Oh My Mister

Oh My Mister
Ketakutan Max



Rika mengayuh sepedanya menuju sekolah, udara pagi yang segar menambah kebahagiaan pada gadis belia itu.


Kring...Kring...


"Tiwi, bareng yuk!"


Rika menghentikan laju sepedanya tepat di samping temannya yang berjalan kaki.


"wah...makasih ya Rik."


Tiwi segera naik ke jok belakang sepeda Rika, merekapun melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


Sesampainya di sekolah, mereka segera masuk ke dalam ruang kelas, terlihat beberapa sisiwi bergerombol menonton sesuatu. Tak jarang beberapa di antara mereka berteriak-teriak histeris yang membuat Rika geleng-geleng kepala.


"Ada apa sih? heboh amat." Tanya Rika kepada Tiwi, sambil menaruh tas di atas mejanya.


"Ah paling biasa, masalah idola mereka."


"Oh" Jawab Rika tidak peduli, Gadis belia itu sama persis seperti kakaknya yang tidak peduli dengan dunia hiburan.


Bugh!!!


Seorang siswi terjatuh tepat di samping Rika yang sedang duduk di kursinya, sepertinya siswi itu tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas.


Buku-Buku dan kertas-kertas yang di bawa siswi itu jatuh berhamburan, Rika segera membatu siswi itu untuk mengambil buku-bukunya yang sudah berhamburan di lantai.


"Makasih ya Rika." Ucap siswi tersebut.


Rika hanya tersenyum mengangguk dan lanjut membantu siswi itu hingga dia menemukan sebuah poster yang menggambarkan 3 sosok pria tampan.


Ya ...tepatnya 2 pria berparas Eropa dan seorang pria berparas oriental.


"Ini apa?" Tanya Rika.


"Poster."


"Ah ...iya aku tau ini poster, maksudnya ini foto siapa?" Tanya Rika seraya menunjuk-nunjuk salah satu sosok pria berwajah Eropa.


"Ya ampun Rika ...Masa kamu gak tau? ini The Prince, group vocal yang lagi booming itu! idola-idola kita."


Rika terkejut, ia tak percaya dengan apa yang di dengar dan di lihat olehnya.


ia kembali menatap erat-erat seseorang di foto poster itu, sosok yang tampak mirip dengan orang yang ia kenal.


"Kalau itu namanya Max, dia member idolaku!"


ujar siswi tersebut yang membuat mulut Rika menganga nyaris tak percaya.


***


Sehabis membersihkan diri, Mikha membuat secangkir teh hangat.


Ia kemudian berjalan menuju teras rumahnya dan menemukan Maxim yang terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Ini minum Tehnya!" Mikha meletakkan secangkir teh di sebuah meja yang berada di samping Max.


"Ehm ... jadi bagaimana keputusanmu?"


Tanya Mikha memulai pembicaraan, ia kemudian duduk pada sebuah kursi yang berada di sisi lain sebelah meja tersebut.


"Apakah harus?" Tanya Max dengan raut wajah tampak seperti seseorang yang minta di kasihani. Mikha yang melihatnya hanya bisa menahan tawa dan berupaya berekspresi sedingin mungkin.


"Ya! Kau itu sudah seiman denganku, sebagai laki-laki kau wajib melakukannya!"


Max menghela nafas, ia menopang dagunya menggunakan tangan kanannya, bibirnya nampak mengerucut menandakan ketidaksukaannya.


"Hei! Jangan bilang kau takut? Hah ...kau harusnya merasa malu dengan anak-anak yang berani disunat, walaupun usia mereka masih sangat kecil."


"Really ? Ta-Tapi itu nampak menyakitkan, membicarakannya saja membuat juniorku merasa sakit." Ucap Max lirih.


Max mengerutkan dahinya, wajahnya tampak lemas serta kedua tangannya tampak menutupi bagian sensitifnya.


"Pfttt ...Hahahaha hahahaha" Mikha tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Maxim.


Gadis itu sudah tak kuasa untuk menahan tawanya, Max terpaku melihat Mikha tertawa begitu lepas.


Untuk pertama kalinya, gadis kesayangannya itu kembali tertawa sejak kejadian buruk itu menimpa dirinya.


