
Flashback ON
Jess memperhatikan Max yang baru saja keluar dari gedung pemotretan, Max menuju sebua cafe untuk sekedar membeli makanan dan menikmati secangkir teh guna mengganjal perutnya, sebelum ia menjemput istrinya di rumah sakit.
Jess nampak tersenyum seringai karena prediksinya begitu tepat, Max selalu menyempatkan sarapan di cafe terdekat setelah ia melakukan pemotretan pada pagi hari.
Jess nampak memberikan sejumlah uang kepada salah satu pelayan kafe agar menuangkan obat yang ia bawa pada minuman pesanan Maxim.
Tak Butuh waktu lama untuk obat itu bekerja, Maxim merasa pusing, jantung ya begitu berdetak cepat dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Merasa tidak enak badan, Max memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen miliknya namun tanpa ia sadari Jess mengikutinya.
Pria itu tiba-tiba saja memeluk Max yang hendak ingin menelpon istrinya, serta memberikan sentuhan-sentuhan sensual yang begitu memancing Max yang dalam pengaruh obat peran***ng.
"Kurang ajar, untuk apa kau disini Jess!" teriak Maxim dengan nafas yang terengah-engah.
Jason tampak tersenyum dan berbisik lirih di telinga Maxim.
"Stttt jangan berisik, sebentar lagi istrimu datang! hahaha sudah kubilang jika aku tidak dapat memilikimu maka tidak akan pernah ada seorangpun yang dapat memilikimu, sayang"
Ucapnya sambil terus memaksa Max membuka pakaiannya.
Max yang merasa semakin tersulut hasrat, segelas memecahkan sebuah bingkai foto yang berada di sampingnya dan melukai dirinya sendiri untuk mengalihkan efek obat tersebut.
Entah obat macam apa yang diberikan pria iblis itu, Maxim semakin merasa tak berdaya dengan tubuh yang semakin melemah.
Pria itu semakin mendekatinya dengan senyuman licik dan langsug melakukan sesuatu hal yang tidak bermoral padanya, hingga tiba-tiba ia mendapati sang istri di ambang pintu.
Setelah meninggalkan Max seorang diri, Jesson tampak menghubungi Rhine yang memang bertugas mengikuti Mikha. Pria itu segera pergi menuju lokasi keberadaan Mikha yang diinfokan oleh Rhine.
Flashback Off
......................
"I am sorry...oh my God ! Help me, Help me please!"
"Hei ...aku penghuni baru, namaku Maxim Andreas Larry panggil aja Max."
"Makanlah, aku khusus membuatnya untukmu, Oh ya...jam berapa kau pulang? Apa aku boleh menjemputmu?".
"Mikha apa kau senang berteman denganku?"
"Izinkan aku untuk kali ini saja menghabiskan sisa waktu ini bersamamu."
"Will you merry me?"
"Apa yang membuat kau berpikiran sempit seperti itu? apa karena hal itu? Mikha dengar aku, aku tidak peduli! aku cinta kepadamu bagaimanapun keadaan dirimu, dan aku juga bukalah pria yang sempurna."
"Maafkan aku, sekali lagi Maafkan aku. Aku akan berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Tidak akan ada lagi rahasia yang aku sembunyikan darimu, aku berjanji sayang."
"Terima kasih ya Tuhan, Terima kasih sayangku!"
"Bukankah cinta kita berawal dari 3 potong Sandwich lalu turun ke hati?".
"Sebentar lagi tempat ini akan ramai oleh suara tertawa dan tangisan mereka, aku benar-benar tidak sabar."
Kilasan-kilasan awal pertemuannya dengan Maxim hingga kini terus-menerus berputar di kepalanya.
Pandangannya menatap lurus kedepan, tanpa tangisan bahkan tanpa suara.
Mikha benar-benar tidak mengerti harus bersikap seperti apa. Yang ia tahu hatinya begitu terasa sakit dan sesak.
"Disini kau rupanya, Nyonya Larry."
Suara seorang pria terdengar jelas di indera pendengaran Mikha, namun ia bergeming tanpa merespon sedikitpun karena ia tahu suara itu berasal dari seorang pria yang paling ia benci, Jesson.
"Sudahlah menyerah saja, Emmm aku sebenarnya cuma mau memberi tahu satu hal padamu.
