
Sepanjang perjalanan pulang Maxim tampak termenung, entah kemana pikirannya melayang. Mikha hanya bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah setelah mengetahui jenis kelamin buah hatinya.
"Max..." sapa Mikha, namun suaminya tak bergeming.
pandangan Max menatap lurus ke jalan dengan tangan yang masih berada di kemudinya.
"Max...! Maxim!!!" Mikha yang telah habis kesabarannya, memanggil suaminya dengan nada suara yang meninggi.
Ckittttt!!!
Sontak Max menginjak pedal Rem, membuat tubuhnya dan istrinya terdorong ke depan, beruntung mereka memakai safe belt dan jalanan cukup lenggang.
"Ya ampun Mikha, apa-apaan sih? bahaya!" Pekik Max yang terkejut dengan suara istrinya.
"Kamu kenapa sih, kamu yang gak fokus kok malah marah-marah sama aku!" Cebik Mikha yang kesal dengan sikap Max.
"Ma-maaf" Ucap Maxim lirih kala tersadar akan kesalahannya.
"Kamu mikirin apa sih? semenjak tau jenis kelamin anak kita, kamu jadi aneh. Kamu gak suka ya kalau anak kita laki-laki?"
"Bukan begitu sayang, aku gak masalah kok cuma..."
"Cuma apa? "
"Gak usah di pikirin lagi ya, yang jelas aku gak apa-apa kok."
"Terserah!!!"Ucap Mikha yang kesal, ia sungguh malas berdebat dengan kondisi sedang berada dijalan.
Max melanjutkan perjalanan, sepanjang jalan Mikha hanya diam hingga ia sampai di Apartemen, Mikha berjalan mendahului suaminya dan sabar secepat kilat masuk kedalam kamar dan menguncinya.
Tok... Tok...Tok...
"Kha, Mikha, buka dong sayang." Ucap Max mengetuk pintu kamarnya yang terkunci dari dalam.
"Bodo Amat!" teriak Mikha dari dalam kamar.
"Kok gitu sih? aku salah apa sayang?
"Mikir aja sendiri Max, sampai kapan kamu gak mau terbuka sama aku? sampai aku mati?"
Kedua bola mata terbelalak mendengar ucapan Istrinya, ia sangat tidak suka mendengar kalimat yang berbau kematian ataupun perpisahan yang keluar dari mulut istrinya.
"Sayang, kok ngomong begitu? akh... ya aku akan jelaskan tapi tolong buka dulu."
Cklek
Tak lama pintu terbuka, melihat istrinya yang berada di hadapannya. Maxim segera meneluk erat istrinya hingga membuat Mikha sedikit sesak.
"A-Aku mimpi buruk." Ucapnya lirih.
Mikha mengeryitkan dahinya dan menatap tajam suaminya, Max yang mengerti bahasa tubuh istrinya langsung menceritakan semua tentang mimpinya tanpa ada sesuatu yang terlewat.
"Aku sungguh khawatir, aku takut menjadi pertanda buruk." Ucap pria itu lirih dan menunduk.
Oh Maxim, sampai kapan kau menjadi pria cengeng dan melankolis.
Mikha tersenyum dan memeluk erat suami manjanya, "Maxim aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kecuali kau yang menginginkannya."
"Aku yang menginginkannya?" tanya Maxim menatap lekat kedua manik hitam mata istrinya.
"Ya, jika kau kembali ke duniamu yang dulu berarti kau tidak menginginkan kehadiranku lagi." Ucap Mikha sendu.
"Hei, itu tidak akan pernah terjadi sayang, tidak akan pernah!"
......................
Semilir angin yang berhembus kencang, tak menggoyahkan seorang pria yang tengah berdiri mematung di suatu Rooftop sebuah gedung perusahaan. Tempat dimana ia pertama kali berjumpa dengan seorang gadis yang begitu menarik hatinya. Gadis yang begitu sulit ia lupakan walaupun ia tahu cintanya tak bersambut, gadis itu telah memilih pilihannya sendiri yang bahkan berusia lebih tua dari dirinya.
Hari Itu ia memang ada keperluan meeting di perusahaan Larry, dengan cukup semangat ia datang. Setidaknya dapat sedikit mengobati kerinduannya pada Indah walaupun hanya melihatnya dari jauh ataupun hanya sekilas saja.
