
Jodoh dan Usia adalah dua hal yang sudah diatur oleh sang maha pencipta sejak manusia berada dalam kandungan.
Tidak ada satupun manusia yang mengetahui, kapan malaikat maut menghampiri.
Dan tak dapat dipungkiri, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Entah berpisah hidup ataupun karena maut yang menjemput.
Mikha berlari memasuki ruang ICU dimana sang suami menghembuskan napas terakhirnya.
Ia berhambur dan membuka kain putih yang menutupi tubuh hingga wajah suaminya.
"Max, bangun sayang. Aku mohon!" pekiknya histeris dan terus mengguncang-guncangkan jasad suaminya
Mata biru yang selalu menyiratkan cinta kini telah terpejam, bibir merah yang selalu tersenyum hangat dan berkata lembut kini nampak memucat, bahkan tak terlihat lagi semburat merah muda pada kedua pipi suaminya.
"Huhuhu, Max aku mohon buka matamu! Kenapa kamu tega meninggalkanku dan anak-anak kita? Aku gak sanggup jika harus jadi orang tua tunggal, aku butuh kamu. Aku mohon kembali, sayang! Ya Allah, tolong kembalikan suamiku! Aku berjanji akan menerima bagaimanapun keadaannya," Mikha terus menjerit histeris, membuat pilu siapapun yang mendengarnya.
Dilla segera menghampiri sahabatnya dan mencoba menenangkan Mikha. "Ikhlaskan, Kha," lirih Dilla.
Namun Mikha nampak enggan mendengarkannya.
"Enggak, Max masih hidup! Dia gak akan tega meninggalkan kami. Sayang tolong buka matamu, tunjukan kalau kau baik-baik saja. Aku mohon huhuhu akhhhhh! Buka matamu sayang!" jeritnya semakin menjadi-jadi.
Nyonya Anna nampak tak kuasa melihat menantunya yang begitu hancur, hingga tiba-tiba sepasang anak kecil berlari dan memeluk Jhon.
"Papa!" pekik Sunny dan Shine yang baru saja tiba, di susul oleh Indah, Rika, dan kedua orang tua Mikha.
Semua hanya membisu merasakan sesak dan kesedihan yang mendalam.
Sunny dan Shine memang belum pernah bertemu dengan Jhon, hingga wajar saja jika ia melihat Jhon sebagai papanya karena wajahnya mereka yang hampir mirip.
Shine melepaskan pelukannya kala mendengar jeritan sang bunda. Pria kecil itu kini menatap Jhon dengan intens.
"Paman bukan papa, papa dimana? Kenapa mama menangis di dalam? Dan Paman siapa?" ucapnya yang sudah menyadari perbedaan antara Maxim dan Jhon.
Sunny juga kini menatap Jhon, hingga membuat pria itu berjongkok di hadapan keponakan kembarnya.
"Uncle Jhon sayang, kakaknya papa Maxim. Papa ada di dalam," ucap Jhon dengan lembut, mencoba mati-matian menahan air matanya.
"Mama kenapa menangis, uncle? Kenapa papa diam saja?" tanya Sunny dengan polos.
Runtuh sudah pertahanan Jhon, air mata begitu saja lolos dari pelupuk matanya.
"Aghhhhhh, Maxim bangun! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" Mikha kembali memekik hingga suaranya sampai di pendengaran kedua anaknya.
"Papa!" Sunny dan Shine berteriak dan berlari menghampiri Ibundanya.
Kedua anak kembar itu memandangi Mikha dari ambang pintu, perlahan mereka mulai mendekati Mikha dan memeluk Ibundanya.
"Mama, papa kenapa?" ucap Sunny lirih, sedangkan Shine diam menatap wajah Maxim. Pria kecil itu nampak sudah mengerti keadaan yang menimpa kedua orangtuanya.
"Papa pembohong, katanya gak akan ninggalin Shine lagi," lirih Shine yang nampak menangis seraya menggenggam tangan Maxim.
Hati Mikha semakin hancur mendengar tangisan kedua anaknya. Ia semakin mengetatkan pelukan ditubuh suaminya yang nampak dingin.
Hingga akhirnya ia merasa dada suaminya nampak naik turun bagaikan bernafas namun dengan sangat halus.
"Max, Maxim!" pekik Mikha, lalu segera mengecek denyut nadi suaminya.
"Dokter! Dokter!" Mikha segera berlari dan berteriak, hingga membuat semua orang terkejut dan beberapa dokter serta perawat berdatangan.
......................
