Oh My Mister

Oh My Mister
Kesungguhan



Sudah 5 hari lamanya Mikha terbaring di rumah sakit.


Selama itu pula Max selalu berusaha mendekatinya dan selama itu pula gadis itu terdiam tanpa kata.


Raga tanpa nyawa, ya ... sepertinya itu adalah kalimat yang pantas untuk menggambarkan keadaan Mikha saat ini, mata gadis itu terbuka namun entah pikirannya ada dimana bahkan pandangannya pun terlihat kosong.


Namun ada suatu ketika tiba-tiba dia kembali mengamuk dan berteriak.


Melihat kondisi gadis itu, seluruh keluarga dan sahabat gadis itu sangat hancur, tak terkecuali Max.


Pria itu pula yang perasaannya paling hancur.


"Bagaimana kondisi Mikha?" Pekik Indah tergopoh-gopoh berlari mendekati Dilla, Indah baru saja datang ke kota itu untuk melihat kondisi sahabatnya.


"Lihatlah saja." Ucap Dilla lirih menahan kesedihannya.


Indah masuk ke ruangan sahabatnya di rawat, ia melihat gadis itu terduduk di atas ranjang namun dengan pandangan yang kosong tanpa bersuara, sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang nampak setia menjaganya.


"Mikha..." Sapa Indah, perlahan ia mendekati Mikha dan menyentuh bahu sahabatnya.


Sayangnya Mikha sama sekali tak bergeming, Air mata perlahan turun di pipinya.


"Kha, kenapa kamu jadi begini?Bicaralah! Aku datang untukmu, lekas sembuhlah huhuhu." Indah terisak, ia memeluk sahabatnya erat-erat.


"Hei, sadarlah! pria itu terus menunggumu! Apa kamu tidak kasihan? Bahkan sepertinya dia tidak merawat dirinya sendiri hanya untuk menemanimu! Lihat baik-baik!" Indah memaksa memutar wajah Mikha menghadap Max dengan kedua tangannya.


"Lihatlah! Bukankah wajah itu yang selama ini kamu rindukan? Kamu nantikan kehadirannya! Tapi kenapa saat dia berada di sisimu namun begini balasanmu? kamu mengacuhkannya, Mikha melihatmu begini hati kedua orang tuamu juga hancur! Lihatlah wajah mereka! Lihatlah ibumu, bapakmu! Apa kamu tidak kasihan? Mereka sudah tua, apalagi ayahmu juga sedang sakit, apa kamu tidak kasihan menambah beban di hati mereka?" Ucap Indah setengah berteriak.


Indah terus merancau, ia sangat putus asa melihat kondisi sahabatnya.


Melihat Indah seperti itu tentu saja seluruh keluarga Mikha menjadi terpukul.


"Sudah nak." Bu Yani merangkul Indah yang terus berbicara dan menangis.


"Lihat lah bu! Mengapa putri ibu ini menjadi anak yang menyusahkan? Ia hanya menambah beban pikiran ibu, bahkan dia tidak kasihan dengan ayahnya yang selalu menunggunya dengan menggunakan kursi roda." Pekik Indah histeris.


Dilla menghampiri Bu yani dan Indah, mereka saling berpelukan dengan segala emosi yang berkecamuk di hati mereka.


"B-Bu..."


Semuanya terdiam, mereka semua mencari sumber suara itu berasal. Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Mikha mengucap kata selain kata 'pergi'.


"B ...Bu ma-af" Ucap Mikha terbata dan lirih.


Semua pandangan tertuju pada gadis itu, Bu Yani seketika memeluk anaknya.


Wanita tua itu menangis sejadi-jadinya, tak terkecuali dua orang sahabatnya dan Max.


Mereka sangat senang Mikha kembali tersadar, jiwa gadis itu seakan kembali pada raganya.


Perkataan yang terdengar kasar dari Indah mampu menyentuh relung hati terdalam gadis itu, Max hanya bisa tersenyum simpul, ia takut jika bertindak gegabah akan menimbulkan trauma pada Mikha kembali.


"Nak, yang sabar ya." Pak Ali mengusap punggung pria muda itu.


"Bisa kita bicara sebentar nak?" Ucap Pak Ali, Max mengangguk dan keluar ruangan dengan mendorong kursi roda yang di duduki oleh pak Ali.


Max membawa pak Ali ke sebuah taman yang berada di dalam kawasan rumah sakit.


"Duduklah", ucap Pak Ali mempersilahkan Max duduk di kursi taman tepat di hadapannya.


"Nak apa kau benar-benar mencintai Mikha, putri bapak?" Tanya Pak Ali dengan mimik wajah serius.


"Iya pak, saya mencintai Mikha." Jawab Max lantang menunjukkan kesungguhannya.


Mendengar jawaban pria muda itu Pak Ali mengangguk, air mata menetes di sudut kedua netranya.


