Oh My Mister

Oh My Mister
kebenaran?



Hari berganti hari, sudah hampir 10 hari Jhon terus mengabaikan istrinya. Pria itu pun terlihat semakin jarang berada di rumah, jangankan untuk meluruskan kesalahpahaman bahkan untuk bertemu Jhon saja sangat sulit. Pria itu selalu pergi untuk meninjau beberapa pembangunan Resort di luar kota.


"Mau kemana lagi, kau kan baru pulang?" Ucap Indah yang mendapati suaminya ingin pergi kembali.


Ia terus mengekor pada Jhon walaupun tidak ada satupun perkataanya yang di tanggapi.


"Jhon! Jhon!" Pekik Indah kala melihat suaminya masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan dirinya sendiri.


Malam itu, hujan badai di sertai angin kencang menerpa kota London, Indah yang baru saja menidurkan Bella di buat terkejut oleh Jhon yang tengah di papah oleh Frans, asisten Tuan Andrew yang kini merangkap menjadi asisten pribadi Jhon. Wajahnya merah padam dengan bibir yang tampak memucat.


"Frans, ada apa dengan suamiku? bawa ke kamarku saja." Ucap Indah yang tampak panik.


"Tuan terlalu memaksakan untuk bekerja, Nyonya." jawabnya sambil membaringkan tubuh Jhon di atas rajang.


"Ini obatnya Nyonya, tadi di kantor saya sudah panggilkan dokter. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Frans yang lalu pergi meninggalkan Tuannya.


Indah segera mencopot sepatu dan mengganti pakaian suaminya yang basah oleh keringat, pria itu tampak menggigil dengan suhu badan yang cukup panas.


"Kamu kenapa bisa begini sih, sayang."Ucap Indah sambil mengompres dahi dan ketiak suaminya dengan handuk kecil yang sudah di basahi oleh air hangat.


"Ndah... Ndah..." Ucap pria itu dengan mata terpejam, nampaknya pria itu sedang mengigau.


Indah membelai lembut rambut suaminya, lalu ia mengecup kening Jhon. Seorang pria yang begitu ia rindukan.


"Salahkah bila aku begitu mencintaimu, aku lelah Jhon tapi hatiku gak menginginkan untuk menyerah. Aku mohon percayalah padaku." Ucap Indah lirih, ia tidak peduli apakah Jhon mendengarnya atau tidak.


Wanita itu mengurus suaminya dengan telaten hingga ia terlelap dalam posisi terduduk di tepian ranjang.


Waktu menunjukan tengah malam, Jhon yang merasa haus tersadar dari tidurnya. Kepalanya yang tadinya terasa berdenyut dan begitu berat, kini mulai terasa lebih baik hingga ia merasa telapak tangannya di genggam oleh seseorang.


"Indah" Ucapnya lirih, ia pandangi wajah letih sang istri.


Terbersit perasaan tak tega, Jhon menyentuh lembut rambut istrinya hingga membuat Indah terusik dari tidurnya.


"Emmm, J-jhon ada perlu apa? atau ada yang sakit?" Ucap Indah sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Tidak A-Aku hanya haus." Ucap Jhon gugup.


Indah segera mengambilkan segelas air mineral yang berada di atas nakas dan membantu Jhon untuk meminumnya.


"Ya sudah kamu istirahat lagi disini, A-Aku tidur di kamar tamu aja." Ucap Indah yang segera beranjak untuk pergi meninggalkan suaminya, namun seketika tangannya di tahan oleh Jhon hingga membuatnya menoleh dan menatap suaminya.


"Jangan pergi." Ucap pria itu lirih, yang berhasil membuat Indah terperangah dengan kata yang terlontar dari mulut suaminya. Ia segera duduk ditempat semula ia berada.


"Tidurlah di sampingku, kamu pasti lelah."


Indah menuruti permintaan suaminya, tak butuh waktu lama untuk membuat wanita yang kelelahan itu terlelap. Jhon membalikan tubuhnya hingga menghadap sang istri, tangannya perlahan menyentuh lembut rambut dan wajah istrinya.


"Maafkan aku, aku sudah tau semuanya tapi kenapa aku terlalu angkuh untuk meminta maaf padamu. Aku sangat mencintaimu Indah tapi aku ... Aku tidak bisa pungkiri bahwa aku sangat cemburu hingga hilang akal sehat jika melihatmu dengan Chandra Wang." Ucapnya lirih, lalu mengecup kening istrinya.


