Oh My Mister

Oh My Mister
Berbagai Perasaan



...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...


...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......


...Agar Author Kentang ini bahagia...


...🌸🌸🌸...


Hari itu Jhon mulai masuk kerja kembali, rasanya sudah 3 hari ia meninggalkan pakerjaannya untuk mengurus masalah Maxim.


Ia tak tega dengan Marrie yang harus mengurus perusahaan seorang diri.


Jhon begitu sibuk dengan pekerjaan di hadapannya hingga ia pun melupakan jam makan siangnya.


Indah berinisiatif untuk membelikan Jhon makan siang dan mengantarkan ke ruangan kerjanya.


"Ya ada apa?" Tanya Jhon tanpa menoleh, sesaat setelah gadis itu mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ini Tuan, saya bawakan makan siang karena saya perhatikan Tuan melewatkan jam makan siang."


Ucap Indah melangkah mendekati meja kerja Jhon untuk memberikan bungkusan makanan yang ia beli.


"Sesibuk apapun jangan pernah melewatkan jam makan, nanti anda bisa sakit." sambung Indah.


Deg!!!


Jantung Jhon seakan berhenti berdetak sejenak, perkataan gadis itu sangat mirip dengan perkataan mendiang istrinya.


Jhon menoleh memanang Indah, tatapannya begitu tajam dan sulit di artikan.


"Tidak perlu sok perhatian, kau itu bukan siapa-siapa saya!"


Ucap Jhon dingin, membuat Indah mematung karena niat baiknya salah di artikan.


Hati Indah rasanya begitu berdenyut bagai tertusuk duri, namun ia hanya mampu tersenyum menutupi segala perasaannya dan berkata "Maaf bukan maksudku begitu Tuan, Saya permisi."


Indah melangkahkan kakinya keluar ruangan Jhon, gadis itu berjalan cepat menuju taman yang berada di Rooftop gedung, yang biasanya memang sepi jika saat jam kerja.


Hatinya begitu sakit, namun ia harus tetap bertahan untuk memperjuangkan cintanya.


"Dasar om-om nyebelin!!! gak berperasaan! duda lapuk!" Pekik Indah (menggunakan bahasa Indonesia) mengumpat mengeluarkan semua unek-unek dihatinya.


Air mata gadis itu sedikit keluar, bagaimana pun ia sangat malu saat Jhon berkata seperti itu.


"Rasanya pengen tak hihhh... koe mas!" Indah terus merancau kesal, melemparkan sebelah sepatu high heels yang ia pakai ke sembarang arah.


"Awww!!!"


Sadar sepatunya mengenai seseorang Indah berniat segera melarikan diri, ia langsung berbalik arah dan berjalan mengendap-endap hingga menabrak sesuatu.


"Heiii, mau kemana Anda nona?" Ucap seorang pria yang kini telah berada dihadapan Indah dengan membawa sebelah sepatu milik Indah.



Indah hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya "hehehe ma-maf Tuan !".


Tatapan pria itu begitu tajam seolah mengintimidasi seseorang yang di hadapannya.


"Berikan ponselmu, kau harus bertanggung jawab!"


"Ta-tapi Anda kan tidak apa-apa, masa iya saya harus membayar ganti rugi dengan ponsel saya!" Ucap Indah protes.


"Hei kau tidak lihat keningku yang merah ini! cepat berikan!"


Pekik pria itu menunjukkan keningnya yang memerah akibat sepatu heels Indah, dengan berat hati Indah memberikan ponselnya, Ia sudah tidak tahan dengan tatapan tajam pria itu.


"Kunci sandinya apa?"


"123321"


Ucap Indah tanpa menatap pria itu, Pria itu terlihat mengetik sesuatu pada ponsel Indah dan terhubung dengan ponsel miliknya yang berdering.


"Oke, next time ya!" Ucap pria itu tersenyum, mengembalikan ponsel Indah dan pergi dengan mengedipkan sebelah matanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dan benar dugaannya Jhon menelponnya. Mungkin pria itu akan marah-marah karena mendapati sekretarisnya bergentayangan saat jam kerja.


"Kau dimana?"


"A-aku di toilet, Tuan!" jawab Indah berbohong.


"Cepat keruanganku, bawakan berkas yang tadi kau kerjakan. Klien kita sekarang sudah ada di ruangan ku!"


Indah segera berlari menuju ruang kerjanya, menyiapkan berkas yang dibutuhkan dan segera keruangan Jhon.


