
Dua hari berlalu, seluruh kerabat dan orang tua Jhon telah kembali ke Inggris. Meninggalkan Jhon dan Indah yang berencana untuk berbulan madu.
Kini Jhon dan Indah baru sampai di Labuan bajo, sebuah daratan eksotis sekaligus habitat para kadal raksasa di provinsi Nusa tenggara timur, Indonesia.
Di hari pertama mereka nampak asik menikmati panorama keindahan pulau tersebut.
Hamparan lautan dan Savana begitu menakjubkan, serta kehadiran satwa langka yang begitu menguji adrenalin, membuat Indah dan Jhon asik memainkan perannya sebagai petualang yang mengeksplor pulau-pulau nan cantik itu.
"Honey sekarang kayanya kamu bukan Biawak jantan lagi deh, tapi lebih cocok aku sebut Komodo jantan," tutur Indah asal bicara, yang membuat Jhon mencubit pipi istrinya yang asik mencibirnya.
"Sembarangan sebut suami sendiri Komodo," ucap Jhon yang masih terus mencubit pipi Indah dengan gemas.
Indah mengusap-usap pipinya serta mengerucutkan bibirnya, "Kenyataannya, kau seperti Komodo. Terlihat lambat tapi ganas, Untung aja kemarin aku lagi bulanan. Kalau tidak, bisa-bisa aku gak bisa liburan seperti ini karena pasti tengah kesulitan berjalan," ucapnya yang seakan tak puas menggoda yang suami yang merajuk, karena belum kunjung bisa mendapatkan jatahnya.
Kini mereka beralih ke sebuah pantai dengan hamparan pasir estetik berwarna merah jambu.
Indah tampak asik duduk di atas pasir, menikmati suasana yang begitu tenang nan menyenangkan hati.
Jhon terus merangkul mesra Indah, tidak lebih yang mereka lakukan selain menikmati romansa syahdu yang tergulung gejolak gelombang cinta.
......................
Part ini mengandung adegan dewasa! Mohon bijak dalam menyikapinya.
Untuk yang tidak suka hal berbau vulgar atau yang masih berusia di bawah 20 tahun, silakan skip atau scroll hingga tanda (....) pembatas
semua demi kenyamanan masing-masing,
...Terima kasih,...
Malam itu setelah kembali ke hotel, Jhon terlihat sedikit sibuk dengan pekerjaannya. Ia terlihat tengah serius menatap laptop dengan earphone yang terus terpasang di telinganya.
Sedangkan Indah yang bosan, berjalan menuju kolam renang pribadi yang berada di area kamar hotelnya. Perlahan ia melepaskan bathrobe yang membalut tubuhnya hingga meninggalkan bikini berwarna hitam yang begitu kontras dengan warna kulitnya.
Byur
Ia mulai menceburkan diri, menikmati sentuhan air yang begitu menyejukkan. Tanpa ia sadari sosok suaminya sudah berada di pinggir kolam, Jhon nampak menelan salivanya berat melihat tubuh sang istri yang basah hingga membuatnya begitu menggoda di mata Jhon.
"Honey, bukannya tadi kamu lagi telepon Frans?" tanya Indah yang baru menyadari kehadiran Jhon. Jhon nampak tersadar dari lamunannya dan menjawab pertanyaan Indah tanpa berhenti menatapnya, "Sudah selesai, kok kau berenang? Bukannya sedang datang bulan?" tanya Jhon menyelidik.
Indah yang mengerti tatapan suaminya, nampak tersenyum dan berenang hingga kini tepat berada di hadapan Jhon. "Kok aku yang datang bulan tapi kamu yang ribet? Lagi pula, kemarin kamu gak nanya kan kapan aku selesai. Kemarin itu sebenarnya hari terakhir aku haid," ucap Indah terkekeh karena berhasil mengerjai suaminya dan memaksa Jhon 'Berpuasa' selama tiga hari.
Jhon nampak berdengus kesal, mengingat bagaimana ia bersusah payah menahan hasrat alamiahnya tiap kali berdekatan dengan sang istri. Sedangkan Indah masih terus tertawa melihat mimik wajah suaminya yang begitu lucu baginya.
Indah meraih tangan Jhon dan seketika menariknya hingga pria blonde itu turut jatuh kedalam kolam renang.
"Indah, kamu...," pekik Jhon kesal, namun seketika Indah mencium bibirnya dengan tangan yang melingkar sempurna pada leher sang suami. Pria berkulit putih itu nampak hanyut dan tenggelam dalam serangan dadakan yang di luncurkan istrinya.
Indah tanpak asik ******* dan menyesap bibir merah sang suami hingga berbisik lirih di telinga Jhon.
"Maaf ya, tapi sekarang biar aku yang melakukannya," bisiknya seraya membuka satu persatu kancing kemeja yang di kenakan Jhon.
Kini, Indah merapatkan tubuhnya pada dada sang suami, lalu ia mengeksplor seluruh ceruk leher suaminya dan memberikan beberapa kissmark dan sentuhan-sentuhan sensual.
"Oh, babe," sebuah erangan begitu saja lolos dari mulut pria blonde itu. Seakan tak sabar, ia mengambil alih dan mencium bibir istrinya dengan ganas.
