
Haiii Mampir yuk ke Audio book Mr.Potato
tinggal pencet aja nih profil Author trus klik audio book Oh my banana eh salah😁 Oh My Mister !!!
(aku sendiri yang dubbing loh😂, tapi kalau mau denger suara yang lain juga ada pilihan dubber lainnya)
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIT, Jerry yang sudah bersiap untuk makan malam bersama istrinya nampak tengah sibuk berkaca guna merapihkan rambutnya agar sesuai dengan pakaian semi formal yang ia kenakan.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, Jerry tampak terperangah melihat istrinya yang begitu cantik di balut dress berwarna soft pink yang begitu serasi dengan kulit kuning Langsatnya.
"Kenapa?gak pantes ye?" tanya Dilla yang bingung dengan tingkah suaminya.
"K-kamu ca-cantik " Ucap Jerry malu, Oh Tuhan... kenapa ia menjadi begitu gugup melihat istrinya yang begitu cantik.
Jerry menggandeng tangan Istrinya, jantungnya begitu berdegup tak menentu. Tak begitu jauh dari Hotel, ia masuk ke dalam restauran bernuansa romantis yang terletak di tepi pantai, dengan panggung kecil yang menunjukkan seorang penyanyi perempuan yang tengah menyanyikan lagu bergenre Jazz.
"Silahkan duduk Permaisuriku." Ucap Jerry kala menarik sebuah kursi untuk Dilla.
"A-Apa sih Jer, alay ih." cebik Dilla untuk menutupi kegugupannya.
Jerry tersenyum memandangi Istrinya, ia sangat bersyukur Dilla mau menerima dirinya apa adanya walau rekam jejak percintaan dirinya begitu buruk, dan ia tak setampan atau sekaya kedua sahabatnya.
Jerry menggenggam Kedua tangan istrinya, ia menatap lekat-lekat wajah ayu milik istrinya.
"Dilla, kau sangat cantik sayangku." Ucapnya memandang Dilla yang tampak serba salah menanggapi perkataan suaminya.
Kedua pipinya memerah bagai tomat, matanya tidak fokus pada satu titik, dan nampak ia menggigit bibir bawahnya yang membuat Jerry begitu gemas dan ingin melahap Istrinya saat itu juga.
"Silahkan pesanannya Tuan." Ucap seorang pelayan yang memecah kegugupan Dilla.
"A-ayo makan du-dulu, aku u-udah lapar." Ucap Dilla yang sedikit gemetar.
Seusai menghabiskan makan malam, kedua insan ini tampak menikmati alunan musik yang di sediakan di Restoran tersebut. Beberapa pasangan nampak berdansa.
JRENG
Genre musik nampaknya berganti, seorang biduan nampak naik ke atas panggung nan menyanyikan lagu yang tengah booming saat itu.
"Jer Joget yuk!, Kakak bolehkah saya menyanyi sebuah lagu!" Pekik Dilla tanpa malu-malu hingga seluruh pandangan tertuju padanya.
"Boleh kakak manis! silahkan!" Ucap wanita itu tersenyum.
Tanpa ragu Dilla langsung menyeret Jerry ke atas panggung, pria itu nampak bingung dengan ulah istrinya.
"Aku mengantuk kalau terus-terusan dengar lagu jazz seperti tadi hihihi" Bisik Dilla pada suaminya.
"Mau nyanyi lagu apa kakak manise?"
"Ini ya, bisa?" Ucap Dilla, di balas acungan jempol dan senyuman manis wanita berkulit hitam khas timur Indonesia.
Teng... Teng...
Musik di mulai, Dilla nampak bersiap-siap dengan Microfon di tangannya. Sedangkan orang-orang yang sadar dan mengenali Jerry nampak mempersiapkan kamera ponsel mereka masing-masing.
Yen tak sawang sorote mripatmu
Jane ku ngerti ono ati sliramu
Nanging onone mung sewates konco
Podo ra wanine ngungkapke tresno
Yen ku pandang gemerlap nyang mripatmu
Terpampang gambar waru ning atimu
Nganti kapan abot iku ora mok dukung
Mung dadi konco mesra mergo kependem cinta
Sungguh sayang aku tak bisa langsung mengungkapkan
Perasaan yang ku simpan buat ku tak tenang
Ini semua karena hubungan pertemanan
Kau sudah biasa anggap ku sebagai kawan
Adem panas awakku gara-gara kamu
Nyibakke atiku, gati menyang aku
Sampek kegowo turu, ngimpi ngusap pipimu
Tansah nyoto keroso konco dadi tresno
Nggereges awakku naliko mepet sliramu
Mung tak sawang esemmu sumebyar neng atiku
Bingung rasane atiku kepiye nyikapi
Biyene konco suwi sak iki tak tresnani
...(Konco Mesra - Nella Kharisma)...
