Oh My Mister

Oh My Mister
Menghapus jejaknya (21+)



...**Peringatan !!!...


Bagian akhir part ini mengandung adegan dewasa 21+, mohon bijak dalam menyikapi.


yang belum cukup umur mohon kesadarannya dan yang tidak suka membaca hal vulgar cukup baca bagian awal sampai ada tanda peringatan kembali dari saya.


Semua demi kenyamanan masing-masing.


...Terima kasih...


happy reading 😘**


Indah tampak mematung dan menangis tersedu-sedu, hatinya begitu perih kala Jhon mengucapkan kata perpisahan yang tidak ia inginkan.


"Ka-Jhon." Ucapnya lirih, gadis itu melangkah perlahan menghampiri sang kekasih yang masih berlutut di lantai.


"A-aku mohon jangan ucapkan kata itu, aku gak suka." Indah berjongkok dan menyentuh lembut wajah Jhon.


Nampak kedua Indra penglihatan pria itu tampak memerah, Indah memeluk erat Jhon yang kini di hadapannya.


"Sudahlah, lupakan saja tentang kita." Jhon berusaha melepaskan pelukan gadis itu, entah mengapa rasa tidak percaya diri kembali menghampirinya.


Indah semakin histeris, kepalanya menggeleng. Gadis itu kembali memeluk erat Jhon seakan tak mau melepaskannya.


"Tidak! aku hanya mencintaimu Jhon! apapun keadaanmu. Mau setampan dan sesempurna apapun pria mendekatiku aku tetep memilihmu! aku mohon jangan tinggalkan aku."


Indah terisak, wajah gadis itu kini penuh dengan air mata. Cinta benar-benar telah merubah perangainya, Indah yang jarang menangis dan selalu tegar kini bisa berubah menjadi wanita yang cengeng hanya karena cinta.


Jhon menatap erat wajah Indah, pria itu menemukan sebuah ketulusan di wajah wanita yang di cintainya.


"Apa kau yakin?" Ucap Jhon meyakinkan, Indah segera mengganguk.


"Apa kau bersedia menjadi ibu sambung Bella? dan tidak malu denganku yang sudah berumur ini?"


"Bahkan aku sudah sangat menyayangi Bella, dan bagiku usia hanyalah sebuah angka Jhon." Jawab Indah sendu.


"Indah, maaf namun aku tak mau kau menjadi kekasihku."


Ucap Jhon tertunduk. Hati gadis itu semakin berdenyut perih, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dengan wajah yang semakin basah dengan air mata.


"Aku ingin kau menjadi istriku. Indah, maukah kau menikah denganku?"


Jhon mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang berada didalam saku jasnya. Ia perlahan membukanya dan memperlihatkan sebuah cincin bermatakan berlian yang begitu menawan.


Kedua mata Indah membulat sempurna, seakan tak percaya akan kenyataan di depan matanya. Gadis itu berhambur kembali memeluk Jhon dengan senyuman mengembang walau masih tampak air mata menetes dari matanya.


"Aku mau, A-Aku mau menjadi istrimu dan menjadi ibu Bella."


Jhon tersenyum, pria itu mengecup kening Indah dan menyematkan cincin pada jari manis kiri gadis itu.


"Aku mencintaimu sayang, Terima kasih karena kau mau menerima segala kekuranganku." Bisik Jhon dan kembali mendekap erat tubuh Indah.


......................


Di tempat dan waktu yang berbeda, Max dan Mikha kini telah berada di kamar hotel yang mereka sewa selama berada di Surabaya.


Mikha tampak memijat-mijat kakinya yang terasa pegal seusai menghadiri pesta pernikahan sementara Max sedang mandi dan juga sibuk membersihkan pipinya dari bekas noda Lipstik akibat ulah sejumlah ibu-ibu bar-bar yang membabi-buta mencium pipinya tanpa ampun.


Pintu kamar mandi terbuka, kini Max telah tampil segar dengan pakaian favoritnya, apalagi kalau bukan celana boxer dan kaos oblong.


"Perih banget, leherku sampai ada bekas cakaran." Keluh Max sambil mengusap-usap tengkuk lehernya yang nampak terluka.


Mikha tertawa melihat tingkah suaminya apalagi mengingat Max di serbu para ibu-ibu, sungguh pemandangan yang sangat menggelitik.


"Ya sudah aku mau mandi dulu, nanti aku obati " Ucap Mikha beranjak dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


15 menit berlalu, Mikha tampak menatap cermin dengan berbaluk jubah handuk di tubuhnya. Sesekali ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Mungkin memang aku harus membuka hatiku padamu kembali, toh sedikit lagi kita akan di karuniai 2 malaikat kecil."


