
Mikha dan Maxim segera mengganti pakaian mereka lalu menemui Dilla dan Jerry yang sudah menunggu.
"Lama banget sih, emang belum puas semalam?" Ucap Dilla menggoda Mikha, yang membuat mata Mikha melotot dan mencubit lengan sahabatnya.
"Awww sakit tau! eh cerita-cerita dong, gimana rasanya?"
Dilla tiada henti-hentinya menggoda sahabatnya yang membuat wajah pasangan itu merona menahan malu.
"Ga...gak terjadi apa-apa kok, singkirkan deh pikiran kotormu itu !" Jawab Mikha lirih agar Dilla berhenti menggodanya .
"Huh... Ngapusi ! lehermu yang merah-merah itu tidak bisa membohongiku hihihi... kayanya hot banget ya" Bisik Indah terkekeh, Mikha yang baru menyadari Kissmark yang terpampang di tengkuk lehernya segera berusaha menutupi dengan rambut panjangnya..
(Ngapusi\=Bohong 'Bahasa Jawa')
Sedangkan Jerry yang sedari tadi menahan tawa nampak membisikan sesuatu ke telinga Maxim.
"Emang kau bisa?" Bisik Jerry yang berhasil membuat Maxim berdecak kesal .
Sesampainya di Restoran yang berada di kawasan Resort tersebut, mereka segera bergabung untuk sarapan bersama keluarga besar mereka.
Tampak Indah yang dengan telaten menyuapi Bella, menjadikan pemandangan tak biasa di meja makan itu.
"Sejak kapan Bella dekat dengan Indah?" Tanya Max bingung, karena keponakannya itu biasanya tak pernah mau dekat-dekat dengan orang baru.
"Sejak si Indah bertekad untuk menjadi ibu sambungnya." Jawab Dilla dengan suara pelan sehingga hanya Mikha dan Max yang mendengarnya.
Mendengar perkataan Dilla, pasangan itu saling menatap bingung dan Mikha memicingkan matanya ke arah Indah.
"Pak Ali, apa tidak mau ikut kami dulu ke London untuk pengobatan kakinya, atau kita bisa tinggal disana bersama-sama." Ucap Tuan Andrew memulai pembicaraan.
"Aduh, terima kasih banyak Tuan tapi maaf saya gak mau merepotkan, lagi pula saya masih ada tanggung jawab pekerjaan disini. Saya juga memilih pengobatan alternatif yang cukup bagus, sedikit lagi juga sembuh " jawab Pak Ali sungkan.
"Jangan panggil kami Tuan atau Nyonya. Kita kan sudah keluarga dan lagi pula usia kita hampir sama, panggil nama kami saja."
"Bapak kenapa gak pensiun dini saja, kita bisa berkumpul di London. Untuk masalah imigrasi dan sekolah Rika aku bisa membantu mengaturnya." Sambung Maxim.
"Gak usah lah nak, bapak ibu dan Rika disini saja. Jadi kalian juga kan bisa pulang kampung kesini, atau kami bisa jalan-jalan kesana.
Lagi pula tahun besok juga bapak sudah masuk usia pensiun."
"Mas, liburan akhir tahun nanti aku boleh gak jalan-jalan kesana? disana pas salju turun kan!" tanya Rika antusias, gadis itu sangat ingin sekali merasakan naik pesawat dan bermain salju seperti yang ia lihat di film-film.
"Tentu boleh banget, lama di sana juga gak apa-apa, Bisa nemenin aku shoping, ke salon dan jalan-jalan!" Jawab Marrie mendahului Maxim, ia sangat senang dengan keberadaan Rika yang bisa dikatakan sudah sehati dengannya, Marrie memang sudah mendambakan saudara perempuan sejak lama. sehingga kehadiran Rika dan Mikha yang kini telah Menjadi keluarganya sangat membuat gadis itu senang.
...***...
Setelah ritual sarapan pagi, para anak muda bersiap
untuk jalan-jalan meninggalkan para orang tua mereka yang asik bercengkrama.
Jhon yang di paksa ikut oleh David akhirnya ikut serta dalam kegiatan tersebut, meninggalkan anaknya bersama sang baby sitter.
"Bella kenapa gak di ajak? biar aku yang jaga." Ucap Indah menawarkan diri.
"Jangan nanti merepotkanmu, lagi pula kasihan takutnya kita pergi sampai malam." Jawab Jhon tanpa menoleh kepada Indah.
Mereka pun pergi ke pantai sesuai permintaan Marrie yang sudah terus-menerus merengek.