Jerry nampak ikut berjoget sambil tertawa lepas melihat kelakuan unik Istrinya, Dilla benar-benar wanita yang begitu menyenangkan dan selalu saja penuh kejutan dalam dirinya.
......................
"Hahahahahahaha aduh gak habis pikir aku sama kamu, segitu pedenya padahal suara pas-pasan" Ucap Jerry tertawa lepas sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hahaha tapi seru kan, sumpah deh dalam kondisi perutku yang kenyang kalau denger lagu mendayu-dayu bisa-bisanya aku tidur disana hahaha" Dilla ikut merebahkan dirinya di samping Jerry dengan posisi kaki masih menjuntai ke lantai.
"SERU BANGET!!! selalu ada kejutan di diri kamu."
Ucap Jerry yang tanpa sadar kepala mereka saling menoleh satu sama lainnya hingga pandangannya beradu.
Deg... Deg... Deg...
Kedua jantung mereka seakan sahut bersahutan berdebar kencang, terlebih jarak di antara keduamya sungguh sangat dekat.
"Dill..." Sapa Jerry lirih dan menyentuh lembut pipi istrinya yang merona.
Jerry sedikit bangkit, dan semakin membelai halus pipi istrinya yang diam mematung.
Perlahan-lahan dengan gugup ia mengecup bibir istrinya, kecupan singkat namun begitu menghanyutkan.
Dilla Reflek menutup kedua matanya kala Jerry mengulangi ciumannya dengan ciuman yang lebih intim.
"Buka sedikit mulutmu sayang." Ucap Jerry dengan nafas yang mulai memberat, bagai terhipnotis Dilla menuruti saja apa yang suaminya perintahkan.
Jerry memainkan bibir istrinya, Mel*m*tnya, Mem*linnya dan menyes*pnya dengan lembut dah hati-hati.
Perlahan kecupannya bergeser menuju daun telinga istrinya hingga membuat bulu kuduk Dilla meremang, ia merasakan ada sesuatu yang aneh menjalar ke tubuhnya bagai sengatan listrik, suatu rasa menggelitik yang bahkan ia tidak tahu apa itu namanya.
"Jerry A-Aku mau ke toilet du-dulu, A-Aku mau pipis." Ucap Dilla tergagap dan terengah-engah, namun Jerry yang mengerti kondisi yang sedang terjadi pada istrinya hanya menyunggingkan senyuman dan semakin mencumbu istrinya.
Kecupan-kecupan pria itu turun mengarah pada leher istrinya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan pada kulit leher Dilla.
"Stop Jerry, Stop! akhh!!! A-Aku benar-benar mau pipis!" Pekik Dilla dengan sedikit mendorong tubuh suaminya.
Nafasnya nampak tersengal-sengal selaras dengan debaran jantungnya yang seakan tak mampu di kendalikan.
Dengan buru-buru Dilla berlari menuju kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Hufttt...malu..." Dilla menghela nafasnya lalu menutup wajahnya, ia sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi antara ia dan Jerry.
Lima belas menit berlalu, Jerry yang menunggu istrinya tak keluar-keluar nampak khawatir akan keadaan Dilla.
"Dilla kok lama banget?" Ucap Jerry di depan pintu kamar mandi.
"A-Aku mandi dulu Jerry, Se-sekalian ganti baju." Teriak Dilla yang masih nampak tergagap karena kegugupannya.
Jerry hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat ulah sang istri, ia pun lekas berganti pakaian menyikat giginya di wastafel.
"Sayang, Lihat charger Handphone aku gak? jangan lama-lama mandinya, udah malam!"
"Iya dikit lagi, tadi aku simpan di koperku dekat paper bag pink!" jawab Dilla yang lupa bahwa ada benda memalukan yang tengah ia sembunyikan.
Tanpa berpikir panjang Jerry langsung menggeledah koper milik istrinya hingga ia mendapatkan sesuatu yang ia cari, namun seketika matanya tertuju pada paper bag berwarna pink yang merupakan hadiah dari Mikha untuk istrinya.
"Yank, ini hadiah dari Mikha apa isinya?" Tanya Jerry yang langsung membongkar isi dari Paper bag tersebut, sementara Dilla yang panik langsung berlari keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah handuk yang membalut tubuhnya.
"Ja-jangan!!!" Pekik Dilla namun sayang sang suami sudah terlanjur mengetahuinya.
Sebuah kostum superhero kucing sexy, lengkap dengan topeng, cambuk dan borgolnya, satu persatu Jerry perhatikan secara seksama, pria itu terkekeh geli dengan pemberian Mikha yang sangat konyol.
"Ihhhh Jerry masukin lagi, malu!" Ucap Dilla yang langsung merebut barang-barang itu dan memasukkannya ke dalam koper.
Jerry mendekat pada istrinya yang tengah merajuk dan berbisik tepat di telinga Dilla.
"Kenapa kau gak pakai? aku rela kau cambuk dan borgol."