"Tapi, kini anak bapak sudah gak sempurna, bahkan kejiwaannya terguncang hingga ia menjadi seperti itu," lirih pria tua itu, ia nampak beberapa kali mengusap air mata yang sedari tadi menggenang di sudut netranya.


Max menghela napasnya, ia mengerti kekhawatiran yang di rasakan oleh Pak Ali. Namun baginya, bahkan jika Mikha kehilangan kewarasannya sekalipun, dia akan tetap mencintai gadis itu.


"Pak, saya mencintai Mikha apa adanya, apapun keadaannya. Saya tidak peduli dengan apapun yang telah terjadi, karena bagi saya Mikha tetaplah Mikha , gadis baik yang sangat istimewa bagi saya dan saya akan tetap pada pendirian untuk menikahinya," ucap Max sungguh-sungguh, begitu tersirat jelas dari mata birunya.


Pak Ali tertegun mendengar perkataan Max, sebuah senyuman tipis terlontar di wajahnya.


"Tapi nak kita banyak perbedaan dan menikah bukan hanya antara kau dan Mikha, namun antara keluarga kau dan keluarga kami." Ujar pak Ali kembali.


Mata Max terpejam, ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.


"Pak, aku mengerti maksud bapak tapi aku sudah tau akan konsekuensinya sejak awal dan aku sudah memikirkan matang-matang selama ini.


Aku yang akan mengikuti keyakinan kalian, aku sungguh i ...ik...ikhlas." Max berusaha keras mengucapkan kata yang begitu terasa asing di lidahnya.


"Dan masalah keluarga, bapak gak perlu khawatir tentang itu, karena keluargaku sangat terbuka dan tidak mempermasalahkan. Bahkan kakakku sendiri yang akan mengirim pengacara untuk membantu menuntut laki-laki tak beradab itu." Sambung Max.


Pak Ali tersenyum lebar, jawaban dari Max membuat pria itu bahagia.


Ia kini benar-benar percaya menyerahkan anak sulungnya kepada Maxim adalah pilihan yang tepat.


Pria muda itu telah mengorbankan segalanya hanya untuk Mikha, Putri sulungnya.


"Baiklah, berusaha terus lah nak! Bapak tau ini akan sulit, Mikha pasti akan terus menolakmu namun kami disini akan terus mendukungmu." Pak Ali tersenyum dan menepuk perlahan lengan pria muda itu.


......................


"B-bu maaf" Mikha terus mengucapkan kata maaf kepada ibunya, Bu Yani hanya tersenyum dan memeluk putrinya dengan hangat, ia bersyukur putrinya lekas pulih dari guncangan kejiwaannya.


"Sudah nduk, kamu tidak salah apa-apa sayang. Ibu cuma minta kamu jangan terus larut dalam kesedihan, ingat di setiap masalah pasti ada hikmahnya.


Beristighfar lah jika kau mengingat kejadian itu kembali, Allah selalu ada bersama kita." Ucap Bu Yani lembut lalu membelai lembut dan mengecup pucuk kepala anaknya.


"Bu bapak mana?" Tanya Mikha lirih, yang membuat Bu Yani serta kedua sahabatnya baru menyadari Pak Ali sudah tidak berada disana.


"Loh si Max juga kemana?" Tanya Dilla yang sibuk memandang kesegala arah mencari 2 pria beda usia tersebut.


"Max? dia masih disini?"


Mikha mengerutkan dahinya, sepertinya dia lupa akan semua kejadian saat ia mengalami trauma.


"Iya Max, hmmm jangan bilang lu gak ingat apa-apa?" Dilla menatap tajam Mikha, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


"Ya ampun, Max bukan hanya masih disini tapi dia memang selalu disini, disampingmu!" Pekik Dilla.


"Bukankah dia sudah pergi dan bahkan jijik kepadaku?" Ucap Mikha lirih, sepertinya dia hanya mengingat mimpi buruknya.


"Mikha dengar ibu, semua orang disini bahkan dokter sekalipun menjadi saksi bagaimana pria itu mencintaimu, bahkan ia yang paling terpuruk dan selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjagamu.


Nak, tolong terima dia ya! Ibu tidak tega melihatnya, setiap kau membentak dan mengusirnya ketika kau mengamuk." Ucap Bu Yani.


"Bu seandainya aku tidak seperti ini mungkin dengan senang hati aku akan menerimanya, namun lihat kondisiku kini aku sudah tidak layak untuknya, aku sudah kotor Bu."


Mikha kembali terisak, Bu Yani kembali memeluk erat putrinya, ia berharap putrinya bisa kembali percaya diri dan menemukan kebahagiaannya.


^^^Bersambung^^^


......................


...How do you lose the one you love?...


...After giving it all, you gave it up...


...Maybe my love wasn't enough...


...You think you know, but you never can...


...How do you lose your only plan?...


...Well darling, just give me one more chance...


...And I'll give you everything I have...


...I'll try to be a better man...


...(Betterman-Westlife)...


......................