Oh My Mister

Oh My Mister
Kecewa



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


...Karya ini hanya buah hasil imajinasi Author semata jika ada kesamaan tempat, nama tokoh, visual, ataupun sifat tokoh, itu hanya kebetulan belaka....


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


...Terima kasih...


......................


Pagi harinya Indah dan Jhon sudah di sambut oleh tuan besar Wang untuk menikmati hidangan sarapan, tidak banyak yang terjadi. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya mereka hingga matahari terus semakin terik.


"Selamat Siang!" Ucap seorang pria muda yang membuat perasaan Jhon menjadi buruk.


"Selamat Siang Tuan Muda Wang, bagaimana kabarmu?" Tanya Jhon sekedar basa basi.


"ya, seperti yang di lihat hanya sibuk membuat taman bunga yang berada di belakang hotel ini."


Kini Si pria oriental pemilik nama dari Chandra Agustin Wang ini bergabung dengan mereka, sekaligus terus-menerus mendekatkan diri kepada Indah.


"Tuan Jhon Larry ada sedikit yang mau saya sampaikan 4 mata, bisa tolong ikut keruangan saya sebentar?" Ucap Tuan besar Wang kepada Jhon.


Dengan terpaksa dan berat hati Jhon meninggalkan Indah dan Tuan muda Wang berdua.


Indah yang merasa tidak nyaman berniat untuk segera kembali ke kamarnya.


"Mau kemana nona? bagaimana kalau kita makan siang dulu?" Ucap Tuan Muda Wang menahan tangan Indah.


"Emmm... gimana ya, maaf kepalaku sedikit pusing, aku mau kembali ke kamar saja."


"Sebentar saja ya, please!"


Indah menghela nafas, karena merasa tidak enak hati pada akhirnya gadis itu menerima ajakan Tuan muda yang biasa ia panggil dengan nama Agus. Bagaimanapun pria itu selalu bersikap baik kepadanya.


"Baiklah."


Indah dan Tuan muda Wang kini berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari taman bunga di hotel tersebut. Suasana yang asri nan romantis seakan menyelimuti seluruh atmosfer tempat tersebut.


Sifat Tuan muda Wang yang supel dan ramah membuat Indah melupakan ketakutan akan kecemburuan sang kekasih, gadis itu tampak santai dan tertawa lepas saat bercengkrama dengan pria muda nan tampan itu.


"Ikut aku!"


Tiba-tiba, seorang pria menggenggam erat tangan gadis itu.


......................


Maxim dan Mikha menginjakan kakinya di sebuah kota yang terkenal dengan sebutan kota pahlawan yang terletak di timur pulau Jawa.


Perjalanan panjang yang mereka tempuh tampaknya tidak membuat Mikha lelah. Kini mereka tengah berada di sebuah hotel bintang lima dengan segala fasilitas mewahnya di kota itu


Mikha itu tampak sibuk melihat-lihat kado yang akan ia kemas, untuk pernikahan anak dari kolega perusahaan milik keluarga suaminya.


"Max, nanti kita ke Mall yuk! aku rasa kurang pantas jika hanya menghadiahkan ini, ih... ini lagi! pasti ulahnya Marrie mau ngado beginian!" ujar Mikha membuka sebuah paper bag bermerek Victoria s*cret dan Bvlg*ri lalu mengeluarkan isinya.


"Terus mau ngado apa lagi sayang?"


"Belikan perhiasan kek, masa cuma Jam tangan couple sama Lingerie! mereka kan sultan Max!" Protes Mikha, yang terus menolak balikan barang-barang di hadapannya.


"Karena mereka kaya makanya bingung, lagi pula kedua barang ini udah seharga sebuah rumah mewah disini sayang." Ucap Max yang asik memainkan ponselnya di atas ranjang sedangkan istrinya tampak terkejut dengan perkataan sang suami.


"Hah, bercanda kamu!"


"Serius, apalagi jam tangan itu di hiasi berlian sayang. Eh tapi gak apa-apa deh kita ke Mall! aku mau beliin kamu satu yang seperti ini."


Max menunjuk sebuah Lingerie berwarna baby pink yang berada di pangkuan istrinya, mata biru pria itu tampak berkedip menggoda istrinya.


