
Sudah hampir pukul 1 malam, namun mata Jerry tak dapat terpejam.
Pikirannya terus di penuhi sosok gadis yang belum pernah ia temui secara langsung, gadis yang sudah berbulan-bulan lamanya mengisi hari-harinya walau hanya lewat chat atau video call.
Gadis itu pula yang membuat sifat playboynya berubah, dan kini hanya terpaku pada gadis itu.
"ohhh ...kenapa tidak di angkat, seharian ini tidak berkomunikasi dengan dia sungguh hari yang terasa hambar." Ucap Jerry dalam hati sambil terus memainkan Handphonenya.
"Ada sih apa pagi-pagi begini video call?"
Ucap seorang wanita di teleponnya, membuat wajah Jerry berseri kembali.
"hah pagi? ini tengah malam tau!"
"Idih ngelindur ya? sadar dulu sadar! kita beda Negara Tuan Jerry yang paling tampan."
Mendengar jawaban gadis itu Jerry hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
"Udah ah, dikit lagi sudah mulai kerja nih!"
"Semangat ya kerjanya, aku cuma mau bilang nih sampai jumpa ya nanti di pernikahan Maxim, aku sangat menantikannya, manis!" Jerry mengedipkan sebelah matanya dan menutup panggilan video call-nya.
Sementara Gadis itu mengerutkan dahinya melihat kelakuan Jerry, sepertinya ia sangat tidak suka dengan tingkah genit Jerry kepadanya.
"Cie elah pagi-pagi udah ada yang video call, bangga gw jadi temen kalian! gebetannya gak kaleng-kaleng! ." Ucap yang Indah tiba-tiba datang menghampiri Dilla yang terpaku menatap ponsel miliknya.
"Hihhh buat lu aja deh!" Ucap Dilla mendengus kesal.
"Loh kok lu gak seneng sih? bukannya kita fans The Prince garis keras ya?"
"Hihh siapa yang mau sama laki genit dan playboy macam Jerry, dulu gw seneng cuma sekedar bisa komunikasi sama idola, tapi lama-lama liat tingkahnya sumpah bikin enek! dan lagi pula lu tau kan di antara mereka bertiga siapa idola kita sebenarnya hehehe" Ucap Dilla terkekeh membuat Indah juga tertawa lepas.
"Hahahaha idola kita itu Maxim! tapi dia udah jadi hak milik sahabat kita, bahkan sudah masuk ke fase bucin! hahaha gak nyangka ya, Kalau ada fotocopy-an model Maxim boleh tuh gw gebet."
Seru Indah yang membuat Dilla tertawa lepas.
***
Sementara itu di ruang praktik dokter, Maxim berbaring di sebuah brankar hendak di beri anastesi.
Mulut nya tak henti-hentinya membaca doa, matanya terpejam menahan rasa takutnya.
"Wah ini Maxim 'The Prince' ya?" Ucap seorang perawat pendamping Dokter.
Maxim tersenyum, begitu pula dengan perawat tersebut dan dokter yang sedang menanganinya.
"Wah mimpi apa saya semalam bisa bertemu idola saya, habis ini apa saya boleh minta foto sama tanda tangan?" Ucap perawat tersebut tanpa mengabaikan pekerjaannya.
"Boleh tapi jangan sampai ketahuan keluarga yang mengantar saya ya, dan juga orang lain kalau saya berada disini!"
"Oke! hmm sepertinya akan ada berita besar nih!" Ucap perawat itu dengan mata berbinar-binar.
"Sudah selesai Tuan." Ucap sang Dokter yang membuat Maxim terpaku tak percaya.
"Benarkah? Ternyata tidak berasa apa-apa! hisss... buat apa aku dari kemarin khawatir memikirkan ini, dasar si Rika menakut-nakuti saja!" Max mendengus kesal, ia baru sadar telah di permainkan oleh calon adik iparnya yang sangat jahil.
Dokter dan perawat tersenyum melihat tingkah Maxim yang terus merancau kesal, sesudah semuanya selesai dokter itu pun memberinya sebuah resep dan pantangan yang harus di hindari semasa pemulihan.
Pintu terbuka, tak lama keluar lah sosok Maxim yang sudah mengganti celana jeans-nya menjadi kain sarung.
