Oh My Mister

Oh My Mister
Tragedi



...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...


...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......


...Agar Author Kentang ini bahagia...


...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini😁...


Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya. Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita.


...Terima kasih❤❤❤...


...🌷🌷🌷...



Pagi itu Mikha nampak terburu-buru untuk membeli selai coklat kesukaan suaminya, ia pergi ke sebuah Minimarket yang berada di lantai dasar bangunan apartemen mewah yang ia huni.


Setelah urusannya selesai wanita itu segera beranjak untuk kembali ke unit huniannya.


Saat menuju lift, ia menemukan sebuah dompet yang terjatuh dari seorang pria yang berjalan di hadapannya.


"Tuan! Permisi Tuan! Hei tuan, dompetmu terjatuh!" Pekik Mikha mengejar pria tersebut yang nampak tak mendengar panggilannya.


"Tu-tu-tuan i-ini dompetmu terjatuh!"


Mikha menepuk pundak pria tersebut dengan nafas yang terengah-engah.


Pria itu segera menoleh dan nampak terkejut.


"Oh iya ini dompet milik saya, maaf Nona tadi saya tidak mendengar." Ucap pria tersebut sambil melepaskan earphone yang terpasang di telinganya.


"Iya tidak apa-apa, Kalau begitu saya mohon permisi dulu." Ucap Mikha membungkukkan sedikit badannya, dan langsung pergi.


"Tunggu nona, siapa namamu?" Pekik pria tersebut.


"Mikha! namaku Mikha!" Teriak Mikha dari jarak yang sudah lumayan jauh dari pria itu.


"Terima kasih nona Mikha, perkenalkan namaku Jesson! senang bertemu denganmu." Ucap pria itu dengan senyum menyeringai.


...****************...


Setelah sarapan bersama, Mikha dan Max segera menuju lokasi shooting music video single 'The Prince' terbaru, di lokasi yang bertemakan indoor sudah dipenuhi beberapa crew dan bahkan Ryan dan Jerry sudah berada terlebih dahulu di sana.


"Max sudah datang! ayo segera ganti kostum dan make up!" Ujar seorang kepala MUA yang di tugaskan merias para personel The Prince.


"Loh Jessy!" Ucap Mikha terkejut.


"Nona Mikha, kau di sini juga!"


Ujar Jessy memeluk Mikha yang berada di hadapannya.


"loh...kalian saling kenal?" Tanya Max bingung melihat dua wanita yang terlihat akrab tersebut.


"Kamu gimana sih, kan aku kemarin bilang mau nemenin kenalan aku yang namanya Jessy ke Mall tapi kamu larang! dan ini orangnya." Ujar Mikha sedikit kesal.


Max bernafas lega, ternyata dugaan ia tentang nama 'Jess' kenalan istrinya tak seperti dugaannya.


Mereka saling bercengkrama tanpa sadar ada sepasang mata yang menatap tajam.


Mikha kembali menunggu sang suami yang sedang di make up tipis dan ditata rambutnya. Pikirannya melayang kemana-mana memikirkan hal yang di sembunyikan Maxim darinya.


"Sayang kok ngelamun?" ujar Max yang sudah ada di hadapan sang istri.


"E-eh kamu sudah selesai Max?"


"Mikirin apa sih? sampai suami datang di cuekin." Ucap Max mencubit kedua pipi milik istrinya.


"Mikirin kamu lah!"


Jawab Mikha yang membuat Maxim mengerutkan dahinya.


"Max! 10 menit lagi ya, Siap-siap!" pekik David yang masuk sebentar ke dalam ruang Make up, dan kembali mengatur acara lagi.


"Yuk ke depan !" Ucap Mikha menarik tangan. suaminya namun ditahan oleh Maxim.


Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri dan segera mencium bibir Mikha dengan hangat.


Di balik adegan suami istri yang begitu romantis, di balik sebuah pintu terdapat sosok pria yang memandangi tingkah laku pasangan itu dengan tatapan penuh kebencian.


Tangannya mengepal erat dan giginya saling bergesekan menahan gejolak emosi di dalam dadanya.



"3, 2, 1, Action !"


