Oh My Mister

Oh My Mister
Penjelasan



"Max, gw mau tanya beberapa hal sama lu dan tolong banget lu jujur." Dilla menatap Max setajam mungkin.


"Apa?"


"Apa lu ada perasaan dengan Mikha? atau hanya sekadar suka berteman dengannya saja?hmm kalian baru sebulan kenal loh!" tanya Dilla menyelidik.


"Sejujurnya sewaktu pertama bertemu aku cukup tertarik dengannya entah apa alasannya, aku cukup merasa dia berbeda apalagi di tambah dia tidak tau identitas aku sebenarnya, aku merasa dia tulus denganku.


Aku nyaman dengannya, bisa di katakan aku menganggap dia lebih dari sekedar teman, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku Ingin selalu membuat dia bahagia, membuat dia tersenyum dan tertawa."


"Hmmm apa lu gak bohong? bukankah lu..."


Belum sempat Dilla melanjutkan ucapannya namun sudah di intrupsi oleh Max.


"Tidak itu hanya gosip saja!" Ujar Max penuh keyakinan.


"Hmmm ... Sungguh? gw ngikutin banget loh berita skandal lu dan Jess, dan anehnya tiba-tiba berita itu hilang begitu saja" Dilla masih menatap Max dengan intens, dia sedang mencari kebohongan pada raut wajah Max.


"Sungguh, itu hanya sebuah isu!" Max terus meyakinkan Dilla, dia gugup namun pria itu sangat pandai menyembunyikannya.


"oh ...oke, gw percaya sama lu tapi kalau sampai bohong gw gak akan segan-segan lagi sama lu! gimana pun Mikha itu sahabat gw bahkan gw anggap saudara gw sendiri, gw gak mau siapapun menyakitinya termasuk Lo!!! Sampai ujung dunia pun lu gak akan bisa lolos dari gw." Dilla mengancam Max.


"Baiklah aku janji!" Max mengangkat tangan kanannya.


"Yasudah sana susul dia pake motor gw, biasa dia kalau lagi kesal pasti ke Ancol , tapi tepatnya di mana ya lu usaha cari sendiri ya! jangan lupa entar malam balikin dan isiin bensin."


"Sipp, aku mau ganti pakaian dulu, makasih ya hati-hati di jalan."


Max langsung berjalan meninggalkan Dilla, namun bajunya di tarik oleh Dilla dari belakang.


"Enak aja lu langsung kabur! anterin gw pulang dulu woy!"


***


"Jerry!!!!!"


suara teriakan terdengar dari ruang tamu Apartemen milik Jerry yang ternyata berasal dari David, di sana terlihat David bersama dengan Ryan mencari keberadaan Jerry.


"Jerry Bangun !!!" Pekik David masuk ke kamar Jerry dan membuka paksa selimut yang menutupi tubuh Jerry.


"Hoammmm ...apa sih berisik." Jerry membalikan badan dan menutup kepalanya dengan bantal.


"Jerry! jangan sampai kau ku siram ya! bangun!"


David masih berteriak dan membuka paksa bantal di kepala Jerry sementara Ryan hanya tersenyum dan menutupi kedua lubang telinganya dengan jari.


"Ya ampun bos! gak ada job hari ini masih aja bawel." Jerry langsung bangun dan berjalan malas ke arah kamar mandi.


"Mau kemana kau?" Tanya David dengan suara yang tinggi.


"Mau buang hajat dulu, kenapa? mau ikut !" Ujar Jerry kesal.


10 menit kemudian setelah urusannya selesai, Jerry menemui David dan Ryan di ruang tamu.


"Ada apa sih bos, berisik amat pagi-pagi." Ucap Jerry dengan wajah yang masih mengantuk, Tiba-tiba David menghampirinya dan menarik telinganya dengan keras hingga Jerry meringis kesakitan.


"Ada apa ada apa! masih merasa gak punya salah kau! astaga kenapa aku harus jadi manager manusia macam kalian! apa salah dan dosaku ya Tuhan!"


"Banyak." ujar Jerry spontan, membuat Ryan berusaha menahan tawa dan David makin kencang menarik telinga Jerry.



"aduhhhh sakittttt" Pekik Jerry mengusap-usap telinga nya yang memerah.


"Hufff... kalian ini sekokongkol ya menipu orang tua sepertiku, dari awal tau keberadaan Max tapi pura-pura tidak tau!" Ujar David menghela nafas.