Indah yang begitu hanyut dalam permainan yang di ciptakannya, wanita itu nampak asik bermain dengan rambut coklat sang suami. Air kolam yang begitu dingin kini bagaikan tak terasa karena gairah kedua insan yang begitu mendominasi.
"Come here, honey," ucap Jhon dengan suara parau, meraih tangan istrinya untuk naik ke pinggir kolam.
Jhon menggendong tubuh mungil istrinya tanpa melepas tautan bibir di antara mereka, dan lekas membawanya menuju kursi santai yang tak berada jauh dari kolam renang.
"Jhon akh..," Indah menyebut nama sang suami diserta desahannya, hingga membuat Jhon semakin liar memainkan dua buah bukit kenyal yang entah sejak kapan sudah terlepas bebas dari cangkangnya.
Tiba-tiba Indah mendorong lembut tubuh suaminya hingga membuat Jhon tampak mengeryitkan dahinya.
"Please honey, biarakan aku yang melakukannya," lirihnya lalu perlahan menggenggam dan membimbing pusaka sang suami menuju kedalam kew*nitaannya.
Jhon nampak begitu menikmati dan terbuai akan performa istrinya, hingga desahan dan eraman terdengar saling sahut bersahut-sahutan.
"Owhhh damn! Faster, babe!" serunya seraya terus meremas buah d*da Indah.
Indah terus mempercepat tempo gerakan pinggulnya, hingga akhirnya mereka saling mencengkram erat, dengan tubuh Jhon yang terhentak-hentak dan bergetar hebat.
"In-dah emhh," ia kembali mengeram, menanamkan benih di dalam rahim sang istri.
Indah ambruk di pelukan suaminya, sedangkan Jhon tidak henti-hentinya mengecup pucuk kepala istrinya serta membelai lembut rambut hitamnya.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucapnya lembut yang hanya di jawab sebuah senyuman oleh Indah.
.......................
Tak terasa empat bulan berlalu, hari itu nampak Sunny dan Shine tengah menemani sang bunda yang masih setia menemani sang ayah yang tak kunjung membuka matanya.
Sunny begitu antusias mengelus perut Mikha yang terlihat membesar dan merasakan adik kecil bergerak-gerak.
"Mama, ade gerak lagi!" pekiknya dengan mata berbinar-binar. Sementara Shine tampak murung menatap nanar pada Max.
"Ma, kenapa papa gak bangun-bangun? Apa papa tidak ingin bermain lagi dengan Sunny dan Shine?" ucapnya lirih dan begitu menyayat hati.
Mikha nampak mengulas senyuman getir, hatinya begitu perih melihat kondisi keluarga kecilnya. Terlebih kedua anaknya terus menanyakan hal yang sama disetiap harinya.
"Shine tidak pernah nakal, Shine selalu rajin mengaji, Sholat dan mendoakan papa agar lekas bangun," ucapnya kembali dan terus menggenggam tangan sang ayah.
"Sayang, teruslah berdoa. Dan kita harus yakin kalau papa pasti akan sadar, mungkin sekarang papa masih sakit, jadi harus tetap tertidur seperti ini," ucapnya dengan lembut.
Nyonya Anna dan Marrie yang berada di sana terlihat menahan air matanya, mereka perlahan menghampiri Sunny dan Shine dan mengusap kepalanya perlahan.
"Ayo kita pulang dulu sayang, kasian Mama harus istirahat," tutur Nyonya Anna dan di jawab anggukan oleh keduanya.
Sunny dan Shine mencium tangan Mikha dan juga mencium pipi Ibundanya, "Mama jangan lupa makan, kami sayang mama dan papa," tuturnya kompak lalu pergi meninggalkan Mikha berdua dengan Maxim.
Kini pandangan Mikha beralih, pada suaminya yang nampak lebih kurus.
Runtuh sudah pertahanannya, ia menangis menumpahkan seluruh curahan hatinya di hadapan sang suami yang masih setia dalam tidur panjangnya.
"Max, apa kau gak mendengar anak-anakmu begitu merindukanmu! Setiap kali mereka bertanya kapan kau bangun, setiap kali itu juga hariku terasa hancur karena aku sama sekali tidak tau harus menjawab apa," lirih Mikha dengan wajah yang mulai basah karena air mata.
"huhuhu kami Merindukanmu, kami membutuhkanmu! Apa kau tega membiarkanku berjuang melahirkan anak kita seorang diri lagi? Kau kejam, Max!" Mikha memekik dan mulai kehilangan kendalinya.
Ia mengigit kuat sebuah bantal, guna merendam teriakannya agar tak terdengar kemana-mana. Letih, sudah pasti. Selama tiga bulan ia harus melawan morning sickness yang begitu menyiksa, agar tetap bisa merawat sang suami. Namun ia ikhlas, dan terus mendoakan Max sepanjang waktu.
Hingga pandangan terfokus pada manik biru yang lebih dari empat bulan lamanya terpejam, kini perlahan terbuka. Mikha segera bangkit dan menatap intens wajah suaminya.
"Max!"
......................
Bonus visual Jerry dan Dilla😁
Hai pembacaku,
jangan lupa rate ⭐⭐⭐⭐⭐, like dan komentar dong biar novel ini makin berkembang dan aku makin samangat
Sekali-kali aku boleh dong minta jatah Vote mingguannya, boleh ya😭
Terima kasih😘