
Tiba-tiba terdengar suara lantang dari seorang wanita. Suara yang begitu familiar bagi Maxim.
"Ya semua memang benar" Ucap wanita itu lantang.
Semua mata tertuju pada wanita itu terutama Maxim, tubuhnya terpaku melihat sang istri yang datang tiba-tiba ditemani oleh kedua adik serta sahabatnya.
Mikha berjalan mendekati suaminya, menatap erat-erat mata kekasih halalnya.
"Max, kita sudah berjanji selalu bersama dalam suka dan duka namun mengapa kau tidak mau membagi masalahmu padaku?"
"Maaf, aku tidak ingin kau banyak pikiran." Ucap Max lirih bahkan enggan menatap wajah istrinya.
"Teman-teman semuanya, memang benar apa yang di katakan Clara. Aku memang kotor, karena tepatnya sekitar sebulan sebelum kami menikah aku mengalami insiden p*merk*saan. Aku bahkan sempat depresi dan nyaris gila. Namun apakah seorang korban sepertiku tidak layak untuk bahagia? mengapa aku harus dikucilkan atas kejadian buruk yang tidak aku inginkan?"
Mikha menatap tajam satu persatu kamera yang berjajar di hadapannya, tidak ada kelemahan di raut wajah wanita itu. Ia begitu lantang membeberkan kisah kelamnya.
"Aku bahkan sempat menjauhi Maxim namun ia terus berusaha keras mendapatkan hatiku kembali, hingga aku tersadar dia begitu mencintaiku hingga mengorbankan segalanya untukku." Ucap Mikha menatap sendu wajah suaminya, entah mengapa perasaannya begitu menghangat mengingat seluruh pengorbanan suami tampannya.
"Lalu apakah Anda mengetahui bahwa Max seorang penyuka sesama? lalu apa benar janin yang ada dalam kandungan anda itu hasil dari insiden tersebut?"
Tanya salah seorang wartawan.
Mikha tersenyum, iya menggenggam tangan suaminya erat seraya menjawab pertanyaan wartawan tersebut,
"Aku baru belakangan ini mengetahui rahasia kelam suamiku, mungkin awalnya aku kecewa namun melihat kesungguhannya aku berpikir tidak ada salahnya memberikannya kesempatan kedua. Jika Tuhan saja mampu mengampuni dosa hambanya yang begitu besar, masa iya aku yang cuma manusia biasa ini tidak mau memaafkan kesalahan suamiku."
"Mengenai kehamilanku, janin ini adalah murni anak kami berdua. Hadiah dari Tuhan untuk Maxim yang telah berjuang keras untuk berubah.
Aku dan dia sama-sama punya catatan kelam namun apakah salah jika kami ingin menguburnya dalam-dalam, kami hanya ingin menjalani biduk rumah tangga dengan bahagia? aku sungguh mencintainya, apapun keadaan dirinya, Sekarang dan selamanya."
Sambung Mikha.
Maxim terperangah melihat ucapan istrinya, seketika ia memeluk Mikha dan mencium keningnya tanpa peduli banyak mata yang masih memandangnya.
"Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Maafkan aku yang selalu membuatmu berada dalam masalah."
Max menempelkan keningnya pada kening istrinya, cairan bening begitu saja lolos dari dua pasang mata milik suami istri tersebut.
"Baiklah sekarang semuanya sudah jelas, terima kasih atas perhatian dan antusias seluruh rekan-rekan media", Ucap David menutup konferensi pers tersebut.
"Sebentar Dav, aku ingin menyampaikan sesuatu."
Max menghela interupsi perkataan David, ia kembali mengambil alih pembicaraan.
"Aku dan istriku sudah mengatakan semuanya sejujur-jujurnya pada kalian, Aku harap tidak ada yang mem-bully dan berkomentar negatif lagi tentang istriku. Dan jika kalian kecewa pada diriku ini, maka demi kenyamanan semuanya aku menyatakan siap mundur dari The Prince bahkan dari dunia hiburan, Terima kasih."
Max menggenggam tangan istrinya lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Maafkan aku, aku sudah banyak menyusahkan kalian." Ucap Max tertunduk, pada kedua Sahabatnya dan juga David.
Mereka saling merangkul seolah menyemangati Max yang masih tampak terpuruk.
"Semangat! aku yakin para fansmu pasti tidak akan membiarkan ka mundur begitu saja." Ucap Jerry.
......................
Max dan Mikha segera kembali ke rumah sakit untuk mengemasi barang-barang milik istrinya, setelah dokter sekali lagi memeriksa kondisi Mikha akhirnya Mikha di perbolehkan untuk kembali ke rumah.