"Hehehe udah ketauan ya...." ucap Jerry tanpa rasa bersalah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


***


dia sudah lebih dari satu jam berputar-putar di wilayah pantai Ancol namun gadis itu tak kunjung di temukan, sesekali dia mencoba menelepon Mikha namun nomornya tetap tidak aktif, seperti nya Mikha sengaja mematikan Handphone miliknya.


"Hufff Mikha kamu kemana sih?" Max menghela nafas dengan membuka masker yang selalu ia gunakan kemana-mana.


Pandangannya terus menelisik mencari keberadaan Mikha di seluruh sudut tempat, hingga akhirnya ia menemukan sosok yang ia kenali sedang duduk di sebuah ayunan yang menghadap pantai.


sosok wanita yang duduk termenung di hembus angin laut yang cukup kencang,


tanpa berpikir panjang Max langsung menghampiri wanita itu.


"Mikha ..." Max menyentuh bahu wanita itu dari arah belakang.


"M ...Max! kenapa ada disini?" Mikha kaget dengan kehadiran Max secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa Mikha? kenapa pergi begitu saja? bahkan Handphone mu tidak aktif,kalau aku ada salah aku minta maaf, tolong jangan begini, aku sangat khawatir."


Max berlutut di hadapan Mikha yang masih terduduk di ayunan, tangannya menggenggam kedua tangan Mikha dengan erat.


"Sudah Max jangan begini, nanti celanamu kotor."


"Tidak apa-apa asal kamu tidak marah lagi, aku minta maaf." Ujar Max lirih.


"Max sudah kamu tidak punya salah apa-apa padaku, aku cuma sedang jenuh saja."


Mikha beranjak dari duduknya, dan membantu Max membersihkan lututnya yang penuh dengan pasir yang menempel.


"Mikha, Aku dan Dilla tidak ada apa-apa, aku hanya membantunya berkenalan dengan temanku di London." Max mencoba memberikan penjelasan.


"Y ...ya memang kenapa? apa hubunganya denganku." Ucap Mikha dengan wajah datar namun di hatinya merasa sangat senang.


"Aku cuma gak mau ada kesalahpahaman, jangan marah lagi ya, aku khawatir banget sama kamu! hei...hei...Mikha kenapa wajahmu merah? kamu sakit?" Max menyentuh dahi Mikha yang tidak panas.


"Akhhh aku mau cari makan, kamu mau ikut gak?" Mikha menepis tangan Max dan pergi meninggalkan Pria itu.


"Tunggu lah sayang." Max mengejar Mikha yang kian menjauh.


Sepanjang jalan menuju Restaurant fast food meraka saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


***


Di rumah Mikha di desa, kedua orang tua Mikha terlihat gembira, senyum terhias di wajah mereka.


"Ada apa nih kayanya ibu sama bapak lagi seneng banget?" tiba-tiba Rika, yaitu adik dari Mikha yang masih duduk di bangku SMA menghampiri kedua orang tuanya yang tampak bahagia.


"Gimana gak senang toh nduk, akhirnya mbamu akan lepas dari jeratan si Ari!" ujar bu Yani bahagia.


"Benarkah? wah aku seneng banget bu, tapi ibu sama bapak dapat uang dari mana untuk melunasi hutang?"


"Bapakmu dapat pinjaman dari koperasi, Alhamdulillah setidaknya kita bisa bernafas lega."


"Syukur Alhamdulillah, aku janji kalau aku sudah kerja aku akan bantu mba, dan bapak buat lunasi hutang itu." Rika sangat senang hingga memeluk ibunya dengan erat.


"Nduk, gak usah kamu pikirkan, kamu sekolah saja yang Rajin dikit lagi kamu naik kelas 3 dan kamu harus membanggakan mbakmu yang sudah susah payah banting tulang dan jauh-jauh merantau untuk menyekolahkanmu." Ujar Pak Ali.


"iya pak, tapi pak setelah ini Bapak, ibu dan Mba harus tetap waspada, Ari gak mungkin tinggal diam, dia pasti akan mencari cara agak Mba bisa menikah dengannya.


Sebisa mungkin kita harus tetap hati-hati."


Ucapan Rika membuat Bu Yani dan Pak Ali tersadar, bahwa Pemuda licik itu tidak akan menerima kekalahannya begitu saja.


dia pasti akan mengambil cara lain untuk mendapatkan Mikha.


***