Oh My Mister

Oh My Mister
Kedatangan



"Mikha tunggu aku, sedikit lagi kita bertemu."


Max mendekap foto gadis pujaannya dengan erat, sepanjang perjalanan di pesawat tak henti-hentinya ia memandangi foto sang gadis.


Ia sungguh tidak sabar memberikan kejutan untuk gadis kesayangannya, dia sengaja datang tanpa memberi kabar Mikha bahkan Dilla.


Perjalanan yang sangat panjang di tambah pesawatnya yang mengalami keterlambatan berjam-jam lamanya tidak membuat dia lelah, setelah sampai di Jakarta pukul 20.00 WIB ia segera pergi menemui Mikha di rumah kostnya.


"Eh Mister, apa kabar Mister?"sapa pak Udin, satpam penjaga rumah kost itu.


"Saya Baik pak, Oh ya Mikha sudah pulang pak?" Tanya Max sopan.


"wah mba Mikha kan pulang kampung, baru kemarin pagi perginya."


Deg!


Entah mengapa perasaan Max tiba-tiba menjadi tidak enak, ia segera pamit dan pergi ke rumah Dilla untuk menanyakan alamat Mikha di desa.


Tok...Tok...Tok...


"Permisi, selamat malam!"


Max mengetuk pintu rumah Dilla, tak lama seseorang membukakannya.


"Oalah nak Bule temennya Mikha?" Sapa Bu Lastri ramah.


"Malam bu, saya Max mau mencari Dilla."


ucap Max memberi salam kepada Bu Lastri.


"Sopo Bu?" tiba-tiba Dilla datang menghampiri ibunya.


Ia terkejut melihat Max yang berada di depan pintu rumahnya bersama ibunya.


"Loh Max! Kapan datang? ayo masuk dulu." Sapa Dilla mempersilahkan Max masuk ke rumahnya.


"Gak perlu Dil, aku cuma mau tanya alamat kampung halaman Mikha, aku mau menyusulnya sekarang! entah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak." Ucap Max terburu-buru.


"Lo mau naik apa kesana malem-malem begini? jam segini udah gak ada bus dan pesawat yang kesana, kalau mau tunggu bentar gw siap-siap dulu kita naik kereta yang jam 11 malam, kebetulan gw juga mau kesana." Ucap Dilla dan menarik Max masuk ke dalam rumahnya.


Dilla dan ibunya menyambut kedatangan Max, mereka mempersilahkan Max duduk dan menyuguhkan secangkir Teh.


Bu Lastri lalu menceritakan seluruh kronologi alasan Mikha pulang kampung dadakan, sedangkan Dilla mempersiapkan barang-barangnya untuk pergi kampung untuk menyusul Mikha bersama Max.


"Untung aja HRD-nya baik, gw juga dapat cuti! yuk Max berangkat!"


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Dilla mereka lalu berangkat menuju stasiun kereta mengenakan Taksi online yang di pesan Dilla.


***


Beberapa jam sebelumnya tepat tengah malam Mikha yang baru saja sampai di kota kelahirannya langsung pergi menuju rumah sakit tempat ayahnya di rawat.


Raut wajah khawatir, sedih dan takut tercampur menjadi satu tergambar jelas di wajahnya.


"Hallo dek, mba udah di depan nih ruangan bapak dimana?" Mikha menelpon adiknya.


Tidak lama seorang gadis remaja menghampiri Mikha.


"Mbak" sapa gadis itu, ia lalu memeluk Mikha dan mencium tangan kakaknya.


"Ade! gimana kondisi bapak sekarang?" Mikha mengelus rambut adiknya yang berada di pelukannya.


"Alhamdulillah bapak tadi siang sudah siuman, kata dokter bapak hanya luka luar aja tidak ada luka dalam, besok atau lusa jika sudah stabil juga udah diizinkan pulang. Mba pulang aja temani ibu biar aku yang jaga bapak, mba pasti capek"


"Gak de, mba nemenin kamu aja jaga bapak ya"


Mikha menemani Rika untuk menjaga bapaknya, Rika pula yang menceritakan kronologi secara detail penyebab kecelakaan yang di alami bapaknya.


karena terlalu lelah lelah mereka akhirnya tertidur di kursi penunggu pasien.


***


Fajar telah tiba, matahari mulai berpijar menyinari dunia, burung berkicau, embun-embun menambah kesejukan pagi hari di kota itu.


"Akhhhhh akhirnya sampai, pinggang gue rasanya mau patah!" keluh Dilla sambil meregangkan tubuhnya, tubuhnya cukup pegal akibat melalui perjalanan panjang menggunakan kereta malam kelas ekonomi.


"Beruntung kan kita pesan 4 kursi, setidaknya kaki pendekmu bisa meluruskan diri, kamu tidak tau betapa tersiksanya aku."


Max menyindir Dilla yang sepanjang perjalanan bisa tidur pulas dengan kaki yang bisa di luruskan.


