Oh My Mister

Oh My Mister
konferensi pers



Maxim kembali ke ruangan Istrinya, sebisa mungkin ia menutupi segala rencananya agar istrinya tidak tertekan.


Max menghela nafas di ambang pintu, lalu masuk untuk menemani istrinya kembali.


"Ada apa sih Max?" Tanya Mikha saat melihat suaminya kembali.


Max mengulas senyum, dan mengecup kening istrinya


"Tidak ada apa-apa, hanya masalah Clara."


"Clara?" Mikha tampak memicingkan matanya.


"Iya, dia harus di beri pelajaran."


Mikha membelai lembut wajah suaminya dan melihat ada banyak tekanan yang tersirat dari mata biru kekasih halalnya.


"Berdoalah sayang, aku tau kau memikirkan sesuatu selain Clara. Mintalah pertolongan dari Allah agar masalahmu dapat terselesaikan dengan mudah. Ingat, apapun yang terjadi aku selalu ada untukmu."


Senyuman tulus kembali mengembang di sudut bibir pria tampan itu, ia tidak habis pikir bahwa istrinya begitu peka dengan keadaan dirinya.


......................


Keesokan paginya Max sudah pamit dengan alasan mengurus pekerjaan, sedangkan kini Mikha yang masih berada di rumah sakit di temani Rika, Marrie dan Dilla.


Di tempat lain Seluruh awak media sudah duduk rapih di tempat yang telah di sediakan. Indah, David, dan Jhon sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.


Max menghela nafas dan melihat satu persatu Sahabatnya.


"Maafkan aku, jika setelah ini citra group kita menjadi buruk."


"Tidak apa Max, aku bangga padamu. Kita akan selalu mendukungmu!" Ucap Jerry menepuk pundak Maxim sementara Ryan hanya mengulas senyum."


Kini waktu konferensi pers di mulai, Max beserta timnya yang terdiri dari Jerry, Ryan, dan David mulai memasuki area itu satu per satu.


"Selamat siang para teman-teman media, saya David selaku manager The Prince akan membuka sesi tanya Jawab untuk meluruskan masalah yang terjadi pada pesta pernikahan Maxim kemarin. Mohon untuk tetap tertib dan kami akan menampung pertanyaan dari kalian. Baiklah pertanyaan saya mulai dari sudut kanan depan."


Ucap David membuka dan memulai sesi, sementara Maxim terduduk mematung dengan wajah pucat.


"Max, apakah benar apa di katakan wanita yang bernama Clara bahwa istri Anda adalah sumber hancurnya hubungan kalian?"


Ucap salah seorang wartawan.


"Benarkah dengan tuduhan yang dilayangkan Clara bahwa istri anda pernah mengalami pelecehan dan tengah mengandung hasil dari kejadian tersebut?"


"Max, jika bukan karena istri anda lalu apa yang menyebabkan anda membatalkan pernikahan dengan Clara?"


"Max, apa alasan Anda lebih memilih Mikha di bandingkan Clara?"


"Max, mengapa kau mau menikahi wanita yang jelas-jelas memiliki rekam jejak yang kelam? sedangkan kau seorang penyanyi yang digandrungi banyak wanita cantik?"


Max menghela nafas berat, nampaknya semua pertanyaan memang mengharuskan dirinya membuka kenyataan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.


"Baiklah teman-teman, saya akan menjawab seluruh pertanyaan kalian. Karena pertanyaan kalian hampir sama maka saya akan memaparkan kejadian sebenarnya pada kalian."


......................


Di sebuah ruangan di rumah sakit, Mikha yang sedang asik memakan buah-buahan yang disajikan untuknya tiba-tiba terperangah melihat siaran TV yang baru saja ia lihat.


Dengan nekat ia segera beranjak dan mencabut selang infus di tangannya dengan sembarangan.


Ia segera keluar ruangan dengan terburu-buru hingga Rika dan Marrie yang baru kembali dari kantin mencoba menahannya.


"Lepaskan Marrie, aku ingin menyusul Max!" Pekik Mikha mencoba melepaskan genggaman kedua adiknya.


"Tapi mba baru pulih, dan mas Maxim meminta mba tetap istirahat." Ucap Rika yang terus membujuk kakaknya.


Mikha tetap bersikeras, Dilla yang baru kembali dari apotek segera menghampiri Mikha yang terus-menerus memberontak.


"Mikha, lu balik ke kamar ya kasian bayi lu."


