Oh My Mister

Oh My Mister
Nasehat untuk Indah



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


maaf ya Author mampirnya lama karena emang lagi repot nih say...😭


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


...Boleh juga dong mampir ke karya baru Author...



...Terima kasih...


Took my hand,


Touched my heart,


Held me close.


You were always there


By my side.


Night and day,


Through it all.


Baby, come what may.


Swept away on a wave of emotion,


Oh, we're caught in the eye of the storm.


And whenever you smile,


I can hardly believe that you're mine,


Believe that you're mine.


This love is unbreakable


It's unmistakable


Each time I look in your eyes


I know why


This love is untouchable


A feeling my heart just can't deny


Each time you whisper my name


Oh baby, I know why


^^^Westlife-Unbreakable^^^


Lagu yang di nyanyikan Maxim mengalun berputar di sebuah Radio yang sedang Mikha nyalakan, Wanita hamil itu tengah terduduk di pinggir kolam renang pribadi yang berada di unit Apartemen milik suaminya.


Kakinya asik mengayun-ngayun di dalam kolam dan menimbulkan suara gemericik mengusik ketenangan air kolam tersebut.


Pikirannya melayang teringat kenangan manis bersama Max, hangat ! ya hatinya terasa menghangat kala ia mengingat segala pengorbanan pria itu.


Namun hatinya kembali berdenyut perih kala harus menerima kenyataan bahwa pahit tentang suaminya.


"Aw..."


Pekik Mikha saat perutnya terasa sakit, ia kemudian berjalan tertatih-tatih untuk mengambil obat yang tersimpan di kamarnya.


PIP PIP


Suara kode pintu di buka seseorang, Mikha menerka-nerka siapakah yang datang? entah mengapa ia mengharapkan suaminya yang datang.


"Kha, lu dimana?", Ucap Dilla mencari keberadaan Sahabatnya.


"Gu-Gue di si-sini, Dil." Ucap Mikha menahan sakit di perutnya, peluhnya kian bercucuran di keningnya.


Indah dan Dilla bergegas menghampiri Mikha, mereka segera menelpon seorang dokter dan membaringkan tubuh sahabatnya di ranjang.


Tidak berselang lama seorang dokter datang memeriksa keadaan Mikha.


"Mohon Nyonya jangan terlalu stress ya, ini berpengaruh pada kandungan Nyonya, saya resepkan vitamin dan penguat kandungan."


"Ya sudah gue ke apotek dulu ya." Ucap Dilla meninggalkan Indah dan Mikha.


...****************...


Sedangkan keadaan Maxim tak lebih baik daripada istrinya, pria itu terus menerus muntah dan tidak dapat menerima asupan makanan apapun ke tubuhnya.


Nyonya Anna tampak khawatir dengan kondisi putranya, belum juga 24 jam di tinggal istrinya namun keadaan pria itu sudah begitu memburuk.


"Ka...kabar Mikha gimana?" Ucap Maxim lemah, yang ada diisi kepala pria itu hanya penuh oleh Istri dan calon bayinya.


"Baik-baik saja, nanti aku bujuk dia kembali ya tapi kau makan dulu." Bujuk Jhon kepada adiknya.


"Tidak, aku mual."


"Max, ayolah! kalau kau sakit bagaimana kau membawa kembali istrimu?"


Jhon tampaknya mulai kehilangan kesabaran dengan tingkah adiknya tersebut.


Dengan perlahan akhirnya Max memakan beberapa sendok makanan, namun rasa mualnya datang kembali, pria itu lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya hingga wajahnya tampak pucat.


"Kakak! kak Jhon tolong kakak!" Teriak Marrie histeris kala melihat Maxim jatuh tak sadarkan diri.


...****************...


"Ndah..." Panggi Mikha kepada Indah yang duduk di sampingnya.


"Ndah, lu inget kan pesan mamih waktu lu mau kesini." sambung Mikha kala melihat tanda merah di leher dan tulang selangka Indah.


