
...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...
...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....
...Ingat Promo boleh spam jangan😉...
...Boleh dong mampir ke karya baru Author...
...Terima kasih...
......................
Perjalanan panjang dan melelahkan telah di lewati Jhon dan Indah, kini tepat pukul 8 malam pada akhirnya mereka sampai di sebuah hotel buah kerja samanya dengan perusahaan Wang di negara China.
"Selamat datang Tuan Jhon Larry" Sambut Tuan besar Wang dengan ramah.
"Ya, senang bertemu dengan Anda."
Jhon bernafas lega, beruntung yang menyambutnya buka Tuan muda Wang yang seakan selalu menjadi ancaman baginya.
Setelah makan malam bersama, mereka mempersilahkan Jhon untuk beristirahat.
Dua buah kamar dengan kualitas Wahid di persiapkan untuk Jhon dan Indah, pemandangan yang mendukung membuat tempat itu semakin menawan.
"Ya sudah kamu istirahat dulu ya, besok banyak pekerjaan menanti kita." Ucap Jhon di depan kamar Indah, pria itu mengecup lembut kening kekasihnya.
"Iya sayang, kamu juga."
"Kalau ada apa-apa ketuk aja pintu kamarku, atau mau bobo bareng aja? mumpung gak ada yang ganggu." Goda Jhon, yang berhasil membuat gadis itu tertunduk malu.
"Apa sih! ya sudah aku mau masuk dulu, bye!"
Indah segera melangkahkan kakinya memasuki kamarnya, pikiran gadis itu sudah melayang kemana-mana menimbulkan rona kemerahan di kedua pipinya.
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya, dengan senyuman yang masih bersimpul di bibirnya, Indah segera membuka pintu kamarnya mengira bahwa sang kekasih yang masih mengusik dirinya.
"Hai, lama tidak bertemu!" sapa seorang pria muda dengan dua buah buket bunga ukuran besar di tangannya.
"A-Agus!" Indah tergagap, matanya sibuk melirik sebuah kamar di hadapannya. Memastikan bahwa bahwa si empunya tidak mengetahui keberadaan Tuan muda Wang yang tengah menemuinya.
"Bunga spesial untuk wanita yang spesial seperti nona manis di hadapanku!" Ucap Tuan Muda Wang memberikan buket bunga tersebut kepada Indah.
Jantung Indah kian berdebar kencang, bukan karena sikap tuan Wang yang begitu romantis terhadap dirinya namun karena takut ketahuan Jhon yang memiliki rasa cemburu yang tinggi kepada pria di hadapannya.
"Te-terima kasih, tapi ini sudah larut." Ucap Indah yang berusaha mengusir Tuan Wang secara halus.
"Baiklah, selamat istirahat cantik! besok akan ku ajak kau berkeliling, di sini ada taman bunga yang sangat Indah! "
Indah segera masuk kedalam kamarnya, jantungnya seakan sudah mau loncat dari tempatnya. Ia terus membayangkan jika tadi Jhon melihat apa yang akan di lakukan oleh kekasihnya itu.
"Aduh ini bunga mesti gue apain? berabe kalo Jhon sampe tau!" Ucapnya yang terus memandangi dua buah buket bunga ukuran besar yang hampir menutupi tubuh mungilnya.
"Ah...Agus selalu deh bikin gue pusing !"
......................
Di sebuah kota di Jerman, Jerry tampak tersenyum menatap pemandangan lewat jendela rumahnya.
3 buah tiket pesawat bertuliskan tujuan ke Indonesia telah berada di tangannya.
Restu orang tuanyapun telah di kantongi olehnya, tinggal memikirkan bagaimana cara mengambil hati sang calon mertua di negeri yang jauh di sana.
"Apapun untukmu, wanita aneh! aku rasa otakku sudah bermasalah karena kau!" Gumam pria itu, yang nampak senyum-senyum sendiri.
