
Hai-hai teman-temanπππ
Jangan lupa Like, komen dan Rate βββββ
Boleh dong Author keripik kentang ini minta hadiah dan Vote mingguannya π
biar makin semangat update...
...Terima kasihπππ...
......................
Seorang pria berwajah oriental tampak asik berbincang di balkon lewat ponsel miliknya. Sesekali senyuman mengembang di wajahnya menanggapi lawan bicaranya.
"Sorry ya aku jadi pakai namamu terus untuk jadi tameng perasaanku" Ucap Ryan pada lawan bicaranya.
"Gak masalah, lagian kenapa sih kakak bisa punya perasaan sama mba? Padahal kayanya kalian gak dekat." Tanya Rika yang menjadi lawan bicara Ryan.
"Aku juga tidak mengerti, yang aku tau kakakmu adalah wanita yang baik dan tulus hingga membuat siapapun pasti akan nyaman bersamanya", Ryan tersenyum sambil membayangkan Mikha.
"Hah... tapi gak ada yang gratis loh!" Ucap Rika terkekeh menggoda Ryan.
"Dasar, kau ini."
Rika tampak tertawa, begitu pula Ryan yang begitu nyaman berbicara dengan gadis remaja tersebut.
"Gimana rencanamu kedepannya? apa kau mau meneruskan sekolah disini?"
"Mau banget, apa mau aja aku kuliah disana? hahaha, aku mau coba cari beasiswa di Universitas negeri saja."
"Mengapa? Maxim Kan mampu membiayaimu sekolah, untuk apa kau susah-susah mengejar beasiswa?"Tanya Ryan.
"Oh aku tidak mau ketergantungan dengan mas Max, aku ingin berjuang dengan kemampuanku sendiri! Aku ingin menjadi seorang dokter yang hebat dan mandiri!"
"Good Girl! kalau sudah jadi dokter, bisa dong mengobati hatiku yang telah terluka ini."
"Hahaha berat! berat! luka hatimu terlalu parah, rasa-rasanya kalau menunggu aku bisa keburu busuk duluan hahaha"
Ryan tertawa terbahak-bahak, Rika memang selalu berhasil membuat pria dingin itu terhibur.
......................
"Kakak"
Mikha terperangah kala melihat Jhon dan Indah yang datang ke apartemennya.
Perasaannya begitu serba salah menghadapi kakak iparnya.
"Siapa say..., Jhon! untuk apa kau kesini!" Pekik Max yang berniat menghampiri istrinya.
BRUKKK
"Max!!!"
"Jhon!!!"
Pekik Mikha dan Indah nyaris bersamaan.
Sebuah bogem mentah berhasil mendarat sempurna di pipi kanan Jhon, dan berhasil membuat Mikha dan Indah berteriak dan memegangi suaminya masing-masing.
"Max! Apa-apaan sih kamu, sadarlah kalian itu bersaudara!" Ucap Mikha menahan tangan suaminya.
"Saudara? Saudara macam apa yang menyakiti hati dan fisik adik perempuannya demi membela wanita iblis!" Ucap Maxim gusar, wajahnya nampak merah padam menahan gejolak amarah.
"Stop kak, sudah jangan berkelahi." Pekik Marrie menghampiri kedua kakaknya yang tengah berseteru.
"Marrie maafkan Kakak" Ucap Jhon lirih berusaha memeluk adiknya, namun gadis itu secepatnya menghindar.
"Jhon, kau sudah keterlaluan! Daddy harus tau akan permasalahan ini, Karena tak menutup kemungkinan wanita ular yang kau bela-bela setengah mati itu akan membuat masalah!" Ucap Max berusaha menahan rasa amarahnya.
Kali ini Jhon hanya bisa pasrah, ia sadar betul telah berbuat salah yang akhirnya menyakiti orang-orang tercintanya hanya karena perasaan bersalahnya pada Rhine.
Max melajukan mobilnya menyusuri hiruk pikuk kota London, Mikha tampak mengusap lembut paha sang suami agar pria itu bisa terus mengontrol emosinya.
......................
Tidak butuh waktu lama, kini tibalah mereka di kediaman besar Keluarga Larry.
Disana Tuan Andrew dan Nyonya Anna telah menunggu di ruang keluarga karena Maxim sudah terlebih dahulu menghubungi orang tuanya.
