Oh My Mister

Oh My Mister
Ikatan Batin



Waktu terus berputar, saat ini tepat usia kandungan Mikha memasuki bulan ke sembilan. Hidup segan mati tak mau, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk mengungkapkan keadaan Maxim saat ini. Tatapan pria itu kosong, tubuhnya tidak terawat. Bulu-bulu halus mulai memenuhi dagunya, namun dia tidak peduli.


Sepanjang hari ia hanya menatap foto sang istri dan foto hasil USG bayinya.


"Mikha aku mohon kembali" ucapnya lirih, saat ini wajahnya begitu pucat pasi mungkin karena ia tidak pernah makan dengan benar, sesekali Max memegang perutnya yang terasa begitu sakit dan mual, serta tubuhnya yang terasa demam namun ia tidak menghiraukannya.


Nyonya Anna menatap iba pada putra keduanya, berbagai cara telah merek tempuh untuk menemukan Mikha dan Indah namun semuanya sia-sia, kedua wanita itu hilang tanpa meninggalkan jejak.


"Maaf, Kha..." Ucap Max dalam tidurnya, Nyonya Anna memasuki perlahan kamar putranya lalu ia duduk di tepian ranjang sang putra.


Max tertidur dengan memeluk erat kedua foto itu, dan mengigau terus-menerus membuat siapapun merasa pilu melihatnya, pria lembut itu begitu rapuh.


"Astaga, Jhon cepat kesini!" Pekik Nyonya Anna saat menyentuh dahi anaknya dan merasakan suhu tubuh Maxim begitu tinggi.


Jhon segera menghampiri sang ibu dan menelpon ambulance.


......................


"Bagaimana Kha? kerepotan gak? gue gak nyangka akan seramai ini." Tanya Indah sambil mengambil sepotong kue di etalase.


"Alhamdullilah, Masih bisa kepegang kok, toh Rika selalu bantu sepulang kuliah." Ucap Mikha.


Raut wajah Mikha seketika berubah, ia nampak meringis kesakitan memegangi pinggul dan perutnya.


"Loh kenapa? duduk dulu, biar Novi yang gantiin dulu."


Ucap Indah nampak panik dan menuntun Mikha untuk duduk di sebuah kursi.


"Aduh... lu kenapa? kedokter aja yuk." ucap Indah panik, terlebih Mikha tidak menjawab apapun perkataannya dan keningnya nampak di basahi oleh keringat.


"Gak apa-apa, akhir-akhir ini sering kontraksi kok, cuma hari ini lebih sering aja."jawab Mikha lirih.


Setelah rasa sakitnya menghilang, Mikha kembali melanjutkan aktivitasnya namun tak lama rasa sakit itu hadir kembali bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya.


"Astagfirullah Nduk, air ketubanmu pecah." Pekik Bu Yani saat melihat cairan bening yang cukup banyak mengalir dan membasahi celana panjang yang di kenakan putrinya.


Mikha segera di larikan menuju rumah sakit bersalin oleh Indah, di temani oleh keluarga Mikha yang turut serta membantunya.


......................


"Perutku S-sakit se-kali" pekik Max terbata-bata di dalam ruang IGD.


Pria itu terus-menerus memegangi perutnya yang semakin lama semakin terasa sakit.


"M-mik-ha aku b-bu-tuh kau, S-sakit."


"Keluarga Tuan Maxim."Ucap seorang dokter yang baru saja selesai membaca hasil tes darah Maxim.


"Saya ayahnya, bagaimana kondisi anak saya?" Ucap Tuan Andrew yang segera menghampiri dokter tersebut.


"Menurut hasil lab, anak anda menderita usus buntu yang sudah cukup parah, kami meminta persetujuan untuk segera melakukan operasi sesegera mungkin."


Ucap Dokter tersebut dengan raut wajah serius, Tuan Andrew nampak menganggukkan kepalanya dan segera menandatangani surat persetujuan.


......................


Di tempat berbeda Mikha tampak meringis di ruang bersalin sebuah rumah sakit, kini bukan hanya air ketuban yang merembes dari alat vitalnya namun darah juga kian ikut serta mengalir.


"Ibu... sakit, tolong Mikha Bu" rintih Mikha menggenggam erat tangan ibunya, sementara benerapa orang perawat nampak mengecek kondisinya.


"Sabar, Nduk. Atur nafasnya." ucap bu Yani sambil terus membelai perut putrinya dengan tangan sebelahnya.


"Jangan mengejan dulu ya bu, ini masih pembukaan 8." ucap salah seorang perawat.


Mikha nampak mengeluarkan air mata kala rasa sakit yang ia rasa semakin hebat, sepintas ia mengingat wajah suaminya. Andai saja ada Max, pasti pria itu yang turut mendampinginya.


"Huhuhu sakit..." pekik Mikha, kala merasa sakit pada hati dan perutnya yang seakan seirama.


