
Flashback ON
Seorang pria terlihat termenung di sebuah tepian danau, pria itu tengah terduduk di atas kap mobil Jeep yang ia gunakan.
"Indah, Aku sangat merindukanmu." ucapnya lirih menatap nanar pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Cello."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah Rhine. Entah mengapa belakangan ini wanita itu selalu saja muncul di hadapan John.
"Cello, Sedang apa kau disini?" Tanya Rhine tersenyum semanis mungkin di hadapan Jhon.
"Apa sekarang kau ini sudah menjadi hantu? selalu muncul dimana saja." Sindir John, menatap Rhine dengan tatapan tidak suka.
John beranjak, lalu membuka pintu mobilnya namun tangannya ditahan oleh Rhine.
"Cello, apa tidak ada kesempatan lagi untukku? Aku masih sangat mencintaimu." Ucap wanita itu yang tiba-tiba mendekatkan dirinya dan mencoba mencium bibir John.
"Hey, kau sudah gila Rhine! aku sudah mempunyai istri dan tolong jangan pernah mengusik hidupku lagi!" Pekik John yang langsung mendorong Rhine hingga wanita itu nyaris terjungkal.
John segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Rhine yang tampak menatap tajam menahan amarah.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, isi kepalanya masih dipenuhi rasa penyesalan kepada sang istri. Hingga mobil yang ia kemudikan kehilangan kendali menabrak pembatas jalan.
Flasback Off
......................
Max dan Mikha tampak tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, hingga mereka sampai di depan ruangan John di rawat.
Cklek
Pintu ruangan itu dibuka memperlihatkan John yang tengah beristirahat ditemani sang adik yaitu Marrie.
"Kak, Apa yang terjadi padamu?" Pekik Max yang tampak panik.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka ringan dan kakiku terkilir. Ini pasti ulah Merrie yang membuatmu panik." jawab John tersenyum.
Pandangan John beralih ke adik iparnya, pria itu tersenyum getir kala melihat rumah tangga sang adik yang begitu sangat harmonis. Lagi dan lagi pria itu merindukan sosok wanita yang kini keberadaannya bak hilang ditelan bumi.
" Indah, kalau saja kita masih bersama mungkin kita akan bahagia seperti Maxim dan Mikha. Aku mohon kepadamu kembalilah, Aku sangat merindukanmu." Gumam John dalam hati.
Di sisi lain terlihat Jess dan Rhine tengah berbincang, nampaknya kedua manusia berhati iblis itu ingin membuat ulah kembali.
Rhine tampak mengepalkan tangannya erat kala menceritakan usahanya yang selalu gagal mendekati Jhon walaupun ia sudah menyingkirkan Indah.
"Hahahaha, Sudahlah Rhine lupakanlah cinta konyolmu itu, lebih baik sekarang kita balas dendam saja menghancurkan mereka." ucap Jess santai sambil menyesap sebatang rokok yang berada di tangannya.
Rhine tampak memicingkan matanya, menatap dengan tajam keponakan kesayangannya.
"Jesson kau tidak sedang merencanakan hal-hal aneh kan? Jangan berpikir untuk berbuat nekat!" Seru Rhine.
Namun pria itu hanya tertawa kala mendengar ucapan Rhine.
"Hidupku ini sudah tidak berarti, bahkan sekarang tidak ada pria yang ingin bersama denganku. Aku tidak peduli apapun resikonya, aku ingin ia menderita!" Ucap Jess dengan sorot mata penuh dendam.
......................
Keesokan harinya Max dan Mikha tampak sibuk menata ulang salah satu kamar di unit Apartemen miliknya, untuk di sulap menjadi kamar yang di pergunakan untuk bayi kembar mereka.
"Capek gak sayang? kamu istirahat aja biar aku yang selesaikan." Tanya Max pada sang istri yang tengah sibuk menempelkan hiasan di tembok antara ranjang kedua bayinya yang bertuliskan huruf 'M'.