"Jhon, sebagai anak tertua Daddy berharap kau bersikap lebih bijak, dan berani mempertanggung jawabkan semua tindakanmu. Adakah yang mau kau katakan?" Ucap Tuan Andrew yang begitu memancarkan aura dingin dan mencekam.
Semua anaknya dan menantunya nampak menunduk, tak terkecuali Mikha.
Ia tertunduk dan menggenggam erat tangan suaminya, karena baru kali ini ia melihat ayah mertuanya begitu tampak mengerikan.
"Daddy, Jhon amat sangat menyesal telah berbuat kasar pada Marrie, aku Khilaf." Ucap Jhon lirih.
"Jhon Marcello, yakin hanya itu? akhir-akhir ini kau sudah berkali-kali mengecewakan Daddy!"
"Maaf Daddy, Untuk soal Rhine aku sudah coba selidiki dan ia benar-benar dalam kondisi terpuruk. Ia juga sudah berubah."
Tuan Andrew nampak memijat keningnya, sementara Indah hanya terdiam membisu, begitu sesak rasanya mendengar sang suami begitu membela wanita yang jelas-jelas mempunyai maksud lain.
"Jhon! dia susah, atau mati sekalipun bukan urusan kita! ingatlah betapa berbahayanya wanita itu, dan apa yang telah dia perbuat pada Emily! apa kau tidak mengkhawatirkan keselamatan Indah? dia istrimu!"
Ujar Tuan Andrew yang mulai meninggikan nada bicaranya.
"Tapi Daddy, kasihan dia dan aku yakin dia sudah berubah!"
Mendengar pembelaan Jhon, Tuan Andrew nampak memicingkan matanya. Ia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan putra sulungnya.
"Kau sungguh kehilangan akal sehat! Oh ... atau ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami? Jika kau beralasan atas nama persahabatan lagi Daddy tidak bisa menerimanya karena membiarkan dia hidup saja harusnya sudah cukup!" Selidik Tuan Andrew.
Jhon nampak menunduk sambil meremas tangannya, sementara Indah menatap tajam tingkah suaminya yang begitu aneh.
"A-Aku pernah menghamili Rhine." Ucap Jhon lirih.
Deg!!!
Hati Indah terasa tercekat, begitu pula semua yang mendengar. Mereka berharap semua salah pendengaran mereka.
BRAK!!!
"YANG LANTANG!!!" Pekik Tuan Andrew, menggebrak meja yang berada di hadapannya.
"Dulu aku pernah tidak sengaja bers*tubuh dengan Rhine hingga ia hamil, dan aku tidak bertanggung jawab" Ucap Jhon dengan jelas dan Lantang.
Dada Indah terasa sesak, hatinya begitu terpukul dan pilu, ia terus menunduk dan mengigit bibirnya menahan kedua matanya yang mulai memanas di penuhi air mata yang tertahan.
"Dan bagaimana anak itu?" tanya Tuan Andrew yang terlihat geram dengan tingkah putra sulungnya.
"Rhine mengugurkannya karena aku harus menikah dengan Emily dan la-lagi pula aku tidak mencintainya. Dulu ia adalah gadis yang baik namun karenaku ia berubah, makanya aku merasa bersalah padanya."
PLAK!!!
Sebuah pukulan mengenai kepala Jhon, dia hanya tertunduk pasrah dengan perlakuan sang ayah yang begitu terlihat marah.
"Anak kurang ajar! Daddy tidak pernah mendidikmu menjadi seorang pecundang!!!" Pekik Tuan Andrew yang terus memukuli Jhon dengan sebuah tongkat di tangannya.
Tidak ada yang berani memisahkan karena Jhon memang keterlaluan dan bersalah, Nyonya Anna tampak menangis tersedu-sedu sedangkan Tuan Andrew terlihat sangat murka.
"Daddy maafkan aku." Ucap Jhon bersimpuh di kaki ayahnya.
Indah yang sudah tidak kuat dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui memilih berlari pergi ke kamarnya, di susul oleh Mikha yang tampak khawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Dasar bodoh! Jhon karena mu Emily menjadi korban! dan sekarang apa kau ingin anak dan istrimu jadi korban kembali, buka matamu lebar-lebar Jhon Larry!" Bentak Tuan Andrew pada Jhon yang masih bersimpuh.
"Astagfirullah Indah!!!"
Teriakan suara Mikha mengalihkan semua pandangan dari Jhon, Jhon segera berlari menghampiri sumber suara itu berasal.
^^^Bersambung...^^^
......................