
Matahari telah beranjak dari peraduannya, rembulan bersinar menggantikan cahaya mentari yang telah tenggelam di ufuk barat. Namun seorang wanita masih terlihat asik berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, mengecek dokumen satu persatu dan membubuhkan tanda tangan miliknya.
Kring Kring
Ponsel milik Indah berdering dan menampilkan nama "Papih" pada layar benda pipih ajaib tersebut, segera ia menggeser layarnya menuju tanda berwarna hijau.
"Hallo Pih?" ucap Indah memulai pembicaraan.
"Nak uhuk...uhuk... Bisakah besok kau menggantikan papih uhuk...uhuk, Untuk meeting dengan partner bisnis kita di perusahaan di Jakarta uhuk...uhuk," ucap Pak Arjun yang nampak terbatuk-batuk.
"Loh papih kenapa? Papih sakit? Indah pulang ke Banjarmasin ya?" seru Indah yang terlihat khawatir terlebih mendengar suara sang ayah yang begitu lemas dengan di sertai batuk secara terus-menerus.
"Papih cuma flu aja sayang, kamu gak usah kesini. Besok dan lusa kamu sambut saja partner bisnis kita di Jakarta, karena sangat penting dan tidak bisa di batalkan uhuk...uhuk," ujar pak Arjun yang terus menjalani Acting sakitnya dengan totalitas.
"Ya sudah Pih, pulang kerja Indah lebih baik langsung berangkat kesana. Karena besok pagi Indah harus mengecek kondisi perusahaan disana dulu agar gak malu-maluin papih." ucap Indah kembali.
"Ya sudah, terima kasih nak. Papih mau istirahat dulu uhuk...uhuk..." Ucap Pak Arjun mengakhiri panggilan teleponnya.
Pria tua itu terlihat saling berpandangan dengan sang istri yang berada di hadapannya dan tertawa kecil, karena merasa telah berhasil mengelabui sang putri yang memang tidak pernah mau bertemu dengan partner bisnis sejak ia bekerja di perusahaan ayahnya.
Sedangkan Indah segera merapihkan pekerjaannya dan memanggil Novi dengan telepon kantor yang berada di hadapannya.
Tok...Tok...
"Masuk," seru Indah.
Masuklah sosok asisten pribadinya yang terlihat anggun namun memiliki suara tertawa yang begitu mengerikan, "Iya Nona, ada apa?"Tanya Novi setelah masuk ke ruangan Indah.
"Hubungi pilot kita, kita akan berangkat ke Jakarta sekarang!" titah Indah.
......................
Di rumah sakit Dilla tampak mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya terasa berdenyut dengan perut yang sedikit mual.
"Sayang, akhirnya kau siuman," ucap Jerry dengan raut wajah khawatir, tidak berselang lama seorang dokter datang menghampiri Jerry.
"Ibu Dilla," ucap Dokter tersebut dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya? Mengapa istri saya tiba-tiba pingsan?" tanya Jerry.
Dokter tersebut menyerahkan selembar surat kepada Jerry dan berkata, "Selamat ya, Istri anda tengah mengandung." Dokter tersebut nampak tersenyum merekah seolah mengerti perasaan pasangan muda tersebut.
Jerry nampak membulatkan matanya, kedua pasang mata pasangan ini nampak berkaca-kaca dan saling menatap satu sama laintnya.
"Alhamdulillah, penantian kita selama 4 tahun gak sia-sia sayang." ucap Jerry memeluk dan mengecup kening istrinya.
Max dan David yang juga berada disana nampak tersenyum dan memberikan ucapan selamat kepada Jerry dan Dilla.
Sedangkan di sisi lain rumah sakit, Rika yang baru saja lepas jam tugas segera beranjak untuk membersihkan diri dan menuju salah satu bangsal tempat Ryan tengah di rawat.
Cklek
Pintu di buka perlahan nampak Rika mengintip dikit demi sedikit, memastikan bahwa kakak iparnya tidak berada disana.
"Masuk saja, tidak ada Max," ucap Ryan yang tengah berbaring di atas ranjang rawat.
Rika perlahan masuk dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan VVIP tersebut.
Tidak lama berselang David masuk dan mengabarkan bahwa Max, Jerry dan Dilla telah kembali ke Hotel sebelum besok terbang menuju Jakarta sementara ia yang akan menemani Ryan di rumah sakit.