Dilla mencoba menenangkan Mikha, namun rasanya sia-sia, Mikha terus memberontak.


"Aku dan bayiku baik-baik saja, namun Maxim butuh kami! aku gak bisa membiarkannya menghadapi semuanya sendirian, aku mohon mengertilah."


Dilla menghela nafas panjang, ia juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan sahabatnya.


"Baiklah, tapi lu harus janji ya harus tetap tenang. Ingat, kasihan bayi lu karena mereka juga akan merasakan apa yang lu rasakan."


Mikha menganggukan kepalanya, akhirnya mereka membawa Mikha yang masih memakai pakaian pasien untuk menyusul Max. Sepanjang jalan Mikha terlihat terus memantau konferensi pers yang di siarkan secara langsung tersebut melalui telepon pintar miliknya.


......................



Max mulai mengatur nafasnya, ia sungguh pasrah jika semua ini akan berimbas pada karirnya yang telah susah payah ia bangun. Namun ia ikhlas asalkan nama baik istrinya bisa kembali bersih.


"Semuanya berawal dari awal tahun kemarin, apa kalian ingat kasus skandal video ku dengan model majalah dewasa bernama Jesson?"


Maxim kembali menghela nafas berat, lidahnya terasa begitu kelu untuk berucap.


"Itu semua benar, yang di video itu memang aku. Aku pernah melakukan hubungan satu malam dengannya, Aku adalah pria G*y."


Seluruh awak media terdiam mematung, mereka benar-benar di buat terkejut oleh pengakuan Maxim. Terbongkar sudah rahasia kelam sang Superstar yang selama ini ia tutup rapat-rapat bahkan dari istrinya.


"Mungkin sebagian besar kalian sudah terbiasa namun berbeda dengan keluargaku, bagi mereka aku adalah aib keluarga hingga akhirnya ayahku memutuskan secara sepihak perjodohan dan pernikahan yang tidak pernah aku inginkan kepada seorang wanita bernama Clara Rosella Gerrard."


"Selama itu aku di Kurung hingga tepat saat malam sebelum pernikahan berlangsung, aku dapat kesempatan melarikan diri dan tentu saja aku tidak menyia-nyiakannya. Aku tidak ingin menikah tanpa cinta apalagi dengan wanita arogan seperti dirinya, hingga kalian pasti tau mengapa tiba-tiba aku menghilang selama sebulan lebih pada awal tahun kemarin."


"Aku melarikan diri ke Indonesia, berbaur dan mencoba serapat mungkin menyembunyikan identitasku, aku benar-benar ingin menenangkan hati dan pikiranku. Hingga akhirnya aku tak sengaja bertemunya, seorang gadis sederhana yang berhasil membuatku tergila-gila. Gadis itu adalah istriku, Mikha Arlista.".


"Semakin aku mengenalnya entah mengapa aku semakin tertarik padanya, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta terlebih pada seorang wanita. Aku mencintai kesederhanaannya, sikap dan sifatnya yang begitu baik, dan darinya aku mempelajari satu hal yang selama ini aku abaikan, ia menyadarkanku akan selalu bersyukur dan berbakti kepada orang tua."


Kedua netra Max memerah, bahkan cairan bening begitu saja lolos dari kedua mata pria itu.


"Mungkin dari kalian berpikir ia sengaja mengambil hatiku karena aku seorang superstar, aku tegaskan bahwa ia tidak mengetahui sama sekali identitas asliku. Hidupnya terlalu sibuk untuk bekerja keras dan memikirkan kebahagiaan kedua orang tuanya, Bahkan ia hanya tinggal di sebuah kamar sewaan yang bahkan luasnya hanya 3x4 meter tanpa televisi. Ia baru mengetahui jati diriku setelah kita resmi menikah di Yogyakarta."


Jelas Maxim, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tiba-tiba seorang wartawan mengangkat sebelah tangannya.


"Maaf Max, bagaimana masalah khusus pelecehan itu?".


Max memejamkan matanya sejenak, sebenarnya ia tidak ingin membahas hal tersebut. Ia sangat takut jika Istrinya kembali teringat hal buruk itu.


"M-maaf soal itu..." Max tergagap, hingga tiba-tiba terdengar suara lantang dari seorang wanita. Suara yang begitu familiar baginya.


"Ya semua memang benar" Ucap wanita itu lantang.


^^^Bersambung...^^^


......................