
...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...
Maaf ya buat yang promo kali Author balesnya lama, maklum Author Kentang ini lagi sok sibuk banget hehehe, tapi aku pasti mampir kok...
Tenang aja ya, ingat Promo boleh spam jangan😉
...Terima kasih...
...🌸🌸🌸...
Malam itu Jerry menjemput Dilla di rumah keluarga Larry, dengan pakaian kasual pria itu menunggu Dilla dengan semua skenario yang telah di rencanakan bersama gadis itu.
"wihh ... ada perkembangan nih?" Goda Max kepada Sahabatnya yang terkenal playboy dan sering bertingkah konyol itu.
"Emang kau aja yang bisa! aku juga mau lah menjalin hubungan serius!" Ucap Jerry dengan santainya.
"Yang kemarin di kemanain?" goda Maxim kepada Jerry.
"Berisik!" Pekik Jerry melempar syal yang ia pakai hingga mengenai wajah Max yang asik tertawa.
"Tapi kau gimana? udah gol belum?" , Jerry menggoda balik Max sembari sedikit-sedikit mengorek informasi tentang kehidupan rumah tangga sahabatnya itu.
Max hanya menggelengkan kepalanya, membuat Jerry menghela nafas berat.
"Tapi udah pernah coba?" tanya Jerry kembali.
"Sudah 3 kali tapi yaaa, kau tau sendiri lah!" Ucap Max lirih.
"Cihhh Payah!"
"Yuk Jer!" Ucap Dilla yang tiba-tiba saja muncul dan menarik tangan Jerry.
"Bye bro, mau malem selasaan dulu!" Ujar Jerry menggoda Max, pria itu memasang wajah yang tampak konyol untuk membuat kesal sahabatnya.
Jerry membukakan pintu mobil sport berwarna kuning yang nampak nyentrik miliknya untuk Dilla, lalu ia menuju kursi kemudinya.
"Mau ke mana? kafe atau apa?" Tanya Jerry pada gadis yang sibuk dengan Snack di tangannya.
"M*D aja!" jawab Dilla.
"Tapi itu tidak sehat!"
"Bawel, jadi jalan gak nih!" Ancam Dilla yang seakan-akan bersiap untuk keluar.
Jerry menuruti kemauan Dilla, hingga mereka sampai di salah satu gerai M*D di kota itu.
"Jer, aku mau cheese burger, ayamnya paha atas ya, sama nasinya 2!" Ucap Dilla menyuruh Jerry dengan seenaknya
"What? gak ada nasi baby."
"hah? masa sih!" Ucap Dilla tidak percaya, dan dengan lugunya segera berbicara pada pelayan di restoran fast food tersebut, "Maaf Nona, apakah disini menyediakan nasi?"
"Mohon maaf Nona, kami tidak menyediakan nasi." jawab pelayanan itu ramah.
Dilla berdengus kesal, "Jerry aku mau ayamnya 2 dan kentangnya 3, aku LAPARRRRR!!!"
Dilla itu berlalu begitu saja meninggalkan Jerry yang susah payah membawakan pesanannya.
"Kau yakin menghabiskan semua ini?" tanya Jerry yang heran dengan nafsu makan Dilla.
"Heh, makananmu aja masih sanggup aku tampung!" Ucap Dilla dengan mulut yang penuh makanan.
Jerry tersenyum melihat tingkah laku Dilla, gadis berparas manis yang begitu cuek dan sangat unik.
Setelah makan mereka masih tampak bersantai, kini wajah Dilla beubah menjadi lebih serius.
"Yakin dia belum begituan?"
"Hmmm, dia sendiri yang bilang! semuanya cuma sampai tahap pemanasan!" Ucap Jerry berbisik.
Dilla tampak mengerutkan dahinya, gadis itu nampaknya sedang berpikir keras.
"Max sudah beberapa kali ke psikolog tapi belum ada perkembangan, aku sih mikirnya dia harus ngerasain dulu deh baru bisa ada kemajuan." Lanjut Jerry sambil meminum cola.
"Cocok! pas seperti apa kata Indah, sini aku punya rencana!"
