Oh My Mister

Oh My Mister
Drama King



"Mas itu sebenarnya siapa?"


Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulut gadis belia itu.


"Ma ...maksud kamu?"


"Sudahlah mas, tadi pagi aku baru tahu kalau mas itu superstar. Apalagi yang mas sembunyikan" Ucap Rika memandang tajam ke arah Maxim.


"akhhh..." Max menghela nafasnya, sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan lebih lama lagi kepada gadis kecil itu.


"Iya kamu benar, maaf aku bukan bermaksud membohongi kalian, aku hanya ingin kalian memperlakukanku dengan tulus sebagai orang biasa."


"Apa mba tau?"


Max menggelengkan kepalanya, ia harus memilah-milah apa yang bisa di ungkapkan dan apa yang harus tetap ia sembunyikan.


ia sekarang mulai mengerti bahwa Rika itu lebih cerdik dan licik, sangat berbeda dengan tampilannya yang menggambarkan sosok gadis desa yang polos dan lugu.


"Hmmm aku rasa mas Maxim masih banyak rahasia, mas bukan hanya superstar kan? dan maaf tadi aku tak sengaja mendengar dan mengerti pembicaraan mas telepon, sebenarnya apa yang mas rencanakan?"


Max akhirnya menjelaskan tentang dirinya yang ternyata adalah anak dari seorang pengusaha besar yang bergerak di bidang pariwisata.


Ia menolak meneruskan usaha orang tuanya karena kecintaannya pada dunia tarik suara, hingga akhirnya usaha tersebut hanya di wariskan oleh kakak dan adiknya.


semua hampir iya katakan, hanya 1 hal saja yang masih ia sembunyikan rapat-rapat.


Hal yang kelak akan melukai hati orang yang paling ia cintai, dan kelak akan menjadi bumerang untuknya.


***


Keesokan harinya Pak Ali, Bu Yani dan Mikha sudah bersiap untuk pergi ke Klinik.


Sedangkan Rika bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya, namun tak ada satupun dari mereka yang melihat bintang utama hari ini yaitu Maxim, usai sarapan pagi pria itu tiba-tiba menghilang tak memperlihatkan Batang hidungnya.


"Rika tolong cariin mas Maxim dong, mba mau ke toilet dulu."


"iya..." Ucap Rika dengan senang hati, berharap dapat uang saku lagi dari calon kakak iparnya tersebut.


Rika mencari di seluruh ruangan rumah, hingga halaman depan namun sosok Maxim tidak ia temukan, akhirnya ia memutuskan pergi ke halaman belakang rumahnya namun lagi-lagi Maxim tidak terlihat.


"Mas Maxim, kata mba kalau mas masih sembunyi lebih baik tidak jadi menikah saja!" Ucap Rika sembarangan, ia tahu calon kakak iparnya sedang bersembunyi di suatu tempat.


Kresek...Kresek...


Bunyi dedaunan bergoyang, Rika melihat ke asal suara itu berada dan ternyata Maxim berada di atas pohon mangga tepat di belakangnya.


"Astaga... ngapain disitu mas? turun, sebelum mba marah-marah!" Pekik Rika yang tampak sedang menahan tawanya.


"o ...oke" Maxim akhirnya turun dari atas pohon.


"Ya sudah aku mau berangkat dulu." Rika mencium tangan Maxim untuk berpamitan.


"Oh ya Rika ini untuk kamu."


Lagi-lagi Maxim mengeluarkan 3 lembar uang 100 ribuan untuk Rika, Rika dengan senang hati segera menerimanya namun semua terhenti karena teriakan dari kakaknya.


"Rikaaa!!! sana berangkat sudah siang! ini lagi Maxim jangan memanjakanya seperti ini, nanti anak ini kebiasaan!"


Mikha mengambil 2 lembar uang di tangan Rika, dan mengembalikannya kepada Max.


"Ini cukup untuk 5 hari, Max ayo cepat!"


Mikha menunjuk selembar uang 100 ribu yang masih berada di tangan Rika.


Mikha kembali ke dalam rumahnya meninggalkan Max dan Rika yang nampak cemberut.