"Maaf Tuan, ini berkas yang Anda butuhkan." Ucap Indah tanpa melihat tamu yang sedari tadi tersenyum menatapnya.


"Terima kasih! Perkenalkan ini klien kita Tuan Wang, dan Tuan Wang perkenalkan sekretaris saya bernama Indah." Ucap Jhon memperkenalkan Indah dan Kliennya.


Indah segera berbalik dan menatap Klien tersebut untuk berjabat tangan, namun ia sangat terkejut mendapati Pria menyebalkan yang kini berada di hadapannya, pria itu tersenyum seribu arti dan membalas menjabat tangan gadis itu.


"Hai, Nona High heels! kita bertemu lagi." Ucap pria itu tersenyum dan kembali mengedipkan sebelah matanya tanpa malu-malu.


Jhon yang melihat semua adegan itu hanya menyipitkan pandangannya, raut wajah pria itu berubah seketika.


"Ehmmm... Indah kau bisa kembali keruanganmu sekarang!" Ucap Jhon dengan wajah kesalnya.


...****************...


Tidak terasa sudah hari ke 6 Mikha koma, wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera siuman dari tidur lelapnya.


Max masih setia menjaga dan selalu berdoa untuk istrinya sepanjang waktu.


Seluruh keluarga hampir putus asa, mengingat jika besok Mikha tidak sadar juga maka keluarga harus siap dengan kemungkinan terburuk. Namun pria itu tetap yakin bahwa istrinya akan segera membuka matanya.


"Sayang mengapa kau tega padaku? aku sangat merindukanmu! bangunlah sayang" Ucap Max mencium kening istrinya.


Nyonya Anna dan Bu Yani menatap sedih melihat anak dan menantunya. Baru sekejap pasangan itu merasakan bahagia mengapa ada saja masalah yang menerpa.


Max terus menerus menggenggam tangan Milik sang istri yang terasa dingin. Pria itu terus-menerus bedoa tanpa henti.


"Sayang aku mohon bangunlah, aku berjanji akan pulih lebih cepat! kita akan memiliki anak yang bernama Sunny atau Shine sesuai impianmu, aku mohon sayang berikan aku kesempatan mewujudkannya!"


Max menggenggam erat tangan istrinya dan menciumnya, ia merasakan jemari istrinya bergerak perlahan.


"S-sayang" Ucap Max penuh harapan menatap lekat-lekat wajah sang istri, berharap semua yang ia rasakan bukan hanya sebuah fatamorgana.


Mata Mikha bergerak, dan membuka dengan sangat perlahan.


"Sayang kau siuman!" Pekik Max membelai lembut wajah istrinya, matanya begitu berkaca-kaca melihat istrinya mulai membuka matanya.


"Max? kenapa kau menangis?" Ucap Mikha lirih nyaris tidak terdengar.


Max segera memanggil dokter untuk mengecek kondisi istrinya.


Raut wajah pria itu sangat bahagia, ia sangat bersyukur di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk membahagiakan istrinya.


...****************...


Di sisi lain Ryan tengah duduk termenung di salah satu ruang tunggu di rumah sakit, ia belum mengetahui tentang kondisi Mikha yang kini telah sadar.


Rika yang sedari tadi mengikuti dan memperhatikan tingkah laku pria itu mencoba menghampiri Ryan, bertanya atas segala dugaan-dugaan yang selama ini terpendam dia hatinya.


"Hai ka, melamun aja " Sapa Rika yang kemudian duduk di samping Ryan, Pria itu hanya menjawab dengan senyumannya.


"Aku perhatikan dari semalam kau tidak pulang, memangnya tidak capek?"


"Tidak, aku tidak tega meninggalkan Max sendiri."


Tawa Rika pecah mendengar jawaban Ryan, pria itu menatap bingung gadis kecil yang berada di sampingnya.


"Hahahaha...ka Ryan ka Ryan, kau itu lucu sekali ya, sudah banyak yang menjaga buat apa kau khawatirkan Mas Maxim! heiii...ka Ryan aku tau, kau itu menyukai kakakku kan? kalau ia lupakan lah perasaanmu.’' Ucap Rika yang segera dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi serius, Ryan menatap gadis itu lekat-lekat bagai mencari jawaban dari mana gadis kecil itu tau akan perasaannya.


"Jangan kau siksa dirimu dengan perasaan itu, bayangkan jika Mas Maxim tau! bagaimana nasib persahabatan kalian? jadi lupakanlah!"