
Tiga hari berlalu, semenjak kejadian itu dan Indah masih tampak belum bisa memaafkan suaminya seutuhnya.
Ia memang sudah merespon perkataan suaminya namun hanya seperlunya saja, hatinya masih begitu sakit dan kecewa hingga lebih memilih menyediri.
"Ndah, maaf ya gue baru datang. Beberapa hari ini Maxim sakit jadi gue gak bisa jenguk lo." Ucap Mikha yang baru tiba di kamar rawat yang Indah tempati.
"Iya gak apa-apa Kha, gue ngerti kok." Ucap Indah tersenyum lirih.
Mikha duduk di kursi samping ranjang Indah, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang ia bawa.
"Kata Dilla Lo gak mau makan ya? Ini gue bikinin Brownies coklat kesukaan lo, mau gue suapin? Makan ya biar cepet pulih." Ucap Mikha membuka kotak makan berisi potongan Brownies coklat dan mengambilnya.
"Ayo di makan dulu, gue juga bawain jus strawberry kesukaan lo nih."
Mikha tersenyum dan mulai menyuapi Indah dengan potongan kecil kue buatannya.
Merasa di perlakukan dengan begitu baik, hati Indah rasanya bagai tercubit. Mikha sama sekali tidak dendam kepadanya, padahal ia sudah begitu menyakiti hati sahabatnya.
Kedua netra Indah mulai memanas hingga akhirnya ia pun tak kuasa menahan air matanya.
"Loh kok nangis? Lo kenapa? ada yang sakit, gue panggilin dokter ya!" ujar Mikha yang mulai panik.
"Enggak Mikha." Jawabnya terisak.
"Ke-Kenapa Lo masih begitu baik? Pa-padahal gu-e udah nyakitin hati lo! Gue minta maaf Kha, gue benar-benar menyesal."
Wanita itu benar-benar menangis sejadi-jadinya di pelukan Mikha, ia amat sangat menyesal atas semua sikap buruknya.
"Stttt... sudah ah, Lo dan Dilla itu dari dulu udah gue anggap saudara sendiri, bahkan sekarang lo itu emang sudah jadi Kakak ipar gue. Gue juga minta maaf sudah nampar Lo waktu itu."
"Oh iya Ndah, gue boleh kasih pesan buat Lo gak?" sambung Mikha di dijawab anggukan oleh Indah.
"Sudah maafkan suami Lo, gue tau itu gak mudah tapi bukan berarti gak bisa? kita ini seorang istri, kita pasti gak mau jadi istri yang durhaka kan? jadikan semua pelajaran yang berharga, Lo bicarakan semua baik-baik sama kak Jhon."
Sekali lpagi Indah menangis tersedu-sedu kembali, entah mengapa kini ia sudah sangat insecure dengan hubungan pernikahannya yang masih seumur jagung.
"Entah Kha, gue merasa akan terjadi sesuatu dengan hubungan pernikahan ini." Ucap Indah lirih di sela-sela tangisannya.
Mikha menatap wajah sahabatnya, terbersit rasa iba atas segala yang menimpa Indah. Terlebih ia memang kecewa dengan sikap Kakak iparnya yang mengesampingkan perasaan istrinya.
"Eh gak boleh ngomong begitu! Gak baik, walau bagaimanapun hubungan pernikahan itu sakral.
Ayolah, mana nih sosok Indah yang dulu? yang bahkan semangat ngejar cintanya walaupun dikerjain, di suruh bikin kopi bulak balik sampe kakinya lecet!" Goda Mikha yang akhirnya berhasil menghibur hati sahabatnya.
Nampak Indah yang mulai tersenyum, dan bersemu malu mengingat kelakuannya sejak kenal dengan Jhon di Jogja hingga saat berupaya mengambil hati pria itu.
"Hahaha ah Mikha, gue malu jangan di ungkit lagi!"
"Nah gitu dong! jangan mau kalah sama orang-orang gak jelas itu! Ingat, apa yang sudah menjadi milik kita, kita wajib mempertahankannya! Kasihan loh kak Jhon, dia terus nunggu Lo disini bahkan rela ninggalin pekerjaannya padahal Lo tau sendiri kan dia itu gila kerja!"
Pada akhirnya dua wanita itu kembali akrab seperti dahulu, tidak ada lagi kecanggungan ataupun kekesalan antara keduanya. Hingga hampir satu jam, Mikha berpamitan karena harus mengecek kondisi kandungannya pada spesialis Obgyn di rumah sakit yang sama.
......................
Pada waktu yang sama di Apartemen milik Jerry, Dilla yang baru saja berkomunikasi dengan orang tuanya melalui panggilan Video, dikejutkan oleh suaminya yang baru saja pulang dari pemotretan salah satu produk parfum branded.