Suasana tempat itu begitu tegang, harapan dan doa terus menerus dipanjatkan. Hingga waktu yang cukup lama, terlihat tenaga medis mulai memasang kembali alat-alat penunjang kehidupan pada tubuh Max yang masih tidak berdaya.
"Bagaimana Dok?" tanya Jhon seketika, saat melihat seorang dokter keluar dari dalam ruangan
Dokter itu mengulas senyum tipis dan menjelaskan, "Atas keajaiban Tuhan, jantung Tuan Maxim kembali berdetak. Namun kondisinya masih sama dengan sebelumnya, beliau masih koma dan belum stabil."
Ucapan syukur tak henti-hentinya terlontar dari mulut seluruh keluarga dan kerabat Maxim. Terutama Mikha, yang terus mengucapkan Alhamdulillah seraya memeluk kedua buah hatinya.
"Ma, papa tidak meninggalkan kita kan ma?" tanya Shine dengan polosnya. Mikha tersenyum dan mengecup suatu per satu kening buah hatinya, "Tidak sayang, doakan papa agar segera sadar dan pulih ya," tuturnya dan di jawab anggukan oleh sepasang anaknya.
......................
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah dua Minggu sejak hari itu namun Max belum menunjukan tanda-tanda perkembangan. Dan selama itu pula Mikha terus setia mendampinginya bahkan belum pernah meninggalkan rumah sakit itu sekalipun.
Mikha menatap nanar ke arah jendela, ia tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan sang suami.
"Kha," sapa Dilla seraya menepuk pundak sahabatnya.
"Kha, lebih baik lu pulang dulu deh, istirahat. Lu udah lebih dari dua minggu di sini. Kasian si kembar, kurang perhatian lu dan gue perhatiin lu semakin pucat, gue takut lu sakit," tutur Dilla kembali, mencoba menasehati Mikha.
Mikha menatap Dilla dengan sendu, "Tapi gue takut Max ninggalin gue lagi, gue takut Dil," ucapnya di sertai isakan tangis.
Dilla memeluk sahabatnya, hingga di rasa Mikha cukup tenang.
"Kha, gue mengerti. Tapi kasian anak-anak lu, lagi pula kalau lu sakit, gimana cara lu jagain Max? Pulang ya, istirahat dengan benar. Biar Jerry dan Ryan yang jagain Max dulu," ucap Dilla membujuk Mikha.
Mikha nampak berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi, ia nampak berbisik pada telinga suaminya.
"Sayang, maaf aku harus pulang dulu sebentar. Kasihan anak-anak, tapi nanti aku kembali lagi. Kamu baik-baik ya, aku sangat mencintaimu Maxim," ucapnya lalu mengecup kening suaminya.
Sesampainya di kediaman Larry, Mikha segera membersihkan dirinya. Lagi-lagi air mata tak dapat terbendung melihat foto suaminya yang terpampang di dalam kamar.
"Max, aku sangat merindukan senyumanmu," ucapnya lirih lalu dikagetkan oleh pekikan kedua buah hatinya yang terlihat baru saja pulang dari sekolah.
"Mama!" teriak Sunny dan Shine memeluk erat Ibundanya, Mikha tersenyum dan mengecup kedua buah hatinya.
"Bagaimana sekolhmu sayang? Maaf, mama terlalu sibuk jaga papa," ucap Mikha yang merasa bersalah telah lalai mengurus kedua orang anaknya.
Sunny dan Shine mencium pipi Mikha dan tersenyum, "Gak apa-apa ma, di sini ada Mbah Kakung, Mbah uti, Grandma, Grandfa, Uncle Jhon, Aunty Marrie, dan Bella. Jadi kami gak kesepian," ucap Sunny antusias.
Mikha tersenyum dan bersyukur mempunyai anak-anak yang begitu pengertian walau masih diusia yang sangat dini.
Waktu makan siang tiba, seluruh anggota keluarga nampak sudah berada di ruang makan. Namun Mikha terlihat sangat tidak semangat walau makanan yang tersaji sangat menggugah selera. Entah mengapa, belakangan ini ia sangat tidak berselera untuk makan. Namun ia hanya menganggap karena terlalu banyak beban pikiran, memikirkan suaminya yang tak kunjung membuka matanya.
"Hoek, Hoek"
Mikha merasakan mual kala mencium salah satu makanan yang begitu mengganggu indera penciumannya. Ia segera berlari menuju toilet disusul oleh Ibu Yani dan Nyonya Anna yang nampak khawatir.
^^^bersambung...^^^
......................