Oh My Mister

Oh My Mister
Kemarahan Dilla



...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...


...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......


...Agar Author Kentang ini bahagia...


...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini...


...❗❗❗**Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya....


...JIKA ADA KEMIRIPAN itu hanya TERINSPIRASI namun ide dan alur tetap buah pemikiran Author sendiri !!!...


...Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita**....


...Terima kasih❤❤❤...


...🍂🍂🍂...


Seorang pria duduk di atas kursi goyang kesayangannya, ia menatap bahagia ke arah jendela dengan segelas minuman beralkohol di tangan kanannya.


"Hmmm...hmmm...hmmm..."


Pria itu bersenandung ria, senyuman terus terukir di wajahnya.


"MATILAH Kau gadis malang!!! hahahaha"


...****************...


"Ba-bagaimana kondisi istrinya saya dok?" Tanya Max dengan raut wajah cemas.


Dokter tersebut menghembuskan nafas kasar sebelum memberitahu kondisi pasiennya tersebut.


"Bisa ikut saya sebentar?" Ucap dokter tersebut, dan berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Maxim.


"Silahkan duduk Tuan!" Ucap sang Dokter mempersilahkan Max duduk pada kursi di hadapannya.


"Jadi bagaimana dok kondisi istri saya?"


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun bagian dasar tengkorak kepala Nyonya Larry mengalami keretakan yang kita sebut fraktur basal karena benturan cukup kuat yang di alaminya, kami sudah melakukan pembedahan untuk menangani fraktur deppresed dan mengeluarkan cairan serebrospinal yang bocor."


Ucap sang dokter sambil menjelaskan melalu foto hasil scan bagian kepala Mikha.


Max mengerutkan dahinya, ia cukup tidak mengerti penjelasan sang dokter namun yang ia tahu kondisi yang istrinya alami pasti sangat serius. Dokter yang melihat raut wajah bingung dari Maxim kembali dengan sabar menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.


"Jadi begini, tengkorak kepala belakang Nyonya mengalami cedera berupa retakan yang hampir melukai otaknya dan membuat cairan pelindung otak mengalami kebocoran, kami telah menanganinya melalui operasi yang telah kami lakukan tetapi, kini kondisi Nyonya mengalami koma dan jika Nyonya Larry tidak sadar dalam waktu satu Minggu maka sudah di pastikan nyonya akan mengalami fase vegetatif sampai jangka waktu yang tak bisa di tentukan."


Pria itu terpaku, mendengar kenyataan yang di hadapi.


Max berjalan keluar dengan langkah gontai, ia merasa gagal karena tidak dapat menjaga istrinya dengan baik. Mata pria itu memerah, membendung segala emosi di dalam dadanya.


"Sayang bagaimana kondisi istrimu?" Tanya Nyonya Anna dengan wajah khawatir, terlebih melihat Max yang begitu muram.


Namun Max tidak menjawab, tubuhnya begitu lemas hingga ia bersimpuh di lantai, tangis pria itu tiba-tiba pecah terdengar begitu memilukan dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


...****************...


Jhon sangat mengerti kondisi mental adiknya, pria itu segera menemui dokter yang menangani Mikha untuk meminta pengobatan terbaik untuk adik iparnya, ia di buat sangat sibuk apalagi kondisi Nyonya Anna yang ikut drop setelah mengetahui kondisi menantunya.


Ia juga tak lupa memberi tahu kedua orang tua Mikha, dan menyiapkan tiket agar segera bisa datang ke London.


"Indah, boleh aku minta tolong kepadamu?" Ucap Jhon pada Indah yang selalu berada di sisinya.


"Iya Tuan."


"Sudahlah jika di luar pekerjaan jangan memanggilku Tuan, Indah ...maukah kau membantu untuk menjaga anakku, ia begitu rewel bahkan baby sitternya cukup kewalahan" Ucap Jhon dengan wajah letih.


Indah tersenyum menerima tawaran Jhon, sungguh ia sangat Ikhlas bahkan tanpa di suruhpun ia mau menjaga Bella. Di luar perasaannya pada Jhon, ia memang sudah sangat menyukai dan menyayangi gadis kecil itu.