"Apakah terasa sangat menyakitkan, anak Mommy?" Mikha mengejek Maxim, membuat pipi putih pria itu merona merah bagai tomat menahan malu.
"sudah ah Nduk, jangan menggoda Nak Maxim terus." Ucap Bu Yani menghentikan Putrinya yang terus mencibir Maxim.
"hahaha aku di belain dong." Bisik Maxim balas menggoda Mikha, yang membuat gadis itu kesal dan mengerucutkan bibirnya.
***
Siang hari di kediaman keluarga Larry di kota London.
Kesibukan mulai terlihat, Jhon dan Marrie mempersiapkan kopernya untuk menyusul Maxim ke Yogyakarta.
"Mom, daddy aku berangkat dulu ya!" ,Ucap Marrie seraya mencium pipi kedua orang tuanya.
"Hati-hati sayang, Jhon tolong jaga adikmu! jangan sampai anak manja ini menyusahkan calon istri Maxim dan keluarganya", Ucap Ny Anna sambil mencubit hidung anak gadisnya.
"Baik mom, sini Bella anak daddy yang cantik, peluk cium daddy dulu."
Jhon menggendong buah hatinya, ia menciumi pipi gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu.
"Jhon jika urusan itu sudah beres, kami akan segera menyusul kesana untuk membantu mempersiapkan pernikahan Maxim", Ujar Tuan Andrew Larry.
Setelah berpamitan kedua kakak beradik itu pergi menuju bandara, terpancar kebahagiaan dari mata gadis cantik itu yang tak sabar bertemu dengan sosok kakak ipar yang sudah lama ia nanti.
***
Indah dan Dilla berjalan menuju kantin untuk makan siang, yaa... ini adalah waktu istirahat mereka namun mereka tak sengaja melihat Resti yang sedang asik bergosip ria di kantin tersebut.
"eh tau gak! Si Mikha anak cco katanya di perk*s*! ih itu mah emang dia aja yang gatel, sama cowok mana aja nempel sana nempel sini! rasain deh akibatnya", Ucap Resti seenaknya.
"Ah tau darimana?" tanya seorang wanita yang duduk di hadapan Resti.
"ishh...Aku tuh dengerin waktu si Indah nyerahin surat pengunduran dirinya si Mikha, dia ngomong sama HRD katanya Mikha jadi korban pelecehan, ah itu mah alasan aja biar gak malu hihihi padahal jangan-jangan dia bunting anaknya si bule yang suka jemput dia itu loh ... eh sudah bunting, bapaknya malah kabur ke negaranya hahahaha".
"Hah apa? bule? maksudnya Mikha simpanan bule gitu? ah mas sih gw gak percaya!"
"cihhh...ya sudah kalau gak percaya, yang jelas aku tuh lihat sama mata kepalaku kalau Mikha satu atap dengan bule itu!"
Byurrr...
"Aduh kalau ngomong enak banget itu mulut, kaga ngaca! Lu tuh yang simpanan Om Om gendut tua itu!"
Dilla yang telah habis kesabaran menghampiri Resti dan menyiramnya dengan air cucian tangan bekas(kobokan) yang berada di salah satu meja makan.
Resti yang kesal berdiri menghadap Dilla yang sudah berdecak pinggang menatap tajam kearahnya.
"Apa lu! mau marah! gak terima! sini lawan gw, eh orang-orang juga sudah pada tau kelakuan lu dan mulut busuk lu seperti apa! sekali lagi gw dengerin lu ngejelek-jelekin sahabat gw, gak akan segan-segan gw akan robek-robek mulut busuk lu itu! Oh ya kalau perlu gw sebar aja foto dan video lu yang lagi manja-manja di mall sama om-om tua sang ATM berjalan lu!"
Dilla terus mencemooh Resti, ia sudah sangat geram dengan tingkah wanita itu yang selalu mencari gara-gara dengan mereka.
Indah hanya mengelus-elus punggung Dilla agar sahabatnya itu tidak lepas kendali.
"Cih..."
Resti berdecak dan pergi meninggalkan Dilla dengan hati yang kesal karena tidak mampu membalas perkataan wanita itu.