"Tidak, lagipula dikit lagi selesai." Jawab Mikha tersenyum.
Tak lama akhirnya pekerjaan mereka selesai, sebuah ruang kamar bayi yang terlihat simpel dan elegan. Tidak seperti kamar bayi pada umumnya yang di dominasi warna biru atau merah jambu yang begitu cerah.
"Cantik!"Pekik Mikha dengan mata berbinar-binar.
Max segera merangkul sang istri dan mencium pucuk kepalanya.
"Sebentar lagi tempat ini akan ramai oleh suara tertawa dan tangisan mereka, aku benar-benar tidak sabar." Ucap Max yang tengah membelai lembut perut istrinya.
Kini pria itu menatap erat wajah sang istri, menatap hangat kedua netra istrinya dan mengecup kening Mikha penuh rasa cinta dan sayang.
......................
"Senja! Senja!"
Suara pekikan begitu menggelegar hingga memenuhi seluruh isi ruangan.
Novi tampak menutup telinga menggunakan kedua telapak tangannya kala mendengar suara Indah yang begitu terasa menyakiti indera pendengaran.
"SENJA! KONAH!"
Tak lama Konah tampak tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan yang terus berteriak sambil berdecak pinggang.
"Iya miss baby baby darling, i am coming!" Jawab Konah dengan logat bicara centilnya dan bahasa campur aduk yang cenderung ngaco, begitu khas dan melekat dengan image-nya.
"Itu, si Senja kemana sih? Saya suruh cuci mobil tapi sampai sekarang belum di cuci juga." Tanya Indah yang kesal dengan satpam di rumahnya.
"I See, dia lagi mojok sama si Geby." Jawab Konah.
"Geby?" Tanya Indah sedikit memicingkan matanya.
"Yes miss, itu loh Maid tetangga sebelah yang bodynya melehoi-lehoi tapi face-nya gak sebeautiful I, sini I anterin miss." Ucap Konah berjalan terlebih dahulu menuju sebuah taman di ikuti Indah dan Novi.
Di taman kompleks tampak Senja yang tengah asik duduk berdua di bangku taman dengan Gaby.
Sesekali satpam bertubuh atletis itu melemparkan gombalannya tanpa sadar sang majikan telah berada di belakangnya sambil bertolak pinggang.
"Eneng, Eneng tau gak perbedaan Eneng dan matahari?" Tanya Senja sambil mengelus-elus telapak tangan Gaby dan sesekali mengecupnya.
"Gak tau kang." Jawab Gaby malu-malu.
"Kalau matahari menyinari bumi, kalau Eneng menyinari hati akang." Ucap Seja terkekeh dan mencolek dagu Gaby.
"Ehemm Ehem Bagus! di suruh nyuci mobil malah mojok di taman!" Seru Indah yang tampak melotot dengan tangan kanan menarik telinga Senja dan tangan kiri masih bertumpu di pinggangnya.
Pria itu segera menoleh dan tersenyum renyah kala mendapati sang majikan yang telah berada di belakangnya, "Eh non Indah." Ucap Senja.
"Udah bosen jadi satpam? mau jadi pengacara?" Tanya Indah dengan nada suara meninggi.
"Ampun non, pengacara apa tuh non?"
"Pengangguran banyak acara!" Pekik Indah menjawab pertanyaan dari Senja.
"Yah itu mah di pecat dong, jangan dong non saya gak mau jadi kang punggul lagi."
Pria itu tampak meringis dan mengiba dengan mimik wajah yang begitu menggelitik, hingga membuat Indah setengah mati menahan tawanya.
"Hihihi Grok Hihihi Grok Hihihi Grok"
Tiba-tiba terdengar suara yang seperti kuntilanak tertawa di selingi dengkuran.
Indah, Konah, Senja dan Gaby sontak mengarahkan pandangan pada sosok wanita yang biasanya hanya mengulas senyum dan tak pernah tertawa lepas.
Ya, Suara itu berasal dari Novi Artikasari.