
Dilla nampak terduduk dengan wajah murung di ruang keluarga, wanita itu merasa kecewa karena hasil yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Sayang, makan ya." Sapa Jerry menghampiri istrinya dengan membawa semangkuk sup di atas nampan.
Dilla nampak diam dan Jerry mulai nyuapi istrinya dengan perlahan.
"Sudah, aku mual!" Pekik Dilla menjauhkan wajahnya dari sendok yang berada di hadapannya.
"Tapi kamu baru makan sedikit, tadi dokter kan bilang kamu harus makan teratur, kalau tidak nanti asam lambung kamu kambuh lagi." Ucap Jerry dengan sabar.
"Asam lambung ya." Ucap Dilla lirih.
Dilla nampak menundukkan kepalanya, hingga membuat Jerry merasa ada yang tidak beres dengan istrinys.
Pria itu merangkum wajah istrinya lalu menatapnya lekat-lekat, "Kamu kenapa sayang? Gak biasanya kami seperti ini."
"A-ku pikir, aku sedang hamil ta-tapi ternyata hanya asam lambung." Ucap Dilla lirih, mendengar ucapan Istrinya, pria blonde bermata sendu itu menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
Ia memeluk tubuh istrinya dengan erat, dan mengecup kepala Dilla dengan lembut.
"Sabar ya, kalau sudah waktunya Tuhan akan memberikan kita keturunan." Ucap Jerry.
Dilla tampak mengadahkan wajahnya dan menatap kedua mata suaminya, "Tapi kita sudah menikah lebih dari setengah tahun namun aku belum kunjung hamil, aku takut kamu..."
"Aku apa? Mencari wanita lain begitu?" Tanya Jerry dan mengangkat sebelah alisnya.
Dilla nampak menunduk dan menganggukkan kepalanya.
"Hahhh... itu tidak akan pernah bisa terjadi ! hmmm, kenapa istriku yang bar-bar ini menjadi baperan sih!" Cebik Jerry, menggoda Dilla dan mencubit hidung istrinya.
"Daripada kamu pundung lebih baik ikut aku." Ajak Jerry dengan senyuman seringainya. Dilla tampak mengeryitkan dahinya kala mendengar ucapan suaminya, "Pundung? Kau tau darimana kosa kata itu bule? Pundung memiliki arti yang berbeda dalam KBBI dan bahasa Sunda." Tanya Dilla yang merasa dialognya mulai ngaco
Jerry tampak menyengir dan melirik ke atas, "Author kita, si Kentang yang ngajarin." Jawabnya yang berhasil membuat Dilla menggelengkan kepalanya.
"Dasar Kentang mesum, kau mengacaukan dialogku!" Protes Dilla dengan mata melotot sempurna.
(Maaf Maaf, Author cuma lagi pengen guyon hehehe maklum stress di protes gara-gara misahin Max dan Mikha, udah udah bubar! balik ke DIALOG! camera, rolling, Action!)
"Kau mau ajak aku kemana?"Ucap Dilla saat Jerry tiba-tiba mengangkat tubuh mungilnya.
Jerry tersenyum dan berbisik menggoda di telinga istrinya.
"Tentu saja berusaha, katanya kau ingin cepat punya bayi." Ucap pria blonde itu yang berhasil membuat kedua pipi Dilla merona menahan malu.
(Skip Yee... inget puasa!)
......................
Jhon nampak bergeming menatap seorang wanita yang tengah berbaring lemah di hadapannya, kondisi wanita yang sangat memprihatinkan dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuhnya.
"J-Jhon" Ucap wanita itu dengan sangat lemah dan mencoba tersenyum pada Jhon.
"Terima kasih k-kau sudah berusaha menjadi s-suami yang baik untukku, w-walaupun a-aku sadar kau tidak pernah mencintaiku." Ucap wanita itu kembali dengan wajah yang sudah terlihat pucat pasi, bahkan untuk berbicara pun seakan sulit namun ia tetap memaksakannya.
"A-Aku titip anak kita, sa-sayangi dia. Carilah wanita yang k-kau cintai untuk menjadi i-ibu sambung untuk putri kita. A-aku berharap ia mendapatkan i-ibu yang tulus menyayanginya, dan ja-jangam pe-pernah kau sia-siakan wanita itu jika kau sudah menemukannya."
"Emily, kau ini berbicara apa? kau pasti sembuh." Ucap Jhon menggenggam tangan wanita berambut pirang tersebut. Wanita itu tersenyum kembali dan mengusap tangan dan Jhon perlahan.