Flasback ON


Pagi itu tampak Jhon sedang menikmati secangkir kopi pada sebuah Coffee shop, ia tampak memijat-mijat keningnya. Rasa cemburunya yang meledak-ledak membuat pria itu kehilangan akal sehatnya dan selalu bersikap dan berkata yang menyakitkan hati istrinya, hingga ia memutuskan untuk menyibukkan diri sampai ia mengabaikan kesehatannya sendiri.


"Hei, sendirian?"


"Rhine? kau kok ada disini?"


Tanpa di persilahkan, Rhine duduk disampingnya Jhon dengan menyibak sedikit rok yang ia kenakan hingga mengekspos paha putih dan mulus miliknya.


"Emm kebetulan saja, aku habis interview di sana. Terima kasih ya sudah bantu aku mendapatkan pekerjaan bahkan memberikanku tempat tinggal yang layak."


Jhon hanya menganggukan kepalanya menanggapi ucapan Rhine, sedangkan matanya masih fokus menatap layar laptop yang berada dihadapannya.


"Cello, ini sudah mau jam makan siang. Bagaimana kalau kau makan di rumahku, please! anggap rasa terima kasih ku karena kau telah membantuku, aku akan membuatkan makanan kesukaanmu." Ucap Rhine menggenggam tangan Jhon yang seketika ditepis oleh pria itu.


"Tidak, terima kasih." ucapnya datar.


"Sekali ini saja."


"Maaf Rhine, aku ini pria beristri. Sangat tidak pantas kalau kita terlihat terlalu sering bersama." Tepis Jhon sambil merapikan laptopnya dan memasukannya kedalam tas miliknya.


"Tapi kemarin kau selalu menemaniku, tidak masalah bukan?" Ucap Rhine memaksa.


"Hah... jangan salah paham, aku menemanimu karena rasa tanggung jawabku karena supirku telah menabraknya. Maaf Rhine, aku harus kembali ke kantor."


"Oh ya, satu lagi Rhine. Aku memaafkanmu bukan berarti mau kembali menjalin hubungan denganmu, sekalipun hanya sebatas teman." sambung Jhon lalu pergi meninggalkan Rhine.


Tanpa Jhon sadari, wanita itu tampak mengepalkan erat kedua tangannya dan menggertakkan giginya menahan amarah atas penolakan yang begitu terasa seperti penghinaan baginya.


"Aku sudah tidak dapat menahannya lagi, Jhon Marcello!"


Sementara itu Jhon menghela nafasnya seketika setelah ia memasuki mobilnya, pikirannya seakan di penuhi bayang-bayang istrinya, wanita yang belakangan ini ia abaikan.


Drettt... Drettt..


Ponsel miliknya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk, dan segera ia membuka pesan dari David yang berisikan sebuah rekaman cctv dari sebuah pusat perbelanjaan.


"Akhhh... aku sudah menuduhnya macam-macam, aku harus bagaimana menyikapinya. Maafkan aku Indah, maafkan aku." Ucap Jhon yang nampak frustrasi.


Flasback Off


......................


Sementara itu, Seul ye tampak termenung di sebuah balkon hotel yang ia tempati. Ia menatap nanar sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan namanya dan nama Tuan Muda Wang.


"A-ku ragu..." Ucapnya Lirih.


Sungguh miris, ia tersenyum getir mengingat cinta bertepuk sebelah tangan yang selama ini ia jalani. Terlebih ia harus menerima kenyataan bahwa calon suami yang sangat ia cintai sejak sekolah, terpaksa menikahinya atas dasar perjodohan bahkan pria itu sudah mencintai wanita lain yang tersimpan khusus di hatinya.


"Seul ye..." suara bariton dari seseorang berhasil membuyarkan pikiran-pikiran pesimis tak berujung.


Terlihat Tuan Wang, berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa undangan yang sama seperti yang ada di tangannya.


"Mau ikut aku memberikan ini kepada keluarga Larry?" Ucapnya.


"Tidak" Jawab Seul ye mantap, gadis itu tidak ingin melihat wajah sedih Tuan Wang yang semakin membuatnya sakit hati.


......................