Pilihan berlabuh ke pantai Baron di kawasan Gunung Kidul, alasannya tentu saja karena para bule yang berparas cantik dan tampan itu belum pernah kesana.
Perjalanan yang cukup panjang, sampai Max menduga mereka telah salah jalan, karena jalan yang di tempuh tidak terlihat seperti ke arah pantai.
"Pak, apa kita sudah salah jalan? kenapa belum sampai-sampai? dari tadi aku perhatikan jalanan ini seperti kita mau naik ke gunung bukan ke arah laut." Ucap Maxim kepada supir yang membuat Mikha dan teman-temannya tertawa.
"Kita sedikit lagi sampai kok, Mister " Jawab pak Supir dengan ramah.
Tak lama mereka akhirnya sampai, Sungguh pemandangan yang menakjubkan pantai dengan beberapa kapal nelayan yang bersandar serta di kelilingi tebing dan juga terhubung dengan sungai air tawar.
Marrie yang merasa Sangat senang tampak berlarian ke arah pantai.
Cuaca yang cukup bersahabat, di tambah pengunjung yang tidak begitu ramai membuat mereka bebas melakukan apapun.
"Hmmm...kok air yang disini gak asin? Ih ada Ikan kelihatan!" Ucap Jerry dengan wajah polosnya sambil mencicipi air tempat ia berenang.
"Dasar bodoh, kau berenang di sungai, lautnya di sebelah sana!"
Dilla tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jerry yang begitu bodoh di matanya.
"Hai...Ryan, kenapa kau diam saja? nih minum air kelapa, enak loh!" Ujar Mikha Tersenyum ramah, yang menawarkan sebuah kelapa kepada Ryan yang sedari tadi hanya duduk diam memandangi laut.
"Terima kasih banyak ya." jawabnya membalas senyuman Mikha
"Sama-sama, ya sudah aku mau mencari Max dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan padaku ya, Teman Maxim adalah temanku juga." Ucap Mikha tersenyum dan segera menggalkan pria yang masih terus menatapnya sendu.
Ryan mengusap wajahnya dengan kasar.
...***...
Tak terasa senja menjelang, pantulan warna jingga sinar mentari yang terpantul ke air laut bagaikan butiran-butiran berlian yang berkelip indah.
Sepasang anak manusia yang tengah tenggelam oleh cinta sedang terduduk menikmati suasana senja beralaskan pasir.
Maxim memeluk sang Istri yang duduk di hadapannya, ia menyandarkan kepala kekasih halalnya di dada bidangnya.
Hembusan angin laut menambah romantisme yang tercipta oleh kedua insan tersebut.
"Aku cinta kepadamu." bisik Max ke telinga sang istri.
"Ehem...Ehem... sorry nih ganggu keromantisannya, yuk pulang dulu madam dan meneer ", Ucap Indah yang tiba-tiba saja datang mengganggu.
(*Meneer/menir\=Tuan 'Bahasa Belanda')
Sebelum pulang Lagi-lagi Marrie yang belum puas berjalan-jalan merengek untuk mampir ke Malioboro, hingga hampir jam setengah sembilan malam, mereka menemani gadis itu belanja dengan segitu banyaknya.
Setelah berbelanja, Dilla mengajak teman-temannya ke alun-alun kidul, hitung-hitung bersantai sambil menikmati suasana malam di Jogja.
Tempat yang cukup ramai, banyak pendatang kaki lima dan kendaraan kayuh berbentuk mobil-mobil kecil yang penuh lampu kelap-kelip yang disewakan untuk memutari area tersebut biasa di sebut becak cinta .
Suasana begitu hangat di malam yang dingin.
Mereka beristirahat di salah satu tempat lesehan, memesan wedang ronde guna menghangatkan tubuh mereka.
"Kalian bertiga ini aneh ya, malam-malam pakai kacamata hitam! udah sok kaya artis aja."
Ucap Mikha kepada Max, Ryan dan Jerry dengan polosnya, membuat Rika tiba-tiba reflex menyemburkan minuman yang berada di mulutnya ke arah Dilla.
"Rika Jorok!!!" Pekik Dilla menjewer telinga Rika, yang membuat semuanya tertawa melihat tingkah dua gadis itu.
"Selamat malam tuan dan nyonya, izikan kami menghibur kalian semua."
Suara sekelompok pengamen menghampiri pengunjung di sana dan memulai bernyanyi.
"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu"
(KLA project- Yogyakarta)
Suara yang cukup merdu dari musisi jalanan tersebut menambah hangat suasana malam itu,
membuat Maxim dan teman-temannya cukup terhanyut terbawa alunan nada yang mereka dengar.
...***...