"Rika, Sekarang kamu dan Mikha tinggal dimana?" tanya Ryan memulai pembicaraan, sedangkan Rika nampak menunduk dengan kedua telapak tangan saling meremas karena gugup.
"A-Aku tinggal di perumahan sekitar sini," jawabnya lirih.
"Bagaimana kabar Mikha? Apa ia sudah menikah..."
Belum selesai Ryan berbicara namun seketika di sela oleh Rika.
"Tidak! Mba masih mencintai mas Maxim!" Rika nampak memekik dengan mata membulat sempurna.
David dan Ryan nampak menatap tajam Rika hingga membuat gadis manis itu merasa tersudut dan menjelaskan semua yang telah terjadi selama 4 tahun belakangan.
"Aku mohon jangan langsung memberitahu Mas Max, kita buat pertemuan mereka seperti natural karena aku tidak enak dengan kak Indah. Bagaimanapun ka Indah sudah membantu banyak bahkan menyekolahkan aku dan yang kalian tau sendiri, ka Indah sangat tidak ingin keberadaannya di ketahui ka Jhon," ucap Rika memohon, David dan Ryan nampak berpikir cara agar mempertemukan Max dan Mikha secara natural.
"Emmmm...Ka, aku punya ide!" ujar Rika kembali dan memberitahu rencananya.
......................
Keesokan harinya, matahari belum nampak dari peraduannya namun Mikha sudah bersiap mengantar Shine menuju sekolahnya untuk berkumpul sebelum berangkat menuju Jakarta.
"Shine, Ingat jangan nakal! Nurut sama ibu guru ya!" Mikha menasehati putranya sambil mencium kedua pipi tembam milik Shine.
"Iya ma!" jawab Shine dengan semangat.
"Mama kok Shine aja yang jalan-jalan, aku gak ikut?" protes Sunny yang nampak mengerucutkan bibirnya.
Mikha menghela nafas dan membelai lembut rambut panjang putrinya.
"Sayang, Shine cuma lomba bukan jalan-jalan. Besok juga Shine sudah pulang, Kita doakan agar Shine menang nanti kita jalan-jalan sama-sama!" ucap Mikha tersenyum hingga membuat kedua netra putri kecilnya berbinar-binar.
"Sungguh? Sama ante Indah, ante Rika, Mbah kung dan Mbah uti ya ma!" Sunny nampak bersemangat, hingga tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tengah berjalan mendekati mereka.
"Paman gak di ajak nih?" Ucap Dimas tiba-tiba.
"Dim, maaf ya jadi ngerepotin subuh-subuh begini. Habis aku bingung mau naik apa, Indah dan Rika gak pulang jadi gak ada yang ngantar." ucap Mikha segan.
"Ah kaya sama siapa aja, yuk berangkat!" jawab Dimas yang segera menggendong Sunny sedangkan Shine digendong oleh ibundanya.
Sesampainya di sekolah, Mikha memeluk erat Shine. Kedua matanya nampak berkaca-kaca melepas sang putra yang masih balita walau hanya 1 hari.
"Mama akan doakan supaya Shine menang, jangan nakal disana!" Mikha nampsk mencium kembali kedua pipi buah hatinya.
"Mama tenang aja, kan ada papa yang jagain Shine," ucap bocah laki-laki tersebut dengan sebuah foto yang terus berada di dekapanya.
Mendengar ucapannya, Dimas nampak mengernyitkan keningnya sedangkan seorang guru wanita yang berada di samping Shine hanya mengulas senyuman dan membelai rambut coklat milik Shine.
......................
Jarum jam terus berputar, Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Jhon terlihat tengah sibuk menandatangani beberapa berkas bersama koleganya untuk meresmikan sebuah hotel baru di Jakarta.
"Senang bekerja sama dengan anda Mr.Larry," ucap seorang pria kewarganegaraan Indonesia berwajah oriental dan menjabat tangan Jhon.
Setelah selesai ia segera menuju sebuah perusahaan pertambangan yang berada di Ibukota.
Pria blonde itu memasuki sebuah gedung pencakar langit di pusat bisnis di pusat kota Jakarta, tentu saja di temani Frans yang setia berada di sampingnya.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang membuat tatapannya terkunci nyaris tidak percaya.
Jhon nampak mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memastikan semua bukan hanya sekedar fatamorgana belaka.