"ye makanya itu kaki jangan kepanjangan hahaha, ya sorry dah kereta malam cuma ada yang ekonomi jadi terima lah nasibmu wahai superstar " Dilla terkekeh melihat temannya yang dari tadi mengeluh pegal dan kesemutan pada kakinya.


"Ayolah cepat kita menyusul Mikha." Max menarik Dilla yang masih menguap.


"Elah bisa sabar ngapa sih mas bule! jangan tarik-tarik woy !!!"


***


ia sangat tau bahwa dari kemarin kakaknya belum makan, bahkan dari wajah kakaknya pun ia tahu bahwa sang kakak sangat kelelahan.


"oh iya makasih de."


Setelah mereka sarapan tidak lama mata pak Ali terbuka, ia melihat dua anak gadisnya sedang menghabiskan makanannya dengan wajah yang lelah dan mata yang sembab.


"Nduk?" Ucap Pak Ali lirih.


(artinya Nak; panggilan untuk anak perempuan)


"iya pak, bapak sudah bangun" Mikha segera menghampiri bapaknya.


"Kamu kapan datang? bapak gak apa-apa loh, ini pasti adikmu buat panik ya." Ucap pak Ari lirih.


"semalam pak, ya gak apa-apa pak kan bapak sakit aku pasti datang."


"ya sudah, kamu pulang dulu saja istirahat nanti biar suruh ibumu saja kesini."


" gak apa-apa pak, aku mau nemenin bapak sampai pulang kerumah."


"Bapak gak mau di bantah loh Nduk, lihat kantong matamu sudah menggelap! kamu pasti lelah apalgi kamu kesini masih pakai pakaian kerja kamu begini, bapak tau kamu pasti datang buru-buru.


Istirahatlah, bapak gak mau putri bapak yang cantik ini sakit."


"ya sudah pak, tapi bapak makan dulu ya biar aku suapin."


Setelah menyuapi bapaknya, Mikha lalu pamit kepada bapak dan adiknya untuk pulang ke rumahnya.


setengah jam berlalu tidak lama Max dan Dilla sampai ke ruangan Pak Ali di rawat.


"Assalamualaikum" sapa Dilla, mereka lalu mencium tangan Pak ali yang masih terbaring di ranjang.


"eh Nduk, kamu datang juga! siapa ini nduk?" tanya pak Ali melihat ke arah Max.


"hehehe ini calon mantu pakde loh namanya Maxim, jauh-jauh datang dari London kesini untuk ketemu Mikha." Dilla terkekeh melihat wajah Max yang memerah seperti tomat.


"Mantu? kamu pacar Mikha Le?"


(Le ; panggilan untuk anak laki-laki)


"Kalau Mikha mau pak." ujar Max dengan suara yang lirih dan malu, membuat siapapun yang mendengarnya akan di buat tertawa.


"Gimana keadaannya pakde? oh ya Mikha mana?"


"Alhamdulillah pakde sudah baikan, Mikha udah pulang sekitar setengah jam yang lalu." ucap Pak Ali.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ternyata Bu Yani datang dengan seorang pemuda, ia terlihat sangat panik.


"Ada apa bu?" tanya Pak Ali bingung


"Pak ibu tau siapa yang mencelakakan bapak, kita beruntung Nak Dodo ada di tempat kejadian saat itu, ia mengambil foto plat mobil yang nyerempet bapak! dan mobil itu ternyata punya Ari Wijaya!" Pekik Bu Yani terengah-engah


Mereka semua tercengang dengan penuturan Bu Yani, Bahkan Pak Ali tidak habis pikir mengapa anak itu tega melakukan hal sekeji ini.


"Ari wijaya anak rentenir itu bude?"


Dilla bertanya pada Bu yani, yang membuat bu Yani baru sadar akan kehadiran mereka.


"iya benar! loh eh Dilla kamu kesini? berarti Mikha juga ada? Mikha mana pak?"


"Mikha bapak suruh pulang bu, kasian dia kecapean Memangnya ibu gak bertemu dengan Mikha?"


"Dilla, Rika tolong telepon Mikha! perasaan ibu tiba-tiba kok jadi gak enak, ibu takut dia ketemu Ari! apalagi dia tidak tau masalah kita dengan Ari selama ini."


Bu yani mulai panik, ia mengguncang-guncang tubuh Rika yang berusaha menghubungi kakaknya.


"Hallo mbak dimana? apa? mbak turun mbak turun! hallo hallo mbak hallo!"


Rika panik, ia terus berteriak-teriak di teleponnya.


"Rika ada apa?" Dilla mengguncang-guncang tubuh Rika.


"Mbak Mikha huhuhu dia bilang tadi ketemu Mas Ari di jalan dan di antar pulang, tiba-tiba handphone mba seperti di lempar dan gak ada jawaban lagi huhuhu"


Rika memeluk Dilla, tubuh gadis itu bergetar menangis dan ketakutan.


Tak terkcuali Bu Yani, wanita tua itu tiba-tiba pingsan mendengar ucapan Rika.


"Nak tolong selamatkan Mikha nak" ucap pak Ali memohon kepada Max, suaranya bergetar menahan emosi.


......................