌷...
Sudah hampir menjelang malam aku sampai di Jakarta, jalanan yang padat menghambat langkahku menemui Mikha.
Aku segera berjalan cepat menuju rumah kost tempat ia tinggal, aku yakin jam segini ia pasti sudah pulang kerja.
Aku melangkahkan kakiku dengan sangat semangat dan bahagia, banyak buah tangan yang aku bawakan untuknya. Namun harapan segera bertemu dengannya segera sirna, menurut satpam yang menjaga rumah itu Mikha sedang pulang ke kampung halamannya karena ayahnya mengalami kecelakaan
Entah mengapa perasaan resah itu semakin menjadi-jadi, aku takut ini pertanda yang tidak baik.
Pikiranku sangat kalut, yang terbersit adalah Dilla.
Ya, gadis itu pasti tahu alamat kampung halaman Mikha! ia adalah sahabat Mikha sejak masih di desa. Bagaimanapun aku harus sesegera mungkin bertemu dengannya, firasatku sangat sangat tidak enak .
Pada akhirnya aku pergi ke Yogyakarta menggunakan kereta malam kelas ekonomi bersama Dilla, karena memang hanya kendaraan itu yang tersisa saat malam hari. Jika naik pesawat aku harus menunggu jam 8 pagi, aku sudah tidak mampu bersabar lagi.
Pukul 11 malam kami berangkat, walau sepanjang perjalanan cukup menyiksa untukku namun tak apa, ini semua tidak sebanding dengan siksaan firasat buruk yang berkecamuk di batinku.
Pagi buta kami sudah sampai di kota itu, butuh waktu 40 menit untuk sampai ke rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
Di sana aku bertemu dengan seorang pria paruh baya yang tengah terbaring lemah dan seorang gadis remaja yang tidak lain adalah ayah dan adik dari gadisku.
Dilla memperkenalkanku kepada mereka, aku bersyukur mereka menerimaku dengan baik.
Aku mencari keberadaan gadisku namun ternyata ia telah pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
Namun entah mengapa perasaanku semakin kacau, lalu tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang tidak lain ibu dari gadisku dan seorang pria berumur 30an datang memberikan kabar buruk.
Kecelakaan ayahnya adalah perbuatan seorang pria muda di desa itu yang sangat terobsesi menjadikan gadisku istri ketiganya.
Rika yang adalah adik dari gadisku segera menelepon kakaknya, namun yang di dapat hanyalah suara jeritan minta tolong dari Mikha.
Dadaku semakin sesak, aku segera menghubungi Jhon untuk melacak sinyal ponsel milik gadisku.
Aku dan Dilla segera menuju tempat sinyal GPS milik Mikha berada menggunakan sepeda motor milik pria yang bersama Ibunda Mikha.
Sinyal itu terhenti di sebuah perkebunan dan Dilla menemukan ponsel Mikha di sebuah semak belukar, tak hanya itu aku menemukan sebuah Batang kayu yang berlumuran darah.
Tubuhku sungguh bergetar, entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam diri ini. Antara marah, takut, semua tercampur menjadi satu.
Beruntung dengan pengetahuan Dilla kami menemukan sebuah gudang penyimpanan beras milik keluarga pria muda itu yang tak jauh dari lokasi Batang kayu di temukan.
Aku segera mendobrak pintu yang terkunci dari dalam, dan aku sangat murka melihat apa yang ada di hadapanku.
Rasa terbakar memenuhi seluruh hatiku, emosi menguasai jiwaku melihat wanita kesayanganku di nodai dengan kondisi yang memperihatinkan, pria itu benar-benar keji. Ia tega melakukan hal itu dengan seorang wanita yang meraung-raung menangis dan penuh luka bercucuran darah di dahi dan pangkal pahanya.
Akal sehat ku seketika menghilang, aku menghabisi pria itu dengan membabi buta menggunakan seluruh tenaga yang ku punya.
Jika saja Dilla tidak menyadarkanku, mungkin saat itu aku telah menjadi seorang pembunuh.
Aku segera memeluk gadis pemilik hatiku, aku segera membawanya kerumah sakit.
Hatiku sangat hancur melihat kondisinya, setelah ia sadar aku berharap ia bisa segera pulih dan senang dengan keberadaanku, namun itu hanya harapanku saja.
Gadisku mengalami depresi akibat kejadian yang menimpanya, sepanjang hari ia hanya diam menatap dengan tatapan kosong dan terkadang ia berteriak padaku bagaikan orang yang telah hilang kewarasannya.
Hatiku begitu sakit dan pedih melihatnya seperti itu, aku menyesal tidak datang lebih cepat.
"Maaf sayang aku gagal melindungimu"
Kata-kata itu yang selalu terbersit di benakku, aku gagal melindunginya, laki-laki macam apa aku ini!
Hari demi hari berlalu, apapun yang terjadi aku tidak akan beranjak dari sisinya. Hingga akhirnya kondisi jiwanya membaik, namun ia enggan dekat denganku.
Ia menjadi pribadi yang tertutup, bahkan cenderung mengabaikanku.
Aku mengerti, ia melakukan hal itu karena merasa tidak pantas untukku.
Padahal perasaanku tidak pernah berkurang sedikitpun untuknya, bahkan aku menjadi semakin mencintainya.
Hari-hari berat kami lewati, hingga ia akhirnya menerima pinanganku.
Aku sungguh-sungguh mencintainya, apapun akan aku lakukan untuknya.
walaupun aku bukanlah suami yang sempurna, bahkan aku belum bisa menafkahi batinnya. Namun aku akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa menjadi pria seutuhnya, walau ini semua sangat sulit.
Sejujurnya bukan maksudku merahasiakan ini semua darinya, Ku hanya takut ia tidak akan menerima dan meninggalkan ku jika ia tahu bahwa aku adalah seorang pria g**, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirinya.
Aku bertekad akan segera pulih dari kondisiku ini dengan cara apapun.
Flashback Off
...****************...
PoV Author
Dilla termenung mendengar penjelasan dari Max, ia cukup mengerti keadaan Max. Pria itu telah mengorbankan segalanya untuk sahabatnya, bahkan cinta pria itu kepada sahabatnya tidak dapat di ragukan lagi.
Namun bagaimana jika sahabatnya tahu? Apakah Mikha dapat menerimanya? ia pasti sangat kecewa, terlebih ia sangat tahu bahwa sahabatnya itu paling anti dengan orang-orang yang menyimpang baginya.
Setelah berpikir matang-matang dengan segala resikonya, akhirnya Dilla memutuskan untuk pura-pura tidak tahu, ia juga tidak ingin Mikha kembali depresi jika mengetahui keadaan suaminya.
"Baiklah, tapi aku minta tolong segera kau berubah atau jujur dengan Mikha apapun resikonya!" Ucap Dilla yang sesekali memijat keningnya.
"Terima kasih Dilla, aku benar-benar berterima kasih kepadamu. Aku berjanji akan segera pulih dan menjadi suami yang baik untuknya!" Ucap Max lirih, wajah pria itu nampak pucat.
"Max, Dilla!"
Pekik seseorang yang tidak lain adalah Jerry, pria itu datang terengah-engah dengan wajah tampak panik.
"M-Mikha kritis!"
...****************...