
...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...
...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....
...Ingat Promo boleh spam jangan😉...
...Terima kasih...
......................
Jhon Marcello Larry adalah putra pertama dari Andrew Larry, yang merupakan pembisnis kelas kakap dengan jumlah kekayaan yang tak terukur. Ia mengikuti rekam jejak sang ayah berkecimpung di dunia bisnis dalam lingkup kuliner dan pariwisata.
Sejak Sekolah menengah atas ia bersahabat karib dengan Rhine dan David William, seorang putra ketiga dari klan mafia terkenal di Inggris.
Di tangan Jhon, ia selalu memberikan suntikan dana segar untuk klan mafia tersebut walaupun ia tidak berniat terjun langsung ke dalam dunia hitam itu.
Kini Jhon berusia 36 tahun dan ia merupakan orang tua tunggal dari Bella, putri pertamanya yang berusia 2 tahun buah dari pernikahannya dengan mendiang istrinya.
Jhon adalah pria yang setia, dan sangat mencintai keluarganya. Namun di balik sifat hangatnya padanya orang-orang terkasihnya, Jhon merupakan pria agresif, berdarah dingin, dan tempramental.
Wajahnya memang terbilang mirip dengan sang adik, Maxim Andreas Larry.
Namun sifat mereka jelas bagai langit dan bumi, Maxim adalah pria yang begitu ekspresif, ceria, lembut, dan mampu menahan segala gejolak hasratnya. Walaupun secara garis besar mereka sama-sama setia dan penyayang.
Mungkin inilah yang di sebut serupa tapi tak sama atau dua sisi mata koin.
......................
Mentari semakin beranjak dari peraduannya, sinarnya yang tajam kian menusuk mengusik Indah dari tidur lelapnya.
Gadis itu mengerjapkan matanya, tubuhnya terasa begitu lelah dan kaku.
"Eh..!"
Indah terperanjat kala mendapati tubuh polosnya yang hanya tertutup sebuah selimut tebal, sedangkan bagian kewanitaannya terasa perih dan sakit.
Gadis Itu menoleh ke sampingnya, ia mendapati Jhon yang tengah terbaring tertidur lelap dengan tubuh polos dan di tutupi selimut yang sama dengannya.
Indah membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya, kala ia mengingat betul kejadian semalam bersama kekasihnya.
Matanya mulai berkaca-kaca, air mata lolos begitu saja dari kedua netranya.
"Mih, Pih maafin Indah. Indah udah gagal menjaga kesucian Indah." Gumam gadis itu dalam hati, ia sungguh merasa bersalah kepada orang tua dan juga sahabatnya.
Jhon membuka matanya dan mendapati kekasihnya menangis tersedu-sedu, ia segera bangkit dan memeluk erat gadis yang telah ia renggut kesuciannya.
"Maafkan aku sayang." Ucap Jhon mengecup kepala Indah yang kini berada di pelukannya.
"J-jhon jangan tinggalkan aku, A-Aku mohon" Ucap Indah begitu lirih.
"Iya sayang, aku berjanji. Sabar ya sayang, setelah permasalahan Maxim dan pekerjaan selesai aku akan langsung melamarmu."
"T-tapi kalau aku hamil bagaimana?"
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya padamu dan anak kita, apa yang kau khawatirkan."
"B-bukan begitu Jhon, orang tuaku pasti sangat marah jika aku hamil di luar nikah." Ucap Indah lirih, gadis itu menundukan pandangannya.
"Serahkan semua padaku, kamu gak perlu mengkhawatirkan apapun! lihat aku Sayang, apa kau melihat kebohongan dan keraguan di mataku?"
Jhon merangkum seluruh wajahnya kekasihnya dan menatap matanya dalam-dalam.
Indah tanpak tersenyum, ia memeluk erat Jhon dan membenamkan kepalanya pada dada pria itu. Beberapa saat mereka seperti itu, Jhon mencoba untuk menenangkan hati kekasihnya.
"Oh ya Honey, ayo kita siap-siap, kita harus segera ke China." Ucap Indah segera berniat beranjak untuk bersiap membersihkan diri namun tangan gadis itu di tahan oleh Jhon.
"Aku malas, nanti kita buat alasan saja."
"Loh, kan penting!" Indah nampak mengerutkan keningnya.