"Serius? yakin aman?" Tanya Jerry menatap gadis itu.
"Ya, cuma sekali aja kok! dan kau ya... yang harus memastikan Max masuk perangkap kita."
"Tapi kalau misalnya dia malah nafsu sama aku gimana? sedangkan aku yang nanti di dekat dia kan!" Ucap Jerry khawatir, pria itu begidik ngeri membayakan hal-hal aneh di kepalanya.
"Ya gak apa-apa lah berkorban dikit wahahahaha"
Jawab Dilla asal bicara, gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jerry yang nampak ketakutan.
...****************...
Indah termenung menatap secangkir kopi yang ia belum sentuh di sebuah coffee shop, hatinya terasa begitu hampa karena ia terpaksa harus tega mengabaikan pujaan hatinya seharian ini.
Seorang pria yang sedari tadi membuntutinya menatap gadis itu dari jarak yang cukup jauh, perlahan ia ingin menghampiri Indah dengan membawa satu buket bunga mawar yang sangat cantik.
Namun belum sempat ia mendekat, telah ada pria lain yang menghampiri gadis itu dengan senyuman yang merekah.
"Hai ! kenapa sendirian saja." Ucap Tuan Wang menghampiri Indah yang tampak melamun.
"Agus, suka banget ngagetin !" Ucap Indah kesal.
"Lagian kau melamun aja, nanti ayam tetangga pada mati loh!" goda Tuan Wang kepada Indah.
Indah tersenyum menoleh ke arah pria tersebut.
"Tidak ada yang pelihara ayam disini, Agus! gak usah ngadi-ngadi deh!" Ucap Indah terkekeh.
Setelah puas mengobrol, Indah kembali menuju kamarnya. Ia menatap pintu kamar Jhon yang tertutup rapat, entah apakah ada si penghuni di dalamnya atau tidak.
Indah kembali mengalihkan pandangan ke pintu kamarnya namun ia merasa kakinya menginjak sesuatu.
Gadis itu menunduk, mendapati sebuah buket mawar merah segar yang tidak sengaja terinjak olehnya, di dalamnya terdapat sepucuk surat berwarna merah jambu.
Indah melangkahkan kakinya kedalam kamarnya, ia duduk di tepi ranjang dan membuka perlahan surat tersebut.
......Indah, aku minta maaf atas semua perbuatan dan kesalahanku kepadamu......
...Aku sadar, ini semua tidak mampu menghapus dosa-dosaku kepadamu...
...Maafkan diriku yang terlalu pengecut...
...Aku yang selama ini membohongi kata hatiku sendiri...
...Indah, aku sangat merindukanmu...
...aku merindukan senyumanmu yang begitu hangat...
...senyuman yang bahkan aku tidak rela melihatnya di berikan kepada Pria lain...
...aku mohon kembalilah menyinari hari-hariku...
...Maafkan aku yang terlalu malu mengatakannya kepadamu...
^^^Jhon^^^
Indah memeluk erat surat itu, tetesan air mata begitu saja membasahi pipinya.
Entah apa yang ia rasakan, segala perasaan berkecamuk di dalam dirinya. Antara bahagia, sedih dan kecewa bercampur aduk.
Sementara di tempat lain, Jhon hendak bicara kepada seorang kepercayaannya. Pria itu tampak rapih dengan koper yang setia berada di sampingnya.
"Frans, Tolong esok temani Indah pulang, saya akan ke Amerika selama beberapa hari. Pastikan ia selamat sampai kediaman Larry!" Ucap Jhon dengan wajah sendunya.
Pria itu melangkahkan kakinya menuju jet pribadi miliknya, wajahnya nampak putus asa, berkali-kali ia menghembuskan nafas kasar mengingat memori kejadian-kejadian yang terjadi di hotel itu.
"Ada kala aku egois ingin memilikimu, namun ada kala aku merasa tidak percaya diri jika melihatmu bersamanya. Pria itu tampan dan muda, Sangat cocok untukmu. Apalah aku, yang bahkan kulit keriput ini mulai terlihat." Ucap Jhon lirih memandang dirinya di sebuah cermin.
"Maafkan aku, aku memanglah seorang pecundang."