Kini mereka kembali ke kediaman Larry, di sana telah menunggu seluruh keluarganya Maxim dan keluarga Mikha. Dan tatapan Max terkunci pada sosok bapak mertuanya yang menatapnya dengan begitu tajam.
"Pak aku mohon maafkan aku, sumpah demi Tuhan aku sungguh mencintai Putri bapak. Aku sama sekali tidak ada niat buruk memilihnya."
"Aku benar-benar mencintai Mikha apa adanya, tidak ada maksud lain. Aku menyembunyikan semua ini karena takut bapak dan ibu gak menyetujui jika aku menikah dengan Mikha. Aku mohon maafkan aku, jangan pisahkan kami." Max terus mengiba pada bapak mertuanya yang tampak tak bergeming, hingga Pak Ali tampak berjongkok dan mengelus kepala menantunya.
"Ya wes Le, bapak sudah mengetahui semuanya dari ayahmu. Bangunlah Nak, bapak tidak akan memisahkanmu dengan Mikha."
Maxim terperangah mendengar jawaban mertuanya, adanya yang begitu sesak karena di penuhi ketakutan seakan tiba-tiba terasa lega. Ia begitu bersyukur dan mencium punggung tangan bapak mertuanya.
"Le, Bapak sangat menghargai dan mengapresiasi usaha kerasmu. Cuma satu hal yang bapak minta, jadilah imam yang baik untuk putri bapak terlebih sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah dan jangan pernah meninggalkan sholat." Ucap Pak Ali lembut.
"Terima kasih pak." Ucap Maxim penuh rasa syukur.
"Ya sudah kalian beristirahatlah, yang lalu biarlah berlalu dan tataplah masa depan kalian berdua. Jangan di pikiran lagi, karena di balik semua ini percayalah Gusti Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik untuk kalian berdua."
......................
Tak sampai waktu lama, berita tentang konferensi pers tersebut telah menjadi trending topik di jagat dunia hiburan terutama menjadi perbincangan hangat di dunia maya.
Max mematikan ponselnya, ia benar-benar ingin beristirahat dan menghabiskan sisa waktu di hari ini bersama sang istri.
"Terima kasih sayang." Ucap Max mencium kening istrinya.
Max berbaring di atas ranjang dengan Mikha yang menjadikan bahunya sebagai alas pengganti bantal.
Mereka saling berpelukan melepaskan segala kepenatan dan masalah yang terjadi, sesekali Max mengusap lembut perut istrinya yang sedikit tampak menonjol.
"Aku bahagia hidup bersamamu." Ucap Max menatap wajah istrinya yang tampak begitu dekat dengannya.
"Aku juga, aku sangat bersyukur di pertemukan denganmu." Mikha tersenyum dan menyentuh lembut wajah suaminya.
Kedua Netra Max dan Mikha terkunci, Max perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. Ciuman lembut tak dapat terelakan lagi, mereka saling berpungutan dan mel*mat satu sama lain seolah melepaskan da. melupakan beban hidup untuk sejenak.
Max merubah posisinya, ia menatap lekat-lekat wajah istrinya, membelainya lalu kembali mengecup kening, mata dan hidung kekasih halalnya. Hingga ia kembali mencium bibir merah istrinya.
Tangannya mulai menelusup masuk kedalam baju yang masih di kenakan istrinya, dan Mer*mas lembut p*yudar* milik istrinya hingga memelintir pucuknya dengan gemas.
Tok...Tok... Tok...
Pintu kamar mereka diketuk, dengan perasaan kesal dan berat hati Max berjalan kearah pintu tersebut dan membukanya, sedangkan Mikha terkekeh melihat suaminya yang merajuk.
"Kak makan dulu, sudah di tunggu semuanya." Ucap Marrie dengan wajah tanpa dosa.
"Hemm bawel, ganggu aja." Ucap Max berdengus kesal.
"Yeee biasa aja dong! kasihan kak Mikha kalau sampai telat makan, kalau kau mah bodo amat!" Marrie berlalu meninggalkan kakaknya yang masih kesal.
"Yuk makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi." Mikha berbisik dan menggigitnya lembut daun telinga suaminya.
Senyuman seketika mengembang pada wajah pria itu, Max segera menyusul istrinya yang berjalan mendahuluinya.
......................
Keesokan harinya kediaman Gerrard tampak di landa huru hara pasalnya begitu banyak karangan bunga dan nissan yang di peruntukan untuk Clara hingga memenuhi seluruh pekarangan rumahnya.
"Rip hati nurani Clara".
"Neraka menunggumu Clara".
"Rip Clara Rosella Gerrard".
Kata-kata hujatan terukir pada karangan bunga dan nissan tersebut, hingga sosial media Clara pun tak luput dari serangan para netizen dari berbagai negara.
......................