
Dikediaman keluarga Gerrard, Clara tampak frustasi. Wanita itu enggan untuk keluar kamar bahkan hanya sekedar menyentuh Smartphone miliknya.
Hujatan demi hujatan terus berdatangan dari segala sisi membuat mental wanita itu menjadi down.
Berbanding balik dengan kondisi Clara, dukungan terus mengalir untuk pasangan Maxim dan Mikha. Bahkan banyak para fans yang meminta agar Max tidak mundur dari dunia hiburan.
"Lihatlah, banyak yang mendukung dan menguatkan kita" Ucap Max yang asik berbaring di pangkuan istrinya, jarinya terus menerus menggeser layar di ponselnya.
"Bagaimana nasib Clara, kasihan dia pasti down."
"Untuk apa kau memperdulikan wanita ular itu?"
"Entahlah aku rasa ia hanya korban kesalahpahaman, perasaanku mengatakan sebenarnya ia gak seburuk itu."
"Sayang Sayang, kamu itu terlalu baik! Bener ya baby twin, Mama terlalu baik." Max mengelus-elus perut istrinya, seolah berbicara kepada malaikat kecil yang berada di dalam rahim istrinya.
Mikha hanya terkekeh melihat sifat manja suaminya, karena semenjak ia hamil Maxim semakin manja bahkan akan mengalami mual kembali jika berjauhan dengannya.
......................
6 Minggu berlalu, hari-hari sulit telah berakhir untuk Max dan Mikha.
Matahari semakin meninggi, bunyi suara alarm membangunkan Indah dari alam mimpinya.
Ia mengerjapkan mata dan langsung mematikan alarm yang berada di atas nakas samping ranjangnya.
"Honey, bangun sayang." Ucapnya menepuk lembut lengan Jhon yang tertidur lelap di sampingnya.
Sudah beberapa hari ini Jhon selalu datang saat malam ke apartemen yang ia tempati (jangan di tiru ya, dosa!) dan itu berlangsung sejak kepulangan mereka dari China.
"Jam berapa sekarang?" Ucap Jhon sambil merekatkan erat lengannya di perut Indah.
"sudah jam 6, aku mau mandi dulu ya."
Indah beranjak dari ranjang namun tangannya kembali ditahan oleh Jhon.
"Bareng ya." Ucap pria itu tersenyum dan langsung menggendong tubuh mungil kekasihnya.
Hampir 60 menit berlalu, aktifitas mandi yang harusnya berlangsung singkat namun menjadi lama karena ulah Jhon yang lagi-lagi mengajak Indah untuk bercinta. Pria itu benar-benar tidak dapat menahan hasratnya pada wanita yang sangat dicintainya, namun ia salah langkah karena Indah belum resmi menjadi istrinya.
Setelah semua selesai Indah menyiapkan 2 porsi sunny side up, beserta segala pelengkapnya.
Jhon mulai menyantap hidangan yang tersaji di hadapannya, namun berbeda dengan Indah. Indah terlihat pucat dan seakan enggan untuk makan hidangan yang ia buat.
"Kenapa gak di makan, sayang?" Ucap Jhon mengerutkan dahinya.
"Perutku gak enak, mual."
"Makan ya, sedikit saja." bujuk Jhon, menyuapi Indah sesendok makan.
"Emppp...Hoek Hoek..."
Indah berlari menuju wastafel dan memuntahkan segala isi perutnya.
"Sayang kau pucat, kita kedokteran saja ya! kau gak usah kerja dulu." Ucap Jhon tampak khawatir.
"Ti-tidak apa-apa, sudah biasa asam lambungku kumat. Aku minum obat pasti langsung sembuh kok."
Indah berjalan mengambil sebuah kotak obat dan meminum obat lambung miliknya, setelah ia merasa lebih baik akhirnya ia dan Jhon melanjutkan aktivitasnya untuk berangkat kerja.
Di perusahaan, Jhon tampak sibuk dengan pekerjaannya sementara Indah di biarkan beristirahat di ruangannya. Pikiran gadis itu melayang-layang mengingat ia sudah 3 hari terlambat datang bulan.
Tok... Tok...Tok...
Suara ketukan berasal dari pintu ruang Jhon, Jhon segera mempersilahkannya karena memang ia habis memesan secangkir kopi kepada Office Girl lewat telepon.