"Tapi aku masih ingin seperti ini, sayang. Kau sungguh membuatku candu dan begitu menggoda." Bisik Jhon ke telinga Indah hingga gadis itu nampak kegelian.
Lagi-Lagi Jhon menggoda Indah, pria itu kembali bercumbu dengan kekasihnya hingga siang hari, lalu mereka kembali ke China. Oh Jhon, kamu sangat keterlaluan.
......................
"Jer, ayo makan dulu"
"emmmm he um" jawab Jerry tanpa berkata-kata.
"Kamu itu ngapain sih? hape terosssss!"
Dilla yang kesal langsung merebut ponsel milik suaminya, dan alangkah terkejutnya ia melihat isi dari telepon pintar tersebut.
"Astaga Jerry! ini apa?" Pekik Dilla melotot kesal.
"Aduh dengarkan dulu!"
"Apa Ini? Karen, Veronica, Katty? ih Jerry kamu itu benar-benar ya!" Dilla yang kesal langsung menjewer telinga suaminya, bagaimana tidak sedari tadi Jerry sibuk saling berkirim pesan pada para wanita itu.
"Aduh di baca dulu sayangku, sakit ini... Ampun sayang!" Ucap Jerry meringis memohon ampun pada istrinya.
"Apa hah? dasar genit, gak inget kamu udah nikah!"
"Karena aku telah nikah makanya aku baru ingat belum memutuskan pacar-pacarku dulu, kemarin aku terlalu sibuk memikirkanmu."
Dilla menepuk-nepuk keningnya, sungguh Jerry benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
Ia menyadari kelakuan suaminya pasti akan berdampak pada dirinya kelak.
"Awas aja, jika nanti aku jadi bulan-bulanan mantanmu!"
Plak!!!
Satu tepukan keras mendarat dengan mulus dan cantik pada "Adik" milik Jerry yang masih dalam tahap pemulihan.
"S-sakit sayang."
Jerry meringis kesakitan, namun Dilla berdecak dan melotot pada suaminya.
"Kalau kau sampai macam-macam lagi di belakangku, awas ya... nanti si angry birds ini akan aku sembelih lagi!"
Ancam Dilla, dan langsung pergi keluar kamar meninggalkan suaminya yang masih merasa kesakitan.
......................
Ryan dan Rika saling bercengkrama di halaman rumah, mereka baru saja selesai berkeliling kampung menggunakan sepeda ontel milik Rika.
Wajah pria itu nampak senang, semua berkat Rika yang mudah bergaul dan menyenangkan.
"Ryan, boleh aku bicara 4 mata padamu?" Ucap Max yang tiba-tiba menghampiri sahabatnya.
"Ya sudah aku ke dalam dulu." Ucap Rika yang kemudian meninggalkan Maxim dan Ryan berdua.
Maxim terduduk di samping Ryan, kedua sahabat ini merasa canggung satu sama lainnya.
"Ryan, aku minta maaf atas sikap-sikapku padamu."
Ucap Max memecah keheningan.
"Iya gak apa-apa, Max. Aku juga minta maaf, aku banyak salah padamu bahkan waktu itu aku memukulimu."
Ryan tersenyum masam, karena sebenarnya rasa bersalah pada Maxim begitu menyelimuti batinnya. Pria itu benar-benar sulit melupakan dan mengikhlaskan Mikha yang memang tidak sepatutnya ia cintai.
"Aku banyak berhutang padamu, andai saja waktu itu kau tidak bertemu dengan istriku pasti terjadi hal buruk padanya dan calon anak kami. Ryan, bagaimana aku harus membalas budimu?"
"Max, sahabat itu sama seperti pasangan. Saling melengkapi satu sama lain, saling membantu tanpa pamrih. Jadi tidak ada kata balas Budi untuk kita, aku cuma minta 1 hal! Bahagiakan istrimu, karena kebahagiaan kalian juga kebahagiaan bagiku."
Max memeluk Ryan, pada akhirnya kedua pria itu kembali akrab seperti sediakala. Nampaknya Ryan harus banyak-banyak berterima kasih pada Rika, karena tindakan tanggapnya, gadis itu secara tidak langsung menyatukan kembali tali persahabatan Ryan dan Maxim.
"Maafkan aku Max, aku sudah menipumu."
Gumam Ryan dalam hati, pria itu benar-benar merasa bersalah pada Maxim.
......................