"Huh, kamu yang pakai! udah ah aku mau mandi!"


Mikha melempar sebuah bantal tepat mendarat di wajah Maxim, wanita itu segera menuju kamar mandi tanpa sadar bahwa sang suami beranjak dan berniat mengikutinya.


......................


Di tempat lain, Indah tampak terkejut kala melihat Jhon tiba-tiba datang menghampirinya yang tengah makan siang bersama Tuan muda Wang, wajah pria itu tampak tenang walau cara menatapnya sangat tajam dan nada bicaranya sangat penuh penekanan.


"Maaf Tuan, saya ada sesuatu yang penting bersama sekretaris saya."


"Sayang, tunggu! kamu salah paham." Pekik Indah mencoba mengejar Jhon yang kini berada tepat di depan pintu kamar kekasihnya.


"Buka kamarmu!"


"Untuk apa?"


"Buka!" Pekik Jhon yang tampak telah tersulut emosinya.


Indah segera menuruti kemauan Jhon, gadis itu membuka pintu kamar miliknya dan Jhon segera bergegas masuk tanpa permisi.


Kedua mata pria itu menatap tajam menelisik seluruh isi ruangan tanpa ada yang terlewat.


Kini Jhon melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan menemukan sesuatu yang ia cari.


"Ini apa?" Tanya Jhon dengan buket bunga di tangannya.


kedua Netra Indah membulat sempurna kala melihat Jhon membawa bunga yang di berikan Tuan Wang untuknya.


"Jawab Indah! ini apa?" Gertak Jhon dengan suara meninggi dan melepar bunga tersebut lalu menginjaknya tanpa perasaan.


Flasback ON


Jhon melangkahkan kakinya mengikuti Tuan besar Wang, kedua pria itu kini duduk berhadapan di ruang kerja pria yang berasal dari Asia timur tersebut.


"Begini, saya ingin menanyakan perihal sekretaris Anda." Ucap Tuan besar Wang.


"Maksudnya?" Jawab Jhon bingung, entah mengapa perasaan pria itu mulai tidak enak.


"Anak saya sangat menyukai gadis itu, kalau boleh saya ingin menjodohkan mereka."


"Anak anda menyukai Indah?"


"Ya benar, Chandra sudah mengatakannya pada saya. Bahkan semalam sudah ia mempersiapkan bunga spesial untuk gadis itu."


"Maaf tuan, tapi Indah sudah memiliki calon suami!"


Flasback off


Indah nampak tertunduk, kedua matanya mulai tergenang oleh air mata. Sedang kan Jhon yang gusar perlahan terduduk di lantai yang berserakan kelopak bunga, Pria itu menundukkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Indah, seharusnya dari awal aku harus tau diri.


Aku dan kau itu berbeda, kau lebih pantas bersanding dengannya! Ia tampan, mapan, dan juga masih muda." Ujar Jhon lirih tanpa menatap Indah.


"Sedangkan aku, hanya pria berumur dan seorang ayah tunggal. Jika kau memang memilihnya, aku tak apa, kita sudahi saja semuanya."


......................


Max perlahan membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, pria itu menatap Mikha yang asik berendam dalam bathub dari arah belakang.


"Yank..." Max memeluk istrinya dan menciumi leher sang istri yang begitu terekspos.


"Ngapain sih, sana keluar aku mau mandi."


"Bareng."


"Sana bareng aja sama boyfriend mu!" Sarkas Mikha yang masih kesal dengan suaminya.


"Ya ampun sayang, aku udah jadi pria sejati yank! itu buktinya." Ucap Max menunjuk perut istrinya.


"udah ah, sana keluar!"


"Tapi yank, ini dedeknya udah bangun."


"Dedek?" Mikha mengerutkan dahinya kala mendengar ucapan rancu dari mulut Maxim.


Maxim terkekeh melihat wajah istrinya, pria itu lekas menunjuk ke arah bagian sensitifnya yang terlihat telah siap siaga.


"Ini dedek udah bangun kan yank!"


"Dih, sana keluar! atau nanti kau tidur di sofa!"


Ucap Mikha yang kesal dengan tingkah mesum suaminya, pada akhirnya Maxim harus mengalah dan membenamkan tubuhnya yang lesu di atas ranjang.


......................