Oh My Mister

Oh My Mister
Honey Moon 1



Kehadiran Tuan Wang untuk menjenguk Indah nampaknya tidak mendapatkan sambutan baik dari Jhon, pria itu nampak acuh tak acuh menerima laki-laki yang selalu ia rasa menjadi ancaman terbesar untuknya.


"Bagaimana kondisimu nona, Oh maaf Nyonya!" sapa Tuan Wang tersenyum miris, hatinya sangat tersayat pilu melihat kondisi Indah yang pucat dan tampak kurus.


Hatinya terus merancau "Apakah ia bahagia bersama Jhon atau sebaliknya terlebih raut wajah Indah yang seakan begitu banyak pikiran."


"Aku sudah baik-baik saja" Ucap Indah tersenyum.


Suasana begitu kaku, hingga setelah perbincangan basa basi akhirnya Tuan Wang berpamitan karena merasa kehadirannya cukup mengganggu dan mengusik Jhon.


"Indahhhh!!!!" Pekik Mikha yang baru saja datang dan memeluk sahabatnya.


"Udah siap belum? yuk pulang, gue udah masakin makanan kesukaan lo!"


"Dilla gak datang?" tanya Indah yang tampak melihat sekeliling seolah mencari keberadaan Dilla.


"Emm...dia Honey moon, mumpung Jerry lagi udah sembuh dan gak ada jadwal." Ucap Mikha sambil membantu memberesi pakaian Indah dan di masukan kedalam tas besar.


"Honey moon..."Ucap Indah lirih dan menunduk, Jhon yang mengerti perasaan istrinya langsung mendekat dan merangkul istrinya.


"Jangan sedih, nanti kalau kamu dan aku sudah sembuh kita juga akan Honey moon kemana kau mau. Sabar ya sayang, siapa tau Tuhan akan memberikan kita malaikat kecil lagi." Ucap Jhon mengecup pucuk kepala Istrinya, sementara Indah hanya menanggapi ucapan suaminya sengan senyuman getir.


"Ya semoga saja, namun entah kenapa perasaanku berkata kalau semua hanya angan-angan saja." Gumam Indah dalam hati.


......................


Setelah perjalanan yang begitu panjang pada akhirnya Dilla dan Jerry sampai di kepulauan Raja Ampat yang terletak di Provinsi Papua barat di Timur Indonesia.


Gugusan pulau cantik dan eksotis dengan laut biru kehijauan bak Nirwana di Bumi Pertiwi.


Dilla tampak terkagum-kagum, matanya berbinar-binar menatap hamparan laut lepas nan begitu memukau.


"Kau suka?" Bisik Jerry pada istrinya.


"Suka, aku suka banget!"


"Masih ada yang lebih, yuk kita taruh barang dulu di hotel."


Jerry menggandeng tangan Istrinya, menyelusuri hamparan pasir putih yang begitu lembut.


Ia telah membooking sebuah hotel unik yang memiliki suasana berbeda, sebuah hotel yang memiliki konsep terapung di laut.


"Jerry sungguh, kita akan menginap disini?" Ucap Dilla yang nampak terkagum-kagum dengan pemandangan yang di suguhkan di hadapannya.



"Iya sayang, kenapa? kamu gak suka?"


"Omong kosong macam apa itu? tentu saja aku suka, ini luar biasa Jerry. K-kau sungguh mengerti seleraku!"


Jerry mendekati istrinya yang tengah menatap hamparan laut yang memiliki air begitu jernih hingga terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang jelas terlihat.


BYURRR !!!


Rupa-rupanya Dilla yang peka bahwa Jerry ingin memeluknya, segera berpindah posisi dan sengaja mendorong suaminya hingga pria itu tercebur ke laut.


"Dilla awas ya kamuuu! sakit tau!" gerutu Jerry dengan pakaian yang sudah basah, pria itu berdiri di air laut yang hanya sebatas lututnya


"Hahahaha ih ada Dugong!" Dilla tertawa terbahak-bahak dan langsung berlari ke kamarnya.


......................


Sore harinya, setelah sejenak tidur untuk melepaskan lelah akibat perjalanan panjang. Dilla tampak memilih-milih pakaian yang ia kenakan untuk berjalan santai di tepi pantai.


"Aku gak suka kamu berpakaian terlalu terbuka! aku gak mau tubuh kamu di ekspos dan jadi tontonan orang lain !" Ucap Jerry tegas, dan tanpa berkomentar Dilla langsung nemasukan baju itu kembali dan menggantinya dengan yang lebih tertutup.


Sungguh aneh sikap Jerry, ia lebih menyukai style ciri khas Dilla yang biasanya hanya menggunakan kaos oblong kebesaran dan celana pendek di bawah lutut. Padahal dulu pria itu sangat menyukai wanita berpakaian sexy nan menggoda, sungguh sangat berubah 180 derajat. Mungkin itu semua adalah bukti cintanya pada Dilla hingga ia tidak menginginkan orang lain melihat tubuh istrinya.