Mikha tersenyum sambil terus mengusap lembut perutnya, ia sudah bertekad untuk menghapus seluruh jejak Jesson pada Maxim.


Pintu kamar mandi terbuka, Mikha segera menghampiri suaminya yang tengah terduduk di ranjang sambil memainkan remote Televisi.


"Sedikit, cuma perih." Ucap Max.


......................


...WARNING!!! Kalau yang masih di bawah umur 21+ dan gak suka baca adegan dewasa yang cukup vulgar, maaf cukup baca sampai sini aja dalam bab ini....


...Mohon bijak dalam menyikapi, Author sudah memperingati....


...Terima kasih😊...


......................


Mikha menyentuh lembut leher sang suami yang terluka, namun alih-alih mengoleskan obat, Mikha mengecup lembut tengkuk leher Maxim yang membuat pria itu terkejut.


"Sayang" Max menoleh kearah istrinya yang tampak tersenyum dan langsung beralih duduk di pangkuan sang suami.


"Katanya mau yang spesial." Ucap Mikha menggoda dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya


Wanita itu perlahan mengecup bibir suaminya, mengigit lembut dan juga menghisapnya. Tak lupa ia mengeksplor seluruh rongga mulut sang suami yang beraromakan Mint.


Tanpa melepaskannya, bibir wanita itu menjalar menuju daun telinga dan leher sang suami. Tangannya seakan tak rela tinggal diam, perlahan menyelusup ke dalam kaos yang masih di pakai Maxim. Jari jemari lentiknya seakan menari-nari di perut hingga dada sang suami, serta memainkan sepasang tonjolan kecil yang terdapat pada dada bidang nan berbulu halus kecoklatan milik Maxim.


"S-Sayang" Max tergagap, nafasnya tersengal-sengal akibat sentuhan-sentuhan intim yang di lakukan istrinya.


"Stttt...kamu diam saja!" Ucap Mikha berbisik lirih pada telinga sang suami yang telah memerah.


Mikha benar-benar ingin menghapus semua jejak kotor Jesson yang telah menjamah tubuh suaminya.


Perlahan Mikha membuka kaos yang melekat pada tubuh suaminya, hingga kini mengekspos tubuh tegap Maxim.


Wanita itu terus menerus membelai lembut nan sensual tiap lekuk tubuh Maxim yang telah terekspos.


Kini tangannya beralih membelai lembut paha sang suami dan menjalar masuk hingga ke bagian sensitif kejantanan Maxim.


Kedua Netra Maxim semakin sayu saat tangan itu menyentuh dan memainkan ujung dari kejantanannya.


Maxim menarik tali yang mengikat jubah handuk yang di kenakan Mikha, kini terlihat tubuh polos istrinya yang membuat Max semakin di ambang nafsu birahinya.


Max mulai M*rem*s sepasang buah yang tampak menantang di dada istrinya, dengan bibir yang masih saling bergulat dan nafas yang kian memburu.


Mikha mengehtikan aktivitasnya sejenak, dan berhasil membuat Maxim bertanya-tanya "Apa lagi yang akan di lakukan?".


Wanita itu tersenyum smirk, mendorong tubuh Maxim hingga terlentang di atas ranjang dan segera menarik celana boxer yang di pakai suaminya.


Kemudian Ia membuka handuk yang melekat di tubuhnya lalu bersimpuh di antara kedua kaki suaminya.


Perlahan dan perlahan Mikha mengecup paha Maxim dan kian menjalar hingga mengenai sesuatu yang cukup empuk di bawah pusaka milik suaminya.


"Emhhh...S-sayang"


Eraman begitu saja lolos dari mulut pria itu kala lidah sang istri menjalar menjelajahi kejantanannya dan asik memainkannya.


Maxim kian melenguh karena aksi dari istrinya, ia tampak menekan kepala Mikha yang masih setia berada di sana.


Mikha bangkit dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk bergerak, perlahan-lahan ia memasukan milik sang suami kedalam miliknya.


Eraman dan lenguhan seakan saling bersaut antara sepasang insan itu, seirama dengan tubuh Mikha yang nampak seperti sedang menari-nari. Hingga ia semakin mempercepat tempo gerakannya dan kini akhirnya mereka seakan melayang-layang karena pelepasan yang begitu memabukan.


Mikha amburuk di atas dada sang suami dengan nafas terengah-engah, peluh kian bercucuran di tubuhnya.


"Terima kasih sayang, kamu luar biasa." Ucap Max mengecup kening sang istri.


"Apapun untukmu Max, tolong jangan kembali seperti dulu." Ucap Mikha lirih.


"Pasti sayang, kamu tidak perlu khawatir."


Kini mereka saling berpelukan dan terlelap hanyut dalam mimpi.


......................