
Mikha nampak terkejut melihat sang suami membuka matanya, air matanya begitu saya lolos tak tertahankan. Berulangkali ia mengedipkan dan mengucek-ngucek matanya, memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah fatamorgana belaka.
"Max, Sayang kau sadar! Alhamdulillah ya Allah," pekiknya lalu segera memencet sebuah tombol di samping ranjang, yang di peruntukan untuk memanggil dokter.
Tak lama beberapa dokter dan perawat datang ke ruang ICU itu, Mikha nampak menyambutnya dengan air mata kebahagian yang tiada henti mengalir.
"Dok, suami saya siuman!"tutur Mikha kala para medis tersebut baru memasuki ruang ICU.
"Di mohon Nyonya menunggu di luar dulu ya, kami akan mengecek kondisi keseluruhan pasien," tutur seorang perawat dan di jawab anggukan kepala oleh Mikha.
Dengan cepat Mikha meraih ponsel di sakunya dan segera menghubungi seluruh keluarganya satu persatu, hingga setengah jam kemudian seluruh keluarganya telah berkumpul menunggu para medis yang belum selesai mengecek kondisi Max.
"Mama, apa papa sudah bangun?" tanya Shine memecah keheningan dan ketegangan di ruang tunggu, sementara Mikha tersenyum seraya mengelus kepala buah hatinya.
"Iya sayang, Shine berdoa supaya papa baik-baik saja ya," tutur Mikha dengan lembut.
Tak berselang lama pintu terbuka, seorang dokter muncul dan langsung di hujani oleh pertanyaan bertubi-tubi dari seluruh keluarga.
Dokter tersebut nampak menghela napasnya sejenak dan tersenyum, "Atas mukjizat Tuhan, Tuan Maxim Larry telah sadar tanpa kerusakan fungsi otak. Mungkin cara bicaranya saja yang masih perlu beradaptasi namun tidak lama dan...," dokter tersebut kembali menjeda dan menghela napasnya.
"Karena sempat mengalami patah tulang dan terlalu lama koma, maka Tuan Maxim mengalami kelumpuhan sementara. Namun keluarga jangan khawatir, kita dapat melakukan terapi untuk melatih otot-otot kaki Tuan Maxim kembali," sambungnya kembali yang membuat seluruh keluarga bernapas lega. Mata Mikha nampak berbinar-binar, ia tak sabar untuk bisa bertemu sang suami yang telah kembali kesadarannya.
"Dok, apakah kami bisa menjenguk Max?" tanyanya dengan antusias. Dokter tersebut mengalihkan pandangan dan tersenyum ke arah Mikha, "Boleh tapi setelah kami selesai memindahkannya ke ruang perawatan biasa dan jangan ramai-ramai ya, karena pasien masih beradaptasi dan harus membutuhkan waktu istirahat yang banyak untuk pemulihan," jawabnya kembali lalu dengan sopan ia berpamitan untuk kembali ke ruangannya.
......................
Setelah beberapa saat kini Max telah di pindahkan ke dalam ruang rawat biasa, pria itu nampak tersenyum kala melihat sosok istri, ibu, dan kedua buah hatinya di ambang pintu.
"Papa!" Si kembar nampak berlari dan memeluk Max yang masih terbaring lemah.
"Aku kangen papa, papa bobonya lama banget!" seru Sunny yang nampak mengerucutkan bibirnya.
Max nampak mengulas senyuman, karena suaranya masih begitu sulit ia keluarkan. Hingga pandangannya beralih pada sang istri yang terlihat lebih berisi dengan perut yang membesar.
"Ke-ke-napa kau menangis?"tanya Max dengan suara terbata-bata dan belum terdengar jelas, pria itu nampak mengulurkan tangannya dan mengusap lembut air mata yang membasahi pipi istrinya..
Mikha berhambur kedalam pelukan sang suami, tangisannya begitu pecah, mengeluarkan segala isi hatinya.
"Aku rindu padamu, Max. A-Aku takut, aku takut kamu pergi meninggalkanku! Tolong jangan begini lagi, aku sungguh takut, sayang," seru Mikha yang terus merancau mengeluarkan isi hatinya.