"Yah, tidak apa-apa aku terlihat konyol seperti ini, tidak masalah juga aku merasakan sakit.


yang penting kau bisa tertawa dan bahagia kembali." Max bergumam dalam hati, ia sangat menikmati memandang wajah gadisnya yang tertawa bahagia. Bagi pria itu, kebahagiaan gadis itu adalah segala-galanya untuknya.


***


Tak terasa senja mulai menghampiri, mentari perlahan tegelam di gantikan sinar Bintang dan rembulan.


Keluarga pak Ali baru saja usai melaksanakan sholat magrib.


saat para wanita di rumah itu menyiapkan makan malam, Pak Ali masih dengan sabar mengajarkan calon menantunya cara beribadah.


"Alhamdulillah kamu sudah mulai bisa, belajarlah lebih giat jika kamu ingin menjadi suami yang baik untuk Mikha." Ucap Pak Ali menepuk-nepuk punggung Max.


"Baik pak saya pasti akan berusaha keras." Ucap Max dengan wajah bangganya.


"Ngomong-ngomong besok pagi kamu ikut bapak ke klinik ya."


"Untuk apa pak?" Tanya Maxim bingung.


"Bersiaplah, besok pagi kamu akan Khitanan." Ujar pak Ali.


"Khitanan apa itu Pak?"


"Khitanan itu memotong sedikit kulit bagian kejantananmu nak, biasanya kita sebut sunatan dan itu wajib untuk seorang laki-laki muslim."


****JEDERRR****


Maxim bagai tersambar petir.


Tiba-tiba perutnya merasa mulas dan keringat dingin bercucuran dari tubuhnya, ingin menolak pun rasanya tidak bisa.


sepertinya ia hanya bisa pasrah berharap proses itu tidak semenyakitkan seperti apa yang ia pikirkan.


***


Seusai makan malam, Maxim terlihat sedang berbicara melalui telepon di halaman rumah dengan kakaknya.


suaranya mampir tak terdengar, nampaknya ia sedang membicarakan hal yang sensitif dan serius.


"Bagaimana infonya?" Ucap Max.


"Wanita itu hanya mempunyai harta berupa tanah dan kebun di sekitar desa itu, dan kabar baiknya ia tidak pernah menaruh hartanya di Bank manapun! semua uang, surat-suratnya ataupun perhiasan berada di rumahnya yang di jaga beberapa orang penjaga, aku meminta beberapa suruhanku untuk membeli habis seluruh tanah yang ia punya dan aku juga menyuruh seseorang untuk menawarkan investasi bodong kepadanya!


Tenang saja aku pastikan seluruh hartanya akan lenyap dalam semalam."


Jawab Jhon di sebrang teleponnya.


"Bagus, kita lebih mudah mengeksekusinya! kak tolong buat secantik mungkin, jangan sampai ulah kita tercium pihak manapun terlebih kepolisian ." Max menyeringai, sorot mata penuh dendamnya pun kembali terlihat.


"Tenanglah! hah ...kau ini jangan sekali-kali meragukan kemampuan kakakmu, Oh ya Max besok siang aku akan terbang kesana dengan Marrie."


"Marrie ikut?"


"iya doa memaksa ikut, tolong jemput kami di bandara ya."


"Baiklah."


Max menutup panggilan teleponnya, tiba-tiba punggung nya di tepuk dari belakang oleh seseorang.


"Mas, boleh aku bertanya?" Tiba-tiba Rika menghampiri Max karena rasa penasaran yang dari pagi ia simpan.


"Mas itu sebenarnya siapa?"


***



Hai-hai teman-teman


terima kasih ya yang susah membaca karyaku, aku tuh senang banget loh kali baca komen kalian yang mengomentari isi ceritanya 😍.


Buat yang promo sabar ya aku pasti mampir balik tapi butuh waktu soalnya Handphone busuk banget.


Udah di service tapi malah jadi mati-mati melulu jadi mesti sabar, mau ganti tapi dompet Author lagi sekarat hehehe😭 jadi curhat


Dukung Author terus yuk, dengan


Favorit ❤


Like👍


Koment💬


Rate⭐⭐⭐⭐⭐


Vote juga boleh kalau punya poin lebih hehehe


Mau promo? silahkan aku tidak melarang.


Terima kasih semuanya