Seorang wanita berpakaian Office Girl melangkah masuk dengan membawa secangkir kopi, kedua Netra Jhon membulat sempurna melihat wanita tersebut.
"Silahkan Tuan kopinya." Ucap Office Girl tersebut dengan senyuman menyinggung di bibirnya.
"Rhine! untuk apa kau di sini? Bukankah aku sudah memperingati kau untuk menghilang dari hidupku!" Pekik Jhon dengan gusar.
"Jhon, aku mohon maafkan aku. Se-sekarng aku gak punya pilihan selain kembali ke negara asalku, aku bangkrut, aku di tipu oleh kekasihku." Ucap Rhine lengkap dengan air mata buayanya.
"Aku melamar pekerjaan kemana-mana namun tak ada yang menerimaku, aku mohon biarkan aku bekerja disini. Aku butuh uang untuk menyambung hidupku, maafkan aku Jhon, aku mohon. Seluruh hartaku habis oleh investasi bodong yang di tawarkan kekasihku di Amerika. Aku gak punya apa-apa lagi."
Relung hati Jhon nampaknya mulai tersentuh karena walau bagaimanapun ia pernah melalui hari-hari oleh wanita yang pernah menjadi sahabat baiknya.
"Keluar dari ruanganku!" hardik Jhon pada Rhine.
Wanita itu akhirnya keluar dengan senyuman smirk yang tersungging di bibirnya, hingga ia berpapasan dengan Indah yang hendak masuk ke dalam ruang kerja kekasihnya.
......................
Sudah 2 Minggu Maxim membawa kembali istrinya ke apartemen miliknya, ia lebih nyaman tinggal berdua istrinya walau rumah keluarganya selalu terbuka untuknya.
Siang itu setelah pulang menghadiri launching suatu produk, Max mencari istrinya ke setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya ia menemukan Mikha yang hendak memotong-motong puding di dapur.
"Sedang Apa sayang." ucap Max memeluk Mikha dari belakang.
"Aku sedang memotong punding, enakkan siang-siang makan puding dingin."
"Tapi aku gak mau makan puding itu!"
"Kenapa?" Ucap Mikha sedikit menoleh ke arah suaminya.
"Aku mau makan puding ini!" Ucap Max berbisik dan meremas p*yud*r* istrinya.
"Ish, masih siang! sana mandi, kamu bau!"
Mikha mencubit perut suaminya namun pria itu hanya terus tersenyum nakal dengan tangan yang masih menjalar kemana-mana.
emphhh...
Suara lenguhan begitu saja keluar dari mulutnya kala Max terus menerus menciumi, menggigit-gigit lembut tengkuk lehernya dan memilin puncak p*yud*r*nya.
"Enak kan?" goda Max tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya yang sudah terlihat menikmati permainannya.
Mikha tersadar bahwa ia baru saja di goda oleh Maxim, ia berdengus kesal dan meninggalkan suaminya yang masih tertawa.
"Nanti malam kau tidur di kamar tamu!"
"Yah maaf sayang, jangan ngambek dong." Ucap Max memeluk istrinya erat-erat dan menciumi kedua pipi istrinya bertubi-tubi
"Bodo amat!" Mikha berpura-pura acuh walau ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi suaminya.
TOK TOK TOK!
Suara ketukan yang begitu keras berasal dari pintu unit apartemen miliknya, Mikha segera mengintip sebuah layar yang memperlihatkan Indah datang dengan wajah tertunduk.
"Indah kok gak pencet bel, Untung gue dengar!" Ucap Mikha sambil membukakan pintu.
Indah berdiri mematung, wajahnya tampak basah di banjiri air yang mengalir lewat kedua matanya.
"Ndah, Lu kenapa? Ndah?"
Mikha tampak khawatir melihat kondisi sahabatnya , ia mengguncang-guncang tubuh Indah yang masih mematung dengan menggenggam sebuah benda ditangan kanannya
"Ndah jangan bikin gue takut dong."
hiks...hiks...
Indah terisak dan menyerahkan benda tersebut kepada Mikha. Seketika mata Mikha membulat saat melihat dua buah garis merah yang terpampang nyata di benda tersebut.
"I-ini maksudnya apa Ndah? Ini testpack siapa?"
"Maafin gue Kha, andai gue dengerin kata-kata lu kemarin mungkin ini semua gak terjadi. G-Gue Hamil Kha, gue hamil anak Jhon!"
......................