"A-aku g-gak kuat, A-Aku cinta kau Jhon." Ucapnya semakin lirih hingga tak lama ia merasakan sesak di dadanya dan kehilangan kesadarannya.
"EMILY!"
Jhon tersadar dengan nafas terengah-engah, sudah tiga hari lamanya ia selalu memimpikan saat-saat terakhir Emily sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Jhon meminum segelas air yang berada di atas nakas dan tampak memijat-mijat keningnya yang terasa berdenyut.
Pandangan Jhon beralih ke sebuah meja dan dinding yang di penuhi bingkai- bingkai foto.
Ia mengambil sebuah foto dan menatap penuh rasa bersalah.
"Maaf Emily, karena kebodohanku Putri kecil kita gagal mendapatkan seorang ibu yang baik dan tulus padanya." Ucap Jhon lirih.
"Padahal ia adalah wanita yang sangat baik, sama seperti dirimu dan aku sangat mencintainya. Tapi kau jangan khawatir, aku akan terus berusaha mencarinya dan menariknya kembali ke sisi kami." Ucap Jhon lembut, mengecup foto tersebut dan mengembalikannya menuju tempat semula.
Jhon berjalan menuju balkon rumahnya, disana ia melihat Maxim tengah melamun menatap langit malam.
"Max." Sapa Jhon menepuk pundak adiknya.
"Eh, kak." Ucap Max menoleh kearah kakaknya berada.
"Kau memikirkan istrimu?" Tanya Jhon, Max hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kita sama-sama berjuang, aku yakin sekali kalau Mikha pasti bersama Indah. Setidaknya sekarang kita bisa sedikit bernafas lega karena Rhine dan Jesson sudah tidak ada lagi." Ucap Jhon tersenyum.
"Kak, apakah aku sudah menjadi seorang pembunuh?" Tanya Max lirih kala ia mengingat, Rhine dan Jesson mati bunuh diri karena tidak tahan di siksa dan di tempatkan di penjara gelap yang begitu menjijikkan, dan itu semua karena keputusan Max yang memilihkan hukuman yang pantas untuk dua manusia tak berhati tersebut.
Jhon nampak tersenyum dan menepuk-nepuk bahu adik laki-lakinya, "Terkadang kita harus kejam untuk melindungi orang yang kita sayangi, jangan bodoh sepertiku. Sekarang fokuslah pada masa depanmu dan semangat mencari keberadaan istri serta anak-anakmu."
......................
Keesokan harinya tampak Jhon yang tengah meeting bersama partner bisnisnya yang berasal dari sebuah negara di Asia tenggara.
Seusai meeting yang berjalan cukup lama, kini mereka memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran high class.
"Saya senang sekali berbisnis dengan anda, anda terbilang masih muda namun sangat cerdas dan cekatan." Ucap pria paruh baya yang merupakan partner bisnis Jhon di bidang baru yang mulai ia geluti.
"Hahaha Anda terlalu memuji saya tuan, saya masih perlu belajar banyak tentang dunia pertambangan pada anda." Ucap Jhon dengan tawanya yang memperlihatkan kedua lesung pada pipinya.
"Jarang sekali ada pembisnis yang berani keluar dari zona nyamannya, dan Anda sudah menunjukan hasil terbaik. Sudah cerdas, cekatan, dan juga tampan.
Bagaimana kalau anda saya jodohkan dengan putri semata wayangku, saya akan merasa sangat senang memiliki menantu seperti anda." Ucap pria paruh baya tersebut, yang bernama Arjun Widandi dengan mata berbinar-binar.
Uhuk... Uhuk...
Jhon nampak tersedak dan segera meminum segelas air di hadapannya.
"Maaf tuan, saya..."
^^^bersambung...^^^
......................
Haiii semua, terima kasih ya yang udah mau vote Author, makasih Author biawak, Fafa sosis mayo, sama Ratu pundung.😀
Oh ya, pemenang tebak-tebakan kemarin jatuh kepada mbak Rasti dan mbak Harti Wati.
Namun karena sekarang Noveltoon gak bisa bagi-bagi koin secara bebas lagi, jadi aku cuma bisa kasih hadiah untuk sesama Author aja. 😞 (itu juga hadiah kentangan maklum Author masih kentang mentah belom jadi perkedel.)
Pokoknya terima kasih ya yang udah ikut berpartisipasi baik pembaca atau sesama Author, aku sayang kalian semua😘
...Terima kasih...