Suara ponselnya berdering, ia menerima sebuah pesan singkat dari David yang telah ia tunggu-tunggu.
📩 From: Manager Galak!
Jalan Semeru Raya RT.xx No.1A Jakarta Barat.
📨 To : Manager Galak!
Oke, Thanks Dav! jangan sampai ada yang tau aku akan melamarnya. Aku mau buat kejutan untuk mereka semua 😘 kau memang manager terbaik di dunia! Love you 😘😘😘
📩From: Manager Galak!
cih! memujiku saat kau butuh! dasar anak Didik laknat!😒
"Mutter, Vater ! Ayo kita berangkat sekarang!" Ucap Jerry semangat dengan wajah yang berbinar-binar.
......................
Di kediaman besar Larry Mikha tampak mempacking pakaiannya dan suaminya ke sebuah koper yang cukup besar, rasanya kepulangannya ke Indonesia membuat suasana hatinya membaik.
"Sayang, lihat aku? Sudah tampan belum?" Goda Maxim yang terus-menerus mendekatkan diri kepada istrinya.
"Cepat lah, kita harus kontrol kondisi dedek dulu kan ke dokter!"
Maxim tampak tersenyum dan menghampiri istrinya, pria itu berbaring di pangkuan sang istri dan membelai lembut perutnya Mikha yang belum tampak menonjol dan sesekali mengecupnya.
"Uh...dedek kayanya gak sabar ya mau ketemu nenek dan kakek di Jogja, di jalan jangan nakal ya sayang, kita naik kapal tebang! ngeng...ngeng...."
Ucap Max manja, sambil melayang-layangkan telapak tangannya memperagakan sebuah pesawat terbang.
Sikap Max yang semakin manis sedikit membuat hati Mikha mencair, wanita itu tersenyum dan membelai lembut rambut coklat milik sang suami.
Setelah kemanjaan yang cukup memakan waktu yang lama itu, Pasangan tersebut berpamitan dengan seluruh keluarga Larry, pasalnya setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit mereka akan langsung terbang ke Indonesia dengan Jet pribadi yang telah di persiapkan Tuan Larry.
"Hati-hati sayang!" Ucap Nyonya Anna memeluk menantunya.
"Hai, ponakan aunty! jangan nakal ya.." ujar Marrie mengelus perut kakak iparnya.
......................
Mikha dan Max kemudian menuju sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak terbaik di kota, sebelum keberangkatannya Nyonya Anna memang menyarankan untuk memeriksa kondisi kandungan Mikha terlebih dahulu.
"Kondisi bayinya sehat, boleh kok melakukan perjalanan jauh."
Ucap seorang Dokter bernama Grace, sambil menggerakan sebuah alat usg di perut Mikha yang telah di olesi gel.
"Itu kenapa kaya ada 2 gelembung dok?" Tanya Maxim yang fokus menatap sebuah monitor di hadapannya.
Dokter itu tersenyum mendengar perkataan Maxim.
"Janinnya ada 2 tuan."
"Dua?"
"Iya, janinnya kembar. Nyonya mengandung bayi kembar." ujar Dokter tersebut.
Max terperanjat dan langsung menghujami wajah istrinya dengan kecupan-kecupan lembut.
"Terima kasih ya Tuhan, Terima kasih sayangku!"
Pria itu keluar dari ruangan dokter dengan menggendong tubuh istriny ala bridal style, semua tatapan dari orang-orang yang berada di sana nampaknya tidak membuatnya malu sedikitpun.
"Max, turunkan! malu di liatin!" Ucap Mikha yang nampak membenamkan wajahnya di dada Maxim.
"Biarkan saja, aku tidak peduli!" Ucap Max mengecup kepala Mikha.
Max dan Mikha segera pergi meninggalkan rumah sakit untuk memulai perjalannya kembali menuju negara kelahiran sang Istri. Maxim sangat berharap semuanya bisa menjadi awal yang baik untuk kehidupan rumah tangganya.
......................