Sang sutradara mulai memberi aba-aba, di lanjutkan dentuman musik dan kemunculan personel The Prince dengan menunjukkan kemampuan bernyanyi dan koreografi-nya.


Pemilihan banyak lampu warna warni menjadikan estetika tersendiri begitu serasi dengan nada yang di keluarkan.


Mikha begitu terpaku melihat kemampuan Maxim yang semakin lama semakin begitu memukau di matanya.


Sosok pria romantis, lembut, dan hangat serta di padu dengan wajah tampan, dan suara merdu.


Rasanya sangat munafik jika kaum hawa tidak tergila-gila padanya.


"Cut! good job!" Titah sang sutradara mengakhiri sesi rekamannya.


Suara tepuk tangan begitu ramai, mereka begitu kagum dengan performa ketiga pria tampan itu.


"Awas nona!" Pekik Jessy yang berteriak histeris, melihat salah satu lampu sorot yang tiba-tiba rubuh menghantam tubuh Mikha yang tepat berada di bawahnya.


"Mikha!!!" Jerit Max histeris dan segera merengkuh tubuh istrinya yang tergeletak bersimbah darah.


Suasana di ruang itu seketika berubah, Max segera menggotong tubuh istrinya dan membawanya sendiri tanpa menunggu ambulance.


Jerry, Ryan dan David tak kalah khawatir, mereka segera menyusul Max karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, bagaimanapun pria itu mengendarai mobil sendiri dengan perasaan yang kalut .


"Hahahaha Maxim, sudah ku peringati jangan main-main denganku! aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangiku!" Ucap seorang Pria yang nampak tersenyum puas menyaksikan huru hara yang terjadi.


...****************...


Maxim terduduk lesu di lantai rumah sakit, penampilannya kini berubah sangat kacau, pakaian, tangan serta wajahnya penuh dengan noda darah yang berasal dari luka pada kepala sang istri.


Air mata pria itu terjatuh kala takut terjadi hal yang buruk pada istrinya.


"Max bagaimana kondisi Mikha! Jawab! Max!" Pekik Ryan gusar dengan suara yang parau, ia terus mengguncang-guncangkan tubuh Sahabatnya.


Max hanya menunjuk ke sebuah ruangan di hadapannya, ruangan yang terdapat sebuah lampu menyala di atas pintu yang menandakan sedang berlangsung aktivitas operasi di dalamnya.


Tak lama Marrie, Jhon, Indah dan Dilla datang bersamaan di susul Tuan Andrew dan Nyonya Anna.


Raut wajah khawatir jelas tergambar pada semua orang yang berada di sana, tidak kecuali Nyonya Anna.


Wanita tua itu sempat pingsan saat melihat Maxim yang penuh dengan noda darah, ia tidak bisa membayangkan bagaimana parahnya kondisi menantu kesayangannya.


"Jhon, sejujurnya aku merasa ada yang janggal. Jelas-jelas aku sudah memastikan kondisi keamanan ditempat itu." Ucap David pada Jhon yang duduk di sampingnya.


"Apa kau sudah mengecek cctv?"


"Sudah tapi tidak ada yang mencurigakan! aku rasa kejadian ini telah di rencanakan matang-matang!"


"Baiklah, berani sekali ia bermain api dengan anggota keluargaku."


Ujar Jhon geram, ia tidak tega melihat adik laki-lakinya begitu terpukul.


Semua sikap Maxim hari itu mengingatkannya akan kejadian 2 tahun lalu, saat ia harus menerima kenyataan pahit bahwa istrinya harus berpulang kepada sang maha pencipta.


Jhon tahu betul rasa sakitnya yang kini di rasakan Maxim.


"Terus berdoalah Max!" Ucap Jhon mencoba menyemangati adiknya.


Berjam-jam mereka menunggu lalu tiba-tiba lampu tanda pada ruang operasi padam, menandakan berakhirnya kegiatan operasi panjang dalam ruangan itu.


"Suami Nyonya Larry!"


Ucap seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan wajah letih, membuat mata seluruh orang yang berada di sana tertuju padanya.


Max segera beranjak dari lamunannya dan segera menghampiri dokter tersebut guna mengetahui kondisi istrinya.


...****************...