
...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...
...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......
...Agar Author Kentang ini bahagia...
Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya.
JIKA ADA KEMIRIPAN itu hanya TERINSPIRASI namun ide dan alur tetap buah pemikiran Author sendiri !!!
...Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita**....
...Terima kasih❤❤❤...
...🌸🌸🌸...
"M-Mikha kritis!"
Ucapan dari Jerry membuat Max dan Dilla panik, Max langsung berlari menuju ruang ICU tempat istrinya di rawat.
Ia ingin masuk melihat kondisi istrinya namun di hadang oleh seorang perawat.
"Mohon tunggu di luar Tuan!" Ucap perawat itu dan langsung menutup pintu ruangan itu.
Beberapa menit penuh ketegangan, seorang dokter akhirnya keluar menemui Max yang tampak resah.
"B-bagaimana istri saya?" Ucap Max dengan suara yang meninggi.
"Ada komplikasi di alami istri Anda, kami sudah mengecek keseluruhan terdapat gumpalan darah di batang otak istri Anda Tuan. Kami meminta persetujuan Anda untuk mengambil tindakan operasi kembali secepatnya."
Max mematung mendengar ucapan dokter tersebut, sementara tangis Dilla pecah. Gadis itu memeluk erat Jerry yang berada di sampingnya.
"Lakukan yang terbaik dok! selamatkan istri saya bagaimanapun caranya!" Pekik Max mengguncang-guncangkan tubuh dokter tersebut.
"Baik Tuan, kami akan mempersiapkan semuanya."
Dokter itu pergi menyiapkan segala sesuatu untuk operasi kedua Mikha.
Max bersimpuh di lantai, matanya yang memerah mulai mengeluarkan air mata, pandangannya semakin buram hingga akhirnya Pria itu terjatuh tak sadarkan diri.
...****************...
"Hei bodoh bangun! kenapa kau lemah sekali?"
"Jika kau saja lemah seperti ini, siapa yang akan menjaga istrimu? apa kau mau memberikan ku kesempatan untuk merebut istrimu? bangunlah pria bodoh! "
Ryan terus merancau sendiri di hadapan Max yang sudah 2 jam tidak sadarkan diri.
Wajahnya tak kalah resah, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya.
Di satu sisi ia kalut melihat kondisi wanita yang di cintainya, di satu sisi lagi ia sangat terpukul melihat sahabatnya begitu memprihatinkan.
"Dasar pasangan yang menyusahkan!, mengapa kalian mengusik hati dan pikiranku." Ucap Ryan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia menyembunyikan air mata yang sejak tadi ingin mengalir dari pelupuk matanya.
Jemari tangan Max mulai bergerak, pria itu perlahan membuka matanya.
Ia mengingat-ingat apa yang telah terjadi sambil memandang langit-langit.
"Mikha!!!"
Max terperanjat dan langsung mencabut paksa selang infus yang terpasang di tangannya, Ryan mencoba menenangkan pria itu namun Max tidak menggubrisnya.
Ia segera berlari dengan tergopoh-gopoh dan sesekali terjatuh menuju ruang operasi.
Di sana sudah ada Jhon, Indah, Dilla, Jerry, dan Tuan Andrew.
Wajah mereka cemas karena Operasi yang belum kunjung usai. Melihat Max berjalan dengan bersusah payah membuat Tuan Andrew segera menghampirinya, pria tua itu memeluk putranya yang nampak rapuh.
"Daddy bagaimana?" Tanya Max Lirih, wajahnya sangat pucat. Bagaimanapun fisik dan pikiran benar-benar terkuras habis.
"Berdoa lah nak, kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan istrimu."
...****************...
Jess tampak tergesa-gesa pergi meninggalkan Apartemen miliknya. Ia menuju sebuah pelabuhan untuk pergi ke sebuah tempat yang aman.
"Max ingat! jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu!" Gumam pria itu menyeringai.
Tidak tampak ada rasa bersalah ataupun kekhawatiran di sorot matanya, pria itu benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.
...****************...
Di perjalanan hati Bu Yani sangat merasa resah, ia ingin sekali cepat sampai ke negara itu.
Perjalanan yang membutuhkan waktu panjang sangat membuatnya semakin tidak sabar.