Dilla membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Jerry, ia segera berbalik dan mencubit suaminya hingga akhirnya tubuhnya menimpa tubuh suaminya yang terjatuh ke lantai.
Pandangan mereka saling beradu, Jerry menyematkan rambut istrinya ke belakang telinga.
"Istriku yang cantik." Ucapnya tersenyum dan memeluk Dilla erat-erat, perlahan bibir mereka saling beradu. Dilla memberanikan diri untuk membalas permainan bibir yang di lakukan suaminya.
Bibir mereka saling m*nyesap, m*lum*t, dan bertautan satu sama lain.
Tangan Jerry yang mulai jahil, membuka tali pengikat jubah handuk Dilla hingga mengekspos tubuh polos istrinya.
"Jerry A-Aku ma-malu" Ucap Dilla gugup dan mencoba menutupi tubuhnya kembali.
Pria itu segera bangkit dan menggendong istrinya ke atas ranjang, ia kembali mencium seluruh wajah Dilla tanpa tersisa, memberikan sensasi aneh itu kembali yang seakan meminta lebih atas perbuatan suaminya.
"Akhhh..."
sebuah desahan begitu saja lolos saat lidah Jerry menyentuh pucuk buah dadanya, dan mengis*pnya.
Pria itu turut menciumi seluruh tubuh istrinya, semakin turun menuju perut hingga berlabuh di area segitiga milik istrinya.
Wajah Dilla semakin memerah kala melihat sang suami menatap kewanitaannya yang terpampang polos, bagian yang tidak pernah di lihat dan di sentuh siapapun selain dirinya.
"Jer ...Ja-jangan say...ahhhh..."
Ucapan Dilla terputus saat Jerry mulai mengecup dan memainkan kewanitaannya dengan lidahnya.
Pria itu begitu agresif bagaikan menemukan sebuah oasis ditengah gurun pasir yang gersang.
"Sa-yang ahhhh...akhhh..." Dilla tak henti-hentinya merancau, terbih hingga ia mencapai puncak kenikmatannya untuk pertama kali. Jerry tersenyum simpul, ia mulai membuka pakaiannya satu persatu, hingga memperlihatkan kejantanannya yang telah siap untuk bertempur kembali.
"Cium di sini sayang." Ucapnya lirih, mendekatkan miliknya pada wajah istrinya.
"Ta-takut, g-gak mau! malu!" tolak Dilla yang langsung menutupi wajahnya dengan selimut.
Jerry terkekeh dengan sikap istrinya, wanita polos yang begitu menyenangkan dan menggoda.
Ia kembali menyerang istrinya dengan kecupan dan cumbuan yang semakinkin memanas, hingga akhirnya ia yang sudah tidak bisa menahan hasratnya langsung memasukan kejantanan pada kewanitaan istrinya, hingga merobek selaput dara milik Dilla tanpa perasaan.
"Sakit Jerry!!!!!!" Pekik Dilla memukul-mukul suaminya namun sang suami hanya terkekeh menunjukan deretan giginya yang putih.
"Maaf" ucap Jerry yang kembali menggerakan tubuhnya, pria itu sangat menikmati pergerumulan pertamanya dengan kekasih halalnya.
Walaupun ia berpengalaman dalam hal ini namun baru kali ini ia merasakan kegadisan dari seorang wanita yang tak lain adalah Istrinya, ia merasa menjadi pria beruntung dan semakin mencintai istrinya.
Cukup lama mereka berpacu, rasa perih dan nyeri yang di rasakan Dilla kini berubah menjadi kenikmatan yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.
"Lebih cepat ah...!" Pekik Dilla mendesah saat merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari diriya.
Jerry mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka saling mengeluarkan ****** ***** bersamaan seiring lengan lenguhan dan eraman panjang yang terlontar dari keduanya.
Kedua Insan itu saling memeluk, Jerry nampak mencium kening istrinya yang penuh dengan peluh.
"Maaf tadi aku bermain kasar, aku sangat gemas sama kamu." Ucap pria itu mencubit hidung istrinya, sedangkan Dilla makin menenggelamkan wajahnya pada dada polos suaminya, berbagai rasa berkecamuk dalam dirinya, antara senang dan malu yang begitu mendominasi hati seorang Ardilla Maharani.
Kini mereka telah menjadi suami istri seutuhnya.
"Dilla sehabis liburan dari sini kita mampir kerumah orang tuamu ya." ucap Jerry yang berhasil membuat kedua mata Dilla berbinar-binar.
"Sungguh?" Ucap Dilla sumringah, ia amat sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Tentu! setelah itu aku akan membawamu ke kampung halamanku."
"Ke Jerman?"
"Iya sayang, aku akan memperkenalkan istriku yang paling cantik dan keras kepala ini
kepada keluarga besarku."
Dilla semakin mengetatkan pelukannya, ia berharap keputusan menikah dengan Jerry adalah keputusan yang tepat, dan semoga Tuhan senantiasa memberikah berkah untuk rumah tangganya.
......................