"Oh iya gue lupa, apa ya isinya?" Ucap Dilla kala melihat paper bag berwarna pink pemberian sahabatnya.


Dilla yang penasaran dengan pemberian Mikha langsung membuka Paper bag tersebut, tak butuh waktu lama mimik wajahnya pun berubah, pipi ya merah bagai tomat, ia segera menyimpan semuanya kembali rapat-rapat di dalam koper miliknya agar tidak ketahuan suaminya.


"Mikha! asem lu!!!" Umpat Dilla, yang sudah membayangkan sahabatnya tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjainya.


"Sudah belum Yank?" Pekik Jerry yang sudah berada di luar menunggu Dilla.


"I-ya sebentar!" Jawab Dilla gugup karena masih shock dengan isi kado pemberian Mikha, satu sisi ia menolak namun satu sisi ia membayangkan jika ia dan Jerry memakainya, "Hus....Hus... hilanglah pikiran jahanam!" Ucap Dilla merancau sendri, berupaya menghilangkan pikiran-pikiran kotornya.


......................


"Ayo sini cepat!" Ucap seorang pria blonde bermata sendu, yang dengan percaya dirinya memakai kemeja casual berwarna ungu muda dan tak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Dilla terengah-engah menaiki anak tangga menuju puncak tebing, "Suami sompret malah ninggalin gue!" cebik Dilla yang tiada henti-hentinya merancau.


"Dilla ayo sini, lihatlah!"Ucap Jerry melepas kacamatanya guna menikmati panorama yang tersaji di depan mata.



"Keren!!!"


Mata Dilla tampak berbinar-binar, ia adalah seorang yang sangat menyukai pemandangan alam yang asri baik laut ataupun pegunungan.


Jerry memeluk tubuh istrinya dari arah belakang, sesekali ia menciumi ceruk leher dan pipi istrinya.


"Jer geli, Jangan sampe aku banting nih!" Ucap Dilla yang mencoba melepaskan pelukan suaminya.


"Kalau kau banting dan aku jatuh kebawah bagaimana? memangnya kau siap jadi janda kembang?"


"Ih JERRY!" Pekik Dilla yang seketika terdiam karena tiba-tiba saja Jerry menutup bibir Dilla dengan bibir miliknya.


Jantung Dilla berdebar kencang, ini sudah kedua kalinya ia berciuman dengan suaminya namun ia masih tampak gugup dan malu.


Jerry memainkan bibir kenyal istrinya dan sesekali menyesapnya, ia begitu agresif mengeksplor seluruh bibir istrinya sedangkan Dilla, hanya diam dan seolah mengikuti saja perintah dari sang suami bahkan kala tangan Jerry mulai bergerak nakal meremas bokongnya, beruntung tempat itu sepi karena bukan bulan-bulan liburan sehingga tidak ada yang melihat yang mereka lakukan.


"Kita pulang ke hotel saja yuk" Bisik Jerry parau, nampaknya ia mulai tersulut nafsu alamiahnya.


"E-Emmm i-ini masih s-s-sore, aku ma-masih pengen jalan-jalan!" Jawab Dilla gugup, pipinya bersemu merona selaras dengan debaran jantungnya yang seakan tak terkendali lagi.


Jerry menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya guna mengontrol luapan nafsu birahi yang terlanjur bangkit, nampaknya ia harus lebih bersabar karena walau bagaimanapun ia ingin memberikan kesan terbaik untuk istrinya.


"Baiklah, ayo kita jalan-jalan lagi."


......................


Dunia seakan milik berdua, ya... begitu ungkapan yang cocok untuk dua insan yang tengah menikmati masa-masa manis awal pernikahan mereka, namun tak seperti kedua sahabatnya yang selalu bermanja-manja mesra dengan pasangannya, mereka memiliki ciri khas sendiri untuk membangun romantisme yang tercipta walau dengan cara yang aneh dan tidak di pungkiri terkadang memancing perdebatan di antara keduanya.


Waktu senja telah tiba, warna jingga kemerahan pada hamparan luas cakrawala di hiasi suara deburan ombak yang begitu syahdu menambah suasana romantisme sepasang suami istri, yang tenagah duduk di hamparan pasir putih sambil menikmati air kelapa hijau yang begitu menyejukkan dahaga.


Azan magrib berkumandang, lupa akan kewajibannya pada sang maha pencipta Dilla mengajak suaminya untuk beribadah bersama, ia ingin Jerry menjadi imam yang baik untuknya dan menjadi contoh untuk anak-anaknya kelak. Walau pria itu masih dalam tahapan belajar namun ia cukup cepat memahami apa saja yang Dilla ajarkan padanya.


Dilla mencium tangan suaminya dan di balas ciuman yang mendarat di kening istrinya.


"Aku bersyukur mempunyai istri seperti dirimu, Ardilla Maharani." Ucap Jerry tersenyum yang membuat kedua pipi Dilla bersemu merona.


^^^bersambung dulu yeee💃^^^