"Pak jam berapa kita sampai?" tanya Bu Yani gelisah.
"Kira-kira 6 jam lagi, kenapa toh bu?" tanya Pak Ali melihat tingkah laku istrinya.
"Perasaan ibu Ndak enak pak!"
"Istighfar Bu, berdoa saja semoga anak kita baik-baik saja dan lekas sembuh." Ucap Pak Ali menenangkan Istrinya karena sesungguhnya batinnya pun merasa tidak nyaman, namun ia mencoba menyembunyikannya agar Bu Yani tidak semakin panik.
...****************...
3 jam sudah waktu operasi di lakukan, akhirnya aktivitas menegangkan itu berakhir. Dokter segera keluar untuk memberitahukan kondisi pasien kepada keluarganya.
"Bagaimana istri saya dok?" Tanya Maxim dengan tubuh yang pucat dan gemetar, pria itu belum pulih namun masih memaksakan kehendaknya.
"Operasinya berjalan dengan lancar, sekarang sudah bisa kami pindahkan ke ruangan ICU kembali."
Dokter itu kembali pergi untuk mengecek kondisi Mikha kembali sebelum di pindahkan.
Tuan Andrew terus membujuk putranya untuk kembali ke ruang rawat, namun Max bersikukuh tidak akan meninggalkan istrinya.
Malam harinya Dilla dan Jerry menjemput keluarga Mikha di bandara sementara di rumah sakit hanya ada Max, dan Jhon
"Ka Jhon makan dulu." Ucap Indah yang baru saja datang membawakan makanan untuk kedua pria itu
"Loh kau kenapa kesini? kau sudah lelah seharian ini?" Ucap Jhon acuh dengan mata setengah terpejam.
"Aku tau kalian pasti lupa makan, makanlah dulu."
Indah membuka kotak makan tersebut dan mencoba menyuapi Jhon yang tampak mengantuk, Jhon tampak terkejut dengan perbuatan Indah. Gadis itu sangat berani dan terang-terangan menunjukkan perasaannya.
"A-Aku bisa makan sendiri." Ucap Jhon gugup dan langsung merebut kotak makan dari tangan Indah.
Tak lama ponselnya milik Jhon berbunyi, David menghubunginya saat tengah malam. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, segera ia mengangkat panggilan di ponselnya.
"Ya, Hallo." Ucap Jhon memulai pembicaraan.
"Orang itu melarikan diri!"
"Apa? sial! kenapa dia begitu lincah, susah sekali di tangkap! Cari datanya ke bandara dan pelabuhan, orang seperti dia jika tidak tertangkap pasti tidak akan jera mencari masalah!"
Jhon menutup panggilan teleponnya, ia tampak kesal. Semenjak karirnya di hancurkan, Jesson sangat sulit sekali di temukan keberadaannya. Pria itu bagai hantu yang hilang dan muncul tiba-tiba.
...****************...
Max masih setia mendampingi sang istri, walau tangannya harus tersambung dengan cairan infus dan vitamin, Ia tetap tak bergeming dari sisi sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Ya Tuhan aku mohon sadarkan istri hamba, angkat segala rasa sakitnya."
Max menatap lekat-lekat istrinya, ia kemudian membuka kitab suci. Membuka surat Yasin dan berusaha keras membacanya walau masih terbata-bata, berharap pertolongan dan belas kasih dari Tuhan yang maha kuasa agar istrinya kembali pulih.
Keluarga Mikha yang baru sampai melihat pemandangan itu dari jendela yang terdapat di pintu ruang ICU itu, Pak Ali melangkah perlahan dengan menggunakan kruk menemui sang menantu yang setia di samping putrinya. Ia menatap kasihan kepada menantunya, wajah Max terlihat lesu dan pucat pasi.
"Le, yang sabar ya." Ucap Pak Ali menepuk pundak sang menantu hingga menoleh ke arahnya.
"Bapak, Mikha pak! kenapa ia tidak bangun-bangun!"
Tangis pria itu pecah melihat bapak mertuanya berada di sampingnya, Max memeluk Pak Ali menumpahkan segala perasaannya.
"Maafkan saya pak, saya suami yang gagal! saya tidak dapat menjaga Putri bapak dengan baik!"