Mikha tampak membulatkan matanya, dan menoleh menatap tajam kearah Jesson.
"K-Kau ?"
"Hahahaha dan apa kau tau, kalau suamimu sudah mengetahuinya? Namun ia diam saja, karena apa? ya tentu, karena ia masih sangat cinta padaku.
hihihi mungkin kalau aku mencelakakan bayimu itu, bagaimana ya respon dia? hahahaha" Ucap Jesson memprovokasi, dengan kebohongan-kebohongan yang ia buat.
"Jangan macam-macam kau, Pergi! Pergi" Teriak Mikha, memeluk erat perutnya.
Pria itu tersenyum puas lalu meninggalkan Mikha yang kini terlihat lebih histeris.
......................
Hari semakin gelap, Max yang baru saja sadar dan selesai mengobati lukanya berupaya untuk mencari keberadaan istrinya.
Pria itu mencoba menghubungi Dilla namun wanita itu tidak mengetahui keberadaan sahabatnya.
Cklek
Pintu terbuka, memunculkan sosok yang sejak tadi ia cari. Mikha kembali dengan wajah tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Sayang, kamu darimana saja? Aku ingin menjelaskan semua padamu." Ucap Max menghampiri Mikha.
Ia menggenggam tangan istrinya dan tidak ada penolakan dari Mikha.
"Stop Max, aku tidak ingin membahas itu semua. Aku lelah." Ucap Mikha segera masuk menuju kamar mandi.
Ia terduduk di bawah guyuran shower, hatinya begitu sesak. Mikha menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala emosinya yang sedari tadi tertahan.
"Huhuhu kamu jahat Max, jahat! huhuhu a-atau aku yang terlalu egois, terlalu memaksamu dan mengikatmu di sisiku." Pekik Mikha yang tampak frustasi, nampaknya ia sudah termakan perkataan Jesson yang memprovokasinya.
"Harusnya sejak awal aku sadar, bahwa kamu dan aku berbeda. Aku mencintaimu Max! t-tapi tenang saja, aku akan membebaskanmu, aku berusaha mengikhlaskanmu. Berikan aku waktu sebentar saja untuk bersamamu."
Mikha melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasanya, hanya saja kini ia tidak banyak berbicara.
Seusai makan malam bersama sang suami, Mikha membaringkan tubuhnya di ranjang. Tatapannya begitu kosong memandang langit-langit.
Sesekali ia memainkan ponsel miliknya seakan sedang berkirim pesan pada seseorang.
"Lo yakin? ini bukan hanya masalah diri Lo saja, tapi tentang masa depan anak lo."
Ucap seseorang lewat pesan singkat yang masuk di ponsel miliknya.
"Ya, Gue yakin. Gue sudah memikirkannya baik-baik, gue mohon bantu gue. Selain karena perasaan gue yang sakit, Ini juga demi keselamatan si kembar.
Gue gak mau terjadi apa-apa dengan mereka, pria itu benar-benar nekat dan gila, Ndah.
Kelak, jika Max sudah melupakan gue dan si kembar sudah cukup umur untuk mengerti maka gue gak akan melarang mereka bertemu papanya." Balas Mikha.
"Baiklah, setelah mengurus keluarga lu. Gue akan menjemput Lo, Kha tolong pikiran baik-baik lagi.
Gue masih sangat berharap Lo bisa pertahankan rumah tangga Lo. Jangan seperti nasib rumah tangga gue Kha."
Mikha segera menghapus pesan tersebut dan meletakan ponselnya di atas nakas, pandangannya kini beralih pada suaminya yang tertidur di sampingnya.
Ia menatap lekat-lekat wajah Maxim, hatinya kembali berdenyut perih.
Sesungguhnya ia masih teramat sangat mencintai Maxim, namun gambaran itu lagi-lagi terus menghantui pikirannya terlebih ucapan Jess yang terdengar seperti ancaman untuk bayi yang dikandungnya.
"Maafkan aku Max, maaf aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau suka, maaf selama ini aku telah menyiksamu dan memaksamu untuk menjadi pria normal." Ucapnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Mikha segera memalingkan wajahnya dari wajah sang suami, merasakam rasa perih, sakit dan sesak di dalam batinnya.
......................