Nyonya Anna yang mengerti, segera memanggil Shine dan Sunny lalu mengajaknya keluar ruangan. Ia Ingin memberikan waktu privasi untuk Mikha dan Max berbicara empat mata.
"Huhuhu Max, kamu jahat! Kau membuatku khawatir setiap hari. Aku takut kau pergi," lirih Mikha yang terus menangis di pelukan sang suami.
Max mengusap kepala Istrinya dengan lembut dan mencoba berbicara kembali. "Berapa lama aku tidak sadar, Sayang?" tanyanya dengan nada suara yang belum begitu jelas.
"4 bulan lebih, Max. Aku bahagia kamu sadar," jawab Mikha lalu bangkit dan menatap lekat mata biru sang suami yang masih nampak sendu.
"Se-selama itukah? Maafkan aku," Max mencoba mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah sang istri, kini pandangannya beralih pada perut istrinya yang membesar dan mengelusnya perlahan.
Mikha yang tengah menangis haru kini mimik wajahnya berubah seketika dan nampak mengerucutkan bibirnya.
"Sembarangan, ini kan perbuatanmu Max. Dan kamu malah tidur di saat aku tengah mengandung anakmu lagi," cebik Mikha kembali.
"Ha-hamil?"tanya Max dan di jawab sebuah anggukan oleh istrinya.
Pria blonde itu berusaha merentangkan tangannya, guna membuka pelukan untuk istrinya.
"Maaf sayang, maaf," lirih Max ketika sang istri berada di pelukannya, pria itu merasa bersalah karena membiarkan Mikha berjuang seorang diri di masa awal kehamilannya.
......................
Mentari kian tenggelam memancarkan semburat jingga di langit kota London. Seorang pria nampak mengulas senyuman merekah kala melihat sosok gadis yang sedari tadi ia nanti kehadirannya.
"Aduh maaf aku telat, tadi pasien di IGD lumayan banyak," tutur Rika dengan napas tersengal-sengal.
Ryan nampak mengambil sapu tangan miliknya dan mengelap kening Rika yang berkeringat, membuat Rika terperangah dengan sikap manis seorang Ryan.
"Tunggu sebentar ya, aku sekali lagi baru selesai," tutur Ryan dan segera beranjak untuk kembali melakukan sesi pemotretan.
Awalnya tidak ada yg aneh, Rika pun nampak santai memainkan ponsel di tangannya. Hingga akhirnya Ryan harus berfoto dengan seorang model wanita dengan pose yang begitu mesra, entah mengapa ada rasa kesal di hati dokter muda berwajah manis itu.
"Dih ajimumpung banget deket-deket," gerutu Rika di dalam hati, gadis itu terus memandang dengan tatapan tidak suka, terlebih kala Ryan harus berpose seakan sedang berciuman dengan model wanita itu.
BRAK!
Rika menjatuhkan botol minuman yang berada di tangannya, suara yang di hasilkan cukup keras hingga membuat seluruh orang di studio menatap ke arahnya.
"Sorry," ucapnya dengan senyuman yang di paksakan. Ia lalu segera beranjak keluar studio guna mencari udara segar.
Rika keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa, hatinya begitu kesal hingga ia terus saja mengumpat, menuangkan segala rasa di batinnya.
"Emang gak bisa apa gak dekat-dekat, bikin risih. Lagi itu cewe natapnya gak bisa biasa aja ape! ish... dah lah!" rancau Rika terus menerus hingga tangannya di tarik oleh seseorang dari belakang.
"Kak Ryan, memangnya sudah selesai? Lain kali kalau kau minta aku kesini hanya untuk melihatmu berpose seperti itu, lebih baik tidak usah. Kau hanya membuat mataku ternoda saja! Bikin kesal," cebik Rika terus-menerus lengkap dengan wajah kesalnya.
Cup
Mata Rika membulat sempurna, bibirnya seketika membisu kala Ryan tiba-tiba mengecup bibir mungilnya, yang berarti telah merebut ciuman pertamanya. Ryan tersenyum dan berbisik di telinga gadis itu, "Apa kau cemburu?"
......................