"Sudah... sudah ... ini untuk kamu, jangan sampai ketahuan Kakakmu yang galak itu."


Max kembali memberikan uang tersebut kepada Rika yang membuat gadis kecil itu kembali mengembangkan senyuman.


"Huh memang mba Mikha kalau lagi marah itu seperti mau makan orang, hati-hatilah mas mulai sekarang." Ucap Rika menggerutu yang membuat Max tertawa geli.


suara teriakan Mikha menggelegar, membuat Maxim segera berlari masuk ke dalam rumah.


Sedangkan di dalam rumah Mikha sedang kesal menunggu Max yang tak kunjung datang.


"Nduk, jangan teriak-teriak seperti itu! gak sopan, apalagi jika Nak Maxim sudah menjadi suamimu." Ucap Pak Ali menasehati putrinya.


***


Sepanjang perjalanan Maxim hanya terdiam menunduk serta meremas-remas telapak tangannya, rasa gugup, khawatir dan takut berkecamuk di dalam dirinya.


Mikha yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Maxim yang hari ini terlihat seperti anak kecil.


"Sudahlah jangan takut, rasanya hanya seperti di gigit semut kok!"


Mata Maxim terbelalak, keringat dingin membasahi dahinya. Ia teringat jelas dengan perkataan Rika semalam.


Flasback ON.


"Ya sudah aku berharap tidak ada lagi yang mas sembunyikan, semoga mas menikahi mba bukan dengan maksud tertentu! untuk saat ini aku cukup percaya terlebih dengan segala pengorbanan yang telah mas lakukan."


Ucap Rika tersenyum, ia kini hanya bisa percaya dan berharap kebahagiaan sesegera mungkin menghampiri kakaknya.


"Oh ya mas besok mau di Sunat ya? Mas harus kuat apapun yang terjadi, aku tau ini sangat berat." Ucap Rika menyeringai penuh kelicikan.


"Maksudmu?"


"Mas harus tahan dengan segala rasa sakitnya, walau mba mengatakan hanya seperti di gigit semut ahhh...ia selalu berkata seperti itu untuk menenangkan orang, padahal rasanya sungguh sangat menyakitkan dan mungkin saja itu terjadi berminggu-minggu hingga mas juga merasa sakit yang teramat pedih saat buang air kecil."


Ucap Rika membodohi Maxim yang terlihat percaya dengan perkataannya.


Flashback Off


Sesampainya di klinik, langkah Maxim terlihat sangat berat memasuki klinik tersebut.


Bu Yani dan Pak Ali sibuk mengurus administrasi, sedangkan Mikha menemani calon suaminya menunggu di ruang tunggu.


"A...Aku mau ke toilet!"


Ucap Maxim terbata-bata.


"Jangan lama-lama, sedikit lagi kau segera di panggil."


Ucap Mikha kesal melihat Maxim yang sudah berkali-kali ke toilet.


10 menit berlalu laki-laki itu tak kunjung kembali, Mikha yang sudah sangat kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Maxim segera menyusul calon suaminya itu.


Tok...Tok...


"Max, kenapa lama sekali?" Ucap Mikha seraya mengetuk pintu toilet pria.


"iya sebentar" ucap Maxim dari dalam toilet.


5 menit Mikha menunggu namun pria itu tak kunjung keluar, kesabaran wanita itu sudah di ambang batas.


Ia benar-benar kesal dengan tingkah Maxim yang sangat mendramatisir.


"Maxim, aku hitung sampai 3! jika kau tidak keluar juga bisa aku akan dobrak pintu ini! Sa...tu... Dua...Ti..."


Cklek


Pintu toilet terbuka, melihat Maxim keluar Mikha yang sudah tidak sabar langsung menarik lengan pria tersebut menuju ruangan dokter.


"Tuan Maxim"


suara seorang suster memanggil, Pak Ali yang berada di sama hanya bisa meminta tolong suster tersebut menunggu sebentar.


"Ini sus manusianya! gak usah pakai anastesi langsung potong aja!"'


Ucap Mikha yang mendorong kasar Max yang sudah pasrah dengan nasibnya.