"Selamat Pagi, perkenalkan nams saya Indah Apriliani yang akan memimpin jalannya meeting hari ini. Saya akan menggantikan ayah saya, Arjun Widandi Kusumo yang sekarang tengah dalam kondisi kurang sehat." Indah berbicara lantang dan nampak percaya diri.
Namun setelah ia memperhatikan satu per satu kolega yang berada dihadapannya, pandangannya terpaku pada satu sosok yang tengah menatap tajam dirinya, hingga pandangan mereka saling bertemu.
"M-mari kita mulai!" ucapnya kembali setelah mengalihkan pandangan.
Jantungnya berdetak dengan cepat namun ia masih berusaha untuk profesional, dan berniat segera pergi setelah meeting usai.
......................
🎶Westlife - I Have a Dream🎶
I have a dream
A song to sing
To help me cope
With anything
If you see the wonder (wonder)
Of a fairy tale
You can take the future
Even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream
I have a dream, oh yeah
I have a dream (have a dream)
A fantasy (fantasy)
To help me through (help me through)
Reality (reality)
And my destination (destination)
Makes it worth the while
Pushing through the darkness (through the darkness, baby)
Still another mile
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angel
When I know the time is right for me
I'll cross the stream (cross the stream)
I have a dream🎶
Suara merdu dari Shine, menggema memukau seluruh juri yang berada di depan panggung.
Seorang anak laki-laki yang baru berusia 4 tahun, sudah sangat pintar bernyanyi dengan gerakan tubuh sesuai dengan lantunan musik.
Terlihat Max dan para sahabatnya yang baru memasuki area event. Seketika pandangannya terpaku pada bocah cilik blasteran yang tengah bersenandung tersebut.
"Selamat datang Tuan, wah saya tidak menyangka bahwa Anda akan hadir secara langsung," sapa seorang penanggung jawab acara dan hanya di balas sebuah senyuman oleh Max.
Entah mengapa, perhatian Max sepenuhnya masih terfokus pada anak itu terlebih pada jam tangan limited edition yang ia kenakan.
Shine menyudahi nyanyiannya dan di sambut tepuk tangan yang meriah. Anak itu tersenyum merekah hingga menampilkan dua lesung di pipinya.
Hingga akhirnya acarapun berakhir, kini saatnya membacakan pemenang hasil lomba.
Seorang MC mulai menyebut nama satu per satu dari mulai juara harapan 3, 2,dan 1 hingga pemenang juara ke 3 dan 2.
"Baiklah, untuk pemenang juara pertama yang berhak mendapatkan beasiswa di sekolah musik symphony adalah......" Sang MC mulai berbicara dan menjedanya sesaat, hingga membuat suasana menegang seketika.
"Sunshine Ananda Larry dari Taman kanak-kanak Kasih Bunda!"pekik MC tersebut.
Deg!!!
Jantung Max seketika tercekat, ia mengingat semua perkataan Mikha kala dirinya baru menikahi wanita itu.
..."Kalau anak kita laki-laki aku mau memberi nama dia Sunshine Ananda Larry, jika perempuan Sunny adinda Larry! karena mereka bagaikan sinar mentari yang cerah bagi kehidupan pernikahan kita." (Bab 43: Rahasia kecil)...
Kalimat itu terus menerus terngiang-ngiang di kepala Max, Hingga tiba-tiba langkah kakinya membawanya begitu saja menaiki atas panggung.
Max berlutut di hadapan bocah kecil itu dan perlahan menyentuh Wajah Shine dengan mata yang berkaca-kaca.
"Papa?" Shine berbicara lirih.
Kalimat itu begitu saja terlontar dari bibir mungilnya, Shine tampak mengambil foto pada saku celananya dan seolah tengah menyamakan wajah Max di foto dan dengan yang kini berada di hadapannya.
"Papa!" Shine memekik dan seketika langsung memeluk erat Max, tangisanya begitu saja tumpah begitu pula dengan Max yang memeluk erat buah hatinya.
"Papa datang! Papa jangan pergi lagi," ucapnya kembali di sela-sela tangisannya.
"Maaf sayang, papa terlalu lama menemukan kalian," jawab Max dengan suara parau, Max menatap lekat-lekat wajah buah hatinya dan kembali memeluknya.
"Pa, papa akan pulang bersama Shine kan? Papa gak akan pergi lagi kan?" Shine menatap lekat wajah sang ayah dengan sorot mata yang tersirat seribu harapan.
"Iya sayang, papa berjanji!" jawab Max, yang kembali memeluk putra kecilnya.
...****************...