Bahkan Tuan Besar Andrew Larry membenarkan kabar pernikahan Indah dan Jhon yang membuat hatinya begitu terluka.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, secepat inikah kau mematahkan hatiku. Aku belum siap!" Teriak Tuan Wang sekencang-kencangnya.
"Akhhhhh ! apa kurangnya aku di bandingkan dia? hingga kau lebih memilihnya yang bahkan lebih pantas menjadi pamanmu!"
Kedua bola matanya tampak memerah, kecewa? pasti ia kecewa terlebih pernikahan Indah yang terkesan mendadak karena sebuah insiden. Namun ia harus mengikhlaskan semuanya karena memang sejak awal Indah telah jatuh hati kepada seorang Jhon, jauh sebelum ia mengenal gadis itu.
......................
Keesokan harinya pagi buta Dilla dan Jerry sudah berangkat menuju bandara. Selama perjalanan gadis itu tampak gelisah dengan pikiran yang sudah melayang kemana-mana.
Mikha dan Maxim yang turut mengantarnya nampak terkikik melihat raut wajah Dilla.
"Emmm gue tau apa yang Lo pikirin, tenang aja awalnya aja kok yang sakit lama-lama nagih." Ledek Mikha terkekeh berbisik di telinga sahabatnya.
"Mikha.....!" Ucap Dilla yang langsung mencubit paha sahabatnya.
Sesampainya di Bandara Mikha memberikan sebuah Paper bag berukuran sedang warna pink dengan hiasan pita kecil berwarna merah kepada Dilla.
"Nih buat Lo, barang kali berguna untuk Lo disana?" ujap Mikha yang tampak menahan tawa.
"Sumpah perasaan gue gak enak, Lo gak ngasih gue yang aneh-aneh kan?" selidik Dilla menatap tajam sahabatnya.
"Enggak kok, ih su'udzon aja lu sama gue!" cebik Mikha berkilah, dalam hatinya ia sudah mati-matian menahan tawa membayangkan ekspresi Dilla saat membukanya.
"Emmm Thank you yaa"
''Hati-hati, jangan lupa cerita-cerita yaa pas MP, kalau ada yang lu gak tau bisa tanya gue" Ucap Mikha mengerlingkan sebelah matanya, di balas sebuah cubitan oleh Dilla.
"Mikha kok lu jadi sengklek sih!" cibir Dilla yang akhirnya membuat Mikha tertawa lepas.
Setelah berpamitan Mikha dan Max kembali tepatnya menuju rumah sakit untuk menjemput Indah, karena hari ini memang Indah sudah di perbolehkan meninggalkan rumah sakit.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tanya Max penasaran, karena sepanjang perjalanan pulang dari bandara Mikha tak henti-hentinya terkekeh sendiri.
"Itu loh, aku gak bisa bayangin ekspresi wajah Dilla pas buka hadiah dari aku hahaha"
Max tampak menautkan kedua alisnya menanggapi perkataan sang istri yang tak henti-hentinya tertawa.
"Memangnya kau beri dia apa?"
"Aku ngasih dia............" Ucap Mikha menjelaskan pada suaminya, seketika tawa Maxim pecah, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kelakuan jahil istrinya.
"Dasar nakal! kalau kembar sudah lahir, kamu beli lagi dan pakai itu yaa di hadapan aku!" Goda Max, ia tampak menggigit bibir bawahnya serta mengerlingkan sebelah matanya kepada Mikha.
"MAXIM !!! IH KAMU !"
......................
Tak...Tak...Tak
Hentakan antara lantai dan sepatu pantofel seolah memecah kesunyian di lorong rumah sakit.
Tampak seorang pria berpakaian rapih nan formal berjalan dengan membawa sebuket bunga mawar putih dan sekeranjang parcel berisi buah-buahan.
Tok...Tok...
Pintu ruang rawat Indah di ketuk seseorang, hingga Jhon yang tengah fokus menyuapi istrinya langsung berbalik dan menatap ke arah pintu yang mulai terbuka perlahan.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya muda Larry, lama tidak berjumpa."
Ucap pria tersebut tersenyum dan kedatangannya berhasil membuat Indah dan Jhon terkejut.
......................