"Jerry!" Pekik Dilla kala sang suami tiba menutup matanya yang tengah asik menonton video YouT*be di sofa, dengan kedua tangannya dari arah belakang.
"Yah kok tau, gak asik ah!" Jerry melepaskan tangannya yang memegang kedua mata istrinya lalu duduk tepat di samping Dilla dengan bibir yang mengerucut.
"Ya udah ulang lagi deh, yuk! emmm ... entar aku bilang, haduhhhh ciapa yah? akoh terkejut!" Ucap Dilla meledek suaminya.
"Dasar, punya bini gini amat yah!"
Dengan gemas, Jerry mencubit kedua pipi istrinya hingga Dilla tampak meringis kesakitan.
"Aku punya sesuatu buat kamu!" Ucap Jerry setelah puas mencubit dan mencium pipi istrinya dengan gemas, ia mengeluarkan sebuah tiket perjalanan dan hotel ke Raja Ampat, sebuah daerah yang terletak di bagian timur Indonesia.
"Jalan-Jalan?"
Dilla tampak mengeryitkan dahinya, sambil memegang tiket yang berada di tangannya.
"Persiapkan dirimu, besok kita berangkat!"
"Hah, besok?" Ucap Dilla terkejut.
"Yap! aku akan menepati janjiku untuk membawamu bulan madu!"
"Bu-bulan ma-madu?"
"Heummm, aku sudah kontrol ke dokter dan dokter menyatakan aku sudah sembuh. Siap-siap kau akan aku makan!" Ucap Jerry mencubit hidung Dilla yang tengah terlihat seperti orang yang shock, gadis itu terpaku dengan mulut yang sedikit terbuka
"Mam...pus...Gu-e" Batin Dilla.
......................
Seorang Dokter wanita tampak tengah mengolesi perut pasiennya dengan gel pelumas , pandangannya lalu fokus menatap layar monitor yang terdapat disampingnya dengan tangan yang menggerak-gerakkan sebuah alat yang di tempelkan pada perut pasiennya.
"Semuanya bagus! ukuran tubuhnya sesuai usianya, berat badannya juga, dan detak jantungnya coba kita dengar!"
Deg...Deg...Deg...
Terdengar suara detak jantung melalui alat medis yang di gunakan dokter tersebut, Max dan Mikha begitu antusias mendengarkan suara detak jantung buah hatinya yang begitu jelas terdengar.
"Dok bagaimana jenis kelaminnya?" Tanya Maxim yang penasaran.
"Sebenarnya masih terlalu dini untuk mengetahui jenis kelaminnya namun bisa saja sudah terlihat, mari kita lihat." Ucap Dokter tersebut dengan ramah.
"Yang satu Laki-laki, dan yang satu lagi belum terlihat karena tertutup saudaranya." Ucap Dokter tersebut menjelaskan.
"La-Laki-Laki?" Ucap Max terkejut, entah mengapa ia kembali teringat akan mimpi buruknya dimana sang istri meninggalkannya dengan membawa kedua bayinya, yang salah satunya berjenis kelamin Laki-laki sedangkan yang satunya tidak diketahui.
Bukankah semua terlihat sama? atau hanya kebetulan belaka? Ia hanya bisa berdoa bahwa itu semua hanya ketakutannya belaka. Sungguh ia tidak dapat membayangkan jika harus hidup tanpa Istri dan kedua buah hatinya yang sangat ia cintai.
......................
"Heh bodoh, dari mana saja kau? mencelakakan seorang wanita hamil saja gak becus!" Ucap Rhine di dalam Apartemen yang ia sewa kepada seseorang yang baru saja datang.
"Memangnya kau juga berhasil? kau saja di usir, cih..." Cebik pria itu meremehkan Rhine, ya... pria itu adalah Jesson yang merupakan keponakan dari Rhine.
Jesson terduduk di samping Rhine, menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Sial ! Tapi aku bangga kau tidak mudah tertangkap." Ucap Rhine
"Akhhh persetan dengan wanita itu, aku benar-benar akan membuatnya pergi sendiri dari kehidupan Max! aku akan hancurkan hatinya hingga mungkin ia akan memilih mengakhiri hidupnya sendri hahahaha, Bagaimana rencanamu?"
"Emmm ya gak beda jauh dari kau, lihat informasi yang aku dapat ini! aku akan membuat Cello sendiri yang mencampakkan dan membuang wanita itu seperti SAMPAH!!!" Ucap Rhine dengan senyum seringainya.
Entah apa yang direncanakan kedua makhluk tak berhati tersebut, semoga saja apapun rencana yang mereka rancang akan kembali gagal seperti rencana sebelumnya.
......................