...****************...



Ia begitu setia menatap sang istri yang terlihat pucat pasi dengan kepala terlilit perban, Gips penyangga pada leher, dan juga beberapa selang penunjang kehidupannya.


"Max, makan dulu! biar Mikha aku yang jaga." ucap Indah mencoba membujuk Max yang dari kemarin belum memakan apapun.


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, ia terus menggenggam tangan sang istri yang terasa dingin.


"Kau jangan menyiksa dirimu sendiri, jika kau sakit siapa yang akan menjaga istrimu?" Ucap Indah berusaha tega, sesungguhnya ia sangat iba melihat Maxim, ia teringat kembali saat kasus pem*rk*saan Mikha oleh Ari Wijaya, dimana Max selalu setia mendampingi Mikha yang mengalami depresi.


"Aku titip istriku ya" Ucap Max dengan suara parau.


"Sayang, aku makan dulu sebentar ya... nanti aku menemanimu lagi." Bisik Max di telinga Mikha lalu mengecup kening sang istri.


...****************...


Dilla, Jerry dan Ryan masih mencoba berdiskusi dengan David prihal tragedi yang menimpa sahabatnya.


Mereka melihat seluruh hasil rekaman cctv di gedung itu secara seksama, terlihat dua orang pria berpakaian office Boy Dengan gerak gerik mencurigakan.


"Sial wajahnya tidak bisa di kenali !" Ucap David gusar.


"Eh T-tunggu aku yakin dari postur tubuhnya ini sama seperti Jess!" Pekik Jerry yang sedikit memicingkan matanya dan menatap layar monitor dengan serius.


"Jess? Jess siapa? dan apa motifnya?" Tanya Dilla yang bingung.


"Siapa lagi kalau bukan Jesson! dia pasti cemburu mengetahui Max telah menikah!"


Ucap Jerry tanpa sadar bahwa Dilla yang bertanya padanya.


Ryan segera menutup mulut Jerry dengan kedua tangannya, dan David terlihat menepuk dahinya melihat kecerobohan Jerry.


"Terlambat aku sudah mendengar jelas! coba perjelas maksud ucapan Jerry apa? Apa yang kalian tutup-tutupi dariku?" Ucap Dilla mencoba menahan dugaan-dugaan buruk di kepalanya.


Dengan berat hati Jerry menjelaskan tentang Jess dan Maxim kepada Dilla, Gadis itu terperangah nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Tanpa permisi ia langsung pergi diikuti Jerry yang mencoba menahannya.


"Honey kau mau kemana?aku mohon Dilla, kasian Max!" Ucap Jerry menahan tangan kanan Dilla.


"Diam!!! kalian kasihan dengan sahabat kalian, maka aku juga kasihan dengan nasib sahabatku! kalian egois! lepaskan, aku ingin penjelasan dari mulut Maxim!" Pekik Dilla gusar, Sorot mata gadis itu menyiratkan kemarahan yang meluap-luap.


Jerry hanya bisa mengikuti mau Dilla, mereka segera menuju rumah sakit tempat Mikha di rawat.


Sesampainya di ruangan ICU, Dilla segera menarik tangan Maxim yang sedang duduk setia di samping sang istri.


"Jerry jaga Mikha dulu!" Ucap Dilla yang menarik kasar tangan Maxim ke koridor rumah sakit.


Max menatap Jerry penuh tanda tanya, namun pria itu hanya menunduk dan langsung masuk untuk menjaga Mikha sementara.


"Dilla ada apa?" Tanya Max yang bingung dengan sikap Dilla yang aneh.


PLAK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Maxim, meninggalkan bekas gambar tangan pada pipi putih pria itu.


"Dasar laki-laki Br*ngs*k! Kalau kau menyukai pria kenapa kau menikahi Mikha? kau mau mempermainkannya?"


Geram Dilla dengan mata memerah dan mulai meneteskan air mata.


...****************...