Indah mengernyitkan dahinya, lalu ia teringat akan tanda hasil mahakarya Jhon yang ada di tubuhnya.


"Gak usah di tutupin, gue udah lihat!" Ucap Mikha.


"Sorry, Kha"


"Gue tau gaya pacaran orang kita dengan barat itu berbeda, terlebih Kak Jhon itu sudah dewasa dan pernah berumah tangga, pasti pikirannya gak jauh-jauh menjurus ke hal itu. Tapi gue mohon, lu jaga diri jangan kebablasan, dosa ndah!"


"Apa perlu gue minta kak Jhon biar cepat-cepat nikahin lu?" sambung Mikha, yang berhasil membuat Indah membulatkan kedua matanya.


"Jangan dong Kha, kesannya gue yang ngebet pengen nikah."


"Ndah, jodoh itu ditangan Tuhan. kita manusia cuma bisa berencana namun Tuhan yang menentukan. Gue cuma gak mau lu nyesel, kalau seandainya Jhon bukan jodohmu sedangkan kau sudah memberikan segalanya."


Indah yang merasa tidak suka dengan ucapan terakhir Mikha akhirnya mencoba menyanggah perkataan sahabatnya itu, gadis itu tidak suka jika membayangkan tidak berjodoh dengan Jhon.


Mungkin benar perkataan orang tua, bahwa orang yang paling sulit di nasehati adakah orang yang sedang jatuh cinta.


"Ah kalau cinta mah gak masalah kali, buktinya Max aja terima lu tuh walaupun lu udah gak perawan." Ucap Indah seenaknya tanpa memikirkan lawan bicaranya.


Mikha menelan berat salivanya, memori masa lalu yang menyakitkan kembali berputar di kepalanya.


"Ya kau benar, seandainya bisa aku juga ingin memberikan yang berbaik untuk suamiku. Kau benar, cinta itu menerima kekurangan masing-masing. Antara aku dan Max memang mempunyai masa lalu yang sama-sama kelam, aku korban pelecehan dan dia menyimpang. Harusnya aku juga sadar diri ya, ha ha ha"


Ucap Mikha dengan tawa yang di paksakan, guratan kesedihan tergambar di wajahnya.


Indah tersadar akan kata-katanya yang telah membuka luka di hati Mikha kembali, menyesali segala ucapannya.


"Mikha G-gue minta maaf."


"Sudahlah lu gak salah, maaf gue terlalu ikut campur." Ucap Mikha tersenyum getir kepada Indah, ia meninggalkan gadis itu seorang diri, hingga berpapasan dengan Dilla yang baru pulang membeli obat.


"Mau kemana Kha? istirahat dulu." Tanya Dilla yang bingung mengapa raut wajah Mikha berubah.


"Cari angin di balkon sebentar, sini obatnya biar gue minum, Makasih ya Dil." Ucap Mikha meninggalkan Dilla yang tampak bingung


Dilla menatap tajam ke arah Indah, gadis itu hanya menunduk kala Dilla meminta penjelasan padanya.


"Punya otak gak sih! gue sama Mikha itu mengemban amanah langsung dari mami lu, beliau telepon nangis-nangis minta kita jaga lu selama di sini. Wajar dia nasehatin lu yang udah keterlaluan, owh... mungkin kalau tadi gue gak ketok pintu kamar lu, lu udah berbuat yang enggak-enggak sama Jhon!" Bentak Dilla kala Indah menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Sumpah mulut lu jahat banget, gak habis pikir gue. Sudahlah mulai sekarang gue sama Mikha angkat tangan sama lu, terserah lu mau jungkir balik kek sama John gue gak peduli, asal lu jangan nyesel atas semua perbuatan lu!"


Ting... Tong...


Bel apartemen berbunyi, dengan sigap Mikha membukakan pintu.


"Jerry, ada apa malam-malam begini?" Tanya Mikha kepada Jerry yang tampak terengah-engah.


"M-max m-asuk, hah... Max masuk rumah sakit! aku mohon kau menemuinya."


...****************...