Mikha terus-menerus merintih kesakitan, hingga kini terasa begitu begitu menyakitkan dan tak tertahankan lagi.


"Emhhhhh...!" Pekik Mikha tiba-tiba saja mengejan, Dokter yang berada di sana segera menenangkan Mikha dan menasehatinya agar tidak mengejan sebelum waktunya.


Waktu terus berlalu, setelah lakukan pemeriksaan dan menyatakan pembukaan telah sempurna maka dokter tersebut membimbing Mikha untuk mengejan sesuai arahannya.


" Empphhhhh Emphhhhh sa-sakit!" Pekik Mikha sambil mengejan dengan kuat.


"Ayo coba lagi Bu!"Ujar dokter tersebut menyemangati.


"Sakitttttt dok! sakitttttt! emphhh...."


"Ayo terus Bu!"


"Emphhhhh..."


Lama waktu berputar, namun sepasang bayi kembar itu tak kunjung beranjak dari rahim sang ibu, hingga Mikha nampak lemas karena terlalu lelah berjuang untuk melahirkan sang buah hati.


"A-Aku gak kuat..." Ucap Mikha lemah dengan tubuh yang telah basah oleh keringat.


"Coba sekali lagi Bu..."


"Emphhhhh... Akh... sa-sakit, M-max..." Ucap Mikha lirih dan terengah-engah hingga perlahan nampak kehilangan kesadarannya.


Bu Yani tampak panik dengan kondisi putrinya, hingga dokter mengecek kondisi Mikha dan memutuskan jalan terakhir.


"Maaf Bu, kondisi Nyonya Mikha sudah tidak memungkinkan untuk melahirkan dengan normal, maka jalan satu-satunya kita harus melakukan operasi Caesar secepatnya!"


......................


Di alam bawah sadar Max, ia tampak berjalan di tempat antah berantah. Dari kejauhan ia melihat samar-samar suara tertawa dua orang anak yang berlarian kesana kemari. Sepasang anak yang memiliki kulit putih bersemu merah jambu pada bagian pipi, bermata hitam dan berambut coklat serta memiliki lesung pada kedua pipi chubby-nya.


"Hey, hati-hati terjatuh!" Pekik Maxim, Hingga membuat sepasang anak laki-laki dan perempuan yang hampir memiliki wajah serupa itu menoleh serta tersenyum dan menggerakkan tangan seolah memanggilnya.


Max nampak mendekat dan tiba-tiba saja kedua anak itu memeluknya, "Kami rindu padamu, papa." Ucap kedua anak tersebut serempak lalu menghilang begitu saja.


Perlahan kedua mata Max terbuka, ia termenung mengingat mimpi yang baru saja ia alami.


"Sayang, kau sudah sadar." Sapa Nyonya Anna senang mendapati Max yang baru saja tersadar pasca operasi.


Max menoleh mendengar suara sang ibu yang berada disampingnya, "Mom..." Ucap Max lirih.


"Iya nak, kenapa? apa ada yang masih sakit? sebentar ya Mommy panggilan dokter." Ucap Nyonya Anna yang segera beranjak namun seketika tangannya di tahan oleh Maxim.


"Mom, ini tanggal berapa?" tanya Max.


Nyonya Anna tampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari sang putra, "Tanggal 20 September, ada apa sayang?"


"Sudah mendekati HPL Mikha, a-aku berfirasat ia telah melahirkan." Ucap Max lirih.


......................


Suara tangisan bayi begitu nyaring menggema , mengisi seluruh ruangan operasi.


Setelah di bersihkan dan di beri gelang tanda pengenal, bayi tersebut di bawa menuju ruangan khusus untuk di observasi.


"Maaf Bu, dimana ayah dari bayi Nyonya Mikha? bayinya sudah bisa di azan kan." Ucap seorang perawat pada keluarga Mikha.


Bu Yani nampak tertunduk, hatinya begitu sedih melihat kondisi cucu pertamanya yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah.


"Ayahnya sedang di luar negeri, saya kakeknya. Saya saja yang meng-azankan." Ucap Pak Ali.


"Bagaimana ibunya, sus?" tanya Bu Yani.


"Ibunya masih di tangani Bu." Jawab perawat itu tersenyum.


Pak Ali memasuki sebuah ruangan khusus bayi yang baru lahir. Sedangkan Bu Yani, Rika serta Indah hanya memandang dari balik kaca yang cukup besar.


Dua orang bayi yang tertidur pulas, wajahnya begitu menenangkan untuk di pandang.



"Allahuakbar Allahuakbar" pak Ali mulai meng-azankan cucunya satu persatu dengan bibir bergetar menahan air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya. Setelah selesai ia mencium cucu pertamanya satu persatu seraya berdoa pada yang maha kuasa.


"Semoga kalian dapat berkumpul kembali dengan papa kalian, nak. Jadilah anak yang Sholeh dan Sholehah." Ucap Pak Ali dalam hati.


......................